Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Pulang dari supermarket


__ADS_3

"LOH KOK BANYAK BANGET?!" pekik Nasha karena terkejut melihat banyaknya box berisi beberapa makanan dan juga minuman.


"Kak Arza ini mah pasti," santai Aletta yang sudah terbiasa dengan tingkah Farzan ini.


"Sekalian stok, di rumah juga banyak orang," ucap Farzan tak kalah santai.


"Terus kenapa yang di troli ngga di kembaliin aja sih?! Kan sayang kalau gini," ucap Nasha antara geram dan gemas dengan tingkah ajaib Farzan yang menghabiskan banyak uang.


"Ya masa mau di balikin lagi sih. Udah Sayang ngga papa, di rumah banyak orang, besok juga banyak tamu yang dateng jadi bisa buat tambahan menyuguhi tamu," jelas Farzan lembut dengan membelai pipi Nasha.


"Hah! Yaudah, kali ini ngga papa, tapi lain kali kalau mau ngambil satu dus gini, ngga usah ambil lagi dari rak ya. Mubazir," ucap Nasha pasrah, karena tidak mungkin juga semuanya dikembalikan.


"Iya Sayang," ucap Farzan menepuk pelan kepala Nasha.


"Yaudah sekarang kita pulang ya. Kamu udah terlalu lama berkeliling hari ini. Sampai rumah nanti harus berendam agar tidak terlalu sakit badannya nanti," lanjut Farzan sambil membantu Nasha naik ke dalam mobil.


Setelah itu mobil melaju kembali menuju mansion, kabarnya sahabat sahabat Farzan sudah datang sekitar 20 menit yang lalu.


Tapi Farzan tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena sekarang Nasha kelihatan begitu lelah. Mungkin nanti dia akan memijat Nasha sebentar baru akan menemui sahabatnya.


Aletta dan Nasha sepanjang perjalanan pulang tertidur akibat mobil yang mereka kendarai terjebak kemacetan lalu lintas. Jika tadi 45 menit sudah sampai, maka sekarang butuh waktu hampir satu jam perjalanan.


Farzan membiarkan kedua wanita itu tertidur dengan Aletta yang di beri bantal leher juga selimut berwarna peach dan Nasha yang bersandar di bahunya serta selimut berwarna tosca.


...----------------...


"Assalamualaikum," salam Farzan pelan karena membawa Nasha dalam gendongannya.


"Waalaikumsalam, Aletta mana Za?" tanya Zeroun yang kebetulan sedang duduk sendiri di teras.


"Tidur Dad," ucap Farzan dengan mata melirik ke arah mobil.


"Oke. Letta biar Dad yang bawa ke kamarnya. Kasian anak anak cantik Dad pada kecapean semua," ucap Zeroun beranjak menuju mobil dan membawa Aletta dalam gendongan koalanya, setelah menyingkap selimut serta bantal lehernya.


Farzan hanya mengangguk dan berlalu lebih dulu membiarkan adiknya bersama Zeroun, jadi dia tidak khawatir meninggalkan Aletta di mobil.

__ADS_1


Di dalam suasana hening, mungkin karena yang lainnya sedang berada di kamar masing masing untuk mengistirahatkan tubuh sejenak.


Farzan bersyukur akan hal itu, karena biasanya Nasha akan terbangun jika mendengar suara bising.


Langkah kaki Farzan berhenti tepat di depan pintu kamarnya dan membuka dengan susah payah karena Nasha berada dalam gendongannya dan di lantai 2 ini kebetulan tidak ada yang bertugas untuk dimintai tolong.


Meletakkan Nasha perlahan di atas tempat tidurnya juga sedikit mengusap usap kepalanya agar tetap terlelap sebelum beranjak menyiapkan air juga aroma terapi untuk merelaksasikan tubuh mereka nanti.


Farzan akan menunggu Nasha sekitar 30 menit lagi atau saat Nasha bangun dengan sendirinya nanti agar bisa langsung berendam.


Untung saja tempat pemandian miliknya bisa mengatur suhu air sekaligus agar tidak perlu susah menunggu terlalu lama. Cukup 10 menit semua selesai.


......................


20 menit berlalu. Farzan sekarang masih berkutat dengan tab di hadapannya, memeriksa beberapa pesan masuk dari aplikasi mail.


"Engh," lenguh Nasha merenggangkan otot tangannya, badannya baru terasa remuk sekarang, apalagi kakinya seperti sudah mati rasa karena terlalu lama berjalan jalan tadi. Untung saja tidak ada masalah pada perutnya, bisa bisa dia di kurung lagi nanti.


