Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu

Antara Aku, Kamu, Dan Masa Lalu
Baby boy again


__ADS_3

"Alhamdulillah babynya cowo," ucap Reno dengan haru sesaat setelah dia beres mengadzani anaknya.


"Alhamdulillah," ucap serentak mereka yang mendengarnya.


"Yey cucu/keponakan baru," seru Arni dan juga Nasha antusias.


Jika Nasha tidak berada dalam kungkungan Farzan, mungkin sekarang dia akan jingkrak jingkrak.


"Terus mantu Mama gimana keadaannya?" ucap Arni memikirkan menantu kesayangannya.


"Alhamdulillah dia baik, cuma sekarang lagi istirahat karena kecapean," ucap Reno dengan senyuman mengembang.


Tadi memang setelah anaknya lahir, istrinya itu memejamkan matanya. Reno sempat khawatir namun saat dia memeriksa keadaan istrinya, Billa memang hanya kelelahan setelah melahirkan, tidak ada masalah serius lainnya.


"Alhamdulillah. Nanti langsung masuk kamar yang paling bagus, anaknya juga taruh kamar, takut ketuker nanti," parno Arni akibat sering menonton serial drama.


"Ma please, ini dunia nyata, walau ada kemungkinan tapi ini juga rumah sakit yang aku pegang, semua bisa terpantau lewat cctv. Aku juga dapat mengenali putraku sendiri walau dia baru saja lahir," jelas Reno dengan nada malas pada Ibunya ini.


Terkadang memang pemikiran wanita bisa serandom dan separno itu. Jadilah para lelaki sering bingung dengan apa yang sedang mereka maksud dan pikirkan jika tidak ditanya.


"Ehehe, ya maaf," cengenger Arni memeluk suaminya yang terlihat pasrah dengan tingkah absurd istrinya ini.


"Sudah tua tapi masih bertingkah kaya bocah," batin Frans gemas.


"Yasudah, lebih baik kita kembali ke kamar masing masing, besok bisa jenguk Billa dan babynya. Mama sama Papa bisa tempati kamar tamu di ruang rawat lantai atas nanti, jadi bisa satu kamar kalian," ucap Farzan mengingat hari juga sudah larut, apalagi menunggu proses lahiran yang lumayan lama.


"Iya benar apa kata Arza, kalian kembali saja. Kami akan ke atas bersama nanti," ucap Frans mewakili istri dan anaknya.


"Oke. Kalau begitu kita pamit ya Pa," ucap mereka serempak dan mulai berjalan menuju lift bersama dan nanti berpisah di sana.


Sedikit kekhawatiran Farzan rasakan mengingat istrinya pun sebentar lagi akan mengalami hal yang sama. Namun Farzan hanya bisa berdoa dan mengusahakan yang terbaik agar nanti prosesnya berjalan dengan lancar.


Nasha masih di gendong oleh Farzan karena memang jarak dari satu gedung ke gedung lain lumayan memakan waktu, dan lagi mereka nanti harus berjalan menuju gedung utama.


"Kak Arza, emang aku ngga berat ya?" tanya Nasha dengan suara pelan.


"Engga," jawab Farzan singkat namun tetap lembut.

__ADS_1


"Ngga papa Sha di gendong aja. Lagian Arza sering gym pasti lebih dari kuat untuk sekedar gendong kamu," ucap Brady menyahut.


"Iya, lagian yang lain juga bakal di gendong gitu terus kok. Apalagi Eve lagi mengandung," ucap Sean menimpali.


"Sama sih, Ana juga lagi mengandung," sahut Zargio.


"Eh?! Kenapa kalian tahu?" tanya Nasha dengan melototkan matanya kaget.


"Hahaha, biasa aja kali Sha. Dari rumah sempet liat testpack di kamar mandi, tapi pura pura ngga tahu aja. Nunggu dia kasih tahu sendiri," jawab Sean.


"Hm sama, Ana juga kayanya lupa simpen atau gimana, tapi masih sempet liat tadi. Lagian di rumah juga dia sedikit aneh karena sering mual dan lemas," jawab Zargio mengingat ngingat Ana yang beberapa hari ini lebih sering terdiam di atas kasur, padahal biasanya Ana aktif ke sana kemari mengurus apa saja yang menurutnya penting.


"Yahh ngga jadi suprisnya," lesu Nasha karena rencananya ternyata tidak bisa di jalankan.


"Bisa kok. Kita kan belum tahu pasti," ucap Sean menenangkan dengan sedikit was was melihat mata tajam Farzan.


"Ngga asik tapi kalau udah tahu mah," ucap Nasha maish menimbang nimbang.


"Ngga papa Sha, kita kan memang belum tahu. Nanti tetep jadi surprise kok buat kita," giliran Zargio yang meyakinkan Nasha agar bisa menjalankan rencana para wanita.


"Em.. Oke deh nanti aku pikir pikir dulu. Tapi ngga boleh bilang dulu ya kalau kalian tahu!" ancam Nasha dengan menyipitkan matanya agar terlihat seram, padahal tidak sama sekali.


Mereka sudah sampai di lantai atas dan berjalan menuju kamar masing masing.


Sekarang tinggal Farzan yang masih harus menuju ruangannya di gedung utama.


Walau tangannya sedikit kebas karena sedari tadi tida berpindah posisi, namun Farzan menahannya sekuat tenaga sampai mereka bisa sampai kamar nanti. Dia tidak tega melihat Nasha harus sering berjalan dengan perutnya yang sudah membuncit ini.


"Kak Arza, nanti jadi bikin 7 bulanan ngga?" tanya Nasha tiba tiba karena baru teringat hal itu.


"Kamu maunya gimana?" tanya Farzan balik.


Farzan mengutamakan keinginan dan juga kenyamanan Nasha. Jika memang Nasha mau, dia akan buatkan begitu juga sebaliknya, jika Nasha tidak mau dia memiliki opsi untuk membagikan bingkisan untuk anak panti dan juga beberapa kaum duafa di luaran sana agar tetap banyak yang mendoakan Nasha.


Menurut Farzan inti dari acara seperti itu adalah meminta doa agar persalinannya nanti lancar kan.


"Nanti aku tanya Momy dan Daddy dulu boleh?" tanya Nasha meminta ijin.

__ADS_1


"Boleh Sayang," ucap Farzan yang mulai merebahkan tubuh Nasha di atas kasur karena mereka sudah ada di dalam kamar.


"Makasii Kak Arza," seru Nasha berterimakasih dengan nada senangnya.


"Anything for you," ucap Farzan tersenyum lembut dan mengecup kening Nasha.


"Sekarang tidur lagi ya? Besok kan mau liat baby baru sama mau cek yang di dalem sini," ucap Farzan sambil mengelus permukaan perut Nasha.


"Puk puk tapi ya?" pinta Nasha.


"Iya Sayang," ucap Farzan mengiyakan dengan tersenyum lembut.


Mereka berdua mulai merebahkan diri di ranjang dengan saling memeluk dan tangan Farzan yang bergerak aktif menepuk nepuk punggung Nasha pelan agar cepat terlelap.


Dan benar saja tidak sampai 10 menit, mata Nasha sudah kembali terpejam dengan nafas teratur yang menandakan dia sudah kembali tertidur.


Setelah memastikan Nasha tertidur, Farzan mulai memejamkan matanya juga untuk mengikuti Nasha yang sudah lebih dulu terlelap.


Besok dia masih harus memeriksa Nasha yang tadi merasakan sakit di perutnya, belum lagi mereka juga akan menengok keponakan baru.


Ingatkan Farzan untuk menghubungi orang tuanya sebelum nanti mereka mendapat kabar dari orang lain atau bahkan dari Arni dan Frans.


Bisa bisa Farzan terkena amukkan sang Momy nanti. Tapi sepertinya memang akan jadi kenyataan jika nanti Momynya mengamuk.


Biarlah, semoga saja besok dia tahan dengan segala omelan panjang dari Momynya tersayang.


Yang penting sekarang istirahatkan dulu tubuhnya yang sudha mulai penat ini, apalagi baru saja menggendong Nasha dalam waktu lumayan lama.


Sepertinya saat gym nanti waktunya harus dia tambah atau bebannya di tambah lagi, agar bisa menahan lebih lama dan juga mengantisipasi berat Nasha yang pasti bertambah nantinya.


"Selamat tidur Sayang," bisik Farzan sebelum benar benar terlelap.


...----------------...


happy reading..


maafkan kalau ngga ada feelnya hehe..

__ADS_1


tandai typo yah, hehe..


bye bye


__ADS_2