
''Mah Lusi berangkat dulu ya.'' Ucap Lusi sambil menyalami semua orang yang berada di sana.
Lusi berjalan dan pergi lebih dulu ke luar karena ayah sedang merapikan dulu berkas bawaan nya dan berlalu mengikuti Lusi dengan di antara oleh mamah.
''Mas kamu jadi kan antar aku?'' tanya mbak Susi karena hari ini mereka akan memeriksa kandungan mbak Susi.
''Ya jadi dong.'' Jawab Bima dengan semangat.
''Kalian bakal langsung pulang?'' tanya Diana karena jika ya sudah pasti ia tidak bisa pulang karena ia merasa tidak tega harus meninggalkan mamah nya sendirian di rumah.
''Sepertinya begitu. Abang masih ada kerjaan di.'' Jelas bang Bima pada mbak Diana. Sementara Kayla hanya memperhatikan obrolan kedua kakak nya.
''Ya sudah gak apa-apa biar aku tinggal dulu di sini.'' Ucap mbak Diana dengan menatap mamah nya yang sudah kembali.
''Kay kamu mau bareng sama kita berangkat nya?'' tanya mbak Susi karena jika ia mereka bisa berangkat bersama.
''Boleh juga.'' Kayla menyetujui hal itu akan lebih senang jika ia bisa berangkat bersama.
''Tapi kamu gak akan bawa mobil dong kay kalau bareng. Nanti kamu pulang nya gimana?'' bang Bima berkata dengan menatap Kayla.
''Gak apa-apa aku bisa naik taksi ko bang. Gak usah khawatir aku juga udah gede.'' Jawab Kayla tidak mempermasalahkan.
''Ya udah aku mau siap-siap dulu.'' Ucap Kayla yang langsung beranjak pergi karena ia tidak ingin membuat kakak nya menunggu apalagi Kayla memang mandi nya lama.
Setengah jam sudah berlalu kini Kayla turun dari kamar nya dengan menggunakan pakaian yang sudah rapih dengan pakaian dokter yang menempel di badan nya membuat ia terlihat sangat cocok.
__ADS_1
Sebenar nya Kayla sudah pernah beberapa kali membantu persalinan dan ia sudah terbilang bisa hanya saja ayah nya ingin memastikan jika Kayla tidak akan membuat kesalahan karena bukan sekedar praktik namun nyawa orang yang akan menjadi taruhan nya.
''Wah dokter yang cantik.'' Ucap mbak Susi dengan senang nya karena kini adik ipar nya sudah lengkap dengan pakaian dokter nya meski ia melampirkan cardigan tipis.
''Ayo kak.'' Kayla yang sudah turun dengan tersenyum mengajak kakak ipar nya agar segera berangkat.
Mamah nya sedang di halaman rumah bersama mbak Diana dan juga Aleta yang masih banyak berbicara entah apa yang membuat ke tiga wanita itu kini tertawa bersama.
''Wah anak mamah udah siap.'' Alisa mengusap Kayla dengan lembut.
''Iya mah, aku pergi dulu ya.''
''Iya sayang, hati-hati ya.''
Kayla menyalami mamah nya dan juga mbak Diana yang kini berdiri di samping mamah nya.
Mobil kini sudah meninggalkan pekarangan kediaman Kayla dan beralih ke jalanan ibu kota. Hanya dua puluh menit saja kini mereka telah sampai karena memang jalanan ramai lancar.
Kini mereka segera turun dari mobil. Kayla menatap rumah sakit milik keluarga nya yang terlihat sangat besar dengan fasilitas yang memadai ia merasa sangat bersyukur karena kini dirinya bisa mewujudkan apa yang telah di cita-cita kan oleh kedua orang tua nya.
Meski dulu ia sempat menolak karena ia merasa takut ketika melihat darah tapi ketakutan itu hilang saat Rayhan mengajari dirinya untuk belajar ia bahkan selalu berkata. ''Jika kita mempunyai tekad baik untuk menolong orang sebesar apa pun rasa takut kita akan hilang seketika ketika kita melihat orang yang kita sayangi terluka dan andai itu terjadi pada keluarga kita tentunya kita akan segera menolong meski rasa takut menghampiri. Jadi apa salah nya jika kamu mencoba.'' dan ternyata semua perkataan Rayhan benar.
Teringat kembali ingatan nya saat pertama kali ia menolong Aleta yang terkena goresan pisau di tangan nya. Tak ada siapapun di rumah saat itu dan Aleta ingin sebuah apel membuat ia membawa pisau yang hanya Aleta tahu ia mampu membelah nya dan tanpa sengaja pisau itu menggoreskan luka yang cukup dalam hingga tangan nya banyak mengeluarkan darah.
Kayla yang masih belum bisa mengatasi rasa takut nya namun entah kenapa hati nya menjadi tergerak bahkan dengan cepat ia membawa Aleta ke arah wastafel untuk mencuci luka nya dan segera mengobati luka Aleta bahkan tak ada sedikitpun rasa takut dalam dirinya saat itu membuat ia yakin jika perkataan Rayhan memang benar.
__ADS_1
Kayla adalah wanita yang berasal dari keluarga berada meski begitu besar keinginan dari kedua orang tua nya menjadikan ia sebagai dokter memang harus nya ia manfaatkan karena banyak orang yang terbilang kekurangan namun karena tekad yang kuat mereka memaksakan keinginan nya terwujud bahkan banyak orang yang mempunyai mimpi besar seperti dirinya harus terkubur dalam karena ekonomi yang menjadi titik permasalahan beda dengan dirinya otak yang sejak kecil sudah cerdas, keluarga yang mendukung apa lagi yang membuat impian besar keluarganya tak terwujud kini Kayla tahu betul arti sebuah harapan.
Harapan yang kini muncul dari dalam diri Kayla hanya untuk menjadi orang yang mampu menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan nya.
Lama Kayla menatap bangunan itu hingga kini ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar bayangan sosok Rayhan serasa masuk kembali dalam pikiran nya bahkan ia terasa melihat jelas sosok lelaki yang telah lama menghilang dalam hidup nya entah kemana ia berada hanya saja ia sangat merindukan sosok Rayhan yang selalu memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.
''Ayo kay.'' Ucap mbak Susi yang jalan lebih dulu. Kayla pun segera berjalan mengikuti langkah kaki mbak Susi yang sudah sedikit lebih jauh dari nya.
Kayla sedikit mempercepat langkah nya namun langkah itu terhenti saat ia melihat sekilas wajah lelaki yang baru saja masuk dalam pikiran nya itu.
Ya Rayhan kan orang nya ia merasa jika sosok lelaki yang baru saja berjalan dengan cepat ia merasa jika itu adalah Rayhan.
''Kay ayo.'' Ucap mbak Susi karena ia melihat Kayla malah berdiam jauh di belakang nya.
''Aku terlalu memikirkan kak Rayhan kali ya.'' Kayla berkata dengan pelan ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal ia merasa jika dirinya terlalu larut dalam lamunan nya sehingga melihat orang lain seperti sosok Rayhan.
''Kayla?'' Sapa seseorang berbaju putih yang sama dengan nya.
''Ya.'' Jawab Kayla singkat.
Kayla sedikit membatin. ''Apa benar ini adalah dokter Alvin yang di maksud oleh ayah.''
''Hey. Ko malah melamun.'' Lelaki itu tampak sangat tampan dengan wajah putih bersih dan perawakan yang tinggi membuat Kayla seolah tersihir.
Kini ia tertawa karena melihat Kayla masih diam.
__ADS_1
......................