
Sekitar 1 jam mereka terjebak kemacetan lalu lintas, akhirnya mobil sampai di pekarangan rumah Lakeswara yang hampir sama besarnya dengan mansion Farzan. Hanya saja beberapa lahan di area mansion Farzan di buat untuk para pekerja dan juga tempat lain untuk dipakai bersama.
Di mansion Lakeswara hanya ada 2 paviliun dan juga musala di area belakang, juga beberapa taman dan kebun juga kolam renang di dua area, dalam dan luar ruangan.
Mobil baru saja berhenti tepat di depan pintu masuk mansion megah itu. Dari luar memang tidak terlihat ada orang yang berada di dalam sana, tapi Farzan sudah memberitahu akan datang ke sini bersama Nasha jadi tentu saja semua orang sudah berkumpul di dalam rumah.
“Selamat datang Tuan, Nona,” sapa beberapa bodyguard yang membukakan pintu.
“Yang lain dimana?” tanya Farzan setelah tadi mengangguk sebagai balasan.
“Ada di ruang keluarga Tuan,” jawab salah satu dari 4 bodyguard di sana.
“Terima kasih,” ucap Farzan sebelum berjalan menuju ruang keluarga.
“Kak Arza. Mau turun,” bisik Nasha sedikit keras. Sebenarnya sedari tadi Nasha sudah bilang agar dia turun dan berjalan sendiri, lagi pula perutnya sudah membaik dan tidak terasa sakit seperti tadi.
“Nope,” ucap Farzan dengan terus berjalan. Rumah ini terlalu luas untuk Nasha berjalan sendiri, dan kondisinya tidak memungkinkan untuk itu.
“Ish. Kakak kok gitu sih. Kesel aku. Kan cuma mau jalan aja sedikit,” gereget Nasha meremas pundak Farzan gemas saking kesalnya. Nasha tidak sadar suaranya terdengar oleh 3 orang yang sudah memperhatikan keduanya saat terlihat di dekat ruangan.
“Kamu mau aku gendong atau aku beli kursi roda?” tanya Farzan dengan menghentikan langkahnya, lagi pula mereka memang sudah sampai.
“Ish tau ah kesel,” cemberut Nasha memalingkan wajah menghadap ke arah kanan yang langsung melihat ada Momy dan Aletta sementara Daddy sedang duduk di kursi single sebelahnya.
Farzan memang diam di tengah antara sofa panjang dan juga single sofa dengan karpet bulu melapisi lantai ruang keluarga, tidak lupa ada TV, lemari, ayunan kayu di ujung dekat pintu taman, meja dan juga lampu hias di samping TV menghiasi sekeliling ruangan.
“Maluu,” gumam Nasha menelungkupkan kepala di bahu kanan Farzan sambil menggigitnya pelan, saat sadar dia di perhatikan keluarga suaminya.
Melihat itu mereka tertawa karena Nasha sekarang sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan sifatnya yang manja ini pada keluarganya, biasanya Nasha terlihat kuat dan menyembunyikan banyak hal bahkan saat sedih atau kecewa sekalipun.
“Za jangan gitu dong, kasian anak Momy,” ucap Zetta setelah menghentikan tawanya.
“Sekarang turun ya, please? Kan udah sampe,” ucap Nasha sebelum akhirnya Farzan turunkan karena Nasha juga tidak akan berjalan terlalu jauh.
“Maaf ya Momy aku ngerepotin anak Momy,” ucap Nasha saat mencium tangan Zetta dan mengecup kedua pipinya, itu karena semua keluarga yang wanita mewajibkan acara cipika cipiki agar lebih akrab.
Sebelum Nasha beranjak dari berlututnya Zetta lebih dulu memeluk Nasha seakan sudah bertahun tahun tidak bertemu dan memendam kerinduan, padahal baru 4 hari yang lalu Nasha datang ke rumah ini.
__ADS_1
“Engga kok Sayang, malah harusnya kamu repotin terus aja Arza. Bikin dia pusing sekalian biar kamu bisa tinggal di sini sama kita, hehe,” ucap Zetta sambil terkekeh gemas.
“Aku mau salim ke Daddy dulu ya Mom?” ijin Nasha sebelum melepas pelukan Zetta, dengan tidak rela Zetta melepas Nasha sebentar untuk menyapa Zeroun.
“Apa kabar Sha?” tanya Zeroun sambil mengusap kepala Nasha sayang.
“Baik Dad,” jawab Nasha sambil tersenyum manis.
“Kak Shaaa,” kini giliran Aletta yang memeluk Nasha sambil membawanya duduk di tengah antara dirinya dan Farzan.
“Kebiasaan dasar,” ucap Nasha sambil terkekeh karena Aletta selalu sedikit berteriak jika mereka bertemu.
“Hehehe ya ngga tahu kalau ketemu Kak Sha bawaannya emang pengen teriak,” cengir Aletta setelah melepas pelukannya.
Mereka juga hanya terkekeh melihat kelakuan putri bungsu keluarga ini. Setelahnya juga mereka sedikit mengobrol tentang kesehatan dan juga sedikit bicara mengenai perusahaan, untuk itu sih yang bicara hanya Zeroun dan Farzan.
“Oh iya Za katanya kamu mau kasih kabar? Kabar apa?” tanya Zetta yang ingat tadi Farzan meminta mereka berkumpul untuk memberitahu sebuah kabar.
