Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Sahabat


__ADS_3

Ceklek..


“Kak Arza,” lirih Nasha tanpa suara dengan tatapan meminta untuk Farzan mendekat.


“Hai, gimana ngobrolnya?” bisik Farzan ketika mendekat dan memeluk Nasha yang dibalas erat oleh Nasha dengan kepala yang menggeleng.


“Honey kamu ngga kelelahan kan,” tanya Reno yang mendekati Billa lalu mengecup puncak kepalanya.


“Ya engga lah. Orang aku cuma ngobrol sama Nasha,” sewot Billa dengan tatapan aneh pada suaminya itu.


“Ya kan siapa tahu. Oh atau kamu kangen ya sama aku?” goda Reno menaik turunkan alisnya.


“Heleh.. setiap saat ketemu juga,” delik Billa malas.


Nasha melirik percakapan kedua orang di depannya dan sedikit tertawa kecil mendengarkan perdebatan mereka.


Tentu saja ketiga orang yang ada di ruangan itu terkejut, tapi langsung bersikap biasa agar Nasha juga bisa nyaman dengan suasana ruangan itu. Setidaknya sudah ada sedikit kemajuan dengan respons Nasha yang tertawa walau kecil.


“Kita makan bareng siang ini gimana?” tanya Billa setelah tadi suasana hening sejenak.


“Lunch dimana nih,” sahut Reno semangat, mereka berdua jarang sekali bisa makan siang bersama, kecuali jika libur atau tidak ada seminar keluar.


“Semangat banget Lo,” ejek Farzan yang tahu kesibukan kedua orang di depannya.


“Ya gimana, kita kan jarang ketemu karena profesi ini, jadi ya harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik,” ucap Reno santai dengan tangan berganti merangkul pinggang istrinya.


“Tunggu 3 bulan lagi ya? Habis itu aku bakal di rumah aja,” ucap Billa yang menganggap tadi itu kode dari suaminya agar dia berhenti bekerja.

__ADS_1


“Bukan gitu Honey, aku ngga akan pernah larang kamu buat terus membantu banyak orang. Kalau kamu memang mau di rumah silahkan, tapi itu harus sesuai dengan keinginan kamu sendiri bukan karena aku atau siapa pun,” jelas Reno sambil menatap Billa penuh cinta.


Perjalanan mereka berdua sampai pada titik sekarang juga tidaklah mudah, apalagi ibu tiri dari Billa yang selalu saja mengungkit masalah momongan di usia pernikahan mereka yang sudah hampi 4 tahun ini. Ibu tiri Billa selalu bilang agar Billa menyerahkan Reno pada anak dari temannya yang lebih baik dari Billa. Meminta Billa untuk tidak lagi bekerja dan lain sebagainya.


Bukan hanya saat ini saja, dari dulu Ibu tirinya selalu menuntut banyak hal dan juga memerintah pada Billa agar mau mengurus rumah besar tempat tinggal mereka. Perlakuan tidak adil yang Ibu tirinya lakukan juga banyak menolehkan luka, adik laki laki satu satunya yang merupakan anak pertama Ibu, membuat semua kasih sayang sang Ibu turun pada adiknya saja.


“Tapi untuk sekarang, kamu benar benar harus membatasi pergerakanmu, kasihan nanti dia jadi ikut capek,” lanjut Reno sambil mengusap perut Billa.


“Iya. Maaf dan makasih kamu selalu bisa membuatku tenang,” lirih Billa sambil memeluk Reno sambil meneteskan air mata haru.


Nasha memperhatikan keduanya dan ikut terharu. Walau pun tadi dia tidak terlalu nyaman saat bicara berdua, karena dia takut Billa hanya kasihan saja padanya. Tapi melihat Billa sekarang, Nasha pikir mereka bisa berteman.


“Billa itu sedang mengandung, baru 4 minggu. Setelah pernikahan mereka yang hampir memasuki 4 tahun mereka baru dikaruniai buah hati. Profesi Reno yang jadi dokter idola karena kecerdasannya dan juga dedikasi dalam dunia kesehatan, membuatnya selalu diminta menjadi pembicara atau bahkan pengajar di beberapa rumah sakit besar, dan karena sekarang istrinya sedang mengandung Reno hanya akan bekerja denganku di rumah,” bisik Farzan menjelaskan pada Nasha yang masih bersandar nyaman di dadanya.


Nasha melirik Farzan dengan tatapan polos dan rasa ingin tahu yang besar, hingga Farzan menceritakan sedikit tentang dua orang yang masih berpelukan di hadapannya itu agar Nasha tidak penasaran dan berakhir Nasha memeluknya erat dengan tetesan air mata yang keluar.


