Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Membaik


__ADS_3

Beres mengganti pakaian, Nasha keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Setidaknya dia harus berguna sedikit di rumah ini. Kemarin kemarin mungkin jika dia banyak tertidur Farzan tidak marah seperti Ayahnya, tapi bisa saja nanti akan ada hari dimana dia dimarahi juga.


Apalagi di rumah dia tidak ada kerjaan sama sekali. Bukankah nanti kemungkinan dia di hina lebih besar? Jadi dari pada hal itu terjadi, sementara dia akan terus memasak dan membersihkan piring bekas makan. Nanti setelah lulus dia akan mencari pekerjaan di luar kota agar bisa pergi menjauh.


Nasha memasang senyum cerianya saat bertemu para pekerja yang sedang mengerjakan tugas masing masing. Sambil terus berjalan dia menyapa beberapa orang yang berlalu lalang.


“Halo Mba Mba semua,” sapa Nasha saat sudah memasuki area dapur. Dia memang sepandai itu menyembunyikan perasaannya.


“Halo Nona,” balas mereka sopan. Biar bagaimanapun Nasha itu istri dari majikan mereka yang artinya majikannya juga.


“Kalian udah masak ya? Masak apa?” tanya Nasha ketika melihat di atas kompor ada beberapa wajan yang baru di gunakan.


“Kami hanya membuat nasi goreng, telur mata sapi, nugget, dan juga tumis brokoli jamur untuk sayurnya,” ucap salah satu di antara mereka.


“Hm.. oke oke. Yaudah sekarang kalian lanjut yang lain aja, ini biar saja yang pindahin. Dan tidak boleh ada yang bantu,” Nasha mengangguk anggukkan kepalanya dan berucap tanpa ingin di bantah.


“Baik Nona,” ucap mereka yang tadinya ingin menolak tapi di dekat pintu ada Farzan yang menggelengkan kepala tanda jangan menolak Nasha.


“Makasih ya semuanya,” ucap Nasha ceria yang di balas anggukan mereka.


...----------------...


Nasha mengambil piring untuk menyajikan nasi goreng dan juga tumis brokoli yang masih ada di atas kompor. Walaupun Nasha melihat ada Farzan tapi Nasha pura pura tidak tahu seolah di sana tidak ada siapa siapa.


“Arfa,” panggil Farzan memulai pembicaraan, dia lebih memilih Nasha marah marah dari pada terdiam seperti ini. Bukannya apa, Farzan hanya masih terbayang mimpi buruknya ketika Nasha meninggalkannya.


“Apa?” balas Nasha santai tapi tidak sedikit pun menoleh pada Farzan dan malah bulak balik dapur meja makan untuk menaruh makanan yang sudah tersedia.


“Sayang,” panggil Farzan sangat lembut.


Nasha terdiam sebentar, dia hampir saja terbawa perasaan, tapi otaknya memerintahkan agar dia bersikap biasa saja. Dia harus membiasakan diri jika ini hanya ilusi sementara.


“Huhh.. kenapa Mas? Mas butuh sesuatu atau apa?” tanya Nasha tetap tanpa melihat ke arah Farzan.

__ADS_1


“Aku minta maaf,” ucap Farzan yang tidak ingin Nasha salah paham terus.


“Buat apa? Lagian Mas ngga ada salah kok. Akunya aja yang aneh,” ucap Nasha santai tanpa mau melihat ekspresi Farzan. Walau dalam hatinya Nasha ingin segera pergi dari dapur karena perutnya mulai sakit kembali.


“Ini Mas makanannya sudah siap. Kalau gitu aku permisi dulu mau liat ikan di belakang,” lanjut Nasha sebelum Farzan kembali berbicara, dengan dalih ke belakang tempat dimana ada sungai buatan yang berisi banyak ikan air tawar.


Tanpa menunggu jawaban Farzan Nasha berjalan sedikit cepat dengan wajah menahan rasa sakit karena semakin kesini perutnya semakin sakit.


Setelah sampai di dekat sungai Nasha duduk di dekat pohon dan menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.


“Kenapa bagian perut bawah dari kemarin sering sakit ya? Apa sudah mau datang bulan? Tunggu. Kapan terakhir kali aku datang bulan?” batin Nasha.


Nasha dengan cepat membuka matanya dan mengambil ponsel yang di simpan dalam saku gamis yang sedang di pakai olehnya. Nasha membuka aplikasi untuk mengingat kapan terakhir kali dia mencatat tanggal tamu bulanannya.


“Apa mungkin? Di sini ada ba bayi?” batin Nasha kaget saat mengingat terakhir kali dia kedatangan tamu bulanan itu saat hari pernikahannya dan itu sudah 2 bulan yang lalu.


“Apa Mas Farzan memaksa untuk periksa karena sudah menyadari hal ini? Apa sikapnya yang berubah karena dia pikir aku sedang mengandung? Haha. Pantas saja,” batin Nasha tertawa getir.


