Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Bertemu Keluarga


__ADS_3

“Makasih Diel udah jemput, btw mau masuk dulu ngga?” tanya Nasha begitu sampai di depan rumahnya.


“Sama sama Sha, lagian juga kan aku yang jemput tadi, tapi besok kayanya aku gabisa bantu, paling Rumi, gapapa?” tanya Diel balik.


Seakan teringat jika besok Farzan datang menemui keluarganya, Nasha jadi terdiam. Dia lupa membicarakan masalah ini dengan Diel tadi. Sekarang gimana? Aku harus bilang apa ke Diel? Waktu itu aku gabisa memberi jawaban, tapi sekarang aku malah menerima ajakan Bos otoriter itu, aku harus bilang apa ke Diel?, batin Nasha bingung.


“Sha?” ucap Diel sambil menepuk bahu Nasha pelan.


“Eh.. iya gapapa kok, paling besok cari alesan dulu, hehe,” ucap Nasha dengan sedikit canggung sebenarnya.


“Oke kalau gitu, yaudah aku ga mampir ya,” ucap Diel


“Mm.. Diel,” panggil Nasha, dia berusaha jujur pada Diel tentang semua yang di lalui tadi, nanti juga dia akan bercerita pada Rumi, agar mereka mendengar langsung darinya. Tapi mengingat bahwa ini pernikahan sementara menurut Bosnya itu, dia jadi berpikir ulang untuk memberitahu mereka.


“Kalau aku cerita-in ke mereka, pasti mereka gaakan terima. Apalagi Diel yang memang pernah menyatakan perasaannya waktu itu. Kayanya lebih baik aku tidak cerita sekarang. Mungkin akan lebih baik jika aku cerita setelah adanya ikatan nanti,” batin Nasha.


“Iya? Kenapa?” tanya Diel karena Nasha tak kunjung bicara.


“Eh gajadi deh, aku turun ya, makasih sekali lagi Diel,” ucap Nasha sambil membuka pintu di sampingnya untuk turun. Diel pun menancapkan gasnya kembali setelah melihat Nasha masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam rumah, Nasha mengucapkan salam dan menyalami kedua orang tuanya. Dengan sedikit mengobrol kepada mereka, setelahnya Nasha berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


...----------------...


Dalam kamar..


“Bagaimana caranya aku bicara pada Ayah dan Ibu? Mereka pasti marah padaku. Kak Arza, jika saja Kakak yang lebih dulu datang maka aku tak akan seragu dan setakut ini. Bisakah aku meminta waktu diputar? A..ku sung..guh tak sanggup, hiks.. hiks..” gumam Nasha dan berakhir dengan tangisannya, beruntung pintu kamarnya selalu dikunci, karena terkadang Ibu atau adiknya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Aku gabisa kaya gini, aku harus kuat, aku gaboleh ngeluh, semua pasti menemukan akhir bahagianya. Ya. Aku harus yakin itu,” gumam Nasha kembali.


Akhirnya dengan segala perdebatan batinnya, karena selain dia tidak siap, dia juga sangat takut jika Ayahnya marah. Bukankah dulu dia pernah bercerita, saat dirinya masih kecil amarah orang tuanya belum stabil, dan itu berdampak pada Nasha kecil yang menjadi pelampiasannya. Selain dengan bentakan atau kata kata yang seharusnya tidak diucapkan dia juga mendapatkan sebuah pukulan di kaki atau cubitan di tangan.


Alasannya berbeda beda, terkadang karena dia main terlalu lama, terkadang karena adiknya menangis dan dia yang di salahkan, atau menginginkan sesuatu tapi tidak diperbolehkan. Pernah sekali dia ingin ikut untuk pergi ke undangan, tapi kendaraan yang Ayahnya punya hanya motor, jadi dia tidak bisa ikut pergi, saat itu dia sedikit merengek ingin tetap ikut, tapi tak lama dia jadi memilih untuk tidak ikut dan hanya melihat mereka yang ingin pergi, namun ban motornya ternyata kempes jadi mereka tidak jadi naik motor dan akan naik angkutan umum, Ayahnya mengajak dia untuk ikut, tapi dia bilang tidak karena sudah tidak ingin ikut, Nasha pun pergi ke dalam kamar dan menelungkupkan badannya, tak lama Ayahnya datang dan membawa tongkat plastik lalu mengayunkan tongkat itu ke arah betisnya, semakin dia menangis maka semakin keras tongkat plastik itu mengayun.


