
Hari berganti hari seakan cepat berlalu, Alvin dan Kayla bahkan semakin terasa begitu dekat mereka bahkan tak canggung lagi untuk memperlihatkan rasa cinta antara satu sama lain.
Seperti halnya sore ini setelah lamanya berjalan-jalan memilih berbagai oleh-oleh khas Labuan bajo Kayla tak sedikitpun melepas tangan nya dari jemari Alvin bahkan tak sedikit tawa ringan yg selalu menghiasi kebersamaan mereka.
"Mas lihat ini bagus kan?" tanya Kayla pada Alvin. Ia memperlihatkan sepasang cincin mutiara dan juga kalung yg terlihat begitu indan berhiaskan mutiara di setiap hiasan nya.
"Bagus kamu mau?'' tanya Alvin lagi.
Kayla tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya.
" Ya sudah ambil saja sayang.'' Sahut Alvin lagi.
Kayla tersenyum senang ia pun memilih berbagai perhiasan dari mulai kalung, cincin, gelang, dan juga anting yg sengaja ia pilih untuk dirinya sendiri sementara itu Kayla pun membeli tiga kalung mutiara yg terlihat indah dan elegan untuk ke tiga ibunya.
Alvin tersenyum senang melihat Kayla begitu antusias memilih perhiasan untuk nya dan juga untuk ke tiga ibunya tentunya ia sendiri merasa senang.
Andai saja ibunya masih ada tentu ibunya akan merasa senang melihat dirinya dapat bahagia dengan wanita yg begitu ia cintai.
"Udah mas, makasih ya.'' Ucap Kayla dengan tulus.
Alvin menyungingkan senyum nya mendengar ucapan terimakasih dari bibir istrinya sungguh ia merasa berat mengucap sama-sama bagi Alvin itu bukanlah apa-apa melihat Kayla yg terlihat begitu senang justru dirinya yg patut berterima kasih.
''Mas kata orang sih oleh-oleh daerah sini itu kopi loh mas, kita cari kopi ya.'' Tutur Kayla kembali mengeluarkan ide nya.
Alvin menyetujui ide istrinya terlebih ia sendiri memang sangat menyukai aneka olahan kopi.
"Sepertinya di sana sayang,'' Alvin menunjuk sebuah toko yg menjajakan aneka olahan kopi.
Tanpa menunggu lama mereka pun masuk ke dalam toko yg menjual berbagai olahan kopi dan seperti yg Alvin lihat ia pun mulai memilih kopi yg tertata di sudut ruang toko itu terlihat juga enakan makanan khas di sana membuat mereka memilih apa yg akan mereka bawa untuk pulang.
Setelah sekian lama mereka berkutat dengan berbagai oleh-oleh Alvin pun kembali mengajak Kayla untuk berkeliling sekitar dan mengajak Kayla untuk menikmati makanan di restoran yg menyediakan aneka olahan laut.
Kayla sendiri menyetujui hal itu terlebih dirinya juga juga sudah terasa begitu lelah dan merasa lapar.
Hingga tak terasa waktu cepat berganti. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke penginapan.
__ADS_1
.
.
"Nasya?" panggil Rayhan di balik pintu kamar nya.
Tak seperti biasanya pagi ini Nasya belum keluar dari kamar mereka padahal biasanya di pagi-pagi sekali Nasya sudah bangun bahkan menyiapkan sarapan untuknya.
Rayhan pun kembali turun dari kamar nya dan menunggu Nasya di bawah.
Ia pun kembali turun dan segera beranjak pergi ke dapur kali ini Rayhan akan membuatkan istrinya sarapan.
Ia pun langsung mengambil bahan-bahan masakan apa saja yg akan ia buat. Rayhan memang sosok lelaki mandiri wajar sekali jika ia bisa membuat berbagai masakan meski tak banyak juga ia bisa membuat masakan setidaknya ada sesuatu yg bisa buat untuk istrinya.
Sudah hampir setengah jam ia berkutat dengan alat masak di dapur namun tak kunjung juga Nasya turun dari kamar.
Rayhan sedikit cemas apa Nasya sedang sakit tapi bagaimana bisa padahal sejak kemarin ia terlihat baik-baik saja.
