
''Ih nyebelin banget sih.'' Kesal Kayla langsung saja mendorong Alvin begitu saja.
Sungguh ia masih merasa malu padahal Alvin kini adalah suaminya dan ia juga sudah memberikan semuanya tapi entah mengapa rasa canggung itu masih tetap ada.
Alvin masih saja terkekeh meski begitu ia pun bangun dan merangkul Kayla kembali dan membenamkan kepala Kayla pada dada bidang miliknya.
"Nyaman kan?'' goda Alvin lagi yg masih saja belum puas menggoda sang istri.
Seulas senyum menghiasi wajah Kayla. Ia merasa gugup sekali namun tak dapat di pungkiri jika ia memang nyaman berada di dalam dekapan sang suami nya itu.
"Kamu itu lucu banget sih by, lagian dengerin ya by, by itu panggilan sayang aku buat kamu memangnya kamu gak mau aku kasih panggilan sayang apa?'' tanya Alvin seolah serius dengan ucapan nya.
Kayla menoleh ke arah Alvin ia menatap lekat-lekat wajah sang suami yg makin hari makin romantis meski sesekali ia selalu di buat kesal tapi entah mengapa ia menyukai sikap Alvin bahkan ia selalu rindu sikap Alvin yg selalu hangat padanya.
"Ya mau sih tapi kamu itu mas malah seolah mengejek aku lagian aku tadi ngaca pipi aku gak chubby kok mas.'' Keluh Kayla lagi.
''Ya emang siapa yg bilang pipi kamu chubby?''
" Kamu lah mas, masa aku?''
''Enggak kok aku gak bilang gitu,'' bela Alvin yakin.
"Kamu ngeles aja mas.'' Kesal Kayla lagi dengan wajah yg cemberut.
Alvin kembali tertawa dan kembali memeluk Kayla dengan sayang.
" Aku cuma bilang chubby aja kok serius sayang lagian aku panggil by, kamu juga suka kan?'' tanya Alvin lagi.
Kayla terdiam ia seolah mati kutu oleh Alvin. Sungguh laki-laki yg kini berstatus sebagai suaminya itu selalu bisa memporak porandakan hatinya bahkan dengan mudahnya ia menempati di hatinya.
"Ya udah makasih mas,'' Ucap Kayla yg langsung mengecup pipi suaminya.
__ADS_1
Ia mencuri ciuman singkat itu dan kembali membenamkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya.
Entahlah Kayla sendiri merasa suka saat ia mencuri ciuman itu ia bahkan masih mengakui tentang perasaan nya sendiri.
"Tuh kan nakal banget sih.'' Kekeh Alvin degan menciumi Kayla dengan gemas bahkan ia seakan Ingin sekali memakan Kayla untuk saat ini.
.
.
''Aku ingin bicara mas.'' Sahut Nasya dengan suara dingin nya.
Nasya pun masuk ke dalam ruangan suaminya tanpa menunggu izin dari suaminya.
Ia menundukkan kepalanya ia seolah tidak berani menatap wajah sang suami yg kini akan menjadi calon ayah dari anak nya kelak yg akan terlahir dari rahimnya.
Perlahan tapi pasti Nasya merasa jika memang keputusan nya kini sudah bulat ia juga sudah yakin jika keputusan yg akan ia ambil tidak akan memberatkan sebelah pihak.
Meski Nasya tahu jika Rayhan adalah lelaki yg sempurna ia juga baik terhadap dirinya tapi entah mengapa Nasya seolah kembali tidak bisa menerima itu semua meski kini ia tengah berbadan dua.
Ia juga tahu seharusnya tidak boleh seperti ini karena bagaimana pun anak dalam rahimnya memerlukan seorang ayah tapi mau bagaimana lagi jika pernikahan mereka terus berlanjut kemungkinan terbesar Rayhan lah yg akan paling g tersakiti dan juga ayahnya. Ia tidak ingin jika sampai ayahnya kembali jatuh sakit.
Rayhan menatap lekat wajah sang istri ia kembali fokus sebentar pada laptop nya sebelum akhirnya ia menutup kembali laptopnya ia menatap wajah istrinya kembali yg terlihat begitu pucat meski begitu dapat di pastikan jika saat ini istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Rayhan pun menatap dalam-dalam belum sempat ia berbicara Nasya menyodorkan sebuah map berwarna merah pada Rayhan.
Rayhan tidak menanggapi itu ia masih dalam pikirkan nya.