Sakit? Tentu saja. Ini bukan hanya sekedar sakit, tapi juga kecewa. Biasanya sosok Ayah adalah idola bagi anak perempuan dan terkadang itu dijadikan acuan jika nanti dia memiliki pendamping nanti. Tapi jika seperti itu keadaannya maka anak akan merasa semua lelaki yang marah akan melakukan hal yang sama. Di awali bentakan dan di akhiri pukulan. Dan pukulan itu akan selalu diingat walau sangat berusaha untuk di lupakan. Segala bentuk bentakan memang bisa terjadi di luar rumah misalnya saja saat masa orientasi baik itu SMP atau SMA atau saat masuk perguruan tinggi. Untuk Nasha sendiri dia menutupi dengan terdiam dan berpura pura biasa saja padahal seluruh tubuhnya seperti mati layaknya patung yang hanya tak bergerak, tak bisa berpikir, tak bisa membantah, tak bisa menerima apa yang orang itu ucapkan, pandangannya akan sedikit kosong, tapi tidak terlalu di sadari banyak orang.


Tekanan yang terlalu kuat membuatnya terlihat kuat di luar namun hatinya teramat rapuh. Bahkan jika biasanya saat ada doa bersama banyak yang menangis di akhir doa, Nasha hanya berkaca kaca atau bahkan hanya menunduk saja tanpa menangis. Hanya ketika bersama sahabat sahabatnya saja dia sampai mengeluarkan air mata. Walau sedikit. Dia masih takut. Kecuali Dia yang memang mengetahui hal ini.


Lama termenung akhirnya Nasha memutuskan keluar kamar, sepertinya Ayah, Ibu, dan Adiknya sedang berkumpul di ruang tamu sambil menonton atau sekedar bersenda-gurau.


...----------------...


Ruang Tamu..


“Kamu belajar yang bener biar bisa masuk kuliah negeri, ambil jurusan IPA, karena akan sangat berguna,” terdengar ucapan Ayahnya yang berbicara pada adiknya Ucan.


“Ibu mah doa-in yang terbaik aja, semoga apa yang di cita citakan oleh kamu bisa tercapai,” di susul suara Ibunya.


“Aku memang selalu menyusahkan mereka, seharusnya memang aku tak perlu ada, seberapa kuat aku menahan, hati ini tetap sakit. Aku menyayangi Ucan. Sangat. Tapi jika sudah seperti ini aku tidak bisa menahan rasa iri. Aku sudah mencoba. Dan itu sungguh sulit. Hm.. huh.. (tarik nafas dan hembuskan perlahan) aku harus biasa saja. Semoga hanya aku yang mengalami hal ini,” batin Nasha mencoba tegar.


“Iya Ayah, Ibu, aku juga lagi coba daftar lewat sekolah, doa-in semoga ada rezekinya ya, hehe,” jawab Ucan pada mereka.


Nasha pun datang dan langsung duduk di sebelah adiknya, dan berpura pura tidak tau apa yang mereka bicarakan tadi. Karena tidak ingin terlalu ikut campur. Terlalu lelah berpura pura.


“Ih ini teh punya siapa, kayanya gaada yang punya,” ucap Nasha sambil mengambil gelas yang berisi teh manis hangat milik Ucan.


“Ih kamu mah, itu punya aku. Bikin sendiri dong,” kesal Ucan melihat Kakaknya meminum minumannya.


“Biarin wle,” ledek Nasha menjulurkan sedikit lidahnya.

__ADS_1


“Tau ah,” kesal Ucan.


“Sstt. Berisik. Malu sama tetangga. Kamu juga Nasha, bikin sendiri. Kebiasaan,” bentak Ayah Nasha karena kesal melihat mereka ribut. See, dia memang tak sesabar itu pada Nasha. Haha.


