
"Kak? Besok jadi kan?" panggil Nasha juga bertanya pada Farzan yang sedang mengambilkan piyama tidur untuk mereka berdua.
"Jadi," angguk Farzan mendekati dan memakaikan piyama pada Nasha.
"Ke mall boleh ngga? sekalian jalan jalan," pinta Nasha lagi.
"Em.. Oke boleh, kita ke mall biasa ya," ucap Farzan meminta pendapat.
"Oke boleh. Eh tapi ngga kejauhan?" tanya Nasha merasa bahwa tempat itu akan memakan waktu jika dari sini.
"Engga papa, kan sekalian jalan jalan," ucap Farzan.
"Oh gitu. Oke deh," angguk Nasha mengiyakan saja. Yang penting pergi, hehe, batin Nasha senang.
"Udah sekarang kita tidur, besok kita pergi sekitar jam 9 pagi," ucap Farzan membawa Nasha untuk berbaring dengan nyaman di atas ranjang mereka.
"Kak Arza ngga ke ruang kerja kan?" tanya Nasha dengan mata menyipit.
"Engga Sayang, ini aku mau tidur juga," ucap Farzan sedikit terkekeh melihat raut wajah Nasha yang meragukannya.
"Hem iya harus," angguk Nasha setelah percaya dengan ucapan Farzan itu.
Farzan menempatkan bantal di satu sisi dekat dengan perut Nasha, baru setelahnya ikut berbaring di belakang Nasha dan menjadikan tangannya sendiri bantalan kepala Nasha.
"Sweet dream baby and Momy," bisik Farzan saat Nasha sudah memejamkan matanya.
"You too Daddy," balas Nasha dengan mata terpejam sebelum keduanya berakhir dengan memejamkan mata bersama.
...----------------...
Matahari mulai menampakkan diri di pagi hari yang terlihat cerah ini.
Seluruh anggota keluarga dalam mansion Lakeswara sedang berbincang setelah selesai makan pagi bersama tadi.
__ADS_1
"Kemarin kamu pasti tunggu Arza ya Sayang?" ucap Zetta menanyakan pada Nasha apa yang dia pikirkan dari kemarin, tidak mau menduga duga sendiri.
"Iya Mom, soalnya Kak Arza bilang suruh tunggu di kamar, kalau mau keluar harus bilang dulu. Tapi kan kemarin Kak Arzanya ngga ke kamar kamar, jadi aku ngga bisa bilang deh," jujur Nasha tidak mau berbohong pada Zetta. Karena memang Zetta sudah tahu, jadi kalau dia bohong takut membuat Zetta dan yang lainnya kecewa.
"Kan apa Mom bilang. Kemarin kamu terlalu fokus Za, emang masalah perusahaan lagi berat ya?" Zetta awalnya menatap sinis pada Farzan, tapi dia sadar jika anaknya pasti mempunyai alasan melakukan hal tersebut.
"Hm, lumayan Mom. Tapi sudah bisa teratasi," angguk Farzan menjawab dengan jujur pula.
"Hah. Kali ini Momy maklum, tapi ngga ada yang namanya lain kali. Kalau kamu ngga bisa, kamu bisa bilang sama Momy buat temenin anak Momy, jangan sampai seperti kemarin," ucap Zetta menghela nafas pelan sebelum berucap panjang memberi pengertian pada kedua anaknya.
"Kalau Letta kemarin di rumah pasti Letta temenin kok Kak Sha, Kak Arza juga ngga bilang sebelumnya jadi kemarin Letta pergi," ucap Aletta menimpali.
"Engga papa, kemarin juga aku tidur kok di kamar, jadi engga denger ada yang panggil, hehe," ucap Nasha menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal, dia malu mengungkap hal itu.
"Ya engga papa bagus. Kamu memang harus lebih banyak istirahat. Pasti malemnya suka susah tidur kan," tebak Zetta dengan tepat, karena dulu dia juga merasakannya.
"Yaudah. Sekarang udah mau jam 9, aku sama Acha mau ke mall dulu," potong Farzan menghentikan pembicaraan.
