
Selesai makan Reno, Billa dan Brady pamit karena masih banyak yang harus mereka urus, hanya Reno dan Brady saja sebenarnya karena Billa diminta Reno menemani dia bekerja hari ini.
Billa dan Reno juga ada pemeriksaan kandungan dengan dokter Jane, dokter kandungan terbaik di rumah sakit milik Farzan ini.
Sebenarnya bukan hanya dokter Jane, masih banyak dokter lain yang juga sama baiknya. Di rumah sakit ini banyak tes yang harus bisa di lalui agar bisa lulus masuk dan bekerja di sini. Walau terkadang selalu ada oknum dari musuh yang menyamar, tapi semua bisa diatasi dengan lumayan mudah.
Dalam kamar rawat itu sekarang hanya tinggal Farzan dan Nasha saja, mereka duduk bersandar dengan posisi ranjang diubah menjadi mode sandaran.
Kali ini Nasha ingin menonton film action tentang pelatihan menjadi agen rahasia sebuah organisasi yang disamarkan dan dikenal dengan toko penjahit.
“Yakin mau nonton aja? Ngga akan istirahat?” tanya Farzan memastikan. Menurutnya Nasha masih harus banyak istirahat.
“Ngga boleh?” Nasha yang tadinya bersemangat mendadak lesu dan menjatuhkan kepalanya pada bantal setelah itu memejamkan matanya.
Farzan belum sempat membalas perkataan Nasha karena tadi dia ada panggilan masuk dari salah satu anak buahnya yang sedang membuntuti Grasya dan Hadi.
Farzan berjalan menuju ruangannya agar bisa lebih leluasa bicara mengenai rencana selanjutnya. Agar Nasha juga tidak mendengarkan percakapan yang cukup sensitif.
Farzan bahkan lupa jika dia meninggalkan Nasha dengan keadaan yang kurang baik. Dalam pikiran Farzan sebelum beranjak, nanti dia akan membujuk Nasha lagi setelah selesai menerima panggilan ini.
...----------------...
Nasha yang sedikit melihat Farzan pergi meninggalkan ruangan, tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Dengan gerakan lumayan cepat Nasha mengambil selimut yang hanya menutupi kaki agar bisa menutup seluruh tubuh dengan menaruh kepalanya di bawah bantal dan juga kedua sisi di halangi satu guling dan satu bantal.
Jika kalian mengira Nasha sudah kembali seperti biasa, karena sudah mau di ajak bicara dan juga mengekspresikan diri sedari tadi bersama Billa. Kalian salah. Dalam diri Nasha masih begitu rapuh.
Bahkan karena penolakan seperti tadi, Nasha memikirkan banyak hal buruk. Apalagi memori buruk juga ikut muncul kembali dan mengacaukan pemikiran positif yang coba Nasha buat tadi.
“Kenapa kamu pergi begitu saja? Begitu tidak percayakah kamu padaku? Kenapa kamu tidak mengajakku pergi juga? Bukankah kamu akan kesepian jika sendiri di sana? Kenapa? Kenapa?” batin Nasha sambil memikirkan anaknya yang sudah tiada.
“Harusnya aku ikut pergi kan? Di sini hanya akan menyusahkan orang lain saja. Kakiku bahkan tidak bisa di gerakkan. Apa yang bisa aku harapkan? Mungkin selama aku hidup nanti aku hanya akan menghabiskan uang Kak Arza saja kan? Apa yang bisa ku lakukan dengan kedua kaki tak berguna ini?” batin Nasha dengan air mata yang terus mengucur deras.
Isak tangis yang tertahan dan juga tidak adanya oksigen karena wajahnya di tutupi oleh bantal membuat keadaan Nasha memburuk. Bahkan nafasnya pun sudah tersengal sengal.
Semakin lama dadanya terasa sesak karena kurangnya pasokan udara. Dan Nasha tidak ada keinginan untuk membuka selimut atau bahkan menyingkirkan bantal yang terus menutupi wajahnya.
Baginya sekarang tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan. Mungkin jika dia hidup lebih lama pun semua orang pasti akan di sulitkan saja olehnya. Lebih baik dia menemui anaknya saja agar bisa terbebas dari semua orang dan tidak ada yang dia susahkan lagi.
__ADS_1
Masalah mental memang sulit untuk di sembuhkan, bahkan jika ada pemicu sekecil apa pun bisa membuat memori buruk kembali berdatangan.
Nasha juga masih selalu berpikir jika semua orang hanya sedang berpura pura tidak apa apa karena anaknya tidak ada lagi, padahal mungkin di pikiran mereka, mereka menyalahkan Nasha dan menganggap Nasha tidak becus menjaga anaknya.