Mereka terdiam setelah Ayahnya berbicara. Tak lama dari itu Nasha kembali ke dalam kamar dan karena itu juga Nasha lupa untuk berbicara pada kedua orang tuanya. Ingin menangis tapi sulit dan takut jika ada yang seseorang yang mendengarnya. Jadi malam itu Nasha memutuskan untuk langsung tidur.


Keesokan harinya..


Nasha terbangun saat alarm ponselnya menyala pada pukul 03.45. Setelah selesai melaksanakan sholat sunat, Nasha memainkan ponselnya sebentar, saat itu ada satu pesan masuk dari sebuah aplikasi mengirim pesannya.


+628568821****


Siang nanti saya akan datang sendiri.


Persiapkan dirimu.


“Nomor siapa ini? Tapi dia bilang siang akan datang?” Batin Nasha bingung.


Tiba tiba matanya melotot kaget karena baru ingat jika Farzan akan datang ke rumahnya. Dan dia baru menyadari jika itu kemungkinan besar adalah nomor milik Farzan.


“Duh.. aku harus gimana ini? Gimana bilangnya juga, bodo banget sih aku kemarin bukannya langsung bilang. Aaaa.. gimana ini?” bingung Nasha sambil menelungkupkan kepala pada bantal yang ada di dekatnya.


“Gamungkin dadakan kalau bilang yang kaya gini, gimana dong? Yaudahlah biarin aja, semoga nanti ga terjadi hal yang tidak diinginkan. Paling setelah selesai aku dimarahi atau apa pun itu. Jadi yaudahlayah,” gumam Nasha pasrah. Sudah terlalu bingung jadi biarkanlah terjadi sesuai alurnya, batinnya.


Tanpa terasa sekarang sudah pukul 11 siang, artinya sebentar lagi Farzan akan datang ke rumah Nasha. Tapi berhubung sedari tadi Nasha di sibukkan oleh banyaknya pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, cuci baju, cuci piring, dan segala macam pekerjaan rumah lainnya, jadi dia lupa akan hal itu.


Sedari Nasha SMP memang terkadang Ibunya meminta dia membantu menyapu, mengepel dan cuci piring atau hal lainnya. Mungkin karena dia anak yang paling besar jadi dia yang diminta membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi Nasha sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri.


“Akhirnya semua beres juga, kadang kesel sih ya beres-in rumah terus setiap saat, tapi mungkin ini sudah takdir, jadi yasudahlah haha,” gumam Nasha setelah selesai memasukkan baju miliknya yang baru di setrika ke dalam lemari, dan dia merebahkan dirinya di kasur untuk melepas penatnya.


“mumpung libur gini enaknya ngapain lagi yah? Kayanya masak mie yang pedes enak deh, aku bikin itu aja kali yah,” gumam Nasha yang sedang menutup matanya dan membayangkan jika apa yang dia inginkan ada di depan matanya. Tanpa menunggu waktu lagi dia keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat mie pedas.


Tok.. tok.. tok..


“Iya sebentar,” ucap Nasha dari dalam sebelum membuka pintu. Tanpa menunggu lagi Nasha membuka pintu.


“Iya cari siapa?” ucap Nasha sebelum melihat siapa yang datang.


“Apa kamu lupa Arfa?” tanya Farzan dengan menaikkan sebelah alisnya dan menelisik penampilan Nasha dari kaki sampai kepala, karena Nasha hanya memakai daster rumahan dengan kerudung langsung dengan warna yang senada yaitu warna biru tosca.


“Astagfirullah,” kaget Nasha ketika melihat dan mendengar suara Farzan.


“Kok aku bisa lupa kalo Bapak Bos bakal kesini, duh di rumah gaada orang lagi, gimana dong?” batin Nasha bingung.


Tadi sekitar jam 10 pagi Ibu Nasha pergi ke rumah saudaranya, karena sepupunya sakit daan keluarga yang lain akan menengok jadi sekalian Ibu ikut. Nasha tidak ikut karena, pasti kalian tau jawabannya wkwk.