"Badannya sakit ya? Sebentar aku panasin lagi airnya, nanti kita berendam dulu sebelum makan malam ke bawah," ucap Farzan yang meletakkan asal tab miliknya dan berlalu ke kamar mandi setelah mengecup singkat kening Nasha.


"Dia nanya tapi langsung pergi gitu aja? heran," malas Nasha dengan kelakuan Farzan itu.


"Aku bisa sendiri Kak," ucap Nasha melihat ke arah wajah Farzan.


"Engga papa, kamu tadi udah banyak banget jalan, jadi sekarang aku yang bakal bantuin kamu," ucap Farxan.


Nasha hanya bisa pasrah saja , karena Farzan sulit untuk di bantah. Jadilah dia hanya diam menerima perlakuan lembut Farzan.


"Malam ini mau makan apa?" tanya Farzan yang memeluk Nasha dari belakang.


Farzan tidak pernah absen menanyakan keinginan Nasha atau makanan yang ingin di makan, karena semenjak mengandung Nasha jadi pemilih dalam hal makanan.


"Em.. pasta boleh ngga?" tanya Nasha sedikit ragu.


"Baby ngga mau nasi, hm?" tanya Farzan lembut, tangannya mengusap usap perut bulat Nasha yang di balas tendangan kecil oleh baby di dalam sana.

__ADS_1


"Iya nak? Pastanya mau dimasakin siapa kali ini?" tanya Farzan lagi, Nasha sudah tahu jika anaknya merespon maka Farzan akan berbicara sendiri seperti ini.


"Kemarin Grandma, Grandpa, terus Aunty Aunty. Sekarang mau Uncle ngga? Belum pernah liat Uncle tersiksa kan, hehe," ucap Farzan lagi dan baby masih menendang kecil, namun saat kata terakhir tendangannya kemakin terasa keras dan membuat Nasha sedikit meringis.


"Shh, pelan nak," ringis Nasha menggenggam lengan Farzan erat.


"Waw kamu bersemangat sekali baby, oke kita kerjain Uncle yah. Tapi tendangnya santai aja oke? Kasian Mami nak," ucap Farzan lagi dan langsung di turuti oleh baby yang menendang kecil.


"Kamu mah malah ajak anaknya buat ngerjain orang. Nanti mereka ngiranya aku lagi yang jail," cebik Nasha kesal dengan hasutan Farzan pada anaknya itu.


Beberapa bulan belakang Farzan sengaja mengajak baby dalam kandungan Nasha untuk mengerjai banyak orang sekitarnya.


Mulai dari Zeroun, Zetta, Aletta, para istri dari sahabatnya juga ikut jadi sasaran. Nasha hanya bisa diam karena sepertinya anaknya ini mendukung ucapan Papinya. Anak Papi sih ini. (please, ini cuma hayalan yang entah memang ada atau tidak wkwk.)


"Ehehehe ngga papa dong Sayang, kapan lagi kan kita liat Dad sama Letta masak, terus lagi liat sahabat aku mencak mencak karena ganggu waktu sama istri mereka, haha," Farzan malah tertawa sendiri mengingat beberapa permintaannya berkedok keinginan baby untuk dibuatkan makanan atau hal aneh lainnya.


Nasha yang jadi korban pinjam nama oleh Farzan nyatanya juga malah menikmati ketika yang lain sedang dijaili.


"Ini mah pasti jadi anak Papi, nurut banget soalnya sama kamu. Di ajak kerja sama mau, kalau lagi nendang brutal juga nurutnya cuma sama kamu aja biar mau berenti," ucap Nasha sedikit mengejek Farzan, tapi dalam hati dia bersyukur dan juga senang akan hal itu.


"Iya dong harus, biar bisa ikut jagain Mami sama adik adiknya nanti," ucap Farzan dengan bangga.


"Astaghfirullah, ini aja belum lahir udah mikirin adiknya," ucap Nasha mendelik kesal pada Farzan.


"Ehehehe kan harus di program dari sekarang," cengir Farzan tanpa malu.


"Ya ya ya, terserahmu saja," malas Nasha mengedikkan bahu acuh.


"Bagus. Istri yang begitu penurut," bangga Farzan dengan menepuk nepuk kepala Nasha pelan.


Nasha hanya bisa memutar bola matanya malas melihat kelakuan Farzan ini. Sepertinya sejak kecil lelaki ini pandai membanggakan dirinya sendiri, tapi hanya berlaku untuknya saja. Di depan yang lain mah boro boro. Sombong yang ada haha.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2