Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Makan malam


__ADS_3

30 menit berlalu, mereka telah selesai sholat berjamaah di musala yang ada di dalam mansion. Setelah selesai mereka langsung duduk di ruang keluarga kembali sambil menyetel musik klasik sebagai pengiring makan malam kali ini.


“Sha mau daging juga boleh kok, nanti Momy yang masak biar bener bener matang. Tapi harus makan nasi juga ya, sama banyakin sayur,” ucap Zetta sambil memasukkan daging ke pan di bantu Aletta.


“Mau panggang juga boleh?” tanya Nasha yang ingin memanggang sendiri.


“Boleh dong, sini kita panggang panggang,” ucap Zetta, dia juga harus memikirkan emosi Nasha dan menjaganya agar tetap happy. Tadi Farzan sudah memberitahu jika kandungan istrinya lemah, dan itu membuat mereka harus lebih ekstra menjaga Nasha agar tidak banyak pikiran dan semacamnya.


“Eh iya kuahnya kan belom,” ucap Nasha yang baru memasukkan beberapa daging.


“Udah Sayang, ini tinggal tunggu sebentar baru bisa masukkan sayur dan yang lainnya,” ucp Farzan lembut mengusap sayang kepala Nasha.


“Duh sekarang aja panggilnya Sayang Sayang, kemarin kemana aja,” ledek Aletta yang malah membuat pipi Nasha memanas karena malu sendiri.


“Ciee Kak Sha blushing,” Aletta mencolek colek pipi Nasha, gemas melihatnya.


“Sudah Ta jangan ledek Kakakmu terus,” ucap Zetta dengan kepala menggeleng pelan melihat anaknya ini.


“Ish jahat Letta ledek ledek aku,” cemberut Nasha tidak ingin di ledek terus.


Mereka yang melihatnya hanya tertawa saja. Di sela makan malam kali ini di selingi beberapa obrolan santai dan juga saling ledek antara Aletta dan juga Nasha.


“Ini daging untuk Sha. Eh tapi kenapa ngga makan nasinya juga?” tanya Zetta sambil meletakan kembali daging di piring khusus Nasha. Tadi dia melayani suaminya dulu. Nasha juga sama melayani Farzan lebih dulu, walau Farzan tetap menunggunya.


“Ehm.. ngga mau nasi,” cicit Nasha. Entah kenapa dia takut dimarahi karena tidak mau makan nasi. Jadi sekarang dia menundukkan kepalanya sedih.


“Kenapa?” tanya Zetta tanpa suara pada Farzan.


“Engga bisa. Jangan di paksa. Nanti biar aku yang suapi,” balas Farzan tanpa suara juga.


“Eh.. ya udah Sayang ngga papa. Kalau ngga mau jangan di paksain,” ucap Zetta pada akhirnya. Dia sedikitnya mengerti, mungkin karena hormon jadi Nasha tidak bisa memakan nasi, dia juga dulu sama saat mengandung Farzan, hanya dengan tangan suaminya saja dia bisa makan. Jadi Zetta memaklumi.


“Hey ngga papa. Momy ngga akan marah juga, tuh liat ngga marah kan?” bujuk Farzan mengangkat kepala Nasha dan membalikkannya untuk melihat Zetta yang tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


“Maaf Momy, kalau makan nasi suka bikin mual,” cicit Nasha masih sedikit was was.


“Engga papa Sayang. Dulu Momy juga kaya gitu, cuma mau makan kalau di suapi sama Daddy, hehe,” ucap Zetta sambil terkekeh, Zeroun juga ikut terkekeh mengingat kelakuan istrinya saat mengandung kedua anaknya.


“Biar aku yang suapi kamu, nanti kamu bisa fokus masak masak,” ucap Farzan mengecup pelan pucuk kepala Nasha. Nasha yang di perlakukan seperti itu jadi salah tingkah dan mukanya kembali memerah.


Mereka juga hanya tertawa saja dan melanjutkan acara makannya kali ini. Dan sepertinya hal seperti ini akan menjadi agenda rutin tiap satu bulan sekali agar makan malam mereka tidak monoton.


...----------------...


“Ah.. kenyang. Kapan kapan kita harus bikin kaya gini lagi. Seru kan?” ucap Aletta sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa di belakangnya.