“Saya di suruh berdiri di sini terus nih?” tanya Farzan lagi ketika Nasha hanya terdiam di depannya.


“Eh emm.. gini Pak, kan di rumah gaada orang, takutnya nanti jadi fitnah kalau Bapak masuk, mending Bapak ...” belum selesai Nasha berbicara Farzan lebih dulu menyelanya.


“Jadi kamu mengusir saya? Dan kamu memang sengaja karena menyesali keputusanmu itu?” sela Farzan.


“Eh bukan gitu Pak, maksud saya Bapak duduk dulu di depan aja, saya mana ada mau mengusir, tapi mungkin orang tua saya pergi cukup lama, biasanya Ayah pulang kerja jam 5 dan kalau Ibu pergi ke rumah saudara pulangnya bisa sekitar jam 4 sebelum Ayah sampai rumah. Jadi Bapak mau menunggu di sini atau bagaimana?” jelas Nasha karena tidak ingin Farzan berpikir jika dia menyesali keputusan yang dia buat. Dia bukan orang yang seperti itu.


“Hm.. baiklah saya percaya. Saya ingin menunggu di sini saja, dan jangan khawatir dengan perkataan orang, lagi pula kamu juga sering mengajak teman lelakimu itu masuk kan walau tidak ada siapa pun. Jangan pikir saya tidak tau yah, sekarang minggir saya mau masuk,” tegas Farzan dan Nasha hanya bengong dengan kedua bola mata yang seperti ingin keluar saking terkejutnya mendengar ucapan Farzan. Tak lama dia menyingkir dan membiarkan Farzan masuk ke dalam rumah.


“Jadi kamu belum bicara pada mereka jika saya akan datang kan?” tebak Farzan karena memang dia sudah memprediksi ini semua. Arfa pasti belum siap menjelaskan semuanya pada orang tuanya, pikirnya.


“Mm.. Iya Pak, dan saya minta maaf karenanya, waktu Bapak jadi terbuang banyak. Saya sungguh minta maaf,” tulus Nasha karena dia sendiri memang lupa karena kejadian semalam.

__ADS_1


“Tidak perlu meminta maaf, saya rasa memang kamu tidak perlu memberitahu mereka tentang itu semua. Mereka juga tidak akan peduli kan?” tembak Farzan yang membuat Nasha membeku.


“Benar apa yang dia bilang, apa pun yang aku lakukan tidak akan berpengaruh apa pun pada mereka. Aku harap keputusan ini tepat, setidaknya aku bisa pergi dari sini, walau ini bukan yang ku inginkan, tapi tidak apa. Mungkin nanti saat dia menemukan apa yang dia cari, aku bisa pergi dari mereka semua tanpa melepas statusku, hidup sendiri mungkin lebih baik,” batin Nasha.


“Maaf karena aku membuat kamu seperti itu, bukan maksudku berbicara seperti itu. Tapi aku sendiri juga merasa aneh pada diri sendiri, kenapa aku merasakan kesedihan itu, rasa sakit yang teramat dalam dengan segala kepasrahan tanpa ingin membantah. Apa dia memiliki trauma? Sudahlah nanti aku bisa cari tau lagi tentangnya,” batin Farzan.


“Haha.. mana mungkin orang tua tidak peduli pada anaknya Pak, sudahlah tidak usah di bahas. Bapak ingin minum apa?” ucap Nasha dengan tawa getir dan juga mengalihkan pembicaraan.


“Teh hangat saja. Dan satu lagi, tidak usah memanggil saya Bapak lagi, saya bukan Bapak kamu. Panggil saya Farzan atau mungkin sayang,” goda Farzan sekaligus mencoba menghilangkan sedikit kesedihan Nasha tadi. Dan benar saja, muka Nasha berubah merah seperti tomat yang sudah masak.


“Hahaha muka kamu kenapa jadi seperti tomat masak begitu. Ternyata selain galak kamu juga mudah sekali di goda, hahaha,” tawa Farzan dengan terus menggoda Nasha, yang di goda pun hanya bisa menunduk malu dengan muka yang bertambah merah.