"Kamu sudah makan sayang? kamu baik-baik saja kan? kalau....''
Ucapan Rayhan terhenti saat Nasya langsung memotong perkataan nya.
__ADS_1
" Aku ingin kita bercerai mas.'' Ucap Nasya dengan suara yg hampir tercekat. Bukan hal mudah bagi Nasya berbicara seperti itu ia merasa tenggorokan nya bahkan terasa sakit mungkin karena ayahnya yg paling akan sakit hati dan juga bayi yg saat ini tengah ia kandung.
Seketika Rayhan terdiam ia merasa jika saat ini ia tidak bisa bernapas bagaimana tidak mendengar kenyataan yg begitu pahit bahkan sangat pahit membuat ia seolah tidak berbuat apa-apa.
Bagaimana bisa Nasya berpikir ingin bercerai di saat dirinya sedang berbadan dua tentu Rayhan tidak habis pikir akan keinginan sang istri yg menurutnya tidak masuk akal. Mungkin Rayhan bisa menerima jika Nasya masih butuh waktu untuk membuka hatinya tapi tidak dengan bercerai itu bukan jalan yg terbaik bagi Rayhan masih banyak cara lain yg mungkin lebih baik ia juga akan sabar menanti sampai Nasya bisa membuka hatinya untuk Rayhan.
Rayhan menarik napasnya dalam-dalam dan membuang nya secara kasar.
"Nasy, kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini lebih baik kita pulang ya kamu butuh istirahat kasihan bayi kita dia butuh nutrisi yg cukup dari kamu sayang dia butuh kamu untuk saat ini.'' Sahut Alvin mengalihkan pembicaraan Nasya.
Nasya menatap Rayhan sungguh ia merasa sedikit kesal pada lelaki yg tengah berada di hadapan nya.
"Sudah aku bilang mas, aku mau kita bercerai mas aku mau cerai.'' Tegas Nasya kembali mengingatkan keinginan nya bahkan kali ia berkata dengan lantang nya.
Nasya bahkan memperlihatkan kemarahan nya tatapan nya terlihat begitu mematikan. Ia seakan sudah bulat dengan keputusan nya.
" Nasya aku tidak akan pernah menceraikan kamu dan itu sampai kapan pun. Jadi kamu pulang saja kamu butuh istirahat.'' Tegas Rayhan dengan tatapan yg tak kalah dingin nya.
Rayhan hanya ingin jika saat ini Nasya fokus dulu pada kehamilan nya ia tidak akan kembali memaksa untuk Nasya bisa membuka hatinya ia yakin jika suatu saat ia akan bisa membuka hatinya tanpa Rayhan harus berusaha sekuat mungkin.
''Aku tidak mencintai kamu mas bahkan untuk sampai kapan pun. Pernikahan kita hanya karena perjodohan dan kamu harus tahu itu mas aku tak ingin jika kita terus hidup bersama aku tak ingin lebih menyakiti kamu mas.'' Ujar Nasya dengan penuh amarah.
Rayhan tersenyum mengejek ia bahkan seolah menertawakan dirinya yg begitu di rendahkan oleh wanita yg kini paling berharga dalam hidupnya.
Bagaimana bisa ia lupa akan janji pernikahan yg pernah ia lakukan bukan di hadapan ayah mertuanya dan bukan pula di hadapan orang tuanya sendiri tapi di hadapan yg maha Kuasa ia mengikrarkan janji suci pernikahan lalu bagaimana bisa ia menodai janji itu hanya karena ucapan sang istri yg meski tak dapat di pungkiri dirinya sangat sakit hati.
"Jika kamu memang tak pernah mencintai aku biarkan saja pernikahan ini terjadi dan selamanya seperti ini. Lagian Bukankah kamu tidak mencintai aku? kalau begitu juga kamu tak akan pernah merasa kasihan pada aku. Aku tak akan pernah menceraikan mu bahkan sampai kapanpun Nasy, jadi pergilah!" usir Rayhan dengan suara dinginnya.
Nasya seolah tidak percaya dengan ucapan sang suaminya ia bahkan mendapat penolakan dari sang suami bahkan di saat dirinya sudah mengatakan jika ia tidak mencintai dirinya sungguh ia merasa kesal tapi apa daya Rayhan malah lebih dulu keluar bahkan tanpa sedikitpun menghiraukan keberadaan dirinya lagi.
...****************...
__ADS_1