
Farzan memasuki lift untuk para pekerja yang memang bisa di akses sampai ruangan rapat ini. Tentu saja masih dengan Nasha di gendongannya.
Nasha sepertinya begitu kelelahan, ditambah kondisinya yang sedang berbadan 2 membuat dirinya gampang sekali lelah.
Farzan memaklumi, karena sedikit banyak dia mengetahui tentang kehamilan serta semua yang berkaitan dengan itu semua. Walau masih banyak yang tidak dia tahu.
Sampai di area supermarket Farzan berjalan menuju rak susu sambil mendorong troli tanpa merasa kesulitan karena masih menggendong Nasha.
“Ini dimana?” tanya Nasha yang sepertinya terbangun karena ada suara musik juga beberapa obrolan yang lumayan kencang.
“Kenapa bangun?” bukannya menjawab Farzan malah bertanya lagi pada Nasha.
“Tadi denger orang ngobrol kenceng, sama suara musik yang keras,” gumam Nasha yang mengeratkan genggaman tangannya di leher Farzan.
“Maaf ya, harusnya tadi aku minta suara musiknya di kecilkan,” ucap Farzan meminta maaf.
“Ngga papa,” ucap Nasha singkat.
Farzan masih berjalan menyusuri lorong sambil mengambil beberapa yang dia butuh kan saat melewati lorong lorong sebelumnya.
“Kamu mau rasa apa?” tanya Farzan sambil melihat lihat isi kandungan yang tertulis di boks susu.
“Em.. mau turun dulu boleh?” pinta Nasha yang takut Farzan kesulitan.
“Ngga usah, kamu tinggal bilang aja nanti aku kasih liat,” ucap Farzan menolak.
“Em.. mau yang coklat sama vanila boleh?” tanya Nasha sambil melihat jajaran susu di depannya.
“Boleh. Kita beli yang kaleng sekalian ya, buat stok,” ucap Farzan sambil mengambil merek susu yang menurutnya memiliki komposisi terbaik. Dengan harga yang baik juga tentunya, alias mahal.
“Kenapa ngga yang biasa aja?” tanya Nasha ketika melihat label harga.
“Ini yang paling bagus komposisinya, tapi mungkin nanti aku cari tahu lagi susu yang paling baik biar kamu dan baby sehat,” ucap Farzan sambil memasukkan satu per satu kaleng.
“Tapi itu mahal tau,” celetuk Nasha.
“Yang penting bagus dan kamu suka. Nanti kalau ngga suka bilang aja ya biar aku ganti,” ucap Farzan tidak ingin di bantah.
“Iya iya,” ucap Nasha yang menyandarkan kembali kepalanya pada bahu Farzan.
“Kamu mau beli apa lagi?” tanya Farzan sebelum melangkah menuju kasir.
“Tadi mau beli camilan dulu, tapi takut kamu capek jadi langsung pulang aja deh. Beli camilannya besok lagi aja,” ucap Nasha sambil memejamkan matanya agar tidak melihat jajanan di kedua sisi lorong ini.
“Kamu mau yang mana aja?” tanya Farzan yang berdiri di ujung lorong.
“Ih kenapa malah diem di sini? Aku jadi mau jajan kan,” kesal Nasha dengan wajah memerah karena kesal sekaligus malu di lihat beberapa orang saat membuka matanya tadi.
“Ngga papa sekalian beli aja sekarang biar kamu besok bisa istirahat,” ucap Farzan sambil jalan perlahan dan mengambil beberapa snack.
“Mau ciki boleh?” tanya Nasha saat melihat ciki rumput laut dan juga jagung bakar kesukaannya.
“Boleh, satu aja tapi. Kalau kebanyakan ngga baik,” ucap Farzan membolehkan.
“Tapi mau beli buat yang lain sekalian,” ucap Nasha lagi sambil menatap wajah Farzan dari samping.
“Yaudah iya boleh,” ucap Farzan sambil mengambil banyak snack sesuai keinginan Nasha.
Farzan mengambil ponselnya dan memanggil salah satu bodyguarnya datang agar bisa mengambilkan beberapa troli lagi sekaligus membantu membawakan troli yang sudah terisi.
“Aku jajannya banyak ya?” tanya Nasha melihat 3 orang di belakangnya membawa troli juga.
“Engga kan ini buat sekalian sama yang lainnya,” ucap Farzan tidak mempermasalahkan.
“Makasih,” ucap Nasha senang.
“Nambah ice cream boleh?” pinta Nasha.
__ADS_1
“Haha kamu ini, yaudah kita beli sekalian buat stok di rumah,” ucap Farzan sambil tertawa.