“Kalau begitu saya ijin membuat teh dulu Pa.. Farzan,” ucap Nasha salah tingkah dan berlalu meninggalkan Farzan yang masih tertawa di ruang depan.


“Dasar Bapak tua, eh tapi belum tua sih, tapi ngeselin, tapi ah, tau deh, males, pingin banget ngasih racun tapi takut dosa, jadi yaudahlayah,” gerutu Nasha dengan tangan yang bergerak ke sana sini mengambil barang yang di perlukan. Tanpa sengaja Nasha melihat mie yang dia buat tadi, dan dia mendadak lapar ingin makan tapi ga enak ada tamu, jadi dia mengurungkan niatnya untuk makan.


Setelah selesai membuat teh hangat, Nasha kembali ke depan dan memberikannya pada Farzan, masih dengan pemikiran tentang mie yang di tunggu tunggu olehnya, juga perutnya yang mulai terasa perih karena dia belum makan dari pagi, hanya meminum air hangat ketika bangun, tanpa sarapan atau makan apa pun sampai waktunya makan siang. Kebiasaan yang buruk memang untuk orang yang mengidap asam lambung.


“Ini perut kenapa perih di saat yang tidak tepat sih? Ya masa ada tamu aku tinggal makan, tapi bisa aja sih ngajak makan juga, tapi aku belum masak nasi lagi, mungkin sisa nasi pagi tadi cukup untuk 1 piring saja. Gimana ya enaknya? Apa beli dulu ke depan? Duh bingung banget gini,” batin Nasha.


Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu di sertai dua orang berbadan kekar dengan baju berwarna biru tua dengan aksen AG di bagian kiri atas baju tersebut. Mereka membawa beberapa paper bag dan plastic bag di tangannya masing-masing.


“Permisi Sir, saya telah membawa apa yang Anda minta,” ucap salah seorang di antara mereka.


“Kalian taruh barangnya di meja,” ucap Farzan datar.


Mereka mulai menyimpan setidaknya 4 paper bag coklat dan 3 plastic bag hitam yang entah apa isi dari bag tersebut.


“Ada lagi Sir?” tanyanya lagi.


“Tidak, kalian boleh kembali pada pekerjaan kalian masing-masing,” jawab Farzan, mereka mulai keluar setelah sebelumnya membungkuk pada Farzan dan di balas anggukan kepala olehnya.


“Ini apa?” tanya Nasha tidak sabar karena terlalu penasaran.


“Yang di paper bag adalah gaun untuk minggu nanti, dan yang plastic bag ini adalah makanan, karena saya tau kamu lapar begitu juga saya, dan jika kamu masak akan membutuhkan waktu yang lama,” jelas Farzan dengan sedikit terkekeh sebelum dia menjawab.


“Emang ada acara apa?” tanya Nasha dengan tatapan polosnya.


“Menggemaskan,” batin Farzan.


“Hah sepertinya menjelaskan kepada kamu butuh waktu yang sangat panjang. Jadi lebih baik sekarang kita makan dulu, baru setelah itu kamu bebas bertanya apa pun itu,” ucap Farzan karena tadi dia melihat Nasha mengernyit seperti menahan sakit.


“Kalau begitu saya ambil dulu piring dan sendok di dapur,” ucap Nasha yang akan berdiri mengambil perlengkapan makan, tapi sebelum itu Farzan menghentikannya dengan memegang tangan kanan Nasha.


“Tidak perlu, di dalam bag itu sudah di siapkan semuanya, tinggal kamu keluarkan saja,” ucap Farzan dan melepas pegangannya.


“Oh.. iya,” hanya itu jawaban dari Nasha karena memang dia sudah tidak kuat untuk berjalan.


Nasha mulai memindahkan makanan yang ada di boks ke dalam piring, dan membuka boks sendok dan menaruhnya di pinggir piring. Setelah itu dia memberikan piring dan segala macamnya pada Farzan dan juga menaruhnya di depannya. Mereka memulai makan dengan tenang, tanpa ada niat untuk berbicara karena memang tidak ada hal yang perlu di bicarakan haha.


.


.


tbc..


 


happy reading..

__ADS_1


__ADS_2