
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah dua bulan Nasha dan Farzan tinggal bersama dalam ikatan pernikahan. Memang tidak ada drama pisah ranjang dan sebagainya, hanya saja Nasha masih berusaha meluluhkan hati kedua orang tuanya.
Setiap hari minggu Nasha akan berkunjung ke rumah walau hanya sebentar saja, dengan alasan mengantar makanan atau kue yang baru Nasha coba buat. Adiknya Ucan, hanya mengambil bingkisan yang dia bawa dan menutup pintunya, begitu pula dengan Ibunya atau Ayahnya.
Jadi Nasha hanya mengelus dada sabar dan berlalu meninggalkan rumah.
Nasha mengikuti saran Farzan untuk ikut ke kantor beberapa kali, seminggu hanya 2 kali Nasha ke kantor.
Karyawan kantor juga sudah mengetahui pernikahan Farzan dan Nasha, ada yang mendukung terang terangan, ada yang hanya pura pura, bahkan ada yang menggunjing di belakang.
Dering ponsel..
Bunyi ponsel yang tersimpan di atas nakas membuat salah seorang yang sedang tertidur membuka matanya perlahan.
“Hem?” jawab orang itu yang tak lain adalah Farzan.
“...”
“Dimana?!” tekan Farzan dengan muka yang terlihat bahagia.
“...”
“Bawa dia ke privat resto di pinggir kota,” suruh Farzan.
“...”
Setelah itu Farzan menaruh handphone miliknya di atas nakas dan berlalu menuju kamar mandi padahal ini masih pukul 4 subuh.
Nasha yang sebenarnya sudah bangun saat Farzan mengatakan “dimana” hanya mengernyitkan dahi bingung dengan wajah berseri dari Farzan, seperti saat malam dimana mereka sudah memadu kasih.
Jangan pikir mereka melakukan tanpa sadar. Mereka berdua sadar karena dua hari setelah Nasha selesai datang bulan, Farzan datang menanyakan dengan lembut dan juga tidak memaksa. Walau bagaimanapun mereka sudah yakin akan menjalani pernikahan normal walau perlahan.
__ADS_1
“Kenapa Mas Farzan terlihat senang sekali ya?” gumam Nasha yang masih bingung.
“Tapi tadi katanya akan pergi ke privat resto menemui dia. Siapa dia? Apa itu orang yang selama ini Mas Farzan cari?” Nasha semakin mengernyit bingung dengan pikiran yang berkecamuk.
Satu sisi Nasha ikut senang, tapi di sisi lain ada perasaan yang tidak bisa Nasha jabarkan. Seakan hatinya berdenyut nyeri saat melihat Farzan akan bertemu masa lalu yang selama ini di tunggunya.
“Tidak apa Cha, kamu pasti bisa. Jika nanti dia akan di pilih Mas Farzan, kamu harus ikhlas karena ini sudah risiko dari keputusan yang sudah kamu buat. Walau Mas Farzan dulu bilang akan mencoba untuk melupakan dia, tapi mungkin dalam hatinya, orang itu masih menjadi yang pertama dan tidak terganti. Gapapa Cha, kamu pasti bisa melewati semua ini,” Nasha menguatkan hatinya agar menerima semua dengan lapang dada, walau itu sulit.
Karena tidak ingin Farzan melihat Nasha sudah bangun, Nasha kembali memejamkan mata sambil menahan rasa sesak yang tiba tiba datang. Padahal di sisi lain hatinya, Nasha berharap bertemu dengan Kakak yang selalu datang untuknya. Hanya saja Nasha tidak berniat untuk bersama orang itu.
Farzan keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian sholat yang sebelumnya di ambil dari lemari. Setelahnya mengambil handphone, dompet dan juga kunci motor matic yang biasa digunakan jika Farzan akan sholat berjamaah di masjid perumahan yang memang letaknya lumayan jauh dari rumah.