Kalau ada yang penasaran, tadi Zeroun juga ikut mengobrol bersama dengan Farzan dan sering terpotong dengan ucapan Istri dan anak perempuannya, tapi belum lama Zeroun mendapat satu data penting yang harus di teliti dan dicari masalahnya, jadilah sekarang dia berada di ruang kerja pribadinya.
"Kita mau ada yang di beli dulu Mom. Lagian kita bakal naik heli kok, jadi ngga bikin cape," ucap Farzan santai yang malah mendapat pelototan dari Nasha dan Aletta.
"Kakak sengaja kan pakai heli biar aku ngga bisa ikut?!" ucap Aletta kesal, baru saja dia akan bilang jika ingin ikut.
"Engga kok, lagian kalau mau juga kamu harusnya siap siap dari tadi, jadi ngga bisa ikut kan," ucap Farzan senang karena rencananya berhasil.
"Kan bisa nunggu dulu," celetuk Nasha tiba tiba.
"Engga Sayang. Helinya udah ada jadwal jadi ngga bisa nunggu lama," ucap Farzan sedikit gugup, bisa gagal rencana jalan jalan berdua mereka.
"Oh gitu ya. Yaudah, maaf ya Letta, kamu ngga bisa ikut dulu," ucap Nasha yang percaya saja apa kata Farzan.
"Huh! Yaudah deh, Kak Sha jangan cape cape ya? Nanti lagi kalau Kak Arza ngajak pergi, Kak Sha kasih tahu aku juga ya?" ucap Aletta manis pada Nasha.
__ADS_1
"Oke. Nanti kalau kita mau pergi, aku pasti kasih tahu kamu lebih dulu," angguk Nasha antusias dengan senyum mengembang.
"Udah sekarang kita harus berangkat," ucap Farzan menyela sebelum semakin banyak permintaan yang adiknya keluarkan.
"Awas aja ya Kak," sinis Aletta menatap tajam Farzan.
"Apa?!" tantang Farzan membalas tatapan adiknya.
"Cape deh punya anak dua kalau berantem kaya gini. Kalau jauh aja saling cari, kangen kangenan, eh kalau udah di satuin tambah ada pawang satu yang di rebutin, pasti aja begini," keluh Zetta melihat kelakuan dua anaknya itu.
"Udah Sha mending kita ke atas duluan," ajak Zetta pada Nasha yang hanya bisa tertawa mendengar perkataan yang kedua orang itu debatkan.
"Iya Mom," ucap Nasha menyetujui dan berjalan dengan di papah oleh Zetta menuju atap dimana helikopter yang akan di pakainya parkir.
"Bentar lagi juga mereka bakal cari kamu," ucap Zetta saat menunggu pintu lift terbuka dan masuk ke dalamnya.
"Nah kan baru pada buru buru mau ke sini, tapi telat pintunya udah ketutup," ucap Zetta saat lift berjalan menuju tempat tujuannya, dan di luar ada Farzan dan Aletta yang terlihat kesal karena keduluan Ibu mereka.
Nasha hanya tertawa saja melihat hal ini, padahal dia itu bukan apa apa, hanya manusia biasa yang punya banyak salah. Tapi Allah berbaik hati memberikan keluarga yang begitu menyayanginya dan menganggapnya lebih dari apa yang seharusnya dia dapatkan.
Curahan kasih sayang yang dulu jarang dia terima, bahkan dengan mudah dia dapatkan saat bersama dengan keluarga suaminya ini.
Betaba beruntungnya dia dan betapa bersyukurnya dia dengan nikmat yang telah di berikan padanya.
Dulu dia lebih sering mendapat amarah atas kesalahan sekecil apapun itu dan mendapat penolakan dari keliarganya sendiri, tapi di sini semua berbeda kebalikan dari apa yang dulu dia alami.
Jika dia salah, dia akaan di beritahu dan sedikit di tegur dengan nada lembut yang menyejukkan, membuatnya mengerti dimana letak kesalahannya dan memperbaikinya.
Hidup memang tidak selamanya manis dan indah, tapi jika kita bersama orang yang tepat, seburuk apapun yang akan di hadapinya nanti pasti bisa teratasi tampa melibatkan kekerasan baik fisik maupun ucapan dari salah satunya.
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye