Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Wedding day 2


__ADS_3

Acara demi acara sudah selesai di laksanakan. Tamu tamu yang datang juga sudah mulai meninggalkan gedung acara di mulai. Sekarang hanya tinggal keluarga saja yang tengah berkumpul sekaligus menikmati beberapa jamuan dan mengobrol bersama.


“Kalian bakal tinggal di rumah Mom and Dad kan setelah ini?” tanya Zetta yang sangat berharap mereka mau tinggal bersama agar rumah tidak sepi.


“Sepertinya kita langsung tinggal di rumahku Mom,” jawab Farzan langsung.


“Agar kita juga bisa mandiri, maksudku ...” lanjut Farzan yang terpotong omongan Zero.


“Ya Dad mengerti maksudmu. Tidak apa tidak usah di pikirkan. Dan untuk Mom kita kan bisa berkunjung atau mereka yang berkunjung, lagi pula tempat tinggal Farzan tidak terlalu jauh,” ucap Zero bijak. Dia sangat mengerti maksud dari putranya itu.


“Baiklah jika itu memang yang kalian inginkan, Momy tidak bisa melakukan apa apa. Tapi kalian jangan lupa untuk sering sering datang ke rumah ya?” pasrah Zetta karena dia tidak bisa membujuk mereka untuk tinggal bersamanya.


“Maaf ya Mom. Nanti insyaallah kita sering ke sana,” ucap Nasha menenangkan Zetta yang terlihat kecewa karena keputusan Farzan.


“Tidak apa apa sayang. Kalau bisa setiap hari saja mainnya, kan orang itu juga kerja terus pasti,” ledek Zetta pada Farzan yang memang gila kerja.


“Ya tidak begitu juga Mom. Aku sudah mempunyai tanggung jawab sekarang, sebisa mungkin aku akan mengurangi aktivitasku diluar,” ucap Farzan yang kesal karena mendengar ledekan Ibunya itu.


“Ya ya ya terserahmu sajalah,” malas Zetta yang di balas tawa dari semua yang mendengarkan di sana.


“Sudah malam, sebaiknya kita kembali ke kamar masing masing. Besok pagi baru kita kembali ke rumah,” ucap Zero yang memang sudah lelah dan mengerti pasti keluarganya merasakan hal yang sama juga apalagi Farzan dan Nasha.


...----------------...


Setelah sampai di kamar, Nasha langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang sudah di hias sedemikian rupa tapi baru saja hancur karena tertimpa tubuhnya.


“Apa kamu tidak ingin mandi terlebih dahulu?” tanya Farzan yang sedang membuka jas yang melekat di tubuhnya.


“Sebentar. Rasanya kakiku kebas karena terlalu lama berdiri tadi,” ucap Nasha sambil memejamkan matanya.


“Jika kamu mau, kamu bisa mandi duluan,” lanjutnya lagi.


“Hem.. baiklah. Setelah aku sebaiknya kamu segera mandi, akan terasa tidak nyaman jika kamu tertidur dalam keadaan berkeringat,” ucap Farzan sambil berjalan menuju kamar mandi.


Farzan baru saja keluar dari kamar mandi dan saat melihat ke arah kasur ternyata Nasha sudah tertidur.


“Sepertinya tadi terlalu melelahkan jadi dia tidak bisa menahan kantuknya lagi,” ucap Farzan sambil menggelengkan kepalanya melihat Nasha sudah berganti memakai piyama tidur berwarna senada dengan yang di kenakan oleh Farzan yaitu abu muda.


“Yasudah tidak apa, besok saja dia membersihkan dirinya. Kasihan juga jika dibangunkan sekarang,” gumam Farzan yang membiarkan Nasha untuk kali ini.


Farzan yang masih canggung memilih merebahkan tubuhnya di sofa yang sebenarnya terlalu kecil karena tubuh Farzan yang kekar dan juga tinggi.


Setelah beberapa menit, ternyata tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama karena belum juga bisa terlelap walau mata sudah sangat mengantuk.


Akhirnya mau tak mau walau canggung Farzan pindah ke kasur yang di tempati Nasha.