Biasanya Daddy dan Momy akan pulang saat sudah hampir memasuki jam makan malam di rumah ini yaitu sekitar jam 8 atau bisa lebih. Aletta juga biasanya pulang malam karena setiap selesai kuliah dia akan datang ke tempat orang tuanya atau pergi dengan temannya dan akan di jemput saat akan pulang nanti.
“Kebetulan,” ucap Farzan seakan baru ingat tujuannya datang ke mansion orang tuanya.
“Jadi begini, kabar pertama adalah orang yang selama ini aku cari sudah ketemu,” ucap Farzan dengan semangat tanpa melihat ekspresi ketiga orang di sana melihatnya dengan tatapan yang sama yaitu kaget.
Dalam pikiran ketiganya mereka sedikit khawatir karena Farzan memang sedari dulu selalu bilang menunggu orang itu dan juga hanya akan mencintainya saja. Bahkan mereka tahu jika Farzan rela melakukan apa saja agar dia bertemu dan menikah dengannya.
Jika dulu mungkin mereka akan ikut bahagia, tapi sekarang berbeda. Ada perasaan Nasha yang harus mereka jaga dan juga rasa tidak rela jika harus kehilangan Nasha nantinya.
“Maksud kamu apa Arza,” beberapa lama terdiam dengan pemikiran masing masing, barulah Zeroun berbicara dengan nada yang sangat dingin, memendam emosinya yang tiba tiba saja muncul.
“Jangan macam macam kamu Arza,” lanjut Zeroun dengan menahan rasa geramnya.
“aku belum selesai bicara Dad,” kesal Farzan karena memang dia belum selesai menjelaskan semuanya.
“Kakak apa apaan sih. Masa di depan Kak Sha ngomong kaya gitu,” sekarang giliran Aletta yang ikut geram karena Kakaknya yang menurutnya egois ini.
“Hey tenang dulu. Kan Mas Farzan belum selesai bicara,” ucap Nasha menenangkan sambil mengusap tangan Aletta yang ada di genggamannya. Tangan Zetta juga ikut di usap agar tidak ikut emosi juga.
__ADS_1
Nasha masih memanggil Farzan dengan sebutan ‘Mas’ karena mereka bertiga sudah tahu akan panggilan itu, biarkan Farzan menjelaskannya dulu baru nanti Nasha akan mengubah panggilannya
“Dia memang sudah ketemu, kita juga sudah bertemu. Tunggu jangan ada yang memotong perkataanku,” ucap Farzan terpotong karena tadi hampir saja Aletta memakinya lebih parah.
“Kita baru mengetahuinya tadi, tapi aku mengetahuinya dari 4 hari yang lalu. Dan orang itu ada di tengah tengah kalian,” jelas Farzan singkat tanpa mau memberitahu semua ceritanya.
“Maksud Kakak?” Aletta mengernyitkan dahinya karena masih mencerna perkataan Kakaknya.
“Kalian tahu benar apa maksud ucapanku,” Farzan sudah malas duluan karena di tuduh oleh mereka. Tapi wajar sih karena dulu dia selalu bilang jika dia akan menunggu dia datang baru akan menikah, tapi karena keluarganya mendesak jadi dia dulu terpaksa menggunakan Nasha agar mereka berhenti mendesaknya.
“Jadi Kak Sha?” Aletta yang baru mencerna ucapan Kakaknya mulai menyadari arti dari perkataan Farzan.
“Hm,” Farzan hanya berdehem saja karena malas.
“Kak Arza jangan gitu ih,” kesal juga Nasha pada kelakuan suaminya. Ya walau kalau dia di posisi itu juga akan kesal karena perkataannya di potong dan dituduh.
“Hah.. iya iya maaf. Jadi karena bla.. bla.. bla..” mengalirlah cerita dari awal bertemu Grasya dan juga buku serta musuhnya. Selagi mendengarkan ada perasaan bahagia dan haru karena ternyata Farzan tidak akan meninggalkan atau ditinggalkan siapa pun. Nasha adalah orang yang dia cari selama ini dan sekarang dia sudah berada di tengah tengah mereka.
“Jadi seperti itu,” tutup Farzan selesai menceritakan semua.
“Kalau begitu baguslah. Jadi kamu tidak akan menyakiti anak kesayangan Momy,” ucap Zetta sambil menangis haru dan memeluk Nasha. Tidak rela jika Nasha harus meninggalkan keluarga ini, Zetta sudah terlanjur sangat menyayanginya.
“Daddy kira kamu akan membuat kesalahan. Tapi ternyata tidak,” hanya itu tanggapan dari Zeroun. Tapi jika yang terjadi sebaliknya bisa saja Zeroun melakukan tindakan lain. Mungkin tidak terduga.
“Makannya jangan pada suudzon dulu. Dari tadi cerita di potong terus jadi kan gitu,” gerutu Farzan. Sebenarnya anaknya tuh siapa sih, batin Farzan sedikit kesal.
Walau begitu Farzan senang karena Nasha tidak hanya di anggap sebagai menantu, tapi malah jauh lebih baik dari itu.
Bagi Farzan apa pun yang membuat Nasha bahagia dia akan berusaha untuk memberikannya, selagi mampu dan tidak menyalahi aturan agama.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1