Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Tidur terus


__ADS_3

Pagi ini Farzan harus kembali ke perusahaan untuk mengambil buku yang ditemukan Dirky kemarin, sekaligus mengerjakan beberapa dokumen yang memang harus segera mendapat persetujuannya.


Nasha tadi tertidur kembali selesai sholat subuh, dan belum bangun sampai Farzan akan berangkat ke kantor.


Farzan tidak berniat membangunkan Nasha karena tadi Nasha terlihat begitu lemas setelah morning sickness yang sudah satu minggu selalu datang saat matahari belum terbit.


“Aku kerja dulu ya,” gumam Farzan berpamitan sambil mengecup kening Nasha, lalu pergi ke bawah untuk sarapan.


Selesai dengan sarapan Farzan langsung berangkat diantar oleh sopir karena harus menghubungi Brady membahas beberapa hal.


Memakan waktu 45 menit di jalanan yang lumayan padat karena memang waktu masuk kerja merupakan jam jam rawan kemacetan, Farzan langsung menaiki lift khusus untuk sampai ke ruangannya.


Perkiraan Dirky datang sebelum makan siang agar tidak mengganggu waktu kerja.


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul 10.30 saat mata wanita cantik yang masih tertidur pulas tadi terbuka perlahan menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melewati celah gorden yang di biarkan tertutup.


Farzan memang sengaja tidak membuka gorden agar Nasha bisa beristirahat dengan nyaman, tidak terganggu oleh sinar matahari.


“Jam berapa sekarang?” gumam wanita itu yang tak lain adalah Nasha.


“Astaghfirullah, udah setengah 11,” kaget Nasha begitu melihat jam digital yang ada di sebelah TV di depannya.


“Pasti Mas Farzan udah pergi kerja,” gumamnya sedih.


“Mandi dulu aja deh,” gumam Nasha lagi sambil jalan menuju kamar mandi dengan langkah lesunya.


“Aku kenapa sih? Masa gitu aja sedih,” kesal Nasha saat sedang berendam di bathtub dengan aroma vanila juga kopi.


“Masa ngantuk lagi. Baru juga bangun,” ucap Nasha yang matanya sudah berat. Dia memang gampang tertidur, ditambah sekarang bawaannya juga mengantuk terus.


Hampir satu jam Nasha di kamar mandi dan masih tertidur dengan kepala yang di sangga pelampung kecil, juga banyaknya mainan air yang Nasha masukkan. Kelakuannya memang seperti anak kecil jika tidak ada yang melihat.


Di depan banyak orang Nasha biasa saja dengan sikap cuek dan garangnya. Tapi jika sudah sendiri dia akan menjadi dirinya yang terkadang seperti anak kecil seperti saat ini.


Air di dalam bathtub sudah mulai mendingin, tapi Nasha belum ada niatan untuk bangun. Bahkan pintu kamarnya di ketuk pun Nasha tidak dengar karena masih asik tertidur.


...----------------...


Farzan yang sedang bertemu dengan Dirky membahas laporan tentang Acha dan juga bukunya, penasaran dengan Nasha, apakah sudah bangun dan sarapan atau masih tertidur.


Dalam cctv yang terhubung, Farzan sama sekali tidak melihat adanya Nasha di dalam kamar. Farzan menyusuri beberapa tempat lain yang kemungkinan di datangi oleh Nasha, tapi tidak menemukan keberadaannya.


“Jadi apa tindakan Tuan selanjutnya?” tanya Dirky meminta pendapat Tuannya.


“Sebentar,” ucap Farzan yang mulai gelisah.


“Buku itu kamu taruh saja di sini, nanti saya akan baca isinya. Untuk masalah dia selama tidak mengganggu atau memasuki kawasan mansion biarkan saja dulu. Tapi tetap awasi pergerakannya, sepertinya ada yang aneh dengannya,” jelas Farzan membahas masalah itu dulu, karena sepertinya dia harus kembali ke rumah agar bisa mencari Nasha di tempat lainnya.


“Baik Tuan,” ucap Dirky mengiyakan.


“Kalau begitu saya permisi Tuan,” pamit Dirky yang diangguki Farzan.