Bukannya menanggapi Nasha malah menanyakan hal lain.


“Jamurnya abis ya?” tanya Nasha yang belum selesai dengan kuah juga isian sayur di hadapannya.


Hanya tinggal Nasha yang masih semangat dengan kuah dan berbagai macam topingnya. Padahal saat di suapi tadi, Nasha makan dengan lahap. Mereka yang melihatnya juga hanya geleng geleng kepala.


“Engga ad.. eh.. ada deng, hehe,” ucap Nasha malu karena tidak melihat jamur di samping tangannya. Yang lain ikut terkekeh mendengarnya.


Nasha masih asik dengan makanan di depannya sedangkan yang lain hanya memperhatikan dia yang semangat memakan semua sisa sayuran dan juga beberapa isian lain di dalam kuah itu.


“Alhamdulillah kenyang,” sekitar 10 menit setelahnya Nasha baru selesai dengan semua hidangannya dan menyandarkan tubuhnya di sofa sebelah Aletta.


“Gimana ngga kenyang Kak, itu kuah sampe ngga ada sisa,” ucap Aletta sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


“Hehehe abisnya enak,” cengir Nasha malu. Tapi memang benar menurutnya kuah suki ini rasanya sangat pas.


“Iya sih bener. Kak Arza pesen dari mana? Kok bisa nemu makanan yang enak ini,” ucap Aletta membenarkan, menurutnya kuah ini di bumbui dengan khas dan rasanya juga sangat pas di lidahnya.


“Aku pesen di AR shabu&suki,” ucap Farzan. Itu salah satu cabang restonya dan sudah di akui beberapa negara sebagai tempat terbaik dan ternyaman serta makanan yang enak enak juga.


“Oh itu. Yang baru buka cabang di ARCHA Mall kan. Ih aku sama Kak Sha belum jadi jadi mau ke sana,” ucap Aletta semangat karena memang katanya tempat itu pelayanannya yang terbaik dengan kualitas makanan yang juga nomor 1.

__ADS_1


“Eh iya kita mau ke sana belum jadi kan yah,” ucap Nasha menyahuti omongan Aletta.


“Kalau kalian mau ke sana bilang aja, nanti makan di ruangan Kakak,” ucap Farzan yang sedang berdiri di dekat dispenser dengan gelas berisi susu coklat yang baru akan di seduh.


“Hah? Hubungannya sama Kakak apa?” otak Aletta hari ini sepertinya sering mendengar perkataan yang membuatnya menjadi lemot dan linglung seperti orang b***h saja.


“Kamu punya resto Za?” tanya Zeroun yang baru bicara kembali karena sedari tadi lebih banyak diam.


“Hm,” Farzan hanya berdehem singkat sambil memberikan susu untuk Nasha.


“Masih kenyang Kak,” melas Nasha karena sedang malas minum susu.


“Sedikit sedikit aja,” bujuk Farzan lembut sambil mengusap kepala Nasha.


Nasha tidak lagi menolak dan meminumnya habis. Tadinya dia hanya ingin sedikit, tapi setelah meneguknya dia jadi tidak bisa berhenti minum. Menurutnya rasa susu ini begitu pas dan dia jadi semangat meminumnya.


“Lah abis, haha,” Aletta sedari tadi senang sekali meledek Nasha yang selalu berubah antara ucapan dan perbuatan.


“Ini enak tau. Aku jadi percaya kalau Kak Arza emang punya resto,” ucap Nasha setelah mengusap bibirnya menggunakan tisu yang Farzan sodorkan.


“Iya aku punya resto dan juga ARC Coporation yang menaungi beberapa tempat,” jelas Farzan untuk menghapus rasa penasaran keluarganya. Untuk resto memang dia memilih menggunakan namanya sendiri karena masak adalah salah satu hobinya.


“Kita harus bicara Za,” ucap Zeroun yang masih ingin mengetahui banyak hal tentang anaknya ini. Dari dulu anaknya memang tertutup, walau ada yang menjaganya dari kejauhan tetap saja tidak ada informasi khusus dari orang suruhannya.


Tidak tahu saja dia jika orang suruhannya lebih dulu diketahui Farzan dan juga sedikit di ancam agar tidak terus mengikutinya saat saat tertentu.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..


bye bye..

__ADS_1


__ADS_2