Padahal mansion Farzan terdapat masjid sendiri yang ada di sebelah kiri pintu gerbang utama. Letaknya juga di tengah antara bangunan utama juga pos jaga. Masjid itu Farzan bangun karena banyaknya orang yang bekerja dengannya, tempat tinggal bodyguard letaknya di samping kanan kiri masjid, sedangkan pekerja di rumah ada di paviliun belakang.
Nasha yang melihat itu diam dan tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Entah kenapa akhir akhir ini dia merasa emosinya tidak terkontrol. Bahkan saat terakhir datang ke rumah Orang Tuanya dan mendapatkan perlakuan yang sama, Nasha merasa hatinya teramat sakit yang mengakibatkan diia menangis tanpa henti. Nasha berhenti menangis saat Aletta datang dan membawa wafel dengan berbagai hiasan di atasnya.
Aneh, tapi menurut Nasha mungkin sebentar lagi tamu bulanannya akan datang jadi ya sudah.
Tak ingin terus menangis, Nasha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap melaksanakan ibadah subuh.
...----------------...
Sampai waktu sarapan, Farzan belum juga kembali dari masjid. Entah kemana lagi Farzan pergi, yang pasti Nasha yang sudah beres masak sejak 30 menit yang lalu masih menunggu Farzan datang agar bisa sarapan bersama seperti biasanya.
“Nona makan duluan saja, mungkin Tuan ada yang harus di bicarakan dengan DKM masjid,” ucap salah satu maid bernama, Eby.
“Nanti saja Eby, aku mau menunggu sebentar lagi hehe,” balas Nasha sambil sedikit terkekeh walau terasa hambar.
“Tapi nanti Nona sakit,” bujuk Eby halus.
“Tidak akan Eby. Aku kan kuat,” kekeh Nasha. Tidak tahu kenapa aku merasa mual saat melihat nasi goreng itu, batin Nasha.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu tapi nanti Nona harus sarapan,” ucap Eby sekali lagi lalu berpamitan menuju paviliun untuk makan bersama dengan maid lain.
Nasha hanya mengiyakan juga menganggukkan kepala. Setelah Eby pergi Nasha hanya diam dan memperhatikan makanan tanpa minat.
“Apa Mas Farzan langsung pergi bertemu dengan dia? Huh.. sudahlah lagi pula aku sudah menyanggupinya waktu itu, jadi terima saja semuanya,” gumam Nasha pada dirinya sendiri.
Nasha berdiam di meja makan sampai waktu menunjukkan pukul 10.00 sedangkan Nasha duduk di meja makan setelah pukul 7.20 yang berarti Nasha menunggu lebih dari 2 jam.
Karena lelah menunggu dan juga tidak nafsu makan, Nasha membawa wadah yang berisi makanan ke lemari khusus untuk menyimpan makanan. Siapa tahu nanti Farzan pulang dan belum makan.
Setelah selesai Nasha berjalan menuju ke kamarnya atau bisa dibilang kamar Farzan. Ada kemungkinan Nasha pindah kamar atau bahkan pindah rumah agar tidak melihat kedekatan mereka nantinya.
Entahlah hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaannya. Tapi untuk antisipasi, Nasha akan mengemasi pakaian miliknya ke sebuah tas besar yang dulu pernah dia gunakan. Jadi jika ada apa apa Nasha bisa langsung pergi tanpa harus ada drama panjang.
...----------------...
hay hay..
mohon maaf beberapa hari tidak update, karena kebetulan ada keluarga yang terinveksi covid, jadi haru ikut di tes untuk memastikan.
alhamdulilla aku aman, tapi 4 orang keluarga positif covid.
walau gejala tidak terlalu parah, tapi tetap tidak bisa di remehkan.
jangan lupa ikuti terus protokol kesehatan yaa kalian semua.
jadi curhat deh hihi..
oke deh sampai jumpa lagi..
bye bye..
__ADS_1