
Setelah dua hari menginap di mansion Lakeswara, Nasha dan Farzan kembali lagi menuju mansion Farzan eh tidak bukan tapi mansion Nasha. Semua itu sudah berganti menjadi milik Nasha.
Setiap pagi seperti biasa Nasha akan mengalami morning sickness, bahkan saat ngidam tengah malam pun Nasha yang baru saja tidur satu jam sudah terbangun dan mengeluarkan makanan yang baru saja dia makan sebelumnya.
Farzan yang mengikuti Nasha juga khawatir namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan apa yang Nasha rasakan. Yang bisa Farzan lakukan adalah menemani dan menjadi sandaran saat Nasha butuh penopang.
“Kakak hari ini ke kantor ya?” tanya Nasha saat mereka berdua sedang sarapan.
Farzan memang satu minggu sebelumnya hanya diam di rumah menemani Nasha, pekerjaan di kantor dia serahkan pada Brady untuk sementara. Tapi hari ini Brady bilang ada rapat penting yang tidak bisa di wakilkan jadi mau tidak mau Farzan harus berangkat ke kantor.
“Iya, cuma sebentar kok,” jawab Farzan. Pertanyaan tadi sudah sering Nasha ucapkan sejak pagi tadi selesai Brady menghubunginya.
“He em,” angguk Nasha sambil berdehem mengiyakan.
Sebenarnya Nasha tidak ingin di tinggal oleh Farzan, bahkan dia berniat untuk ikut ke kantor. Tapi Nasha terlalu takut. Takut mengganggu dan takut di anggap terlalu posesif karena terus mengikuti Farzan kemana pun.
“Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum,” ucap Farzan ketika makanan dalam piringnya sudah habis, dengan mengulurkan tangan juga mencium kening Nasha ketika tangannya sudah Nasha cium.
Farzan yang terburu buru langsung pergi menggunakan sopir karena masih harus memeriksa beberapa tugas, tanpa melihat lagi ke arah Nasha yang masih terus memperhatikan Farzan. Bahkan makanan dalam piringnya masih tersisa banyak.
Menghela nafas sebentar, Nasha membawa bekas makan mereka berdua untuk di cuci mumpung tidak ada pekerja atau bodyguard yang memperhatikannya. Semua pekerja sedang di paviliun untuk sarapan juga, pun dengan bodyguard yang bergantian jaga di depan gerbang dan pintu utama.
Nasha yang sudah selesai dengan kegiatannya di bawah langsung berjalan menuju kamarnya menggunakan tangga, padahal sudah ada lift di dekat tangga untuk mempermudahnya.
Pasalnya letak kamar mereka pindah ke lantai 3 di sana hanya ada ruangan untuk mereka berdua, semua kebutuhan juga tersedia, seperti apartemen bentuk studio namun lebih luas lagi.
Alasan Farzan pindah ke lantai atas agar Nasha betah hanya diam dalam kamar yang sudah di sediakan semua kebutuhannya agar jarang ke lantai bawah atau keluar mansion, Farzan terlalu takut banyak musuh yang mengetahui Nasha dan malah berbuat sesuatu yang di luar dugaannya.
“Huh.. akhirnya nyampe juga,” gumam Nasha saat baru saja menginjak tangga terakhir di lantai 3.
“Tapi masih harus jalan sampe pintu depan sana,” gumamnya lagi. Dari lift dan tangga memang ada ruangan terbuka seperti ruang tamu, baru setelahnya ada 1 pintu yang di dalamnya adalah kamar mereka berdua.
Nasha sepertinya melupakan nasehat dokter untuk tidak terlalu lelah dan melakukan aktivitas berat dengan menaiki anak tangga yang tidak sedikit di tambah tadi dia tidak menghabiskan makanannya.
“Shh.. kok nyeri ya?” tanya Nasha lirih entah pada siapa.
“Astaghfirullah aku lupa. Dokter kan kemarin pas di rumah sakit bilang kandunganku lemah, tapi kenapa aku malah bandel gini sih,” lirih Nasha sambil mengusap usap perutnya.
