
Alvin kembali masuk ke dalam rumah ia menatap wajah Kayla yg kini tersenyum lebar padanya membuat jantung Alvin kian berdegup semakin kencang di buatnya.
''Mmm kamu masih mau di sini?'' tanya Alvin sedikit gugup karena sejak tadi Kayla terus saja memandangi dirinya.
''Sebentar aja ya mas, aku mau nonton.'' Pinta Kayla karena ia ingin menonton acara kesukaan nya.
Alvin pun hanya mengangguk menyetujui dan mengambil posisi duduk di sebelah Kayla.
Ada rasa canggung yang kini hinggap di hati Alvin.Namun tak dapat di pungkiri ia juga merasa senang meski ia sedikit khawatir jika ia tak akan bisa melepas Kayla karena takut cinta itu akan semakin tumbuh tapi kini ia malah teringat kembali perkataan sang kakak ipar meski begitu ia masih tidak yakin jika Kayla akan mencintai dirinya.
...
Rayhan hanya bisa memandangi kota besar yang kini memisahkan kembali dirinya dengan sejuta kenangan manis nya di mana ia meninggalkan kota yang penuh cinta dan kenangan manis sekaligus pahit di sana.
Rayhan tahu siapa dirinya ia tak akan mungkin mendapatkan apa yang telah menjadi hak orang lain ia juga sudah berkata jika dirinya sudah menerima permintaan sang ayah wanita itu yg tidak lain adalah laki-laki yang selama ini mendorong kesuksesan nya.
Rayhan masih bingung apa yang telah ia ambil adalah keputusan yang tepat atau belum ia belum bisa memastikan namun dengan menolak permintaan pak Arif sangat tak mungkin ia lakukan. Rayhan sangat malu terlebih ia tidak akan mungkin bisa membalas jasa seorang pak Arif meski dirinya dengan menerima pernikahan itu.
Di sela-sela lamunan nya kini ia teringat kembali sosok sang ibu yang selalu mengingatkan dirinya pada kebaikan ibunya yang selalu menyadarkan dirinya jika dirinya salah dalam mengambil keputusan bagaimana ia mengingatkan dirinya saat lalai.
Dering ponsel yang sejak tadi berbunyi tak membuat Rayhan tersadar dari lamunan nya terlebih Rayhan menaruh ponselnya di dalam kamar membuat suara ponsel itu tidak terlalu terdengar hingga kini ia memaksakan diri ya kembali ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Rayhan berjalan perlahan ke arah kasur dengan langkah yang terasa sangat berat ia kini berusaha mencoba menutup matanya berharap akan merasa tenang.
Namun belum juga tertidur bahkan ia baru saja memejamkan mata nya kini ponselnya berdering kembali membuat Rayhan segera membuka matanya dan meraih ponsel yang ia taruh di kasur.
''Ya assalamualaikum bu?'' salam Rayhan menjawab telepon dari seorang wanita yang tidak lain adalah ibu nya.
''Tadi siang ibu mendapat telepon dari seseorang dan ternyata itu adalah orang kepercayaan nya pak Arif han, dia bilang pak Arif sedang sakit.'' Ucap Ibu terdengar sedikit penasaran.
''Iya bu benar sekali pak Arif sedang sakit, tapi tadi siang alhamdulillah Rayhan udah lihat kondisi pak Arif ko bu, pak Arif sedikit membaik.'' Tutur Rayhan lagi.
Ibu Rayhan yang sejak tadi penasaran kini semakin berdebar pasalnya kabar pak Arif sakit itu ternyata benar lalu apa berita yang ke dua juga benar jika sang anak telah di jodohkan dengan anak nya. Ibu Rani semakin bingung ia sangat cemas jika itu benar adanya lalu bagaimana dengan Rayhan padahal sebelumnya ia baru saja melamar seorang wanita yang langsung mendapat penolakan dari keluarga wanita nya ia juga kini khawatir jika kejadian itu terulang lagi bagaimana jika anak pak Arif yang kini akan menolak nya.
''Oh ya han,'' Ibu Rani sedikit gugup menjawab perkataan Rayhan.
''Ibu kenapa? apa ada sesuatu yang penting ko malah melamun sih bu?'' Rayhan kembali bersuara karena ia merasa tidak biasa dengan sikap ibunya.
Ibu Rani sedikit terdiam terdengar dari sebrang telepon ibu nya menarik napas panjang membuat Rayhan terus saja diam mendengar apa yang akan ibunya katakan.
''Han, apa benar kamu akan menikahi anak pak Arif? ibu, ibu hanya khawatir jika kamu akan mendapat penolakan lagi apa kamu sudah memikirkan nya dengan matang han?'' lirih ibu dari sebrang telepon membuat Rayhan seketika terdiam kembali.
Rayhan tidak langsung menjawab meski adanya memang seperti itu ia merasa khawatir pada ibunya, karena memang jelas terdengar ke khawatiran ibunya membuat ia harus bisa menamatkan hati ibunya.
__ADS_1
''Ibu, ibu tak perlu khawatir seperti itu, aku sudah memikirkan hal itu dengan matang, buk jika aku menikahi wanita itu bukan karena pak Arif yang menjodohkan meski memang pak Arif yang meminta itu tapi yang mungkin karena memang takdir aku yang harus bersamanya.'' Ucap Rayhan seketika seolah menyadarkan dirinya dan juga ibunya.
''Maafkan Rayhan bu, maaf karena tidak memberitahu lebih awal hingga ibu mendengar kabar itu dari orang lain, buk doakan Rayhan agar menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan mampu menjalankan amanah besar ini bu,'' pinta Rayhan pada sang ibu.
Rayhan kembali diam bersamaan dengan sang ibu yang kini terdengar isak tangis dari sebrang telepon.
Ibu Rayhan tak bisa menahan air matanya, ia merasa sangat terharu mendengar ucapan sang anak namun ia ki i merasa tenang karena putranya tidak merasa terpaksa dan malah menerima semuanya dengan lapang dada.
''Ya han, ibu pasti akan selalu mendoakan untuk mu, semoga siapa pun itu yang akan menjadi istrimu kelak, semoga kamu akan menjadi imam yang baik orang yang selalu sabar dan mampu menjalankan amanah itu karena sesungguhnya Allah lah yang telah mentakdirkan siapa yang akan menjadi pendamping mu han,'' ibu Rayhan berucap dengan air mata yang terus mengalir.
Rayhan mendengar semua perkataan yg keluar dari mulut sang ibu dengan penuh tangis ia sendiri tak bisa menyembunyikan rasa sedih nya, bukan karena sedih ia akan menikah dengan wanita yg tidak ia cintai tapi karena harus mendengar suara sang ibu yang menangis sungguh ia marasa sangat sedih seolah ia memegang kembali harapan dari dari seorang ibu.
''InsyaAllah bu semoga Allah mempermudahkan jalan untuk Rayhan, ya sudah ibu istirahat lah aku juga mau istirahat, oh ya mungkin aku juga akan segera kembali pulang ke rumah ibu kembali karena memang aku harus segera menemui wanita yang akan menjadi istriku bersama dengan ibu dan juga ayah,''
Ibu Rani pun mengangguk seolah mendengar ucapan sang anak dengan langsung. ''Baik nak, hati-hati di sana jaga dirimu baik-baik,''
''InsyaAllah buk, assalamualaikum.'' Rayhan menutup panggilan nya setelah terdengar jawaban dari sang ibu.
Ada rasa lega yang kini ia rasakan setelah mengungkap kan segala perasaan nya pada sang ibu, Rayhan semakin yakin jika keputusan nya adalah tepat. Ia akan segera kembali untuk menemui pak Arif untuk melamar sang anak gadis nya.
......................
__ADS_1