Antara Cinta Dan Rasa

Antara Cinta Dan Rasa
Bab 52


__ADS_3

Rayhan dan keluarganya kini sedang berada di kediaman nya tepatnya rumah yg waktu dulu ia beli.


Semua orang terlihat begitu senang karena kini laki-laki berharga mereka sudah sah menjadi suami dari wanita yg tidak lain anak dari pak Arif.


Meski acara pernikahan dari anak pertama mereka itu mendadak dan di laksanakan di rumah sakit namun semua itu tidak mengurangi rasa syukur mereka.


Ibu Rayhan sendiri ia hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya itu dan hanya bisa mendoakan yg terbaik untuk anak nya.


''Bu, Rayhan harus kembali ke rumah sakit ibu gak apa-apa kan tinggal di sini dulu?'' tanya Rayhan dengan menatap wajah sang ibu.


Ibu Rani mengusap lembut lengan Rayhan ia dapat melihat jelas jika Rayhan anaknya menikahi Nasya karena pak Arif bukan karena cinta seperti dulu yg pernah ibu Rani lihat dari tatapan Rayhan pada Kayla.


''Han, semoga kamu bahagia selamanya, semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yg di ridhoi Allah, ibu akan tinggal di sini kamu jangan khawatir ada ayah dan adik-adik mu, kamu pergi saja kasihan istri dan mertuamu Han.''


Rayhan hanya tersenyum menanggapi perkataan ibunya. Ia sangat tahu ke khawatir ibunya itu.


Rayhan sendiri ia hanya perlu belajar menerima takdir nya dan mengembalikan semua nya pada sang Maha pencipta ia yakin jika apa yg telah Allah garis kan untuknya adalah yg terbaik.


''Rayhan pergi dulu ya bu, assalamu'alaikum.'' Rayhan menarik tangan ibunya dan menyalami tangan lembut ibunya itu sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.


Ibu Rani pun hanya mengulas senyum ia masih setia berdiri di dekat mobil milik putra nya itu.


Memang ibu Rani sendiri dapat merasakan ketulusan kasih sayang pak Arif pada putra nya itu dan memang sebelum Rayhan mengikuti pak Arif, pak Arif memang sudah lebih dulu masuk ke dalam kehidupan mereka ia adalah donatur yg selalu setia membantu yayasan milik keluarga nya itu bahkan tak hanya itu pak Arif selalu membantu keluarga ibu Rani sendiri karena memang keluarga ibu Rani hanya keluarga menengah.


Mengingat semua itu ibu Rani kembali merasa kasihan pada pak Arif ia hanya memiliki anak semata wayangnya yg selama ini mendampingi dirinya sangat wajar sekali jika pak Arif menginginkan Rayhan sebagai pendamping untuk putri nya.


''Hati-hati han,'' Ucap Ibu Rani lagi karena Rayhan membuka kaca mobil nya.


''Iya bu, ibu masuk lah ini sudah malam, assalamu'alaikum.''


Rayhan pun segera menjalankan mobil nya melaju ke jalanan meninggalkan kediamannya.


Tanpa bisa ia sadari air mata Rayhan seketika jatuh Rayhan kembali menepikan mobilnya ia berusaha menenangkan dirinya.


Rayhan hanya manusia biasa ia sendiri memiliki hati yg sama di saat ia harus menikahi wanita yg sama sekali tak ia cintai dan memiliki tanggung jawab penuh atasnya membuat dirinya seakan sangat sulit menerima hal itu, apalagi melihat ibunya merasa iba pada dirinya tentu membuat dirinya kembali merasa serba salah.


Ego nya memang menolak untuk menikahi Nasya namun berbeda dengan hatinya ia tak bisa menolak itu hati kecilnya merasa tidak tega dengan permintaan pak Arif laki-laki yg sudah banyak menolong dirinya dan berperan penting pada hidupnya ia tak bisa menolaknya.


Beberapa menit telah berlalu akhirnya Rayhan bisa lebih tenang ia pun kembali menjalankan mobilnya dan kembali pada tujuannya untuk segera ke rumah sakit namun sebelumnya Rayhan membeli makanan untuk Nasya karena ia khawatir jika Nasya belum makan.

__ADS_1


Hanya perlu satu jam perjalanan saja kini Rayhan sudah sampai di rumah sakit.


Ia segera keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk ke dalam. Dengan debaran jantung yg entah sejak kapan ia rasakan dirinya merasa sedikit gugup saat harus menemui wanita yg kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Rayhan membuka pintunya dan melihat Nasya yg sedang tertidur di samping pak Arif.


Terlihat jelas sekali jika Nasya habis menangis ia tahu alasan pasti kenapa Nasya menangis. Ya karena pernikahan mereka itu yg jelas membuat Nasya menangis namun Nasya sendiri ia tidak menolak permintaan ayahnya itu ia menerima semua itu hingga pernikahan itu terjadi.


Rayhan kembali menutup pintu nya dan kembali membalikan tubuhnya. Namun kali ini ia melihat seseorang sedang terbangun dan tersenyum ke arah dirinya.


