
''Apa?'' Rayhan sedikit terkejut saat orang kepercayaan pak Arif memberitahu jika dirinya akan menikah dengan putrinya dalam waktu yang sangat singkat.
Bukan hal besar untuk pak Arif menyiapkan pernikahan nya dalam waktu se singkat ini karena a pak Arif adalah orang yang kaya mudah baginya untuk membuat pernikahan dalam waktu yang sangat singkat ini.
Rayhan menarik napasnya panjang ia bahkan belum memberitahu lagi sang ibu kabar pernikahan dirinya dengan putri dari Pak Arif apa tidak terlalu terburu-buru pikir Rayhan sambil memijit pelipisnya perlahan.
Dengan segenap kekuatan nya ia mengambil ponsel yang ia taruh di meja nya. Ia mencari kontak ibunya dan berusaha memangilnya untuk memberitahu kabar pernikahan dirinya dengan Nasya.
Meski mungkin pernikahan dirinya akan sederhana karena pak Arif yang masih dirawat dan mungkin pernikahan dirinya akan di langsungkan di rumah sakit tapi tetap saja Rayhan ingin jika ibu dan keluarga nya akan menyaksikan pernikahan dirinya.
''Assalamualaikum nak?'' terdengar sahutan salam dari ibunya.
Rayhan pun membalas salam dari sang ibu dengan sedikit ragu ia berkata.
''Waalaikum salam bu,''
''Ada apa han?'' tanya ibu Rani yang menyadari kegugupan Rayhan.
Rayhan menarik napasnya panjang dengan segenap kekuatan ia mulai menyampaikan kabar pernikahan nya pada sang ibu.
''Bu, bisa kan jika hari ini ibu dan ayah datang ke rumah sakit untuk menemui pak Arif?'' ucap Rayhan pelan namun jelas terdengar.
Ibu Rani seketika terkejut dengan perkataan Rayhan ia menebak jika pak Arif benar-benar sedang dalam kondisi yg sangat kritis.
''Ibu bisa nak, ibu akan datang bersama ayah mu apa perlu hari ini juga ibu akan memberi tahu ayah mu.'' Ucap ibu Rani dengan nada khawatir nya.
''MasyaAllah kasihan sekali apa pak Arif sangat kritis han?'' tanya ibu Rani lagi seketika.
__ADS_1
''Entahlah bu, Rayhan belum tahu jelas kondisi pak Arif tapi bukan itu bu, Rayhan akan menikah dengan putri pak Arif esok hari.'' Ucap Rayhan lagi namun seketika membuat ibu Rani semakin terkejut.
''Apa han, kamu tidak sedang bercanda kan han?'' ibu Rani menaikan sada suaranya saking tidak percaya nya dengan ucapan sang anak.
''Ya bu, mungkin lebih cepat lebih baik, ya sudah bu ibu bersiaplah Rayhan sendiri akan segera mengemasi barang-barang assalamualaikum.'' Rayhan segera menutup panggilan nya.
Ia semakin bingung jika berlama-lama menelpon sang ibu malah membuat ibunya banyak melempar pertanyaan yang akan membuat dirinya semakin bingung menjawab.
Rayhan mengusap wajahnya dengan kasar ia sendiri semakin bingung dengan keadaannya saat ini namun tak mungkin baginya jika dirinya menolak permintaan pak Arif apalagi mengingat kondisi pak Arif yang sedang tidak baik-baik saja.
''Aku serahkan semuanya pada mu ya Allah engkaulah sebaik-baiknya petunjuk.'' Gumam Rayhan yang kini menatap luar jendela ruangannya.
Rayhan kembali membalikan tubuhnya ia menatap ruangan besar yang kini ia tempati baru saja kemarin ia menginjakan kakinya ke ruangan ini kini ia harus meninggalkannya lagi bahkan ia harus menerima jika dirinya akan menikah dengan wanita yang tidak ia cintai.