Sedikit banyak cerita Billa mirip dengannya. Bedanya perlakuan itu datang dari Ibu tirinya. Tapi beruntungnya Billa mempunyai Reno yang sedari dulu tidak pernah meninggalkannya dan juga Ayah yang masih mendukung dan menjadi tameng saat perlakuan Ibu tirinya terlihat dengan matanya sendiri.


...----------------...


“Lo kapan masuknya?” tanya Reno aneh melihat Brady sudah ada di depannya.


“Makannya kalau punya telinga itu di pake. Dari tadi ngetok sampe jamuran kaga ada yang suruh masuk. Karena Gue mandiri jadi ya langsung masuk aja. Eh, tahunya yang di dalem lagi pada peluk pelukan,” gerutu Brady kesal. Harusnya aku ajak Tery aja tadi, batinnya kesal.


“Lah apa masalahnya. Istri istri Gue, mau peluk kek, mau cium kek, mau lakuin hal lain kek, suka suka kita lah, kalau di gerebek tinggal kasih surat nikah aman deh,” santai Reno sambil mengajak Billa duduk di sofa.


“Iya iya, apalah daya Gue yang masih sendiri ini,” pasrah Brady sambil duduk di single sofa.

__ADS_1


“Kan ada Bu Tery,” celetuk Nasha yang membuat semua orang terdiam kaget, akhirnya Nasha mau berbicara setelah beberapa jam menutup rapat mulutnya.


“Ah iya bener, Lo mending cepet cepet lamar aja. Ntar di tinggal nikah stres lagi,” ucap Farzan menimpali sambil mengkode yang lain agar berekspresi seperti biasa dan tidak membuat Nasha canggung.


“Lah kok Lo ngga cerita sama kita kita sih? Terus itu si Farzan tahu dari mana?” ucap Reno yang mengerti tatapan Farzan sambil menggeplak paha Brady.


“Kagak usah geplak juga kali, sakit ini. Gue juga baru deket biasa kok belum ke arah yang serius. Kayanya dia tuh menutup diri dari Gue,” sewot Brady pada Reno yang diakhiri curhatannya.


Mereka ini mempunyai grup chat yang berisi 6 orang, ada Zargio, Deon, Sean, Reno, Brady, Farzan. Mereka memang mempunyai sifat yang sama ketika di luar, yaitu dingin dan datar. Beda halnya ketika sedang berkumpul seperti ini mereka akan bersikap santai juga lebih ekspresif.


Sean adalah penanggung jawab perusahaan transportasi yang Farzan punya. Kawasan bandara, pelabuhan, terminal sampai kereta api bawah tanah.


Pertemuan mereka berenam saat sama sama sedang menuntut ilmu, saat sekolah menengah atas. Berlanjut dengan sekolah di universitas yang sama. Zargio, Deon dan Sean mendapatkan beasiswa di sekolah menengah, tadinya mereka akan langsung bekerja tapi Farzan minta mereka untuk melanjutkan pendidikan agar bisa membantu rencananya, yaitu membangun bisnis miliknya.


Ketiga orang itu besar di panti asuhan yang berbeda beda karena berbeda faktor, jika Deon kedua orang tuanya meninggal oleh musuh yang iri akan keberhasilan orang tuanya mendirikan banyak pusat pelatihan bela diri.


Zargio sengaja di tinggalkan karena menurut orang tuanya dia hanya akan menyusahkan, tapi saat berhasil banyak yang mengaku sebagai orang tuanya dan meminta maaf, tapi tidak pernah dihiraukan, baginya orang tuanya sudah mati.


Sean ditemukan saat ada insiden pesawat jatuh dan dia salah satu dari 4 orang selamat lainnya. Tim tidak menemukan identitasnya atau kedua orang tuanya karena banyaknya data berhamburan dan tidak lagi bisa dibaca sebagai sistem informasi, jadilah dia menganggap kedua orang tuanya juga sudah meninggal.


Berbeda dengan ketiganya, Brady dan Reno merupakan anak tunggal di keluarganya. Mereka juga sebenarnya di tuntut untuk memimpin perusahaan keluarga, hanya saja menurut mereka perusahaan keluarga banyak pesaing antar keluarga itu sendiri. Jadi Brady memilih mengikuti Farzan saja.


Reno juga tidak ingin mengurus perusahaan karena banyak anak pamannya yang lain yang masih bisa menggantikannya, dia lebih suka menjadi dokter. Walau di rumah sakit tugasnya bukan hanya dokter saja tapi mengurus beberapa berkas jika memang tidak bisa diatasi asistennya.


...----------------...


happy reading..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2