Berhubung piyama yang mereka gunakan tangan panjang jadi Nasha juga masih menggunakan kerudung langsung berwarna senada. Entahlah mungkin Nasha masih tidak terbiasa memperlihatkan rambutnya pada orang lain walau orang lain itu sudah jadi suaminya.


...----------------...


Adzan subuh baru saja berkumandang, tapi kedua orang yang tertidur dengan saling berhadapan itu masih belum terbangun.

__ADS_1


Farzan yang mendengar suara alarm dari handphone miliknya mulai mengerjapkan mata dan mencari letak Hp di nakas samping untuk mematikan alarm.


Begitu matanya sudah terbuka, Farzan baru menyadari ada yang tertidur di hadapannya.


Nasha dengan tangan yang di simpan di pipi dan juga kaki yang meringkuk, sedikit ada dengkuran halus yang terdengar.


Sesaat Farzan hanya memperhatikan Nasha yang terlihat cantik walau sedang tertidur.


Entah sekarang Farzan mulai membuka hatinya untuk Nasha atau tidak, yang pasti ketika melihat Nasha ada perasaan yang tidak bisa di jabarkan.


Seakan dia sudah berhasil bertemu dengan Achanya. Tapi dengan cepat dia menepis pemikiran itu karena bagaimanapun mereka orang yang berbeda.


Farzan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.


Farzan tidak membangunkan Nasha karena dia sudah di beri tau jika Nasha sedang halangan.


Di sisi lain, Nasha mulai mengerjapkan matanya saat mendengar ada yang sedang melantunkan ayat suci, sepertinya ada yang sedang sholat, batin Nasha.


“Tapi tunggu kenapa suara laki laki?” batin Nasha bertambah bingung.


Dengan mata yang membulat Nasha bangun dengan sedikit kasar membuat kepalanya pusing.


Saat sedang meresapi rasa pusing di kepalanya, Nasha baru ingat jika dia sudah menikah kemarin.


Setelah pusingnya sedikit reda barulah dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena malam tadi dia tidak jadi mandi.


Nasha tidak tau jika Farzan telah selesai sholat dan memperhatikannya yang bangun dengan terburu buru dan berakhir mengerutnya kening Nasha yang menandakan ada ras sakit.


“Lucu,” gumam Farzan sesudah melakukan aktivitasnya.


Sekitar 30 menit Nasha di kamar mandi dia pun keluar dengan menggunakan celana bahan warna kulit dengan atasan baju dengan kancing depan berwarna tosca dan kerudung yang senada dengan warna celana.


“Mau sarapan di sini atau kita ke bawah?” tanya Farzan tiba tiba.


“Astaghfirullah,” gumam Nasha karena kaget.


“Ehm, ke bawah aja,” ucap Nasha setelah menetralkan kekagetannya.


“Apa aku membuatmu kaget?” tanya Farzan yang tadi mendengar gumaman Nasha.


“Ehehe engga kok, emang akunya aja yang kagetan,” jawab Nasha dengan muka yang sudah memerah karena malu.


“Kalau begitu maaf, lain kali mungkin kamu juga harus membiasakan diri saat ada aku di dalam kamar,” ucap Farzan meminta maaf sekaligus memberi saran.


“Ehm, iya. Aku akan mulai membiasakan diri. Maaf juga karena kadang aku merasa canggung,” ucap Nasha jujur.


“Iya tidak apa. Kan masih proses pembiasaan,” ucap Farzan menenangkan.


“Yasudah sebentar lagi kita ke bawah ya, sekarang lebih baik kita bereskan dulu baju. Nanti siang kita ikut pulang bersama yang lainnya,” ajak Farzan yang melihat jam masih menunjukkan angka 6.


“Eh aku aja yang beresinnya. Ehm, M-mas Farzan mau di buatkan teh atau kopi?” gugup Nasha yang baru memanggil Farzan dengan sebutan Mas.

__ADS_1


“Eh? Oh, Ekhem, boleh buatkan teh susu saja,” gagap Farzan salah tingkah dengan muka yang memerah.


