
Malam ini semua berkumpul di ruang keluarga karena para wanita ingin makan suki dan juga bbq ala ala.
Para pria menuruti kemauan istri mereka. Farzan juga langsung meminta orang resto membawa semua bahan yang di perlukan serta tambahan kompor dan alat lainnya karena saat sedang berkumpul seperti ini satu kompor akan kurang.
Tentu saja Aletta dan Nasha paling semangat karena terakhir makan makanan seperti ini sekitar 2 bulan yang lalu saat membujuk Nasha yang sulit makan.
"Aku mau saus pedasnya di tambah pokonya," ucap Aletta saat Farzan masih menelepon.
"Iya! tambahan cabai sama cengek juga," setuju Nasha mendengar ucapan Aletta.
"Kylla pengen coba yang pedes juga," sahut Kylla ingin coba, padahal dia tidak bisa pedas.
"Jangan deh cil, ntar sakit perut nangis," ledek Ana pada Kylla.
"Apasih Ana! Ngga usah ikut ikut ya," kesal Kylla menatap sinis Ana.
"Lah dikasih tahu malah ngamuk," desis Ana pelan, takut terdengar Deon. Ntar dia ditatap tajam lagi.
"Sayang jangan ya. Nanti babynya sakit perut gimana?" bujuk Deon sedikit berbohong.
"Emang gitu ya Kak? Yaudah deh Kylla ngga jadi. Kamu juga jangan makan pedes Sha nanti babynya sakit perut hih," Kylla yang mendengar ucapan Deon langsung mengiyakan dipikirannya apa yang di ucapkan suaminya itu adalah kebenaran, dan kalau itu terjadi kan kasihan anaknya.
"Jangan pesen yang pedas," ucap Deon mutlak membuat para wanita penyuka pedas memberengut tak suka.
"Gegara bocil nih kaga bisa pesen pedes," cebik Ana kesal.
Pasalnya jika ucapan Deon di bantah akibatnya nanti mereka mendapat sedikit peringatan dan juga hukuman.
Tidak berat memang, hanya mengurung diri dalam rumah selama satu minggu dan itu semua di awasi oleh suami masing masing.
Padahal para wanita itu tidak bisa jika hanya diam saja di rumah, paling hanya Nasha dan Kylla yang betah betah saja mau bagaimana pun juga.
"Jangan dihadapannya saja," lanjut Deon yang tidak ingin membuat yang lainnya kecewa hanya karena istrinya ini.
"Yes!" sorak yang lain pelan, tidak mau Kylla tahu.
"Yaudah, gimana kalau sekarang kita nonton film dulu aja? Kemarin ada film animasi terbaru loh," ucap Aletta mengalihkan, sambil mengisi waktu juga.
"Nah boleh. Setel tvnya," angguk Eve meminta Sean menyalakan layar TV.
Mereka menunggu semua pesanan yang baru saja diminta tadi datang dengan menonton film dan juga sedikit berbincang ringan.
__ADS_1
Sekarang juga masih pukul setengah 8 malam jadi masih belum memasuki waktu makan malam. Kalau sudah, pasti para pria tidak akan memperbolehkan mereka menunggu lagi.
...----------------...
Sekitar 20 menit kemudian semua bahan bahan yang di pesan sudah sampai di mansion Lakeswara.
Beberapa orang menyusun meja tambahan untuk menaruh kompor dan juga alat masak lainnya, sedangkan sisanya membawa masuk bahan bahan yang akan di gunakan.
Beberapa alat dan bahan juga di pesan untuk para pekerja bawa ke paviliun belakang untuk makan malam mereka semua.
"Kak Arza. Aku mau sambil senderan boleh ngga? Kak Arza yang masaknya," bisik Nasha saat yang lain tengah sibuk memindahkan dan memilah bahan yang mereka mau.
"Apa yang sakit, hm?" tanya Farzan ikut berbisik, tahu jika istrinya sedang merasa tidak nyaman.
"Cuma sedikit nyeri pinggangnya," jawab Nasha tidak mau berbohong.
"Kamu senderan di aku aja, jadi masih bisa masak masak," usul Farzan sambil membantu Nasha duduk di bawah, karena tadi sudah di minta Zetta.
