
“Kak Arza,” panggil Nasha yang masih memperhatikan Farzan, mungkin sekarang tinggal memasukkan dalam oven selama beberapa menit.
“Iya kenapa Sayang?” tanya Farzan sambil berjalan mendekati Nasha karena dia tinggal menunggu sampai zupa soupnya matang.
“Pengen peluk,” ucap Nasha manja sambil merentangkan tangannya.
“Hehe.. ada ada aja kamu ini,” Farzan menghampiri Nasha dan memeluknya sambil terkekeh melihat kelakuan Nasha yang mulai seperti dulu.
“Adek yang mau ya, aku cuma bantu bilang aja sama Papinya,” alibi Nasha dengan tangan yang mengeratkan pelukannya.
“Iya deh iya,” ucap Farzan pura pura mempercayai saja yang Nasha katakan.
“Zupanya udah mateng belum?” tanya Nasha dengan nada tidak sabarnya.
“Sebentar lagi Sayang, sabar ya?” ucap Farzan sambil memperhatikan wajah Nasha yang ada di bawahnya.
“Hm iya deh,” balas Nasha sambil sedikit cemberut saking tidak sabarnya.
Farzan hanya terkekeh dan mengusap punggung Nasha lembut tidak lupa kecupan yang di labuhkan Farzan pada pucuk kepala Nasha. Sepertinya Farzan tidak akan bosan untuk terus menciumi pucuk kepala Nasha yang mengeluarkan harum coklat bercampur vanila.
Ting
Suara dari oven yang sudah di setting tadi mulai berbunyi menyadarkan bahwa makanan yang ada di dalamnya sudah matang.
“Itu udah mateng. Aku ambil sebentar ya,” ucap Farzan dan melepaskan pelukan mereka sebelum berjalan mengangkat loyang yang di isi beberapa wadah zupa soup.
“Ini Sayang,” ucap Farzan yang sudah ada di hadapan Nasha dengan nampan berisi 2 wadah zupa soup, air mineral juga susu hamil Nasha dengan rasa coklat permintaan Nasha tadi.
“Kakak bikin banyak kan?” tanya Nasha yang hanya melihat 2 wadah saja dalam nampan.
“Haha.. iya Sayang, aku buat banyak kok. Masih ada juga di panci isiannya,” ucap Farzan sambil tertawa karena tahu jika Nasha tidak mungkin hanya memakan 1 wadah saja, apalagi dia memakai ukuran wadah yang sedikit kecil.
“Yeyy makasii Kak,” senang Nasha mengecup kilat pipi Farzan, tanpa sadar.
“Eh?” linglung Farzan yang diberi serangan dadakan.
“Kenapa Kak?” bingung Nasha yang melihat Farzan masih terdiam di pinggir ranjang.
“Masa sebentar sih Sayang. Mau yang lama dong,” ucap Farzan sedikit merengek dengan tangan menaruh nampan pada meja nakas.
“Apanya?” Nasha semakin bingung dengan perkataan Farzan itu dan hanya bisa menatap diam Farzan menunggu penjelasan.
__ADS_1
"Ini," tunjuk Farzan pada pipinya sendiri.
Nasha masih saja bingung dengan maksud dari Farzan, dahinya mengernyit dalam seolah mencari jawaban dari ucapan Farzan yang penuh teka teki menurutnya.
"Ck.. istri gue gini banget perasaan," gumam Farzan teramat pelan agar Nasha tidak mendengarnya.
Farzan memberitahu Nasha dengan cara mengecup kedua pipi Nasha juga mencuri kecupan di bibirnya yang masih terlihat pucat itu, yang mana membuyarkan lamunan Nasha juga menyadarkan arti dari ucapan Farzan sedari tadi.
"Ini maksudku Sayang," gemas Farzan antara kesal dan sabar.
"Ehehe.. maaf," ucap Nasha dengan menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Sekarang lakuin cepet," perintah Farzan menyodorkan pipinya.
Cup
Cup
"Udah," lapor Nasha ketika sudah selesai melakukan keinginan Farzan.
