Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Part 107


__ADS_3

"Ini Pak tolong bawa saja. Dia sudah membuat keributan dan juga kerusakan barang di toko ini," ucap Leni menggebu menunjuk nunjuk muka Nasha.


"Mana ada rusak! Orang cuma liat doang," balas Nasha tidak mau kalah.


"KAMU!" tunjuk Leni dengan amarah yang sudah memuncak.


"Mohon maaf Nona, kenapa anda sendirian di sini?" tanya security yang sudah mengenal seluruh pemilik beberapa anak cabang dari perusahaan ARC Coporation.


"Bawa langsung saja Pak! Saya mau DIA ganti rugi 3 kali lipat dari harga sebenarnya!" sanggah Leni tanpa membiarkan Nasha menjawab pertanyaan security tadi.


Mereka menjadi pusat perhatian dari orang orang yang sedang berbelanja juga. Bahkan ada yang sampai membuat video pertengkaran tersebut.


Nasha acuh saja. Toh kalau dia terkenal nanti, dia bisa dapet pekerjaan di tv mungkin, batinya nyeleneh.


"Suami saya ilang kali. Yasudah mau di bawa kan?" acuh Nasha dengan nada malasnya. Dia masih kesal karena Farzan meninggalkannya sendiri.


"Maaf Nona, Tuan pasti sedang menunggu anda. Saya antar pada Tuan?" tawar security yang satu lagi, setelah keempat security itu saling bertatapan mendengar jawaban acuh Nasha.


"Tidak perlu tunggu tunggu! Saya mau uang ganti rugi itu sudah ada dalam waktu 1 x 24 jam. Tolong langsung kirimkan pada saya," ucap Leni angkuh. Dalam hatinya dia bersorak karena akan mendapat banyak keuntungan.


"Kaga ada duit saya. Ganti ajalah, kerja di sini juga boleh," ucap Nasha langsung, menawarkan dirinya sendiri untuk bekerja.


Farzan yang mendengarnya sudah tidak senang lagi. Nasha kalau sudah punye rencana, maka akan dia usahakan untuk melakukan. Dan Farzan tidak mau rencana aneh Nasha akan dilakukan nanti.


"Kerja 2 tahun di sini juga ngga akan mungkin buat lunasin semua uang yang anda ambil," remeh Leni dengan tangan terlipat di depan dada.


"Ya ngga usah dapet gaji sayanya. Kalau perlu ambil uang dari tabungan saya dulu aja, sisanya nanti saya kerja dulu," ucap Nasha yang sebenarnya sekarang sudah merasa lapar lagi.


Mungkin karena terlalu lelah berdebat membuatnya jadi kembali lapar dengan wajah lemasnya.


Tapi wanita di sebelahnya ini sepertinya masih ingin mengajaknya berdebat terus.


"Lagian kenapa ngga langsung di bawa aja sih? Kan enak bisa duduk sambil makan apa kek nanti," batin Nasha terus menggerutu kesal.


"Udah sih Mbak. Pak bawa ajalah dulu ke kantor. Pegel ni saya berdiri mulu," ucap Nasha yang sudah mulai kesal juga lemas karena butuh makanan.


"Cepet Pak jalan," ucap Nasha lagi yang mulai berjalan lebih dulu ke tempat dimana ruangan security berada.


Yang melihat hal itu hanya bisa terbingung dengan wajah berbeda. Karena Nasha santai sekali saat akan di bawa ke kantor security, yang bisa saja malah jadi masalah serius dengan melibatkan hukum di negara ini.


"Saya ikut! Jangan sampai orang itu kabur ya!" ucap Leni mengikuti keempat security di tambah Nasha yang sudah lebih dulu berjalan.


Tadi Farzan sudah akan mendekati Nasha, tapi memang di sekitar mereka sudah ramai dengan orang orang yang penasaran dengan keributan itu.

__ADS_1


Jadilah Farzan hanya melihat dari jauh dan mengikuti Nasha dari belakang. Sebelum sampai ke kantor security, Farzan lebih dulu membeli beberapa makanan dan minuman untuk Nasha. Biasanya Nasha akan gampang sekali lapar.


"Ini tempat ngga ada makanan apa?" gumam Nasha saat sudah duduk di sofa yang ada.


"Saya lupa tas di simpen dimana. Boleh ikut telpon dulu ngga? Siapa tahu keluarga saya baik mau talangin dulu uangnya," ucap Nasha bernegosiasi. Di jalan tadi Nasha baru sadar kalau tasnya di bawa oleh Farzan, jadi dia tidak membawa apa apa sekarang.


"Alah ngga usah alasan kamu. Paling juga bohong," ejek Leni tidak percaya jika Nasha akan menghubungi keluarganya.


"Tolong ya Pak. Ini serius. Saya mau hubungi Momy saya," ucap Nasha melirik salah satu security.


"Sebentar Nona," ucap security itu dan membawa telepon rumah yang ada di meja kantor.


Keempat security itu tadi sudah melihat Farzan yang ada di ujung kerumunan yang memperhatikan mereka. Dan Farzan sudah biacara lewat alat yang tersambung dengan earphone di telinga mereka agar mengikuti permainan Nasha.


"Sudah tersambung Nona," ucapnya mendekatkan telepon itu di hadapan Nasha.


Leni sempat heran karena security itu tiba tiba sudah menghubungi keluarga wanita hamil di depannya. Padahal menurutnya, wanita itu belum menyebutkan nomor telepon sama sekali.