Beberapa pekerja banyak yang tertegun karena melihat tawa Farzan secara langsung. Biasanya mereka hanya melihat wajah datar dan serius milik Farzan.
“Hehe makasih lagi,” ucap Nasha terkekeh sambil mengeratkan genggaman kedua tangannya.
Semua belanjaan sudah selesai dan juga di bayar oleh Farzan. Tapi semua troli di bawa oleh bodyguard karena Farzan hanya ingin fokus pada Nasha yang sepertinya sudah tertidur kembali.
...----------------...
Sampai di basement Mall Farzan menyuruh mereka memasukkan belanjaan ke bagasi dan juga kursi tengah.
Setelahnya Farzan duduk di kursi kemudi dengan Nasha di pangkuannya.
Farzan rasa sekarang dia begitu menyayangi Nasha, dan juga ada rasa lain yang entah kenapa selalu ada saat dia bersama dengan Nasha.
Farzan fokus mengemudi sambil sesekali menciumi pucuk kepala Nasha saat sedang lampu merah.
Mereka sampai di pekarangan mansion sekitar pukul 21.00 karena tadi saat meninggalkan Mall sudah pukul 20.15.
Farzan naik menuju kamar setelah sebelumnya meminta beberapa maid memasukkan barang belanjaan ke dapur dan juga untuk tempat tinggal bodyguard serta paviliun.
“Terima kasih karena kamu mau menerimaku yang banyak kekurangan ini. Terima kasih juga karena mau menjadi tempat tinggal sementara dari anakku. Maaf aku masih banyak kekurangan dan berakhir membuatmu kecewa. Tapi sungguh aku tidak akan pernah melepasmu sampai kapan pun. Ku rasa aku sudah mulai mencintaimu,” gumam Farzan sambil memandangi wajah Nasha yang tertidur pulas di atas kasur.
Setelah berbicara pada Nasha yang tentu saja tidak Nasha dengar karena dia tertidur. Farzan berjalan menuju ruang kerja untuk melakukan video dengan bodyguard dan juga orang kepercayaannya yang lain.
Farzan duduk dan membuka MacBook Pro yang tersimpan di atas meja dan menyambungkan video langsung.
“Selamat malam. Maaf saya mengganggu waktu kalian sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan,” ucap Farzan sebagai pembuka.
“Masalah tadi siang tidak ada yang perlu di khawatirkan. Istri saya tadi pergi ke rumah sakit ARC medic.”
“Terima kasih untuk kalian yang sigap karena hal tadi. Untuk itu saya akan memberi apresiasi lebih pada seluruh tim yang bertugas tadi,” jelas Farzan dengan nada datarnya.
“Ijin berbicara,” sahut Swan salah satu kepala keamanan di Mall.
“Silahkan,” ucap Farzan memberi ijin.
“Saya sudah bilang tidak apa apa. Tapi usahakan lain kali jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Jika memang Arfa tidak ingin di awasi kalian bisa melakukannya secara tersembunyi dan tidak terlihat dalam pandangannya,” saran Farzan.
“Saya juga meminta maaf tadi membuat Nona takut,” ucap Tio, yang di angguki Juan dan Zergio.
“Arfa memang tidak bisa menerima tekanan. Tadi salah saya juga. Tidak papa,” ucap Farzan yang memang tidak menyalahkan siapa pun.
“Untuk..,” ucapan Farzan terhenti karena ada yang mengetuk pintu.
Setelah di persilahkan masuk, orang di luar sana membuka pintu perlahan dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.
“Aku ganggu ya?” tanya orang itu yang tak lain adalah Nasha. Tadi dia terbangun karena ingin ke kamar mandi. Tapi di kamar dia tidak menemukan adanya Farzan.
“Engga,” sahut Farzan sambil berjalan mendekati Nasha.
“Kenapa bangun?” tanya Farzan sambil mengusap kepala Nasha.
“Tadi mau ke kamar mandi, tapi ngga liat kamu di kamar jadi ke sini,” jelas Nasha sambil memejamkan matanya menikmati usapan tangan Farzan.
“Aku anter ke kamar ya, aku masih harus urus beberapa hal sebentar,” ucap Farzan sambil membawa Nasha dalam gendongannya.
“Kamu dari tadi gendong aku terus perasaan,” ucap Nasha sambil menyandarkan kepalanya.
“Karna kamu terlalu ringan,” balas Farzan santai.
“Masa? Padahal tadi aku di timbang ada 50 kg loh,” ucap Nasha tak percaya.