Farzan yang mendapat hadiah itu tersenyum senyum dengan hati berbunga bunga.
"Sekarang boleh makan?" tanya Nasha menatap penuh harap pada Farzan.
...----------------...
Nasha baru selesai membersihkan diri sehabis makan dan tidur tadi.
Ya dia tadi kembali tertidur dalam pelukan Farzan yang sedang memeriksa beberapa berkas dari Ipad miliknya.
Setelah selesai mengganti pakaian Nasha mengeringkan rambutnya dengan handuk, tapi diambil alih oleh Farzan yang ternyata sudah mendekat ke arahnya.
"Aku keringin pake pengering ya biar lebih cepet," ucap Farzan yang diangguki Nasha dengan senang hati.
Dalam hati Nasha selalu bersyukur karena bisa mendapatkan Farzan yang begitu tulus dan memperlakukannya layaknya seorang putri raja.
Berbeda sekali dengan Ayahnya dulu di rumah. Tanpa sadar Nasha memang sering membandingkan kehidupannya dulu dan juga sosok lelaki yang berada di sekitarnya.
Tapi Nasha buru buru menggelengkan kepalanya agar tidak meneruskan pemikiran buruknya itu.
"Kenapa?" tanya Farzan karena Nasha menggeleng tadi.
__ADS_1
"Bandingin kamu sama Ayah dulu. Tapi udah engga," jawab Nasha dengan jujur.
"Wajar sih. Tapi usahain jangan ya," nasehat Farzan yang diangguki Nasha.
Namanya juga manusia yang masih banyak salah, sedikitnya pasti ada saja godaan untuk membandingkan kebaikan seseorang atau keburukannya.
Tapi balik lagi, jangan sampai semua itu malah dibiarkan dan mengakibatkan penyakit hati yang sulit di sembuhkan. Buru buru alihkan perhatian agar tidak melanjutkan pemikiran buruk itu.
"Eh Kak," gantung Nasha seperti kelupaan sesuatu.
"Apa?" tanya Farzan dengan bingung sambil terus mengeringkan rambut Nasha.
"Bukannya sahabat Kakak masih di sini kan?!" ucap Nasha sedikit berteriak panik.
"Eh iya ya," gumam Farzan yang memang lupa akan hal itu.
"Ih harusnya aku keluar dari tadi siapin makanan buat tamu. Kakak kenapa engga ingetin aku?" kesal Nasha yang jadi marah marah pada Farzan.
"Aku juga lupa Sayang. Lagi pula, ada maid yang bakal masak makanan buat mereka. Kamu juga masih harus banyak istirahat ya," ucap Farzan sambil berjongkok di hadapan Nasha karena sudah selesai mengeringkan rambutnya.
"Tapi kan engga enak sama mereka. Masa aku di kamar terus," murung Nasha dengan wajah sedihnya.
"Hey.. engga papa Sayang. Yaudah sekarang kita ke bawah ya sekalian makan juga, kamu baru makan zupa soup aja kan. Aku juga bakal minta maid bawa panci yang ada isian untuk zupa soup biar bisa dimakan sama sama nanti," ucap Farzan panjang lebar agar Nasha tidak lagi murung.
"Em iya," angguk Nasha sebelum masuk ke dalam dekapan Farzan.
"Tapi nanti aku mau lagi ya? Tadi makannya cuma sedikit, hehe," ucap Nasha lagi dengan terkekeh gemas.
"4 wadah dibilang dikit? Kamu emang pecinta makanan, tapi anehnya badan kamu tidak terlalu bertambah, hanya daerah tertentu saja yang tambah berisi," batin Farzan.
"Boleh Sayang," tidak mungkin Farzan bicara seperti itu langsung pada Nasha, yang ada nanti dia malah tidak mau makan seperti sebelum mengetahui kehamilannya ini.
"Yey makasii," senang Nasha dengan tangan mengeratkan pelukan pada Farzan dan juga kaki yang melompat kecil.
"Anything for you," ucap Farzan yang ikut senang.
(apapun untukmu)
...----------------...
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye