
Setiap malam Farzan tidur di ranjang yang cukup menampung untuk dua orang, menemani Nasha yang terkadang gelisah saat tertidur sendirian.
Sudah hampir satu bulan, Nasha menginap di rumah sakit. Bukan sekali dua kali juga Nasha selalu merengek pulang agar tidak di tempat yang tidak menyenangkan ini. Tapi Farzan belum mengijinkan. Dokter juga bilang Nasha masih butuh pemulihan di rumah sakit agar bisa di pantau kondisinya.
Nasha hanya pasrah dan sabar menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Setidaknya saat bosan ada Farzan yang bisa mengalihkan suasana menjadi menyenangkan sampai Nasha melupakan rasa bosannya.
Setiap pagi juga Farzan yang lebih dulu bangun sambil memperhatikan wajah Nasha yang terlihat damai dalam tidurnya. Farzan baru akan membangunkan Nasha saat sudah memasuki waktu untuk ibadah.
Masalah kaki Nasha juga sudah di beri pengertian beberapa waktu lalu. Jadi saat akan ke kamar mandi atau duduk di sofa, Nasha akan di gendong oleh Farzan. Awalnya mungkin risih, tapi Nasha juga tidak bisa berdiri atau saat itu juga Nasha akan terjatuh karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya.
Pagi ini Farzan masih terbangun lebih dulu, tapi melihat Nasha bergerak dan mengerjapkan matanya, Farzan berpura pura tidur kembali. Sangat jarang Nasha terbangun sebelum Farzan membangunkannya.
“Ehm.. jam berapa ini?” gumam Nasha dengan suara seraknya.
“Oh masih jam 4,” gumamnya lagi.
Terdiam sesaat untuk Nasha memandangi wajah Farzan yang matanya masih terpejam itu dengan pandangan sendu.
“Andai anak kita masih ada di sini, pasti akan lebih membahagiakan lagi kan Kak? Maafkan aku yang bodoh ini. Seharusnya jangan dia yang pergi,” gumam Nasha sendu sambil memegangi area perutnya.
Farzan hanya bisa menahan emosi yang datang agar tidak membuat pergerakan yang berarti. Farzan mengalihkan semua itu dengan pura pura mengerjapkan mata sambil merenggangkan otot otot tubuhnya dengan gerakkan pelan.
“Eh kamu udah bangun?” ucap Farzan sedikit pura pura kaget melihat Nasha sudah terbangun lebih dulu.
“Ih emang biasanya aku bangun siang gitu?” sebal Nasha yang tadi tersentak mendengar suara Farzan. Ya, tadi Nasha masih melamun.
“Biasanya juga gitu,” ucap Farzan sambil terkekeh kecil.
“Sekarang kita sholat subuh dulu ya,” ucap Farzan sebelum menyingkap selimut yang membungkus tubuh keduanya dan membawa Nasha dalam gendongannya.
“Maaf ya Kak, aku nyusahin,” gumam Nasha sambil menyembunyikan kepalanya di bahu Farzan.
Farzan hanya diam sambil terus berjalan menuju wastafel dan mendudukkan Nasha di atasnya sesudah menaruh handuk bersih agar Nasha tidak kedinginan.
“Hey dengar, kamu tidak menyusahkan siapa pun. Aku bahagia bisa ada di samping kamu saat keadaanmu seperti ini, setidaknya kamu bersamaku dan aku bisa merawatmu tanpa ada penghalang. Mungkin jika kita belum menikah, aku tidak bisa langsung menyentuhmu. Tapi sekarang bahkan kita bisa berduaan dimana pun,” ucap Farzan menenangkan diakhiri godaan agar Nasha tidak lagi berpikir seperti itu.
“Ish Kak Arza selalu aja gitu. Malu tahu,” kesal Nasha sambil menundukkan kepala malu.
“Haha. Sudah ya, jangan lagi bicara seperti itu. Aku sakit jika kamu selalu berpikir begitu, bukan fisik tapi hatiku yang sakit. Bahkan secara tidak langsung aku yang menyebabkan dirimu celaka,” sekarang giliran Farzan yang menatap sendu Nasha, karena memang dia merasa secara tidak langsung dia yang menyebabkan keadaan Nasha sekarang seperti ini.
“Engga. Kamu ngga salah,” sergah Nasha langsung dengan memeluk leher Farzan.
“Maaf, aku ngga akan lagi kaya gitu,” lirih Nasha di samping telinga Farzan.
Farzan balas memeluk Nasha dan menganggukkan kepalanya seraya menggumamkan kata maaf juga.
“Sudah kita jangan mengingat hal itu lagi. Kita harus membuat hari ini dan juga esok nanti jadi lebih baik dan juga membahagiakan,” ucap Farzan menyudahi acara sendu ini.
__ADS_1
Sudah sering Nasha seperti ini dan Farzan dengan sabar selalu memberi pengertian agar Nasha tidak berpikiran seperti itu.
Farzan membantu Nasha membersihkan wajah dan juga sekalian mempersiapkan bak mandi agar langsung membersihkan diri bersama.
Selesai dengan kegiatan mandinya, mereka mulai ibadah bersama baru bersantai kembali sambil menunggu sarapan datang.
...----------------...
Makanan untuk Nasha baru saja datang dan disimpan pada meja dekat sofa. Tadi Nasha bilang ingin makan di sofa sambil menonton TV. Makanan Farzan datang menyusul karena permintaan Nasha yang mengharuskan mereka sarapan bersama, biasanya Farzan makan setelah Nasha selesai dan juga kembali tertidur karena efek obat.
Dering Ponsel..
Suara ponsel mengalihkan tatapan mereka berdua pada benda pipih yang tersimpan di atas nakas.
“Kak, angkat dulu teleponnya,” ucap Nasha saat Farzan tak kunjung mengambil ponselnya.
“Nanti saja. Lebih baik kita makan dulu,” ucap Farzan memilih mengabaikan, menurutnya lebih penting Nasha dari pada panggilan itu.
Sayangnya ponsel Farzan tidak berhenti berdering, karena saat mati beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.
“Ih tuh kan, kayanya itu penting Kak. Angkat dulu ya sebentar,” bujuk Nasha karena bunyi dering ponsel cukup mengganggu.
“Hah. Baiklah, tunggu sebentar ya,” mau tidak mau Farzan mengalah dan berjalan mengangkat panggilan yang sangat mengganggu itu.
“Awas saja jika tidak penting,” geruru Farzan dalam hati.
“Maaf Tuan, apa Anda bisa ke perusahaan hari ini? Tiba tiba saja ada asap yang keluar dari belakang gedung, diduga ada seseorang yang sengaja mengacau untuk mendapatkan sesuatu yang penting dari perusahaan,” jelas Brady sedikit panik. Di gedung belakang perusahaan ada yang dengan sengaja membakar 2 mobil perusahaan yang biasa di pakai saat darurat atau untuk karyawan lain pergi meeting di luar perusahaan.
“Apa? Bagaimana bisa? Bukankah banyak penjaga di sana! Kenapa kalian bisa kecolongan!” marah Farzan dengan bentakannya.
Nasha yang sedang memperhatikan Farzan tersentak kaget hingga tubuhnya mulai gemetaran. Sebisa mungkin Nasha menghilangkan bayangan bayangan buruk dengan menggelengkan kepalanya berkali kali.
Farzan masih terus berbicara dengan orang di seberang sana, tapi sedikit demi sedikit Farzan menurunkan nada bicaranya dan kembali dengan suara normalnya walau masih datar.
Keputusan Farzan akhirnya dengan berat hati meninggalkan Nasha sendiri di rumah sakit karena memang masalah ini mengakibatkan rapat internal dadakan yang bertujuan memperbaiki sistem keamanan dengan yang lebih canggih lagi.
Mungkin Farzan akan mengganti semua sistem dengan keamanan yang setara dengan perusahaannya sendiri yaitu, ARC’Coporation. Sewaktu menggantikan Daddy nya di LK’ Corp, Farzan pikir keamanan di sini cukup bagus, tapi memang perlu di perbaiki jadi lebih baik lagi. Dengan kejadian ini Farzan jadi bisa langsung merombak sistem keamanan menggunakan teknologi miliknya.
Selesai dengan panggilannya Farzan menghela nafas sebentar baru berbalik untuk meminta ijin pada Nasha. Tapi saat berbalik Farzan mengernyitkan dahi melihat badan Nasha yang terlihat gemetar.
“Astaghfirullah, apa tadi aku kelepasan menaikkan nada bicara? Nasha pasti sedang ketakutan sekarang. Entah kenapa semenjak hamil kemarin emosi Nasha jadi lebih sensitif dan juga tidak terkontrol. Sepertinya aku harus mempercepat rencana untuk konsultasi pada ahlinya,” batin Farzan.
Menggelengkan kepala sebentar untuk mengembalikan kesadarannya, Farzan mulai berjalan menuju sofa agar bisa duduk di sebelah Nasha.
Tanpa kata Farzan membawa Nasha ke dalam pelukannya berharap ketakutan Nasha hilang dan bisa memberi ketenangan.
“Maaf Sayang, aku tidak sadar tadi,” gumam Farzan dengan terus mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Nasha sedikit demi sedikit mulai tenang, badan yang tadinya tegang sudah mulai rileks kembali. Barulah Nasha balik memeluk Farzan yang menjadi tempat ternyamannya dan juga obat penenangnya.
“Maaf. Aku ngga tahu kenapa aku jadi sering ketakutan sekarang saat mendengar bentakan atau melihat orang marah di hadapanku. Kemarin kemarin aku seperti itu karena sedang me..,” Nasha tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mengingat kejadian itu. Secara tidak sadar Nasha sudah menangis sesenggukan.
“Stt.. udah jangan ingat kejadian itu lagi. Mungkin memang karena itu tanpa sadar bayangan dulu semakin terlihat dan terus berdatangan, jadi kamu sulit untuk mengendalikan diri,” ucap Farzan menenangkan.
Nasha hanya mengangguk dan masih menangis. Farzan juga membiarkan Nasha menangis sepuasnya agar dirinya lega.
...----------------...
Beberapa menit kemudian, tangis Nasha mulai mereda. Farzan menengadahkan kepala Nasha perlahan agar bisa menghapus jejak air mata yang tersisa di pipi.
“Maaf ya, tadi aku tidak sengaja. Di perusahaan sedang ada kekacauan. Mobil yang biasa digunakan saat darurat atau oleh karyawan lain yang rapat di luar perusahaan, di bakar oleh orang tidak di kenal. Jadi aku tanpa sadar membentak Brady yang sedang memberitahu. Sepertinya aku akan merombak sistem keamanan di sana,” ucap Farzan menjelaskan pada Nasha.
Nasha berdehem sebentar sebelum membalas ucapan Farzan, karena suaranya hilang sejenak tadi.
“Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Perusahaan sedang membutuhkanmu. Aku masih ada penjaga di sini, mungkin nanti ada Momy atau Aletta atau juga yang lainnya datang untuk menemaniku,” ucap Nasha lembut seolah tahu maksud ucapan Farzan.
“Huh.. kenapa kamu langsung menyuruhku pergi? Harusnya kamu menahanku di sini,” gerutu Farzan sedikit kesal. Seandainya Nasha meminta Farzan tidak pergi, maka Farzan tidak akan pergi. Masalah ini bisa di selesaikan dengan rapat virtual.
“Aku tahu apa yang ada di pikiran Kakak,” ucap Nasha sambil tertawa kecil.
“Kamu memang selalu cepat mengerti,” puji Farzan walau dengan nada malas.
Nasha hanya tertawa saja melihat ekspresi Farzan yang seperti itu. Menurut Nasha saat Farzan merajuk ekspresinya jadi lucu, persis seperti anak kecil yang tidak di beri jajan oleh ibunya.
“Sekarang Kak Arza lebih baik ganti baju lalu segera pergi ke sana. Agar bisa lebih cepat kembali ke sini juga kan,” ucap Nasha sambil mengelus kedua pipi Farzan.
“Baiklah. Hanya kamu yang bisa membuatku menurut. Bahkan dengan Momy dan Daddy aku masih sering menolak,” ucap Farzan jujur.
“Kenapa gitu?” heran Nasha.
“Ya gitu. Dulu kan aku tidak tinggal di rumah, jadi Momy sering marah marah agar aku menginap dan sebagainya. Daddy juga sudah sejak lama memintaku untuk mengambil alih perusahaan, tapi baru aku terima beberapa bulan yang lalu. Tapi beda halnya denganmu, bahkan untuk menolak keinginanmu aku begitu sulit, apalagi saat melihat wajah melasmu yang menggemaskan itu,” ucap Farzan diakhiri ejekan.
“Ih kan sempet sempetnya ngejek aku,” kesal Nasha mengalihkan pandangannya.
“Udah sana cepet siap siap,” suruh Nasha dengan mendorong badan Farzan yang pasti tidak berefek apa apa.
“Kita makan dulu baru aku siap siap. Biar nanti aku bisa pindahin kamu lagi ke ranjang,” putus Farzan tidak ingin di bantah. Nasha hanya mengangguk saja, yang penting Farzan tetap melakukan tanggung jawabnya di perusahaan.
Zeroun sebenarnya tahu masalah ini, tapi secara tidak langsung dia ingin melihat cara kerja Farzan dalam mengatasi masalah ini.
...----------------...
happy reading..
tandai typo yah, hehe..
__ADS_1
bye bye