
Kini Alvin menyuruh Kayla agar ia memeriksa langsung ibu itu dengan cepat Kayla yang sudah mengerti kode dari Alvin ia segera menghampiri ibu yang kini sedang merasakan kontraksi.
''Sepertinya baru pembukaan empat dok.'' Ucap Kayla setelah ia memeriksa ibu itu.
Alvin hanya mengangguk tak ada yang harus mereka lakukan.
''Ibu sabar ya, jika ibu merasa mulas yang berlebihan segera panggil kami, Sepertinya ibu harus sabar dulu karena baru pembukaan empat.'' Ucap Kayla dengan lembut.
Terlihat ibu itu sudah merasa sakit bahkan ia hanya mengangguk tak ada percakapan Kayla segera berlalu dengan Alvin ke luar kembali sepertinya mereka harus bersabar.
''Persiapkan ruang persalinan sekarang.'' Ucap Alvin pada perawat yang menyiapkan ruang bersalin untuk ibu muda itu karena sebentar lagi ibu itu akan segera melahirkan.
''Dok Pasien di kamar dia sepertinya akan segera melahirkan.'' Perawat itu segera menghampiri Alvin dengan Kayla.
''Ayo kay.'' Alvin segera mempercepat langkah nya menuju kamar VIP yang terdapat wanita yang sebentar lagi akan melahirkan.
Segerombol keluarga pasien sedang menunggu di luar menunggu Alvin datang.
''Dok tolong selamatkan istri dan anak saya dok.'' Tutur pria paruh baya itu dengan cemas.
Alvin hanya mengangguk dan segera masuk di ikuti Kayla dan beberapa perawat.
Alvin segera memakai sarung tangan nya dengan cepat di ikuti oleh beberapa suster yang siap membantu persalinan.
''Aggghhhhh.'' Suara ibu dengan merintih kesakitan.
Kali ini Alvin sendiri yang turun tangan untuk membantu persalinan sedangkan Kayla ia membantu Alvin.
''Ibu dengar saya, Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan perlahan lewat mulut ya bu. Setelah mulas terasa ibu dorong ya.'' Ucap Kayla memberikan arahan karena sepertinya ibu t
itu tidak bisa mengejan.
Terlihat ibu itu menarik napas nya dalam-dalam.
''Ayo buk.'' Ucap Kayla memberi semangat.
__ADS_1
''Aggghhhhh'' Suara ibu itu dengan susah payah berusaha mengejan.
''Ayo lagi buk.'' Kayla mengelap keringat yang bercucuran dan kembali memberikan kembali pengarahan.
''Dorong ya buk, Ayo satu-''
''Agghhhhhhhhhh.''
Akhirnya suara tangis memecah ketegangan mereka dengan ucapan Syukur yang kini terdengar dari setiap orang yang berada di sana.
''Alhamdulillah.''
Alvin yang masih memegang bayi berjenis kelamin k
lelaki itu ia segera melantunkan adzan di telinga anak dari wanita yang baru saja ia tolong.
Alvin akan selalu seperti itu ia akan mengumandangkan adzan untuk setiap anak yang terlahir saat ia menolong nya karena ia ingin jika setiap anak muslim yang terakhir yang pertama ia dengar adalah suara adzan di telinga nya.
Suster segera menerima bayi dari tangan dokter Alvin dan segera membersihkan sebagian tubuh bayi.
Suster segera memberikan bayi itu ke dalam dekapan sang ibu nya agar menambah kedekatan batin antara ibu dan anak
Semua sudah selesai kini ibu itu telah berpindah ke ruang rawat.
Kayla ke luar dengan Alvin bersamaan mereka langsung di berondong pertanyaan dari para keluarga pasien.
''Bagaimana dokter anak saya?''
''Alhamdulillah kedua nya selamat dan sekarang anda boleh melihat nya.''Alvin mengusap punggung sang suami dari ibu itu dengan cepat dia segera masuk untuk melihat kondisi istri nya.
Kebahagiaan yang terpancar dari keluarga itu membuat Kayla merasa sangat senang, bukan hanya soal kebahagiaan anak yang terlahir namun karena ia juga sangat senang melihat senyum dari setiap wajah yang menanti kelahiran dari bayi tersebut.
Alvin dan Kayla kembali ke ruangan nya. Kayla sudah mempunyai ruangan sendiri ia memiliki ruangan bersebelahan dengan Alvin karena memang tugas mereka saling berdampingan membuat ia akan mudah jika saling berkomunikasi.
Kayla kembali masuk ke dalam ruangan nya ia sedikit lelah meski ia sudah tidak takut dengan darah namun ia kadang suka pusing ketika melihat darah yang banyak di depan matanya tidak dapat di pungkiri tapi ia sangat senang.
__ADS_1
Kayla mengambil segelas air dan meminumnya hingga tandas.
Alvin yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kayla ia tahu jika Kayla mempunyai rasa takut pada darah meski begitu ia merasa bangga karena ia masih bisa mengatasi ketakutan nya dan ketika ia membersihkan darah dari ibu tadi ia bahkan seakan bersikap biasa saja.
''Dokter Alvin.'' Kayla terkejut karena Alvin malah berdiri di depan pintu ruangan nya.
''Ada apa dok?'' tanya Kayla karena ia sedikit kaget karena kehadiran Alvin yang tak ia ketahui.
Alvin tadi sempat mengikuti langkah kaki Kayla karena ia harus memeriksa pasien yang tadi ia tinggalkan Alvin berniat untuk mengajak Kayla mengontrol nya kembali.
''Ya tadi nya kita harus cek dulu kondisi ibu yang tadi di ruangan bersalin umum apa kamu masih pusing? jika pusing biar aku ganti dokter yang akan menangani ibu itu saja.'' Ucap Alvin karena a melihat Kayla seperti masih pusing.
''Oh, gak apa-apa biar saya saja dok.'' Kayla merasa ia harus tanggung jawab atas tugas nya karena dokter lain pun sudah memiliki tugas lain.
''Ya sudah istirahat dulu saja sepuluh menit baru nanti kita periksa.'' Alvin segera menutup kembali pintu ruangan Kayla setelah mendapat anggukkan kepala dari Kayla.
Alvin yang sudah berada di ruangan nya kembali ia seakan merasa hal aneh yang selalu ia rasa ketika ia bersama Kayla.
''Mana mungkin aku jatuh cinta.'' Gumam Alvin pelan. Tak dapat di pungkiri sikap Kayla yang baik dengan tutur kata yang lembut seakan mampu meluluhkan hati nya bahkan dalam waktu sesingkat ini Alvin mulai merasa nyaman bersama nya.
.
.
Rumah sakit yayasan Alisa menjadi pilihan Rayhan bekerja.
Rayhan yang mendapat tawaran kerja di sana untuk menjadi dokter spesialis mata ia mendapat tawaran dari dosen pembimbing nya saat di kampus.
Rayhan yang memang begitu dekat dengan dosen nya sehingga ia tidak bisa menolak permintaan dari dosen nya hingga ia kembali lagi ke Jakarta atas permintaan dari dosen nya namun tetap saja dengan ijin dari kedua orang tuanya.
Ibu Rayhan hanya mendukung keinginan anak nya bagaimana pun pak Arif berperan penting selama Rayhan di kampus. Karena dia juga kini Rayhan bisa menjadi seorang dokter.
Pak Arif adalah donatur yayasan yang di miliki oleh keluarga Rayhan ia melihat potensi Rayhan yang memang sejak ia mengenal Rayhan. Rayhan selalu berkeinginan menjadi dokter bahkan sejak Rayhan duduk di bangku SMA pak Arif selalu memberikan bantuan kepada keluarga Rayhan dan berlanjut hingga Rayhan ke jenjang fakultas kedokteran.
......................
__ADS_1