“Masa sih? Orang ringan gini, kaya bawa boneka teddy ini mah,” kini giliran Farzan yang tak percaya dan menyamakan Nasha dengan boneka teddy bear.
“Bohong,” ucap Nasha yang merasa Farzan hanya membual saja.
__ADS_1
“Beneran, masa aku bohong sih,” ucap Farzan meyakinkan karena memang benar dia tidak keberatan.
“Sekarang mending kamu tidur lagi. Aku terusin kerjaan dulu sekitar 30 menit,” ucap Farzan yang sudah menaruh Nasha di tempat tidur.
“Em.. iya, kamu ke ruangan kerja lagi aja,” ucap Nasha yang menyuruh Farzan pergi tapi dia malah mau mengambil ponselnya.
“Kenapa malah ambil itu,” ucap Farzan sambil melirik arah tangan Nasha.
“Ya ngga papa, udah ih kamu ke sana lagi aja cepet,” usir Nasha agar tidak mendapatkan ceramah dadakan.
“Oke, main hp nya cuma boleh 10 menit, abis itu langsung tidur,” ucap Farzan tak ingin di bantah yang di angguki oleh Nasha. Padahal tidak tahu nanti akan di lakukan atau tidak.
Farzan hanya menghela nafas pasrah dan berlalu menyelesaikan pembicaraan yang sebelumnya tertunda.
Hari ini masalah ‘Acha’ harus bisa di selesaikan dan mendapat titik terang.
“Maaf tadi saya harus mengantar Arfa dulu,” ucap Farzan setelah duduk kembali.
“Saya ingin tahu bagaimana hasil penyelidikan tentang Acha,” ucap Farzan cepat agar bisa kembali ke kamar, dia tahu Nasha bukan orang yang mudah di beritahu apalagi saat ini kondisinya berbeda.
“Ada yang saya temukan Tuan,” sahut Dirky yang juga ada di sana.
“Jelaskan,” ucap Farzan.
“Kemarin kami menggeledah kontrakan miliknya. Dan kami menemukan satu buku diary dalam satu kotak yang di gembok, dengan gembok yang sepertinya dipaksa di buka,” jelas Dirky sambil memperlihatkan apa yang dia bawa.
“Saya belum membukanya karena takut ada kesalahan,” ucapnya lagi sebagai penutup.
“Baiklah besok bawa ke perusahaan,” ucap Farzan memberi instruksi.
“Ada lagi yang ingin di sampaikan?” tanya Farzan sebelum mengakhiri pertemuan kali ini.
“Sudah tidak ada lagi Tuan,” sahut Zargio saat melihat sekitar.
“Anda harus kembali ke negara G minggu depan Tuan. Mereka hanya ingin bicara dengan Anda,” sahut Brady yang memang tidak ikut pulang.
“Ya nanti urus saja semuanya,” ucap Farzan sedikit malas.
“Kalau begitu nanti akan saya kirim semua hadiah untuk kalian dan juga minta pihak resto membuat 1000 boks untuk syukuran, Arfa sedang mengandung saat ini,” ucap Farzan memberi info sambil tersenyum bahagia.
“Selamat Tuan,” ucap mereka serempak dengan bahagia juga. Akhirnya mereka mempunyai tuan atau nona kecil.
Farzan hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu langsung menutup MacBook Pro miliknya itu.
Pembahasan tadi memakan waktu 45 menit, yang melebihi janji Farzan pada Nasha. Tapi Farzan harap Nasha sudah tertidur kembali.
Saat memasuki kamarnya, Farzan bisa menebak jika Nasha belum tertidur karena ada suara tawa dan juga suara video anak dengan suara lucu yang sedang berputar.
Benar saja Nasha masih asik melihat video anak yang menggemaskan dan membuatnya tertawa.
“Nakal,” ucap Farzan saat sudah di samping Nasha.
“Ehehe, maaf abisnya tadi susah merem,” ucap Nasha sambil memperlihatkan senyum lima jarinya.
“Yaudah sekarang hp nya simpen ya, terus tiduran,” ucap Farzan dengan lembut sambil membantu menaruh ponsel Nasha dam membaringkan dirinya di sebelah Nasha.
“Sini tidur,” ucap Farzan sambil membawa kepala Nasha dalam dekapannya.
“Wangi,” ucap Nasha yang menghirup aroma tubuh Farzan.
“Kan tadi pake parfum,” ucap Farzan meladeni Nasha.
“Suka wanginya hehe,” gumam Nasha sambil terkekeh. Farzan hanya tersenyum sambil terus mengusap kepala sampai punggung Nasha agar dia cepat tertidur.
...----------------...
happy reading
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye