Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Rumah Sakit


__ADS_3

Selesai dengan itu mereka kembali berjalan menuju mobil, tapi kali ini Farzan tidak membiarkan Nasha duduk sendiri. Tanpa kesusahan sama sekali Farzan duduk di belakang kemudi dengan Nasha yang ada di pangkuannya.


“Aku duduk sendiri aja,” dengan tidak rela Nasha bangun dan berniat beranjak dari duduknya. Nasha hanya takut dia membuat Farzan jadi sulit untuk mengemudi nantinya.


“Engga apa apa, kamu di sini aja,” ucap Farzan dengan senyum lembutnya. Sebelum Nasha akan beranjak Farzan lebih dulu menahan punggung Nasha agar tetap menyandar nyaman di dadanya.


Nasha yang memang sudah mendapatkan posisi nyamannya hanya mengangguk saja sambil memejamkan matanya. Sepertinya dia masih mengantuk.


Perjalanan menuju rumah sakit sekitar 20 menit jika tidak macet, beda lagi jika mereka terjebak macet, mungkin akan memakan waktu 45 menit sampai 1 jam perjalanan.


Sesekali saat lampu merah, Farzan menoleh pada Nasha yang tertidur sejak keluar gerbang mansion tadi, dalam mimpinya Nasha juga lebih sering tertidur dan juga lebih manja. Farzan harap kejadian buruk yang ada di dalam mimpinya tidak menjadi kenyataan.


Sekitar 30 menit kemudian mereka baru saja sampai, tadi Farzan mengendarai mobil dengan kecepatan lambat. Farzan tidak tega membangunkan Nasha secepat itu. Biar saja nanti pemeriksaan akan di lakukan di lantai khusus miliknya agar Nasha bisa tidur lebih lama.


“Tolong panggil dokter Jane ke lantai khusus, panggil dokter Reno juga,” ucap Farzan pelan sebelum berlalu menuju lantai khusus.


Tadinya memang Farzan akan melakukan pemeriksaan di tempat periksa dokter. Tapi saat melihat Nasha yang ternyata masih nyaman tertidur, Farzan lebih baik memeriksakannya di ruangan khusus. Lagi pula 2 lantai paling atas di gedung utama itu juga di lengkapi seluruh alat medis yang ada. Jadi jika ada keluarganya pun mereka bisa melakukan pemeriksaan tanpa takut banyak paparazi.


“Ehm.. udah sampe ya?” suara serak Nasha terdengar saat Farzan baru mendudukkan diri di sofa dalam ruangan miliknya. Jika dokter datang dia tinggal berjalan menuju ruang pemeriksaan di depannya.


“Hm udah, makan roti dulu ya,” ucap Farzan sambil membuka kotak bekal dan menyodorkannya di depan mulut Nasha.


Nasha yang diperlakukan seperti itu hanya menurut saja. Baginya suapan dari Farzan membuat makanan terasa lebih enak. Beda halnya jika dia makan sendiri.


Tanpa terasa pintu diketuk dan setelah di minta masuk, seorang bodyguard datang untuk memberitahu jika dokter Jane sudah ada di ruang pemeriksaan lantai ini.


Farzan hanya mengangguk dan meminta mereka untuk tunggu sebentar karena Nasha masih menghabiskan makanannya.


“Udah. Kita ke ruang periksa aja, dokternya udah nunggu. Eh bentar ini ruangan siapa?” ucap Nasha yang baru menyadari dimana dia menunggu.


“Kita ketemu dokter dulu yuk,” Farzan tersenyum sebelum berkata seperti itu. Nanti saja dia jelaskan sambil menunggu Reno.


Nasha hanya mengedikkan bahunya acuh karena Farzan tidak mau menjawab pertanyaannya. Baginya tidak apa jika Farzan tidak menjawab pertanyaannya. Toh dia juga tidak peduli.


...----------------...


Ceklek..


“Selamat pagi menjelang siang, Tuan, Nona,” sapa dokter Jane saat Farzan memasuki ruangan.

__ADS_1


“Ya Dokter Jane, bagaimana situasi rumah sakit?” tanya Farzan sambil mendudukkan Nasha di kursi sebelahnya.


Nasha sebenarnya malu karena masih di gendong oleh Farzan, tadi dia meminta untuk berjalan sendiri sebelum sampai ruangan tapi Farzan tidak mendengarkannya.


“Baik Tuan, sesuai dengan apa yang Tuan perintahkan,” ucap dokter Jane ramah.


“Apa kita bisa mulai pemeriksaan?” tanya dokter Jane saat tadi Farzan hanya mengangguk saja.


“Ya,” jawab Farzan singkat.


“Baik. Boleh tahu apa yang Nona rasakan?” tanya dokter memulai pekerjaannya.


“Sudah beberapa hari yang lalu saya selalu mual saat pagi dan juga ketika melihat makanan yang tersaji seperti nasi dan olahan daging lainnya. Emosi saya juga tidak stabil,” jelas Nasha serius.


“Kapan terakhir kali datang bulan?” tanya dokter sambil mencatat keluhan Nasha.


“Em.. mungkin sekitar 2 bulan yang lalu dok,” ucap Nasha sambil mengingat ngingat.


“Kita coba USG dulu ya?” ucap dokter sambil mempersilahkan Nasha untuk tidur di ranjang pasien.


