Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Sarapan


__ADS_3

Ternyata yang datang adalah Farzan. Entah apa alasannya pagi pagi sudah datang ke rumah ini. Tapi memang ini rumah orang tuanya sih jadi wajarlah kalau dia kemari, kamu ini gimana sih Cha, batin Nasha.


“Assalamualaikum,” ucap Farzan sesudah dia berada di depan Pintu yang sudah dibuka oleh Nasha.


“Wa ‘alaikumsalam,” jawab Nasha dari samping pintu.


“Kamu sudah bangun?” pertanyaan macam apa itu, rutuk Farzan dalam hati.


“Sudah Pa.. Farzan,” jawab Nasha yang mendapat pelototan karena akan memanggilnya Pak.


“Loh Arza, tumben pagi pagi udah di sini,” ucap Zetta yang baru saja turun dari lantai 2 bersama dengan Zeroun.


“Jadi aku gaboleh ke sini nih Mom?” tanya Farzan kesal.


“Bukannya gaboleh, tapi ya aneh aja gitu. Biasanya kamu ke sini kalau lebaran, atau tunggu di paksa baru mau ke sini,” ejek Zetta karena memang Farzan sangat jarang datang ke rumah ini.


“Arza mau numpang sarapan di sini. Di rumah gaada stok makanan, sekalian nanti mau ajak Arfa buat belanja,” ucap Farzan yang langsung menuju meja makan tanpa melihat Orang tuanya sedang memperhatikannya dengan heran.


“ART di rumah masih ada kan? Tumben banget kamu yang belanja, biasanya udah ada yang ngurus masalah itu,” heran Zetta sambil mengikutinya menuju meja makan.


“Ya kan mereka kemarin libur, terus kebetulan isi kulkas pada abis, sekalian aja aku ajak Arfa kan biar dia nanti terbiasa mengurus hal hal kaya gini,” kilah Farzan.


“Halah.. bilang aja mau kencan Kak, apa susahnya sih. Pake alesan belanja bulanan segala,” ucap Aletta yang tiba tiba saja menyahut. Entah dari kapan dia sudah ada di sana dan tidak di sadari oleh mereka.


“Anak kecil tau apa sih hah? Kapan juga datengnya, tau tau nyaut,” kesal Farzan.


“Udah ih.. kalian berantem mulu, aneh Mom tuh. Mending sekarang kita sarapan ajalah. Udah lewat jamnya nih,” lerai Zetta yang mulai lelah mendengar anak anaknya adu mulut.


Mereka mulai duduk di tempatnya masing masing, dengan Zeroun di kursi utama, Zetta di sisi sebelah kanan, Aletta di sebelah Zetta, dan Farzan di sisi sebelah kiri. Nasha masih belum duduk, dia belum tau harus duduk dimana, dan lagi sebelum itu Ruri yang sudah mengenalnya, memanggil untuk membawa piring tambahan dan juga air mineral serta susu, jus dan kopi yang tersimpan dalam teko berbeda jenis.


“Loh Arfa mau kemana Nak?” tanya Mom heran karena melihat Nasha yang berjalan ke arah dapur. Mereka memang tidak menyadari jika Nasha dipanggil oleh Ruri. Ruri hanya menggerakkan tangannya yang kebetulan dilihat Nasha.


“Mau ke belakang dulu sebentar Mom,” jawabnya sambil berlalu. Tak lama dia datang dengan nampan berisi satu alat makan dan 4 teko berbeda isi serta gula dalam wadah kecil.


“Eh kok kamu yang bawa sih? Harusnya ini tugas Bu Tun, Ruri atau Siti. Bu Tun.. Ruri.. Siti..,” jelas Zetta dan memanggil nama ketiga orang tadi. Mereka bingung kenapa Nyonya masih memanggil padahal sudah ada Nasha, karena takut terjadi kesalahan mereka datang dengan cepat ke ruang makan menghampiri Nyonyanya.


