Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Kaget, Marah dan Kepanikan


__ADS_3

"Iya tahu tadi dia ngeselin banget, pokonya aku mau diem sampe nanti. Eh tapi nanti kalau di suruh bayar gimana? Kalau marah nanti ngga di bayarin dong," ini isi dari sebagian curhatan Nasha yang sedang kesal.


"Kan kamu punya uang juga," ucap Kylla dengan polosnya. Tapi memang benar sih.


"Eh iya ya. Tapi kan uangnya dari dia jadi harus ijin dulu kalau mau pake," ucap Nasha yang malah bingung sendiri.


"Uang aku aja," ucap Mita, Billa dan Tery berbarengan karena mereka masih bekerja di bidang masing masing.


"Eh buset kaget aku," ucap Ana yang sedang berpikir entah memikirkan apa.


"Makannya jangan ngelamun Ana," ledek Kylla dengan menjulurkan lidahnya.


"Serah dah cil," gumam Ana malas.


"Sebenernya aku mau sampein sesuatu," ucap Eve yang sedari tadi terdiam.


"Apa?" tanya mereka yang menatap serius Eve.


"Kemarin aku tes pake alat, terus ada garis 2 dan katanya itu positif. Tapi aku belum bilang sama Gio," ucap Eve memberitahu dengan suara pelan.


"Hah!" kaget mereka masih mencerna ucapan Eve.


"Aku juga sama sih," ucap Ana tiba tiba dengan menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Hah!" lagi lagi mereka kaget dengan ucapan salah satu dari mereka ini.


"Ih kok ngga kabarin lewat chat sih," kesal Nasha.


"Kalau dikabarin kan kita bisa ke rs aja barengan, nanti kasih tahu yang sono nya pas udah ada hasil," lanjut Nasha dengan menatap sekilas meja para pria yang terlihat sedang mengobrol namun masih dengan menatap ke arah meja mereka.


"Iya sih. Tapi kan aku bingung gitu. Antara percaya sama engga," ucap Eve yang memang masih merasa ini mimpi.


Ana juga mengangguk menyetujui karena memang dia masih tidak percaya ada yang sedang bertumbuh dalam tubuhnya ini.


"Gimana kalau kita sekarang kabur buat pergi ke rs," ide Kylla dengan bangganya.


"Engga bisa cil, noh liat mereka aja natep kita terus," ucap Ana sambil sedikit memberitahu dengan gerakan matanya.


"Eh iya juga sih," angguk Kylla membenarkan.


"Ini berarti jarak anak kita bakal deketan dong?" ucap Billa antusias menyadari anak mereka nanti kemungkinan hanya selisih beberapa bulan saja.


"Eh iya, ini juga bentar lagi 2 baby lahir," ucap Mita dengan melihat Nasha dan Billa.


Kandungan Billa sudah hampir memasuki 9 bulan, yang artinya sebentar lagi babynya akan segera lahir ke dunia.


Billa memang masih bekerja karena ada Reno yang selalu menjaganya. Lagi pula dia bekerja di rumah sakit, jadi jika terjadi sesuatu tinggal panggil ahlinya saja.


"Ntar bingung deh antara dateng nikahan atau jenguk baby," canda Tery di tengah kebingungan tadi.


"Iya bener," angguk Nasha yang sudah tertawa di susul tawa dari yang lainnya.


"Nanti sekolahnya harus barengan ya, siapa tahu mereka jadi sahabatan juga," ucap Mita menyuarakan keinginannya.


"Iya bener, biar ada yang bisa di introgasi kalau ada yang lagi nakal," ucap Billa membenarkan.


"Tapi Elhan pasti lebih dulu sih, sekarang aja udah lebih dari setengah tahun kan umurnya," ucap Mita dengan sedikit lesu.

__ADS_1


"Engga papa, nanti yang lain ngikut aja, kan masih beda sedikit aja bulannya," ucap Nasha sedikit memaksa.


"Yaudahlah gimana nanti aja," ucap Mita santai. Urusan nanti biar mengikuti keinginan anaknya saja.


Mereka masih mengobrol dengan makanan yang penuh di meja. Dari mulai makanan pembuka sampai makanan berat, karena makanan penutup minta di antar belakangan.


"Shh," ringis Billa yang merasa perutnya seperti di remat.


"Kenapa Honey?" khawatir Reno yang langsung beranjak dari kursinya duduk dan mendekati Billa.


"Perutnya sedikit sakit tadi," lirih Billa memeluk leher Reno dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher, yang sedang berlutut di sebelahnya.


"Stt.. Masih sakit, hm?" tanya Reno sambil mengelus perut buncit Billa.


Yang lain hanya memperhatikan saja, karena tadi saat akan bertanya Reno sudah lebih dulu berdiri di samping Billa.


"Billa sakit perutnya? Mau pulang aja?" tanya Nasha yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kita pulang aja ya?" bujuk Reno lembut, tanpa menjawab pertanyaan Nasha.


"Masih mau di sini," lirih Billa karena seksrang sakitnya baru menghilang.


"Jangan jangan Billa mau lahiran," ucap Mita yang pernah merasakan sebelumnya.


"Ini kalau beberapa menit lagi sakit fix mau lahiran sih," sambung Mita dengan raut wajah panik dan antusias.


"Udah engga sakit," ucap Billa yang sudah kembali duduk seperti biasa, tapi Reno masih mengelus perutnya.