"Nanti Kakak berat," ucap Nasha ingin menolak.
"Sutt, ngga papa," ucap Farzan tak mau di bantah dan langsung duduk di belakang Nasha.
Walaupun begitu Farzan tetap meminta Nasha untuk bersandar dan dia yang masak makanan mereka berdua.
"Cuma lagi pegel aja dikit Mom," bukan Nasha yang menjawab, melainkan Farzan.
"Mau aku masakin aja ngga Kak Sha? Senderan di kursi aja Kak Sha nya," ucap Aletta yang duduk di sebelah kanan mereka berdua.
"Engga papa Ta," ucap Farzan mengisyaratkan biar dia saja.
"Oke deh, senyamannya Kak Sha aja ya. Kalau ngga kuat bilang ya Kak," ucap Aletta menatap Nasha.
"Tenang aja Ta," Farzan sepertinya terlalu semangat menjawab, sampai tidak membiarkan Nasha sendiri yang menjawab pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan oleh adik dan ibunya.
"Kak Arza memang menyebalkan," cebik Aletta memicing menatap mata Farzan yang menurutnya begitu menyebalkan.
"Terserah lah," acuh Farzan menanggapi kekesalan adiknya itu.
Dengan menahan kekesalan Aletta melanjutkan masak tanpa menghiraukan lagi Farzan yang membuatnya begitu kesal.
"Kak Arza ih, jangan kaya gitu," tegur Nasha pelan karena muka Aletta begitu terlihat kesal.
__ADS_1
"Engga papa Sayang," santai Farzan membiarkan adiknya dengan wajah cemberutnya.
"Terserah Kak Arza aja lah," malas Nasha dengan menepuk pelan lengan Farzan.
"Sha Sayang kalau ngga nyaman bilang ya? Atau duduk di sofa aja ngga papa," ucap Zetta masih khawatir dengan menantu kesayangannya.
"Engga papa Mom, tapi maaf ya aku ngga sopan malah sandaran kaya gini," ucap Nasha tak enak hati.
"Engga papa dong Sayang, kaya kata Aletta tadi senyamannya kamu aja," ucap Arni menimpali.
"Oke cukup, lebih baik kita mulai makan," ucap Farzan menghentikan ucapan ini atau nanti Nasha akan merasa lebih tidak enak lagi.
"Anakmu itu loh Dad kok ngeselin banget," gerutu Zetta kesal pada anak lelakinya.
"Anak kita Mom," balas Zeroun dengan nada malasnya.
"Ehehe iya Dad maaf," cengir Zetta menatap Zeroun manja agar Zeroun tidak marah.
Mereka makan sambil di selingi dengan obrolan dan juga candaan ringan satu sama lain.
Tidak ada kecanggungan yang di rasakan meskipun banyak orang dengan watak yang berbeda. Mereka mengerti akan batas canda atau juga perkataan yang bisa menyinggung satu sama lain.
Meskipun kadang ada kalanya tidak sengaja mereka mengucapkan kata yang tidak tepat, orang yang menerima ucapan itu pun tidak akan tersinggung dan marah.
Mereka lebih lama mengenal satu sama lain, tidak ada yang perlu di ragukan akan sikap kekeluargaan dari mereka ini. Bahkan sudah selayaknya keluarga kandung sendiri.
Dalam obrolan juga terkadang ada perdebatan yang terjadi antara Aletta dan Farzan atau Ana dan Kylla. Yang lainnya hanya menimpali sesekali atau ikut mengompori perdebatan yang ada dan membuat suasana kekeluargaan begitu kental.
Mereka memang jarang sekali berkumpul jadi sekalinya bertemu dan berkumpul maka mereka akan benar benar menggunakan waktu sebaik mungkin.
Jika mereka berkumpul layaknya keluarga besar walau bukan dalam ikatan darah yang sama.
Setelah mereka sibuk dengan aktivitas masing masing mungkin akan membutuhkan waktu yang lama agar bisa berkumpul kembali seperti ini.
...----------------...
maafkan kalau banyak yang tidak nyambung dan lain hal, mendekati lebaran jadi banyak yang harus dilakukan hehe
semoga suka😁
happy reading..
__ADS_1
tandai typo yah, hehe..
bye bye