“Sebentar aku masak airnya dulu,” Nasha yang sama malunya berjalan menuju meja pantry kecil tempat disimpannya gelas dan juga bubuk minuman atau teh.


Karena tidak ingin suasana canggung, Farzan beranjak dan mengambil koper yang di simpan di atas lemari.


Kalau kalian pikir akan ada aksi jail yang hanya memasukkan baju tipis atau lingerie, itu tidak terjadi karena sebelumnya Aletta tau Nasha baru saja halangan.


Tidak ingin juga ada keributan atau tidak percaya dari Nasha padanya. Sedikitnya Aletta tau masih ada jarak antara mereka berdua.


Biarlah waktu yang menyatukan mereka nanti.


“Ini Mas minumnya. Eh kenapa Mas yang beresin kopernya?” ucap Nasha yang baru saja berbalik dan menaruh gelas di atas nakas sebelah tempat tidur.


“Tidak papa, membereskan koper atau bahkan rumah sekalipun bukan tanggung jawab seorang istri. Kebanyakan orang beranggapan kebersihan rumah di tanggung oleh istri, padahal semua itu tugas suami. Tetapi untuk meringankan beban suami, istri membantunya untuk membersihkan rumah agar enak di pandang oleh orang yang bertamu.”


“Dikarenakan suami juga harus mencari nafkah dan menguras tenaga, jadi rumah di limpahkan semua pada istri. Saat pekerjaan rumah tidak beres suami menyalahkan istri. Padahal istri sudah baik mau membantunya. Memang bekerja itu capek, tapi ada pahala di dalamnya bagi yang mengerjakan dengan ikhlas.”


“Bukan berarti saat mengetahui tanggung jawab itu, istri bisa langsung marah karena di salahkan. Akan lebih baik jika menahan diri dan menjelaskan dengan pelan hak dan kewajiban antara suami istri dengan pelan saat suasana membaik dengan cara yang halus juga.”


Farzan sedikit menjelaskan apa yang dia ketahui dari buku yang pernah dia baca.


Farzan memang sedikit banyak mulai mempelajari tentang kehidupan rumah tangga dan lain sebagainya.


Farzan selalu berpikir jika dia harus membimbing keluarganya dan membina keluarga yang menyenangkan bagi istri dan anak anaknya nanti.


Walau dulu Farzan selalu berkhayal yang menjadi pendamping hidupnya adalah orang yang di nanti selama ini. Tapi Allah berkata lain, mungkin Acha bukanlah jodohnya.


“Ternyata Mas Farzan tau banyak tentang rumah tangga. Aku kira nanti akan banyak perdebatan yang berati saat kita sudah menikah,” kagum Nasha yang sedari tadi mendengarkan sambil ikut membantu membereskan baju di lemari.


“Aku belajar banyak saat berpisah dengan dia, karena setiap kami bertemu dia pasti dalam keadaan yang tidak baik baik saja,” jelas Farzan tanpa sadar.


Nasha yang mendengar pun sedikit merasa bersalah karena memang ini semua di luar kehendak manusia. Walaupun Nasha hanya mengikuti aturan yang Farzan buat dulu.


“Eh maaf bukan begitu maksudku,” ucap Farzan gelagapan saat menyadari ucapannya.


“Ehm, iya tidak papa. Aku juga begitu dulu. Tapi sekarang takdir menyatukan kita walau dengan cara yang kurang menyenangkan,” ucap Nasha dengan tenang.


Terkadang ingin marah pada takdir, tapi mau marah juga untuk apa. lebih baik jalani dan ikhlaskan semua yang sudah terjadi.


“Hem kamu benar. Nah sudah selesai, lebih baik kita turun sekarang sudah hampir jam 8 ternyata,” ucap Farzan membenarkan dan mengajak Nasha turun karena tak terasa mereka membereskan sambil mengobrol memakan waktu hampir 2 jam.


“Iya, takut yang lain juga sudah menunggu,” ucap Nasha mengiyakan.


Mereka berdua beranjak dan berjalan keluar berbarengan untuk menuju resto yang ada di hotel.


...----------------...


Semoga gapada bosen nunggunya, hehe


tandai typo yahh

__ADS_1


bye bye


__ADS_2