Nasha memandang banyaknya ikan yang terlihat berlalu lalang dengan tangan mengusap pelan perutnya. Setetes air mata turun membasahi wajah Nasha, tapi buru buru Nasha hapus. Bukan tidak sadar Nasha jika Farzan sedang memperhatikan dari jarak jauh.


...----------------...


Nasha hanya bisa termenung memikirkan bagaimana ke depannya. Dia tidak takut jika harus hidup sendiri, tapi dia takut anaknya tidak bahagia. Nasha takut anaknya di perlakukan sepertinya atau bahkan lebih parah.


“Jangan nangis,” bisik Farzan yang tiba tiba ada di sebelahnya dan mengusap air mata yang jatuh di wajahnya.


“Eh.. maaf. Kenapa malah di sini, lebih baik Mas Farzan sarapan dulu. Bukannya kita mau pergi ke rumah sakit? Sebentar aku siap siap sama ambil tas dulu,” ucap Nasha menepis pelan tangan Farzan dan berniat berdiri untuk mengambil tasnya.


Tapi Farzan tidak ingin Nasha terus overthinking karena dia rasa sedikit banyak dalam mimpinya merupakan pertanda. Apalagi sifat Nasha yang manja, saat kecil Nasha hanya bisa manja saat bersama dengannya saja setelahnya lebih banyak mengharuskan dia untuk berpura pura.


“Sini dulu,” Farzan menahan Nasha dengan memeluknya dan membawa Nasha ke dalam pangkuannya.


“Maaf. Aku tahu tadi ada perbuatan aku yang bikin kamu jadi mikirin banyak hal. Aku minta maaf karena kurang memahami kamu.”

__ADS_1


“Tidak semua yang kamu pikirkan itu sama seperti itu, Sayang. Nanti aku akan menjelaskan banyak hal setelah kita kembali dari rumah sakit.”


“Jika memungkinkan kita akan pergi ke suatu tempat setelah dari sana,” ucap Farzan lembut, tadi Nasha sempat memberontak dan ingin turun, tapi Farzan memeluknya erat dan menjelaskan sambil berbisik dan tangan yang terus mengelus punggungnya.


Nasha yang mendengar ucapan Farzan seketika terdiam membisu. Benteng yang ingin dia bangun juga runtuh seketika. Bahkan air mata yang tidak ingin dia perlihatkan pun malah semakin deras mendengar setiap ucapan Farzan.


“Stt.. kamu ngga salah. Tapi lain kali, aku mohon agar kamu bisa membicarakan semua hal yang mengganggu pikiranmu. Jika saat ini kamu belum percaya padaku, tidak papa. Nanti mungkin kamu akan mulai terbiasa. Jangan sama kan aku dengan perlakuan Orang tua kamu. Kita berbeda, Sayang. Jadi bisakah kamu percaya?” bisik Farzan lembut, sedikit banyak Farzan tahu apa masalah Nasha dari dulu hingga saat ini.


Ketakutan Nasha jika bukan bersamanya dulu itu adalah Ayahnya. Nasha bahkan dulu pernah bicara tentang itu. Dalam tulisannya juga, Nasha menyamaratakan semua laki laki itu menakutkan. Apalagi amarahnya. Dan Farzan memahami semua ketakutan Nasha.


“Ma maaf.. hiks.. hiks.. Ma af,” gumam Nasha yang mulai membalas pelukan Farzan bahkan lebih erat.


“Ngga papa, Sayang. Udah ya, kalau di sini ada baby nanti dia ikut sedih juga loh,” bujuk Farzan sambil mengelus perut Nasha lembut.


Nasha sedikut merenggangkan pelukannya dan memperhatikan tangan Farzan yang terus mengelus perutnya.


“Ini kayanya baby lebih seneng deket Papa ya? Ngga mau jauh jauh? Jadi Mama kesel kaya tadi, iya,” ucap Farzan entah pada siapa, belum tentu juga kan Nasha sedang mengandung.


Nasha yang mendengar itu hanya tersipu malu dengan kepala semakin menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.


“Sekarang kita pergi yuk,” Farzan mengecup kening Nasha sebentar dengan kekehan kecilnya melihat tingkah menggemaskan Nasha.


“Ambil tas dulu,” ucap Nasha pelan sambil akan bangkit berdiri menuju kamar, tapi Farzan menahan tubuhnya.


“Kita ambil bareng. Tapi sebelum itu kita makan dulu ya?” ucap Farzan sambil perlahan berdiri membawa Nasha dalam gendongannya tanpa merasa kesusahan sedikit pun.


“Kamu aja yang makan,” cicit Nasha. Kali ini dia tidak ingin makan, hanya ingin menghirup aroma tubuh Farzan dari bahunya saja.


...----------------...


happy reading..


tandai typo yah, hehe..

__ADS_1


bye bye


__ADS_2