Tak lama setelah Dirky pergi, Farzan menaruh buku ke dalam brangkas yang di simpan di tempat rahasianya agar bisa dia baca nanti. Sekarang ada hal yang lebih penting yaitu mencari Nasha.


“Siapkan mobil sekarang, kembali ke mansion,” ucap Farzan saat menghubungi sopirnya.


“Kemana dia sebenarnya,” gumam Farzan sambil terus mengotak atik tabnya.


Sambil menunggu lift turun dan perjalanan sampai ke mansion Farzan terus memperhatikan rekaman dari saat dia pergi ke perusahaan.


Sampai dia menemukan Nasha terbangun dengan sedikit kaget dan mulai melangkah dengan gontai menuju kamar mandi. Sepertinya sekarang Farzan tahu dimana Nasha berada. Dan itu membuatnya tambah khawatir karena berarti Nasha sudah ada di kamar mandi lebih dari 1 jam.

__ADS_1


Sampai ke dalam mansion, Farzan berlari menuju kamarnya menggunakan tangga, padahal ada lift yang tersedia di sebelah tangga.


Masuk ke dalam kamar dan mencoba membuka pintu kamar mandi. Ternyata pintunya tidak terkunci jadi dia bisa langsung masuk.


Farzan menghela nafas berat ketika melihat Nasha tertidur dengan segala ornamen anak kecil jangan lupa hewan laut yang menjadi pajangan sudah mengambang di dalam air bersama dengan Nasha.


“Kenapa tidur di sini,” gumam Farzan sambil mengusap ngusap pipi Nasha yang membuat matanya terbuka perlahan.


“Loh kenapa masuk ke sini?” tanya Nasha sedikit tersentak kaget.


“Kenapa kamu malah tidur di sini, hm?” tanya Farzan lembut.


“Engga tahu,” balas Nasha dengan mengedikkan bahunya.


“Sekarang bilas ya? Ini airnya udah dingin,” ucap Farzan sambil merasakan suhu air di tangannya.


“Aku atur suhu dulu sebentar, abis itu cepet bilas ya,” ucap Farzan lagi sambil berdiri menuju shower mengatur suhu air agar hangat.


“Kenapa kamu udah di rumah?” tanya Nasha yang baru ingat tadi Farzan tidak ada di kamar yang berarti berangkat kerja.


“Aku ngga liat kamu dimana mana, jadi harus pulang untuk cari dan pastiin langsung,” ucap Farzan yang sudah di samping Nasha lagi.


“Sekarang bilas ya, nanti sakit kalau kelamaan,” ucap Farzan yang di angguki Nasha.


Farzan keluar dan menunggu Nasha di sofa yang ada di samping tempat tidur sambil memangku MacBook untuk memeriksa beberapa email.


Tidak lama Nasha sudah duduk di atas meja rias dengan daster modern panjang warna krem dan juga handuk yang ada di kepalanya.


Nasha yang jarang menggunakan hair dryer atau alat pengering rambut, hanya menggosokkan kedua sisi handuk agar tidak basah lagi.


Farzan yang melihat itu mengambil hair dryer untuk mempercepat mengeringkan rambut Nasha sekaligus menambahkan vitamin rambut.


“Eh kenapa malah sama kamu?” ucap Nasha saat kepalanya di tegakkan dan handuknya di ambil.


“Kan baru bangun,” sahut Nasha santai.


“Lain kali aku bangunin kamu buat sarapan dulu, baru abis itu boleh lanjut tidur lagi,” ucap Farzan setelah terdiam sebentar tadi.


“Kok gitu?” heran Nasha.


“Kamu kan harus minum susu sama vitamin juga, lupa?” ingat Farzan sambil melirik Nasha dari cermin.


“Hehe iya,” cengir Nasha yang memang lupa.


Farzan hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut Nasha.


“Udah, sekarang mau makan di sini atau ke bawah?” tanya Farzan setelah selesai dan memasukkan kembali alat pengering ke laci meja rias.


“Em.. makan di bawah aja deh. Aku ambil kerudung instan dulu,” ucap Nasha yang akan berdiri menuju rak kerudung miliknya.


“Biar aku aja,” ucap Farzan cepat sambil mengambilkan kerudung instan dengan warna senada daster modern milik Nasha.