Rayhan hanya manusia biasa ia juga memiliki hati. Hatinya bisa dibilang sakit mendapati kenyataan yang jauh tidak sesuai dengan harapan nya. Ia mencintai Kayla dan sangat mencintai dirinya bahkan mengharapkan dirinya lah yang akan menjadi sosok pendamping nya namun takdir berkata lain karena ayahnya telah memilih sosok lelaki yang amat sangat sempurna Rayhan hanya bisa pasrah ketidak berdayaan dirinya karena ia sadar jika ia berhasil seperti sekarang karena kasih sayang orang lain karena dirinya terlahir dari orang yg tidak cukup berada membuat cinta nya pun terhempas karena status sosialnya.
Tanpa ia sadari air mata nya kini mulai jatuh bahkan baru pertama kali ia menitikan air mata nya.
''Maafkan aku ya Allah, maafkan hamba karena belum bisa ikhlas dalam menerima takdir mu sungguh hamba hanya manusia biasa hamba mohon kebahagiaan yang akan hamba dapatkan dan ridhoi lah diri ini untuk menikahi wanita yang engkau takdir kan untuk ku.''
Lama ia terdiam dengan segenap harapan yang muncul dalam benaknya ia kembali meraih barang-barang nya dan mulai membereskan nya.
Rayhan akan segera pergi dari kota ini ia akan menepati janjinya pada pak Arif setelah ia memberikan kabar cutinya pada orang kepercayaan dirinya.
...
Nasya menggeliat cukup lama ia tertidur di samping sang ayah membuat dirinya sedikit pegal.
__ADS_1
Pak Arif tersenyum ke arah sang putri ia melihat senyum yang kini terukir di bibir mungil sang anak nya.
''Kamu sudah bangun nak,'' pak Arif kembali mengusap kepala Nasya dengan lembut.
''Maaf yah, Nasya malah tertidur.'' Ucap Nasya tidak enak hati.
Nasya memang selalu bersikap manja pada pak Arif bagaimana tidak hanya pak Arif yang Nasya miliki setelah ibunya meninggal di saat dirinya masih remaja dan membutuhkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya.
''Nasy, pulanglah istirahat di rumah dan siapkan dirimu, mungkin esok hari kamu akan menikah dengan Rayhan.'' Pak Arif berkata pelan namun matanya jelas menelisik putrinya berharap tidak ada kesedihan dari mata sang anak.
Nasya sedikit kaget dengan perkataan sang ayah bahkan dirinya saja baru menerima permintaan ayahnya baru saja.
''Apa tidak salah yah, besok? itu waktu yang sangat cepat yah,'' lirih Nasya tidak terima dengan ide sang ayah.
''Lebih cepat lebih baik nak, ayah percaya kamu akan bahagia dengan Rayhan.'' Arif kembali membelai pipi sang anak.
Nasya sendiri ia hanya bisa pasrah menolak keinginan ayahnya rasanya tidak mungkin untuk sekarang meski ingin sekali ia lakukan namun betapa dirinya tidak tega ia hanya ingin jika ayahnya akan segera sembuh itulah yang ia harapkan sekarang.
Nasya hanya mengangguk pelan dan berusaha menahan air mata yang mudah sekali ingin jatuh.
Nasya tidak ingin menampilkan raut sedihnya karena mungkin ayahnya akan lebih sedih.
''Ya sudah istirahatlah, esok hati akan ada seseorang yang akan mengantarmu ke rumah sakit persiapkan dirimu Nasy untuk pernikahan mu ayah harap kamu akan bahagia dengan keputusan ayah.'' Pak Arif lagi-lagi mengulas senyum nya membuat Nasya tak mampu menahan air mata yang sejak tadi ia tahan.
''Jangan bersedih ayah hanya ingin yang terbaik untuk mu Nasy.'' Pak Arif menghapus jejak air mata Nasya yang telah jatuh dengan punggung tangan nya pak Arif mengusap pelan air mata itu.
Nasya meraih lengan kokoh ayahnya yang kini terasa semakin lemas bahkan ia dapat merasakan jika ayahnya memang sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
''Nasya akan bahagia yah, doakan Nasya semoga Nasya akan selalu bahagia dengan lelaki pilihan ayah dan Nasya mohon ayah cepat sembuh Nasya ingin selalu bersama ayah.'' Ucap Nasya yang langsung memeluk tubuh ayahnya dengan isak tangis yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
......................