Perawat yang bersamanya juga membantu mempersiapkan alat yang dibutuhkan untuk pemeriksaan, dan membantu untuk mengoleskan gel di atas perutnya.


Nasha yang gugup menggenggam tangan Farzan erat. Farzan juga sama gugupnya, hanya saja dia harus bisa menenangkan Nasha agar tidak terlalu gugup.


Dokter Jane dengan serius menggerakkan alat yang ada di atas perut Nasha dan tidak lama senyum terbit dari bibirnya.


“Nah ini janinnya, perkiraan umurnya sudah 8 minggu sejak terakhir Nona menstruasi. Tapi apa Nona pernah merasa sakit di area perut akhir akhir ini?” tanya dokter di sela pemeriksaan.


“Em.. iya dok, dari kemarin perut saya sering terasa nyeri,” ucap Nasha sedikit khawatir. Beda sekali dengan wajah bahagianya tadi. Farzan juga sama hal nya dengan Nasha.


“Apa ada masalah?” sambar Farzan sebelum dokter menjawab.


“Sepertinya kandungan Nona sedikit lemah, bla bla bla..” ucap dokter Jane menerangkan maksudnya. (maklum ngga tahu jadi gini aja ya, takut salah hehe)


“Tapi Tuan dan Nona tenang saja, selama Nona menjaga asupan makanan dan juga rutin meminum vitamin, insyaallah semua akan baik baik saja. Usahakan jangan banyak pikiran dan stres ya. Itu bisa mempengaruhi kondisi janin juga,” tambah dokter Jane sambil meminta perawat membersihkan area perut bekas gel tadi.


Selesai dengan itu dokter duduk kembali dan mulai menuliskan resep vitamin yang harus Nasha minum.


Perawat yang sudah selesai pun berlalu meninggalkan mereka berdua, karena tadi Farzan bilang dia yang akan membantu Nasha.

__ADS_1


“Jangan khawatir, semua akan baik baik saja. Inget kata dokter jangan banyak pikiran,” ucap Farzan lembut sambil membantu merapikan pakaian Nasha.


Nasha hanya mengangguk saja. Tapi dalam hati dia juga sedikit khawatir karena dia kemarin sering melewatkan makan karena kurang nafsu, dan saat perutnya sakit pun dia mengabaikannya. Nasha jadi merasa bersalah.


“Bukan salah kamu. Aku yang membuat kamu stres kemarin jadi membuat moodmu buruk. Jangan salahkan dirimu sendiri oke?” ucap Farzan menenangkan sambil membantu Nasha bangun.


“Maaf,” cicit Nasha pelan.


“Ngga papa. Terima kasih ya,” ucap Farzan bahagia sambil memeluk erat Nasha. Nasha yang terharu meneteskan air matanya dengan membalas pelukan Farzan tak kalah erat.


“Stt.. kok malah nangis sih,” ucap Farzan terkekeh kecil sambil menghapus air mata yang jatuh.


“Eng ngga tahu hiks ini tiba hiks tiba keluar,” ucap Nasha tersendat sendat karena tangisannya. Farzan hanya tertawa melihatnya dan membiarkan Nasha menangis sebentar lagi.


“Permisi Tuan, ini vitamin yang harus rutin Nona minum. Ini juga ada pereda mual agar sedikit mengurangi rasa mual,” ucap perawat yang datang membawa kantung kertas berisi obat.


Nasha yang masih menangis juga hanya menyembunyikan wajahnya di dada Farzan sambil terus terisak, dia jadi tambah malu karena ketahuan menangis. Farzan tersenyum melihat tingkah Nasha dan mengelus lembut punggungnya dengan tangan sebelah kiri sedang tangan kanannya mengambil kantung dari perawat.


“Di sana juga sudah ada salinan resepnya, foto USG juga saya simpan di dalam sini, dan ini adalah buku kontrol untuk setiap bulannya jangan sampai lupa di bawa. Apa ada lagi yang Tuan butuh kan?” tanya dokter Jane yang ada di belakang perawat sambil memberikan tas lainnya.


“Tidak. Terima kasih. Kalian bisa kembali lagi,” ucap Farzan dengan singkat dan sedikit senyum.


“Sekali lagi selamat Tuan, jika bisa terus pantau kondisi Nona. Jangan di biarkan tidak makan sama sekali,” ucap dokter Jane sebelum pergi meninggalkan keduanya.


Farzan juga hanya mengangguk saja dan membiarkan mereka keluar ruangan. Dokter Jane itu usianya sudah hampir kepala 5 dan perawatnya juga hampir sama umurnya karena mereka sudah menjadi partner sejak lama.


“Sudah nangisnya ya? Ini matanya jadi bengkak,” ucap Farzan menangkup kedua pipi Nasha dan mengusap lembut matanya yang masih terpejam.


“Mau es krim,” ucap Nasha tiba tiba dengan masih sesenggukan.


“Haha.. iya boleh, nanti kita ke Mall dulu baru aku ajak kamu ke suatu tempat,” ucap Farzan sambil tertawa melihat Nasha yang seperti ini, mengingatkannya dengan mimpinya.


“Tapi kita bertemu sahabatku dulu sebentar ya?” tanya Farzan meminta persetujuan Nasha.


Nasha hanya mengangguk dan mengeratkan kedua tangannya pada leher Farzan karena Farzan langsung menggendongnya tadi.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2