"Oke berarti kontraksi palsu," ucap Mita santai.


"Oh gitu ya," angguk Nasha dan juga Kylla.


"Udah kamu ke sana lagi aja," ucap Billa menatap mata Reno.


"Engga," tolak Reno dan duduk di sebelah Billa karena ternyata yang lainnya sudah ada di dekat istrinya masing masing.


"Ih kenapa pada ke sini semua," gerutu Nasha melihat ada Farzan di sebelahnya.


Kursi yang mereka tempati memang banyak dan itu cukup untuk +- 15 orang. Dan mereka ada 14 orang dengan 1 baby yaitu Elhan yang diam di stroler miliknya.


Para wanita itu seakan tidak tahu dan juga cuek dengan kehadiran para pria. Melanjutkan obrolan tanpa mau menanggapi jika suaminya ada yang berbicara.


"Abis ini main ke area bermain yu," ajak Nasha antusias sambil memakan ice cream di hadapannya.


"Ayooo.. Aku mau main nari nari," semangat Kylla.


"Boleh deh, aku juga mau main basket," ucap Ana mengangguk anggukkan kepalanya.


"Tanding kita," ucap Tery pada Ana dan juga Eve.


"Sipp," acungan jempol Eve berikan tanda menerima tantangan.


"Kita balapan aja Bil," ucap Mita pada Billa.


"Ide bagus, udah lama ngga main itu," setuju Billa.


Tapi saat mereka sedang antusias dan juga bersemangat sebuah suara membuat semangatnya pudar.

__ADS_1


"NGGA! kamu bertiga lagi hamil, belum lagi yang ini main yang berat berat udah tahu mau ada acara sama lagi program. Ngga ada main main untuk sekarang," ucap para pria bergantian dengan mengucapkan tidak bersamaan dengan nada tegas.


"Em kita pulang yu, udah mau malem," ucap Nasha yang sudah tidak lagi tersenyum, bahkan yang lain pun sama.


Apalagi mata Kylla, Ana dan Eve sudah berkaca kaca menahan tangis agar tidak tumpah sekarang. Ingatkan mereka sedang masa sensitive jadi ya begitulah.


"Aku ke kasir dulu," ucap Nasha yang sudah bersiap berdiri.


"Kita ikut," ucap yang lain serempak, tanpa mau menanggapi atau melihat para pria di sebelah mereka.


"Maaf Sayang, Honey, Beb," ucap serentak para pria setelah menyadari kesalahannya, dengan menggunakan kata yang berbeda.


"Ini aku yang bayar aja deh, kan uang tabungan masih ada, lumayan biar di pake," ucap Nasha sabil berjalan dan menghiraukan perkataan suaminya.


"Ngga papa pake uang aku aja," ucap Tery.


"Yang aku aja," ucap Mita.


Begitu seterusnya sampai mereka sudah ada didepan kasir untuk membayar.


"Permisi, kita mau bayar untuk meja sana," ucap Nasha pada penjaga kasir dengan menunjuk mejanya.


Padahal mereka bisa memanggil saja pelayan yang ada agar tidak perlu repot repot sampai ke kasir.


"Semuanya total lima juta delapan ratus tujuh puluh ribu Mba," ucap kasir itu dengan memberikan struk pembelian. Sepertinya dia orang baru dan tidak mengenal mereka.


"Oke. Ini mba," ucap Nasha menyodorkan kartu pribadi miliknya yang berisi tabungan dulu saat bekerja.


"Silahkan pin nya," ucap kasir dengan menyodorkan alat transaksi.


"Ini mba, terimakasih, semoga berkunjung kembali," ucap kasir itu tersenyum ramah.


"Terimakasih kembali," ucap Nasha dan berbalik pergi bersama yang lainnya. Tidak peduli ada para suami masing masing di belakang mereka.


Mereka berjalan sambil sesekali mengobrol agar bisa mengurangi rasa sedihnya tadi. Entahlah suasana hati mereka sedikit tidak baik karena ini.


"Shh," ringis Billa kembali dengan memegang tangan Nasha yang kebetulan ada di sebelahnya.


"Eh Billa kenapa? Sakit lagi ya?" panik Nasha karena genggaman Billa begitu erat dan sedikit menyakitkan.


Untunglah mereka sudah dekat dengan mobil masing masing, karena tadi mereka langsung turun menuju parkiran, tidak menunggu di loby seperti biasanya.


"Ini kayanya bener mau lahiran. Bawa rs sekarang," ucap Mita yang sudah menyadari itu.


"Pake mobil ini aja, tadi aku ke sini bareng sopir, kita bisa berangkat barengan," ucap Nasha masih dengan kepanikannya.


"Pak anter kita ke rs terdekat," ucap Nasha melihat sopir sudah berdiri di sebelah mobil dan membukakan pintu.


"Ayo cepet kita masuk," ucap Nasha yang di angguki para wanita.


Mobil langsung melaju menuju rumah sakit AR Medic, tadi para pria mengkode sopir menuruti saja dan mereka akan mengikuti dari belakang.


Mereka sadar jika para istri masih marah, jadi mereka tidak mempermasalahkan hal itu, Reno pun tak kalah panik karena memang Billa sudah waktunya untuk melahirkan, namun sebisa mungkin dia tidak ikut panik.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2