“Makasih,” ucap Nasha yang diangguki Farzan.


Mereka berdua turun setelah Farzan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai karena tidak akan kembali ke perusahaan.


Sampai di meja makan terlihat beberapa menu di antaranya, tumis brokoli, salmon yang di tepung kemudian di bumbui asam manis, udang bakar, telur balado, sayur kimlo kuah, dan beberapa pendamping lainnya.


Nasha melihat udang sudah merasa tidak enak dan ingin muntah, tapi sebisa mungkin dia tahan karena tidak enak dengan Farzan.


“Kamu mau makan sama apa?” tanya Nasha setelah mengambilkan nasi ke piring Farzan.


“Udang, sama ikan saus asam manis itu,” ucap Farzan sambil melihat makanan lain.

__ADS_1


Nasha yang tadi masih menahan diri, saat mengambil udang tidak bisa lagi menahan rasa mualnya yang berakhir berlari menuju kamar mandi di dapur.


Farzan mengikuti Nasha masuk tanpa merasa jijik. Nasha juga seperti ini karna sedang mengandung anaknya.


“Ka kamu keluar aja,” ucap Nasha terbata-bata dengan tangan berusaha mendorong Farzan pergi, tapi tidak bisa karena tidak ada tenaga.


“Udah selesai? Atau masih mual?” tanya Farzan tanpa menghiraukan perkataan Nasha.


Nasha hanya menggeleng tanda sudah tidak apa apa. Belum sarapan di tambah melihat makanan laut yang menurut hidungnya tercium begitu amis membuat dia tidak tahan dan berakhir memuntahkan cairan bening yang terasa pahit di mulutnya.


Farzan membersihkan mulut Nasha dan menyuruh Nasha berkumur agar menghilangkan rasa tidak enaknya. Setelah itu membawa Nasha ke dalam gendongannya.


“Apa kamu tidak bisa mencium bau udang?” tanya Farzan sambil berjalan perlahan.


Nasha hanya mengangguk saja sambil menghirup aroma tubuh Farzan di celah lehernya.


“Mbo, tolong pindahin udang ini,” pinta Farzan pada Ningrum yang biasa mengurus dapur.


“Ada lagi yang bikin mual?” tanya Farzan pada Nasha sambil berdiri sedikit menjauh dari meja makan.


“Ikan,” singkat Nasha.


Farzan meminta Ningrum mengambil kedua makanan itu untuk di makan bersama maid lainnya saja. Farzan juga berpesan agar tidak memasak makanan yang berbau amis dulu sementara ini.


“Sudah. Sekarang kamu makan ya,” ucap Farzan ketika duduk di kursi sambil masih memangku Nasha.


“Ngga mau nasi,” cicit Nasha pelan.


“Kenapa?” tanya Farzan dengan dahi mengernyit.


“Ngga tahu,” geleng Nasha pelan.


“Aku suapin,” putus Farzan mengingat kemarin Nasha bisa makan nasi saat di suapi.


“Dikit aja, please,” mohon Nasha sambil mengerjapkan matanya.


“Hah,”


“Yasudah tapi makan sayur yang banyak, gimana?” tawar Farzan yang di angguki Nasha.


Mereka makan dengan tenang dan Nasha masih duduk di pangkuan Farzan karena permintaan Farzan sendiri. Nasha hanya menurut karena dia juga masih lemas.


“Udah,” ucap Nasha saat baru suapan ke 6.


“Masa sedikit makannya? 4 suapan lagi ya,” pinta Farzan sambil mengambil sendok yang tadi di taruh di atas piring.


“Mau makan sayur aja boleh?” tawar Nasha.


“Oke tapi satu mangkuk harus habis,” akhirnya Farzan mengiyakan karena takut jika dipaksa Nasha akan memuntahkannya kembali.


“Duduk sendiri ya?” pinta Nasha agar bisa makan dengan bebas.


Farzan juga mengiyakan agar Nasha senang dan bisa mengambil makanan yang lainnya nanti.


Selesai dengan makan siangnya, Farzan memberikan Nasha susu khusus ibu hamil rasa coklat karena permintaan Nasha di tambah ice cream vanila yang diinginkan Nasha.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye

__ADS_1


__ADS_2