
Karena kedatangan Brady, mereka berlima akhirnya makan bersama dengan meminta bodyguard membelikan makanan sehat yang bisa Billa dan Nasha makan.
Kedua wanita cantik itu juga sudah lebih akrab dari sebelumnya. Nasha mulai mau diajak bicara dan bahkan sekarang mereka sudah asik dengan dunianya sendiri.
Tiga lelaki di sana hanya melihat keakraban kedua wanita itu sambil sesekali membicarakan sahabatnya yang lain.
Di sofa panjang ada Reno, Billa, Nasha dan Farzan, di sofa sisinya ada Brady yang memperhatikan saja sambil sesekali melihat ponselnya.
“Iya tahu, waktu itu aku kan ke sana terus beli es krim, pas bayar kasirnya bilang hari itu ada bagi bagi es krim buat pembeli ke sekian, dan aku yang beruntung itu. Padahal kan harga di sana ngga murah,” cerita Nasha saat dia datang ke Mall.
“Loh kok enak sih? Itu gerai es krim yang di bawah kan? Aku tiap ke situ mana ada gratis,” timpal Billa cemberut.
“Di sana kan enak es krimnya, tapi ya emang mahal sih,” ucap Billa lagi, walau Reno pasti bisa membeli seluruh gerai jika dia mau. Bukan maksud sombong, tapi memang jika bekerja dengan Farzan kinerja mereka dibayar sesuai bahkan melebihi gaji seharusnya. Tapi sekalinya kepercayaan hilang, beda lagi ceritanya.
“Kamu mau beli semua gerainya juga aku bisa loh. Tapi aku ngga mau kamu jadi radang, kamu kan susah berhenti kalau udah makan es krim,” sahut Reno dengan mengelus kepala istrinya yang terbalut kerudung.
“Ih kan ngga banyak, cuma 2 cup kok,” ucap Billa membela diri.
Kesamaan kedua wanita itu adalah ice cream dan juga coklat. Tapi sepertinya banyak wanita yang menyukai makanan itu.
“Iya cup besar yang isinya jika di gabung bisa sampe 10 skop es,” ledek Reno yang di tatap tajam Billa.
“Ish tau ah aku marah,” ucap Billa sambil membalikkan badannya ke arah Nasha agar tidak melihat wajah menyebalkan Reno.
“Kasian ya Kak Reno. Harusnya Kak Billa ngomong jangan di sahut jadi sebel kan,” bisik Nasha yang masih didengar oleh semuanya.
__ADS_1
“Hahaha, dia emang gitu terus Sha, berantem terus, tapi sekalinya akur bisa bisa rumah di kunci ngga boleh orang lain masuk,” sahut Brady dengan tawanya.
“Kenapa gitu?” bingung Nasha dengan tatapan polosnya.
“Ngga usah di dengerin, dia emang suka asal ngomong,” ucap Farzan sambil mengalihkan perhatian Nasha agar tidak lagi membicarakan hal itu.
Bahkan wajah Billa dan Reno juga memerah karena yang dikatakan Brady itu benar. Tapi mereka memilih pura pura sibuk dengan ponsel di tangannya masing masing.
...----------------...
Makanan yang dari tadi di tunggu baru saja datang, jalanan siang ini padat jadi membuat mereka harus sabar menunggu banyaknya antrian dan juga kemacetan yang ikut menghambat.
Nasha seharusnya makan makanan dari rumah sakit, tapi hari ini pengecualian. Berhubung suasana hati Nasha baru saja membaik, agar nanti juga dia mau meminum obatnya. Lagi pula makanan ini juga sudah terjamin kebersihan dan kadar gizinya.
“Mau ramen,” cicit Nasha yang memikirkan mie khas jepang itu.
“Kalau kamu udah sembuh nanti, aku ajak makan ramen sepuasnya,” bisik Farzan membujuk Nasha yang sejak di rumah sakit sangat sulit untuk makan. Padahal biasanya Nasha dan Aletta bisa menghabiskan waktu mencari makanan berdua dan menghabiskan banyak piring makanan.
Sekarang saja tubuh Nasha sudah berubah lebih kurus dibandingkan sebelumnya yang chubby. Mungkin sekarang berat badannya 45 kg atau bahkan kurang dari itu.
“Yaudah,” lesu Nasha yang tidak tahu harus makan apa. Menurutnya makanan ini terlihat tidak menarik.
Farzan menghela nafas sebentar karena membujuk Nasha untuk makan memang membutuhkan kesabaran lebih sekarang ini. Jika nanti Nasha sudah sembuh, Farzan berusaha tidak melarang Nasha untuk memakan makanan apa pun asal masih dalam pengawasannya.
“Sekarang kamu mau salmon atau sushi?” tanya Farzan bersiap menyuapi Nasha.
__ADS_1
“Em, apa aja,” jawab Nasha tanpa minat.
Farzan yang tidak menyerah memberikan sushi dengan isian matang, karena setahunya Nasha tidak suka sushi mentah. Baru setelah itu Farzan mengambilkan makanan lain yang ada di hadapannya, membiarkan Nasha memilih makanan yang akan dihabiskan.
“Mau puding coklat itu,” ucap Nasha di sela sela makannya.
“Habis ini baru makan puding, ya?” tawar Farzan. Jika Nasha sudah makan puding, dia tidak akan mau lagi makan makanan beratnya. Padahal baru makan 3 suapan saja.
“Huh.. yaudah deh mau makan salmon sama mashed potato, pake saus sambal dikit boleh?” ijin Nasha yang kemungkinan tidak di perbolehkan 100%.
“Boleh sedikit aja tapi ya? Nanti kalau udah sembuh boleh makan pedes lagi, tapi tetep jangan kebanyakan sama jangan terlalu sering juga,” ucap Farzan yang tadi melirik Reno yang mendengarkan percakapannya. Reno juga mengangguk sambil bergumam sedikit, jadi Farzan tidak ragu menjawab.
“Yes.. makasih,” senang Nasha dengan bertepuk tangan kecil.
Kelakuannya seperti Nasha ketika kecil yang sedang bermain dengannya dulu. Bahkan mau sekarang atau dulu Nasha masih sama menggemaskannya.
Semua yang ada di ruangan itu juga terkekeh kecil melihat respons dari Nasha. Apalagi dengan wajah polos dengan mulut penuh berisi makanan yang baru saja di masukan ke dalam mulutnya itu.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1