
Rayhan bergegas pergi dan segera menuju tujuan nya dimana ia akan menemui pak Arif.
Rayhan mendorong pintu itu dan segera masuk, ia menatap wajah lemah lelaki yang sudah sangat banyak membantunya bahkan mungkin akan sangat sulit membalas budi kebaikan pak Arif.
Rayhan mulai berjalan mendekati pak Arif. Ia melihat wajah pak Arif yang terbaring tak berdaya dengan selang infus yang menancap pada lengan nya.
Pak Arif yang belum lama tidur ia kembali terbangun saat merasakan sentuhan di tangan nya. ''Han,'' Pak Arif membuka matanya dan mendapati Rayhan yang tertunduk di hadapan nya.
''Maaf pak, aku mengganggu istirahat mu.'' Ucap Rayhan merasa bersalah.
Pak Arif hanya tersenyum mendengar perkataan lelaki dewasa yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri.
''Tidak han, saya sudah sedari tadi istirahat.'' Kekeh pak Arif berusaha menutupi keadaan nya yang terlihat tidak baik-baik saja.
''Kenapa pak Arif gak bilang sama aku, jika bapak memang sedang sakit.'' Rayhan mengeluarkan unek-unek nya bagaimana pun Rayhan sendiri menganggap pak Arif seperti ayah nya sendiri kasih sayang Rayhan pada pak Arif tak jauh berbeda seperti pada ayahnya.
Pak Arif kembali tersenyum meski dengar kekhawatiran Rayhan.''Tidak apa-apa, saya hanya sedikit kelelahan,''
Mereka kembali terdiam Rayhan menemani pak Arif mungkin hanya sebentar meski ia ingin sekali tinggal di sini tapi tugasnya sudah mengikuti menanti nya karena sudah tiga hari ia cuti.
''Han, kamu anak yang baik kamu rela mengorbankan waktu kamu hanya untuk saya,'' Lirih pak Arif.
Terkadang pak Arif merasa sangat senang jika berada di dekat Rayhan ia merasa jika Rayhan seperti anak nya yang telah lama di panggil sang Maha pencipta.
''Kenapa bapak bilang seperti itu, justru saya merasa malu karena saya belum bisa membalas budi bapak, bahkan mungkin saya tidak akan pernah bisa membalas budi pada bapak.'' Ucap Rayhan dengan perasaan tak enak nya.
Pak Arif menarik napasnya panjang ia ingin sekali mengutarakan keinginan nya namun ia juga sangat khawatir jika ia telah mengutarakan nya Rayhan akan berpikir yang tidak-tidak.
Terlihat raut wajah kesedihan pada pak Arif membuat Rayhan ikut merasa sedih entah kenapa seolah ada ikatan batin di antara mereka.
''Han, jika saya meminta sesuatu pada kamu atas dasar saya sayang sama kamu, saya telah menganggap kami bahkan seperti anak sendiri saya harap jika suatu kenyataan itu adalah benar adanya,''
__ADS_1
Rayhan yang mendengar penuturan dari pak Arif ia memulai mencerna apa yang ia katakan meski ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan nya, ''Maksud bapa?''
Pak Arif kembali menarik napasnya panjang dan menatap lekat-lekat wajah Rayhan.
''Menikahlah dengan Nasya, saya harap kamu bersedia menikah dengan Nasya dan jika kamu tidak bersedia saya harap kamu tidak menjauh dari saya, karena saya sudah menganggap mu sebagai anak saya sendiri Han,'' Arif menepuk lengan Rayhan dengan pelan.
Rayhan hanya bisa diam ia pun bahkan tidak menyangka atas permintaan pak Arif yang begitu berat untuk nya,
''Pak, ada banyak lelaki yang lebih pantas dari saya, saya merasa jika saya sangat tidak pantas untuk menemani putri bapak,'' Ucap Rayhan lembut berharap pak Arif tidak salah mengartikan perkataan nya.
''Han, kamu adalah lelaki yang sangat baik, saya tahu itu dan saya yakin Nasya akan bahagia jika hidup bersama kamu, kamu tahu mungkin tak akan lama lagi saya tinggal di dunia ini saya akan merasa tenang jika kamu mau menerima Nasya sebagai pendamping hidup mu.''
Lagi-lagi Rayhan tersentak ia tak mampu berkata bahkan perkataan pak Arif seperti sebilah pedang yang menusuk dadanya, bukan bukan karena ia tidak dapat menerima Nasya namun ia merasa sakit hati amat dalam ketika pak Arif mengungkapkan jika dirinya tak akan lama lagi di dunia ini.
Rayhan mengangguk patuh meski tanpa suara menandakan ia menerima Nasya menjadi istrinya.
Pak Arif meniti kan air mata bahagia nya, ia sangat bersyukur Rayhan menerima permintaan yang mungkin itu adalah permintaan terakhirnya.
''Saya janji pak, saya akan membahagiakan Nasya dan berusaha menjadi suami yang baik kelak,'' Ucap Rayhan tulus membuat pak Arif tak hentinya berlinang air mata bahagia nya.
...
Waktu telah berlalu Rayhan pun pamit dari hadapan pak Arif karena ia harus segera pergi ke kota dimana ia kini bertugas.
Rayhan kembali menutup pintu kamar rawat dengan hati-hati dan berjalan dengan langkah berat nya.
Pikirannya kini seakan terus berputar dengan ingatan permintaan dari pak Arif membuat ia menjadi sedikit tidak fokus hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita hingga ia terjatuh.
''Maaf, maaf saya tidak sengaja.'' Ucap Rayhan yang segera menyamai posisinya dengan wanita yang kini memegangi kepalanya.
''Apa ada yang terluka?'' tanya Rayhan serius menatap sosok wanita yang terlihat tidak asing di hadapan nya.
__ADS_1
Kayla yang masih sedikit pusing karena ia belum juga merasa baikan namun karena mengingat mbak Susi membuat nya tidak sabar ingin segera menemui nya hingga ia akhirnya bertabrakan dengan seseorang yang suaranya tak asing di pendengaran nya.
Kayla mendongak dan mendapati wajah khawatir lelaki yang kini masih sangat ia cintai.
''Kak Ray,'' lirih Kayla membuat Rayhan seketika ia merasa gugup.
''Kamu baik-baik saja kay?'' Rayhan bertanya dengan sedikit canggung.
Kayla hanya menggeleng dan tersenyum. ''Tidak apa-apa kak, Aku hanya sedikit pusing karena rasa takut ku kembali datang.'' Jujur Kayla membuat senyum Rayhan seketika mengembang.
''Kenapa bisa begitu, ya sudah sebaiknya kamu istirahat dulu di ruangan mu, ayo biar aku antar.'' Seru Rayhan menawarkan diri.
Rayhan pun menuntun Kayla karena ia khawatir Kayla terjatuh karena memang jelas terlihat Kayla masih terlihat pusing.
Rayhan mengantar Kayla ke ruangan nya dan mendudukkan nya di kursi.
''Aku tinggal dulu ya, kamu hati-hati.'' Ucap Rayhan tulus ia hendak kembali setelah mendapat anggukan dari Kayla.
Rayhan yang baru saja membalikan badan nya ia sedikit terkejut saat melihat Alvin kini sedang diam mematung di ambang pintu.
Rayhan tersenyum ke arah Alvin meski terlihat wajah tak suka Alvin yang ia perlihatkan.
''Tadi aku tidak sengaja menabraknya hingga ia jatuh sepertinya istrimu masih pusing.'' Ungkap Rayhan menjelaskan namun sepertinya Alvin sedikit tidak suka dengan kedekatan dirinya dengan Kayla.
''Ada banyak wanita di rumah sakit ini, kenapa kamu yang harus membantunya, Kayla istri aku dan kamu tahu itu dan satu lagi tak sepantasnya seorang lelaki menyentuh wanita yang bukan mahram nya.'' Tegas Alvin membuat Rayhan hanya bisa diam.
''Mas,'' Kayla berusaha menengahi kesalahpahaman diantara mereka karena memang kenyataan nya seperti itu.
''Maaf saya tahu saya salah, saya hanya menolong nya permisi.'' Rayhan pun segera keluar dari hadapan sepasang suami istri itu karena ia tidak ingin memperkeruh keadaan.
......................
__ADS_1