"Ya Halo?" sapa seorang wanita di seberang sana.


"Halo mba ki, ini Sha. Boleh minta sambungin ke Momy?" tanya Nasha semangat dengan posisi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sambungan dari telepon ini di loudspeaker olehnya.


"Oh Nona Sha. Baik Nona, mohon tunggu sebentar," ucap wanita yang bernama Kiki di seberang sana.


"Oke mba ki, santai aja," balas Nasha ramah.


"Halah sok sok an aja kamu," hina Leni yang masih tidak mempercayai Nasha.


"Siapa itu yang bicara!" marah Zetta yang mendengar kata kata tidak sopan dari Leni.


"Eh?" bingung Leni yang merasa kenal dengan suara di telepon.


"Momy!" panggil Nasha antusias.


"Eh? Sha? Sayang? Kamu lagi sama siapa nak?" tanya Zetta yang menormalkan suara yang tadi terdengar geram.


"Iya Momy, ini Sha. Tadi yang ngomong ngeselin namanya Leni, kerja di toko perlengkapan baby. Orangnya nyebelin," adu Nasha seperti anak kecil.


Saat Nasha berbicara begitu, Farzan datang dan langsung duduk di sampingnya, menaruh beberapa kantung berisi makanan dan minuman untuk Nasha.


"Loh Arzanya mana Sayang?" tanya Zetta heran, masa anaknya meninggalkan Nasha sendiri.


"Ilang!" kesal Nasha yang tahu Farzan sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


"Aku ada Mom, cuma memang pengen liat pertunjukkan aja," sahut Farzan menimpali Nasha yang sudah pasti kesal padanya.


"Kamu ini gimana sih Za?! Anak Momy kasian dibikin kesel sama orang Loh. Terus juga masa dia ngga tahu siapa Sha sih?! Buang aja orang itu, ganggu anak kesayangan Momy aja," cerocos Zetta kesal dengan ucapan anaknya.


Padahal dia belum tahu apa yang jadi permasalahan mereka sebenarnya. Biarlah nanti dia cari tahu lewat suaminya, batin Zetta.


"Momy! Masa tadi orang itu bilang aku ngga boleh pegang pegang barang di tokonya sih! Katanya barang itu mahal terus aku ngga sanggup belinya. Mana di suruh ganti rugi 3 kali lipat lagi. Barang nya aja jelek tahu Momy, baru di buka keras keras aja udah pada bubuk," Nasha berceloteh memberitahu apa yang terjadi tadi dengan sedikit bumbu di dalamnya.


"Eh? Saya ngga gitu ya! Saya cuma mau melindungi barang di toko saja," bela Leni yang tidak terima dengan aduan Nasha.


"Siapa kamu berani potong ucapan anak saya! Diem aja sana. Sayangku, jangan sedih ya nak, nanti kita bubarin aja tokonya biar dia yang ganti rugi sama pemilik tokonya ya Sayang? Ngga kesel lagi kan sekarang?" Zetta tidak terima Leni memotong pembicaraan dirinya dan juga Nasha, beralih menenangkan Nasha.


Leni tidak lagi membuka suara karena terlalu syok mendengar ancaman dari Zetta. Leni baru menyadari siapa yang sedang dia hadapi saat ini.


Siapa yang tidak mengenal keluarga Lakeswara. Belum lagi pemilik dari ARC Coporation yang ada di hadapannya saat ini.


"Masih kesel Momy. Masa Kak Arza tinggalin aku sendiri, mana capek terus juga laper lagi," adu Nasha dengan mata berkaca kaca karena dia benar benar lapar sekarang.


"Aduh Sayangnya Momy laper ya nak? Ngga dikasih makan sama Arza? iya? Momy hubungin resto di sana buat samperin kamu ya? Kamu mau makan apa Sayang?" ucap Zetta menenangkan karena Zetta tahu ini sudah lewat makan siang, dan Farzan pasti sudah mengajak Nasha makan tadi. Tapi masalah ini membuat menantu kesayangannya ini lapar lagi.


"Mau lasagna sama krim sup Momy!" pinta Nasha semangat.


"Engga usah Mom, aku udah beli. Udah dulu ya Mom, Nasha perlu makan, aku juga harus selsaikan ini, dah Mom Dad," ucap Farzan sebelum mengakhiri panggilan itu.


Farzan juga tahu jika Daddynya pasti iktu menjadi pendengar setia sepertinya.


"Ish nyebelin! Kenapa di matiin telponnya? Kan aku belum selsai," kesal Nasha menggerutu pada Farzan dengan raut wajah merah padam.


"Ini Sayang, makan dulu ya?" Farzan menyodorkan satu lasagna yang di beri alas agar tidak panas saat di pegang oleh Nasha nanti.


"Nyebelin," sambar Nasha mengambil piring itu dengan tidak ramah sama sekali.


"Selamat makan Sayang," ucap Farzan terkekeh geli, tidak memperdulikan sikap Nasha yang seperti itu.


Selagi Nasha makan nanti dia akan mengurus wanita dihadapannya yang sudah berani mencari masalah dengannya.


Sepertinya dia orang baru atau orang yang mengabaikan pengumuman dari atasannya. Jadi dia tidak mengetahui tentang Nasha dan apa yang harus dilakukan jika Nasha sedang berkunjung ke tempat ini.


Tamat sudah karirmu Leni!


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2