''Han, kamu sudah datang.'' Pak Arif berkata dengan suara lemahnya.


Rayhan hanya tersenyum dan berjalan ke samping pak Arif yg sedang menatapnya.


''Pak, anda mau makan?'' tanya Rayhan sebelum akhirnya ia duduk.


''Aku sudah makan han, belum lama tadi aku makan di suapi Nasya.'' Jawab pak Arif dengan berusaha terlihat baik-baik saja.


''Pelan-pelan pak.'' Rayhan segera membantu pak Arif untuk duduk.


Pak Arif kini terlihat semakin kurus penyakit nya telah membuat dirinya semakin rapuh entahlah Rayhan sendiri merasa sangat kasihan ia selalu berharap jika pak Arif akan kembali sehat seperti sedia kala.


Hati Rayhan kembali tercubit ia merasa sangat sesak saat pak Arif berkata demikian.


''Bapak tak perlu berkata seperti itu justru saya yg harus berterima kasih pada bapak, dan untuk semua itu saya berjanji akan selalu membuat Nasya bahagia saya janji pak saya akan berusaha menjadi suami yg baik untuk nya.'' Ucap Rayhan yakin.


Pak Arif hanya tersenyum ia merasa sangat senang mendengar jawaban Rayhan.


Betapa hatinya sangat lega mendengar semua itu ia sendiri tidak perlu khawatir lagi jika suatu saat dirinya di panggil oleh sang Maha pencipta.


Pak Arif mengusap lembut lengan Rayhan dan kembali mengusap rambut Nasya dengan penuh rasa sayang.


Apa yg di lakukan pak Arif tentu tak lepas dari pandangan Rayhan hatinya seakan merasakan apa yg pak Arif rasakan.


Nasya yg sejak tadi tidur ia merasakan sesuatu yg sedang menyentuh rambutnya membuat ia seketika terbangun.


Ia melihat ayahnya sedang tersenyum padanya dengan tatapan yg akhir-akhir ini sulit ia dapatkan.


''Ayah sudah bangun,'' Nasya segera membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


Namun ia baru sadar jika di hadapannya itu ada Rayhan yg sedang menatapnya.


''Rayhan,'' Ucap Nasya pelan seolah tidak percaya dengan apa yg ia lihat.


''Pulanglah nak, ayah baik-baik saja kasihan suami mu.'' Pak Arif berkata pada Nasya.


''Tidak apa-apa pak jika Nasya memang mau menemani bapak di sini biar saya ikut menemani bapak di sini.'' Sahut Rayhan lagi.


Rayhan sendiri merasa tidak enak jika harus memaksa Nasya untuk pulang apalagi ia sangat tahu betul jika Nasya sepertinya ingin bersama ayahnya.


Nasya yg mendengar ucapan lelaki itu ia pun tersenyum simpul padanya.


''Makasih,'' Ucap Nasya tulus pada Rayhan.


...


Malam telah menyapa Kayla masih saja diam di ruang keluarga ia masih tak banyak bicara meski begitu Alvin masih bisa bersyukur karena Kayla kini jauh lebih baik dari tadi siang, Kayla sudah dapat makan dan di ajak shalat berjamaah saja sudah lebih dari cukup baginya.


Alvin menatap wajah sendu Kayla dengan begitu iba bagaimana bisa ia membiarkan Kayla seperti itu dirinya sangat tidak tega bahkan untuk menenangkan dirinya Alvin belum bisa karena Kayla seolah tidak percaya lagi pada orang-orang di sekitar dirinya.


''Kay, kamu belum mau tidur?'' tanya Alvin sambil duduk di samping Kayla.


Namun Kayla hanya diam tak menjawab hanya kepalanya saja yg kini menggeleng arti jawabannya.


Alvin kembali menarik napasnya panjang ia merasa bingung dengan sikap Kayla.


''Kita tidur ya ini tidak baik buat kamu lagian ini sudah sangat malam.'' Ucap Alvin lagi berusaha bersikap sebaik mungkin.


''Berhenti peduli sama aku,'' Ucap Kayla dengan air mata yg kembali jatuh.


''Aku tak bisa kay, kamu istri aku.'' Tegas Alvin dengan menatap wajah Kayla.


Mendengar itu tangis Kayla kembali terhenti ia menatap wajah Alvin dengan air mata yg masih berada di pelupuk matanya.


''Aku mencintai kamu Kay, kamu istri aku jangan anggap semua ini hanya kamu dan kamu sendirian aku merasa sakit kay aku sakit melihat kamu seperti ini.'' Lirih Alvin membuat Kayla tak mampu berkata apa-apa lagi.


Hingga kini Alvin menarik tubuh Kayla dalam dekapannya ia sendiri dapat merasakan kesedihan yg sangat dalam pada istrinya itu.


''Aku mencintai kamu kay, bahkan aku sangat mencintai kamu.''

__ADS_1


......................


__ADS_2