Rayhan kembali duduk di kursi ia menunggu Nasya kembali berharap istrinya akan segera turun.
Tok... tok... tok...
"Sayang? Nasya kamu lagi apa sayang?" panggil Rayhan di balik pintu.
Namun tetap saja tidak ada jawaban membuat Rayhan sedikit tidak tenang.
"Nasy? kamu dengar aku sayang?"
"Nasya?"
Berulang kali ia memanggil Nasya hingga akhirnya ia pun mendobrak kamar nya.
"Nasy,'' Lirih Rayhan pelan.
ia pun berjalan mendekati Nasya yg sedang menundukkan kepalanya dalam entah sebab apa yg kini membuat istrinya seperti ini padahal sejak malam ia terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
" Nasya?" Alvin mengusap punggung Nasya perlahan ia terlihat begitu rapuh entah apa yg membuat ia seperti sekarang dan tentunya sikap Nasya membuat Rayhan bingung.
Rayhan pun ikut duduk dan meluk Nasya ia seolah sedang memberikan kekuatan pada Nasya.
"Mas aku gak siap mas, " ungkap Nasya dengan derai air matanya.
Nasya begitu terpukul dengan kenyataan yg ia dapatkan tanpa berniat menjelaskan Nasya pun memberikan sebuah tespec pada Rayhan suaminya.
Ia sungguh tidak menyangka secepat ini dia akan mengandung anak dari lelaki yg jelas ia tak cintai padahal tak pernah ia bayangkan jika Nasya akan hamil.
Nasya hanya melakukan itu atas rasa cinta yg pernah hinggap dalam hatinya dan itu hanya sementara waktu saja saat ia melihat foto Alvin bersama Kayla tentu rasa cinta yg ada pada dirinya terhadap Rayhan hilang seketika berganti dengan rasa sesal.
Rayhan menerima tespec dari tangan Nasya ia begitu terkejut dengan apa yg ia lihat sungguh rasa haru kini lebih mendominasi diri anya.
"Alhamdulillah sayang makasih sayang, " ucap Rayhan dengan tulus bahkan ia sendiri tidak menyangka jika dalam waktu dekat ia akan menjadi seorang ayah.
"Aku belum siap mas, aku gak mau. " Ungkap Nasya dengan linang air mata bahkan tatapan nya terlihat penuh penyesalan.
Seketika Rayhan kaget ia tidak menyangka apa yg sedang istrinya bicarakan bahkan di saat ia mendapat kabar bahagia Nasya malah menolak berita baik itu.
"Kenapa sayang?" tanya Rayhan dengan tidak percaya.
Bahkan rasa sesak dan kecewa bercampur menjadi satu sungguh mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut istrinya seolah sebilah pedang menusuk dirinya.
Air mata nya tak bisa ia bendung lagi. laki-laki mana yg sanggup mendengar perkataan menyayat seperti itu ia bahkan tak pernah membayangkan jika Nasya akan menolak calon buah hatinya sendiri.
"Aku tak pernah mencintai kamu mas dan aku gak mau anak ini. " Tukas Nasya dengan tatapan yg semakin menyayat hati Rayhan.
Rayhan diam mematung bahkan bibirnya terasa kelu hanya sesak yg seolah menghimpit dadanya.
Rayhan pun segera bangun dari duduknya ia pergi meninggalkan Nasya yg masih berada di kamarnya. Pikirannya kacau bahkan tak pernah ia bayangkan jika pernikahan yg ia jalani hanya sandiwara belaka.
Bagaimana bisa menjalani pernikahan serumit ini di saat dirinya sudah ikhlas menerima Nasya bahkan ia mencurahkan kasih sayangnya pada wanita yg telah sah menjadi istrinya malah di balas dengan kepahitan yg sungguh tak pernah ia bayangkan.
Rayhan hanya lelaki biasa ia terlihat kuat tapi tidak dengan sebenarnya ia bahkan sangat lemah dirinya begitu rapuh bagaimana bisa ia memilih bagaimana bisa ia mengikuti keinginan Nasya meski di awal pernikahan dirinya memang tak mencintai wanita itu tapi tidak dengan sekarang ia bahkan begitu mencintai Nasya selayaknya istri yg memang patut mendapatkan cinta nya.
__ADS_1
...****************...