Setelahnya Nasha mengambil vitamin untuk segera dia minum dan memejamkan matanya berharap rasa sakit itu akan berkurang atau bahkan menghilang.
...----------------...
Di tempat lain, Farzan yang baru saja mengecek pekerjaan beralih melihat aktivitas Nasha setelah dia pergi karena tadi.
“Kenapa dia malah mencuci alat masak tadi? Loh kenapa pakai tangga ke kamarnya, kan kamar kita bukan di lantai 2 lagi,” selama melihat video dalam tabnya kening Farzan selalu mengernyit dengan rasa bersalah yang muncul.
Farzan memang tahu Nasha tidak ingin di tinggal dengan terus menanyakan pertanyaan yang sama sedari tadi, tapi Farzan tidak bisa membawa Nasha karena menurutnya nanti di kantor juga dia akan sibuk dan tidak bisa memperhatikan Nasha. Namun melihat Nasha yang malah jadi seperti itu dia jadi merasa keputusannya salah.
“Pasti perutnya merasa tidak enak sekarang. Nah iya kan bener,” gumam Farzan yang memperhatikan Nasha yang berjalan pelan menuju pintu kamar dan juga kasur sambil mengelus perutnya. Gumaman Nasha juga terdengar samar oleh Farzan yang memakai earphone.
Tidak lama setelah itu Brady datang untuk memberitahu jika rapat sebentar lagi akan segera di mulai, tinggal menunggu Farzan untuk datang.
“Permisi Pak. Rapat bisa di mulai sekarang,” ucap Brady saat sudah sampai di depan Farzan.
“Saya ingin rapat berjalan 30 menit tidak lebih,” ucap Farzan sambil berjalan mendahului Brady.
“Tergantung pada pembahasan,” ucap Brady sedikit heran, mana bisa rapat penting waktunya begitu singkat, batin Brady.
__ADS_1
“Lihat saja nanti,” ucap Farzan sedikit tidak santai, pikiran dan juga perasaannya gelisah memikirkan Nasha yang sedang tidak nyaman.
Memasuki ruang rapat yang sudah di penuhi dengan orang orang berkepentingan, Farzan dan Brady duduk di tempatnya masing masing. Sebelum di mulai Farzan lebih dulu menginterupsi.
“Jika rapat lebih dari 30 menit saya pastikan pekerjaan kalian akan saya tambah tanpa terkecuali,” ucap Farzan tidak ingin di bantah.
“Baik Pak,” ucap mereka serentak walau dalam hati sudah ketar ketir takut membuat rapat melebihi waktu yang di minta.
Rapat segera di mulai dengan sedikit tergesa namun membahas rinci sesuai dengan yang seharusnya hanya di pangkas agar lebih singkat dan tidak memakan waktu. Sepanjang mendengarkan Farzan juga memainkan ponsel untuk meminta Dokter Jane datang ke mansion.
“Jadi bagaimana Pak?” tanya pegawai yang baru saja menyelesaikan presentasi, sebenarnya dia sedikit kesal karena Farzan malah memainkan ponselnya padahal dalam rapat tidak boleh ada yang memainkan ponsel.
“Menurut saya semua bla bla bla,” jawab Farzan langsung dengan memberikan sedikit masukan. Farzan juga mengetahui jika banyak yang kesal karena dia memainkan ponsel tapi dengan otaknya yang jenius dia bahkan dia bisa memahami ucapan mereka tanpa melihat layar yang memperlihatkan gambaran dan sebagainya.
“Coba cek lagi slide 10, 14, dan 21 di sana banyak kesalahan penulisan yang tidak di sadari akan membuat perusahaan rugi,” ucap Farzan yang di hadiahi tatapan kaget dari semua pegawai, mereka pikir Farzan tidak melihat layar jadi tidak mungkin tahu detail itu, tapi mereka yang memperhatikan pun tidak menyadari hal tersebut.