“Ada apa Nyonya?” tanya Bu Tun.


“Ini kenapa mantu saya yang kerjain? Kemana kalian hah?” tanya Zetta dengan nada tegas.


“Ap..pa? Menantu?” ucap spontan Ruri walau suaranya tergagap.


“Iya. Dia ini Calon Menantu saya. Namanya Arfa,” jelasnya masih dengan raut muka marah.

__ADS_1


“Maaf Nyonya, maaf. Saya tidak mengetahui jika dia adalah Nona Muda Arfa. Saya mohon maaf Nona Muda,” ucap Ruri langsung sambil berlutut dan nada suaranya mulai bergetar ketakutan. Dia sangat takut dipecat, karena ini kesalahan yang sangat fatal.


“Eh.. bangun Em.. Ruri. Udah gapapa. Lagian kamu juga gatau kan. Mom, gapapa ini bukan salahnya kok,” jelas Nasha sambil membantu Ruri bangun.


“Sekali lagi maaf Nona Muda, saya sudah lancang,” ucap takut Ruri.


“Udah ya? Gapapa kok. Aku juga yang salah karena tadi tidak memberitahu, Maaf ya Ruri,” ucap Nasha yang merasa bersalah karena Ruri jadi kena marah.


“Huh.. kali ini saya maafkan, tapi jangan ulangi lagi kesalahan yang sama. Dan setelah makan nanti saya minta kalian semua berkumpul di halaman belakang,” ucap Zetta sambil menahan rasa kesal.


“Tunggu. Apa saja yang dilakukan Arfa tadi?” tanya Farzan tiba tiba sebelum mereka kembali.


“Mengepel lantai dan memasak, Tuan,” jawab Ruri gemetaran.


“Sutt.. udah kalian sarapan aja dulu ya, makasih sebelumnya,” ucap Nasha pada mereka sambil menaruh jarinya di depan mulut Farzan agar tidak mengeluarkan suaranya. Mereka melirik ke arah yang lainnya dan yang dilirik hanya menganggukkan kepala saja, jadi mereka berbalik meninggalkan ruangan tersebut.


“Hehe.. makan yuk,” ucap Nasha sambil tersenyum canggung, lalu mulai mengisi gelas yang kosong dengan air putih.


“Dad mau minum apa? Kopi, susu atau jus?” tanya Nasha pada Zeroun.


“Jus saja,” ucap Zeroun.


“Kalau Mom?” beralih pada Zetta.


“Sama dengan Dad,” jawab Zetta.


“Aku susu aja Kak,” jawab Aletta.


“Kamu mau apa?” terakhir dia bertanya pada Farzan.


“Kopi,” ketus Farzan. Dia masih kesal karena Nasha dibiarkan melakukan pekerjaan rumah.


“Pake gula jangan?” tanya Nasha lagi, walau dia tau Farzan sedang marah padanya.


“Dikit,” jawabnya singkat. Tidak mau ambil pusing, Nasha menyiapkan apa yang diinginkan Farzan dan setelahnya giliran dia menyiapkan makanannya. Tapi sebelum itu, Zetta lebih dulu menahannya.


“Arfa udah nak, biar kita aja yang ambil sendiri yah,” pinta Zetta.


“Gapapa Mom, sekalian, hehe,” ucap Nasha. Mereka menyerah dan memberi tau apa saja yang mereka mau.


Beres dengan semuanya, Nasha berniat ke belakang saja untuk bergabung dengan yang lainnya. Sebenarnya dia cukup canggung berada disana, dia pikir lebih baik ke belakang daripada di tempat itu.


Tapi sayangnya, seolah tau apa yang Nasha pikirkan, baru berbalik tangannya sudah di tahan oleh Farzan. Membuat langkahnya tertahan.

__ADS_1


“Mau kemana?” tanya Farzan datar.


“Mau ambil piring lah apalagi, tadi aku cuma ambil satu kan,” jawabnya, walau itu hanya alasan saja. Dia sudah memikirkan kemungkinan ini, dan itu adalah alasan yang tepat karena memang dia tadi hanya mengambil satu alat makan tambahan saja.


“Jangan kira saya gatau kalau kamu bakal ke belakang, bergabung dengan mereka. Duduk di sini, saya yang ambilkan,” ucap Farzan menarik Nasha duduk di sebelahnya dan langsung melangkah ke dapur mengambil alat makan sebelum Nasha beralasan lagi.


“Kak Sha kenapa gamau makan disini?” tanya Aletta sedih tepatnya pura pura sedih, dia tau mungkin Nasha merasa canggung walau terlihat biasa saja, jadi dia pakai cara itu agar Nasha tidak canggung lagi.


“Eh.. bukan gitu. Aku beneran cuma mau ambil alat makan aja kok,” jawab Nasha yang mulai merasa bersalah, melupakan kecanggungannya.


“Bohong. Kakak emang gapingin kan diem disini?” desak Aletta.


“Bukan gitu Letta. Aku sebenernya sedikit canggung aja, 'aku pikir disana tempat yang pas buatku, tidak disini bersama kalian (tentu aja ini di ucapin dalem hati)’ tapi tadi aku emang cuma mau ambil piring kok bener deh,” jelas Nasha walau tak sepenuhnya di ucapkan.


“Udah Letta jangan buat Kakakmu pusing. Untuk Arfa, gausah canggung lagi ya sayang? Kita kan keluarga. Maaf juga ya tadi Mom kesel karena mereka suruh suruh kamu,” lerai Zetta karena tidak tega melihat Nasha merasa bersalah padahal dia juga tidak salah.


“Aku juga minta maaf Mom, Dad, Letta karena udah buat keributan tadi,” sesal Nasha semakin menjadi.


“Engga kok. Gausah merasa bersalah lagi ya Nak,” ucap Zeroun menenangkan.


“Iya Kak, gapapa kok, maaf ya aku udah buat Kakak sedih,” ucap Aletta yang mulai merasa bersalah juga.


“Gapapa sayang, udah ya jangan sedih lagi,” gantian kini Zetta yang menenangkan. Nasha hanya mengangguk sebagai balasannya. Selesai dengan percakapan itu mereka mulai makan. Farzan sudah datang dari tadi dan hanya diam saja mendengarkan sambil mengisi piring Nasha dengan berbagai lauk tepatnya semua lauk yang ada Farzan masukan dalam piring tersebut, membuat isi piring Nasha menggunung. Persis seperti porsi makanan jika beli di warung nasi.


“Sekarang kita makan yuk,” ajak Zetta pada semuanya. Mereka berdoa dan akan memulai sarapannya. Tapi lagi lagi Nasha diam dan terheran heran dengan isi piringnya sekarang.


“Kenapa diam saja?” tanya Farzan tanpa menoleh, sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Ini kenapa semua di masukin ke piring aku?” tanyanya bingung.


“Habisin. Liat aja, kalau sampai gahabis, kamu saya hukum,” jawabnya tanpa menoleh.


“Cepat makan atau..” belum selesai ucapannya Nasha sudah lebih dulu mengambil sendok dan mulai makan dengan harapan semuanya bisa masuk ke dalam perutnya. Karena jujur, meskipun dia suka makan tapi itu di siang hari jadi perutnya bisa di ajak kompromi. Kalau pagi dia jarang sekali makan, jadi takutnya malah membuat perutnya sakit jika diisi terlalu banyak. Tapi dia terlalu takut dengan ancamannya jadi dia paksakan saja, semoga tidak akan kenapa napa.


Yang lain hanya memandang dengan tersenyum saat Nasha langsung makan karena takut akan ancaman Farzan, setelahnya mereka melanjutkan sarapannya tanpa ada yang berbicara lagi, hanya ada suara tabrakan antara sendok dan piring yang terdengar.


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc..


happy reading..


__ADS_2