Bahkan untuk Farzan sekalipun Nasha masih berpikiran seperti itu. Farzan hanya pura pura selama bersamanya, padahal dalam hatinya dia kecewa pada Nasha dan menganggap Nasha membunuh anaknya sendiri.
...----------------...
Farzan tidak menyadari keadaan Nasha karena masih membahas banyak hal dengan anak buahnya. Hari ini rencananya setelah mereka berdua tertangkap Farzan sendiri yang akan menghabisi keduanya.
Farzan juga membuka laptop untuk menyusun semua rencananya. Bahkan sekarang dia fokus pada pekerjaannya dan melupakan keadaan Nasha di dalam kamar.
Apalagi tadi baru saja ada karyawan mengantarkan berkas yang di simpan di penjaga baru di bawa oleh bodyguard ke ruangannya.
Fokus dengan berkas dan segala macam rencana membuat Farzan berada di dalam ruangan itu kurang lebih 2 jam.
Saat melihat jam tangan, Farzan seakan teringat akan Nasha yang sejak tadi dia tinggal sendiri di dalam kamar rawatnya.
“Astaghfirullah, aku lupa kalau Acha tadi masih mikir aku marah. Padahal tadi aku hanya bertanya saja. Apa mungkin sekarang dia tertidur?” batin Farzan sambil berjalan meninggalkan ruangannya.
Baru saja membuka pintu Farzan terkejut karena Nasha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bahkan saking tidak terlihat badannya yang terhalang bantal dan guling, Farzan tidak melihat ada gerakkan dari tubuh Nasha.
“Kumohon jangan. Tidak. Tidak. Jangan. Kumohon,” gumam Farzan sambil memeriksa nafas dan juga denyut nadi Nasha.
“Cha jangan bercanda kumohon. Cukup anak kita saja, jangan kamu. Aku tidak akan sanggup,” panik Farzan ketika tidak merasakan nafas Nasha. Bahkan sekarang wajahnya sudah dibanjiri air mata.
“Cha. Sayang. Bangun yah. Jangan bercanda. Ini ngga lucu Sayang,” gumam Farzan terus. Denyut nadi Nasha juga tidak terasa saat Farzan meletakkan kedua tangannya.
“Dokter!” teriak Farzan dengan panik. Bodyguard yang mendengarnya pun langsung berlari memanggilkan dokter.
“Cepat kalian. Siapa pun itu, panggilkan dokter segera!” perintah Farzan dengan suara panik dan tangan yang menepuk nepuk pipi Nasha hingga sedikit memerah.
“Acha, Sayang. Bangun ya. Ini sudah sore. Tadi katanya kamu mau nonton film kan? Ayo sekarang kita putar film yang kamu mau. Bangun ya Sayang,” ucap Farzan dengan suara serak karena tangis dan tangan yang mengelus pipi Nasha menghapus jejak air mata di sana.
“Kemana semua orang?! Dokter cepat!” teriak Farzan dengan disertai bentakannya.
Dokter dan juga perawat baru saja tiba karena memang tadi ada pergantian jadwal. Saat masuk pun mereka mendapatkan bentakan terlebih dahulu dari Farzan karena menurutnya mereka sangat lelet.
__ADS_1
Dokter hanya bisa bersabar dengan badan yang gemetar ketakutan, jika Reno yang ada di sini mungkin dia yang akan menangani Nasha, sayang tadi dia sudah pulang lebih dulu karena Billa mengeluh pusing dan punggungnya pegal.
Selama penanganan Farzan diminta menunggu di luar dengan segala penolakannya, tapi bodyguard dengan terpaksa membawa Farzan keluar agar Nasha bisa di beri penanganan.
“TIDAK! KALIAN TIDAK BISA MENGUSIRKU! AKU HARUS TAHU KONDISI ACHA” teriak Farzan tidak karuan di luar ruangan Nasha.
Ceklek..
Dokter keluar dengan wajah pucatnya karena dia mempunyai berita buruk. Sekarang dia bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Farzan.
“Bagaimana?!” tanya Farzan tidak sabaran saat dokter baru saja keluar dengan wajah menunduk.
“Ma maaf Tuan,” ucapnya lirih dengan kepala yang menggeleng pelan.
“Apa maksudnya, hah!?” teriak Farzan dengan mencengkeram jas dokter itu.
“Nona sudah tiada,” ucap dokter itu dengan tersendat karena lehernya terasa tercekik.
“Tidak! Ini tidak benar. Kalian pasti salah kan!” paksa Farzan menolak semua kenyataan ini.
“Ngga. Ngga. Kalian pasti bohong.”
“TIDAK!!!”
.
.
.
“Tidak!!”
...----------------...
happy reading..
tandai typo yahh, hehe
__ADS_1
bye bye