Rapat berjalan dengan baik walau sedikit sengit akan perdebatan dari beberapa orang, namun sesuai waktu yang Farzan inginkan. Hasil dari rapat juga tetap memuaskan karena Farzan yang langsung memberikan ide idenya, biasanya dia hanya memperhatikan dan meminta mereka mengganti ide tersebut. Tapi karena hari ini dia harus cepat kembali jadi dia mengeluarkan ide briliannya.
“Lo kenapa sih Za? Kaya lagi buru buru,” tanya Brady yang ikut masuk ke dalam ruangan Farzan dan memperhatikan gerak gerik Farzan yang memasukkan tab juga berkas penting yang harus di cek dalam tasnya.
“Acha sendiri di rumah jadi Gue ngga bisa pergi terlalu lama,” jawab Farzan dengan tangan yang masih sibuk memilah.
“Kan biasanya juga kaya gitu,” heran Brady.
“Nanti Gue cerita, kalian malam ini jadi kan ke rumah?” tanya Farzan sambil menatap Brady karena sudah selesai dengan tumpukan berkasnya.
“Jadi. Mereka juga udah setuju. Tapi kenapa ngga jadi ke resto?” tanya Brady penasaran, karena awalnya mereka akan bertemu di resto milik Farzan.
“Ngga papa, lebih enak di rumah. Lagian semua menu resto bisa di buat di rumah,” ucap Farzan sambil berjalan menuju lift diikuti Brady yang akan mengantar.
“Iya dong harus, haha,” ucap Farzan sedikit tertawa.
Farzan yang sudah di dekat mobil langsung masuk dan juga sedikit memberi pesan pada Brady untuk mengurus perusahaan selagi dia tidak di tempat. Baru setelahnya mobil berjalan dengan kecepatan lumayan tinggi agar bisa cepat sampai mansion.
...----------------...
Kurang lebih 20 menit Farzan sudah berada di dalam mansion dan sekarang dia sedang menaiki lift agar bisa cepat membawa dirinya dan juga Dokter Jane serta 2 perawat yang mengikuti Dokter Jane.
“Tunggu di sini sebentar,” ucap Farzan ketika mereka melewati sofa yang ada di sana. Farzan akan melihat Nasha lebih dulu.
“Baik Tuan,” ucap mereka berbarengan dengan sedikit menundukkan kepala.
Farzan membuka knop pintu perlahan agar tidak terlalu menimbulkan suara yang bisa mengganggu Nasha nantinya.
“Assalamualaikum,” bisik Farzan dengan suara amat pelan.
“Aku memang tidak pernah bisa berjauhan lagi denganmu, buktinya sekarang. Ada saja yang akan membuatku khawatir,” gumam Farzan amat pelan agar tidak mengganggu Nasha yang masih terlihat gelisah.
Diusapnya pelan perut Nasha agar sedikit memberi kenyamanan, sebelum melepas dan beranjak keluar memanggil Dokter Jane.
“Tolong periksa sekarang,” ucap Farzan dengan membuka pintu lebar dan dia kembali masuk ke dalam kamar.
“Kamu udah pulang?” tanya Nasha yang kedua matanya sudah terbuka dengan suara seraknya. Tadi sesaat setelah usapan Farzan tidak dia rasakan kembali matanya mulai terbuka dan mencari Farzan yang tidak terlihat karena sedang membukakan pintu.
“Baru saja. Kenapa kamu bandel, hm?” ucap Farzan yang duduk di sisi sebelah kiri Nasha agar memudahkan Dokter memeriksa Nasha.
“Hehe maaf. Eh kenapa ada Dokter di sini?” ucapan Nasha berubah menjadi rasa kaget karena ternyata ada dokter yang memeriksa kandungannya kemarin kemarin.
__ADS_1
“Iya karena kamu bandel,” cibir Farzan yang malah membuat Nasha cemberut.
“Saya periksa dulu ya Tuan, Nona?” ucap Dokter Jane yang diangguki Farzan dan Nasha hanya bisa pasrah saja.
Dokter Jane dibantu perawat melakukan tugasnya dengan baik. Nasha juga mau tidak mau harus bedrest selama kurang lebih 1 minggu. Obatnya juga di tambah penguat kandungan dan juga beberapa vitamin.
“Infusnya ngga bisa di lepas aja Dok?” cicit Nasha sambil melirik lirik ke arah Farzan takut.
“Maaf Nona, untuk yang ini biarkan sampai habis dulu baru nanti bisa di lepas. Ini agar obatnya lebih mudah di serap tubuh,” jelas Dokter Jane. (Ini ngarang ye hehe)
“Kalau begitu kami permisi dulu ke bawah, nanti jika air infus ini habis bisa kami cabut,” ucap Dokter sambil menunggu perawat membereskan alat yang di pakai tadi.
“Ya silahkan. Mintalah sesuatu pada Bu Tin atau Ningrum jika kalian membutuhkannya. Terima kasih sebelumnya,” ucap Farzan tanpa melihat ke arah mereka bertiga. Menurutnya ada satu perawat yang lancang memperhatikannya terus menerus dan dia tidak menyukai itu.
“Satu lagi, jangan bawa perempuan tanpa jilbab itu jika ke sini. Aku tidak menyukainya,” lanjut Farzan dengan suara teramat datar.
“Baik Tuan,” ucap Dokter sedikit aneh tapi melihat mata perawat itu ternyata memang benar ada sesuatu yang salah.
Mereka langsung berjalan keluar kamar dengan muka masam juga kesal salah satu perawat yang tadi di ucapkan Farzan.
“Sialan,” desisnya pelan sedikit tidak terima di permalukan seperti tadi.
Tidak ada yang mendengar desisannya karena suaranya teramat pelan dengan wajah yang terus menunduk menatap lantai.
“Jangan macam macam La,” ucap Dokter Jane memperingati Lala nama perawat itu.
“Maaf Dok,” walau sedikit tidak ikhlas dia tetap berucap dan menormalkan ekspresi geramnya.
Baru saja mereka duduk di sofa ruang tamu 2 orang bodyguard menghampiri mereka dengan wajah yang teramat datar dan tanpa ekspresi.
“Ikut dengan kami,” ucapnya saat sudah di hadapan Lala.
“Apa apaan kalian?! Saya di sini sedang bekerja,” teriaknya tidak terima karena tangannya sudah di tarik ke belakang punggung dengan memaksanya berdiri.
“Anda harus kami bawa agar bisa menjadi lebih baik nantinya,” ucap salah satu dari mereka dengan terus menyeret Lala keluar mansion entah kemana.
“Loh Dok itu kenapa?” ucap Astri perawat berjilbab rekan Lala.
“Entah. Mungkin di bawa ke markas. Tuan tidak akan membiarkan dia berkeliaran begitu saja, bisa saja nanti dia bertindak bodoh dan melukai Nona,” jelas Dokter Jane pada Astri yang memang baru bekerja dengannya kurang lebih satu tahun ini.
Memang banyak pekerja baru yang masih tidak mengetahui hukuman apa yang di terima jika menjadi penghianat atau berniat demikian, karena hampir 1 tahun ini tidak ada yang berani macam macam. Bahkan dalam surat perjanjian kerja tertulis jika mereka harus menerima konsekuensi jika melakukan tindak kejahatan yang di sengaja maupun tidak.
Dan beberapa senior tahu jika sudah ada bodyguard khusus maka dia akan di bbawa menuju markas yang entah berada dimana letaknya.
“Oh begitu Dok. Jangan sampe kita seperti itu,” ucap Astri dengan menggumam di akhir kalimatnya.
Tidak lama mereka sedikit berbincang dan juga di suguhi beberapa makanan agar tidak terlalu bosan menunggu cairan infus milik Nasha habis. Baru setelah ada telepon dari Farzan mereka bergegas melepas jarum dan pergi menuju rumah sakit kembali.
...----------------...
semoga dapet feel nya yah😁
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
bye bye
__ADS_1