
Seminggu sudah berlalu sejak kehamilan Kayla di ketahui dirinya sudah banyak dilarang beraktifitas banyak di luar. Bahkan bukan hanya Alvin yg super over protektif namun dari keluarga mamahnya dan juga maminya tak kalah sama membuat Kayla begitu merasa terkekang.
Kehamilan Kayla begitu mengundang perhatian dari keluarga mamahnya terutama Kayla memang sangat membutuhkan dukungan untuk saat ini.
Alvin tidak ingin juga jika di saat kehamilan nya ini Kayla menjadi terlalu lelah memikirkan ibunya yg masih belum pulih.
Kayla sendiri sudah berhenti bekerja hanya Alvin saja yg bekerja karena ia sangat takut jika Kayla bekerja akan membuat ia semakin stres.
''Mas berangkat dulu ya sayang kamu jangan kemana-mana, dan satu lagi makan yg banyak biar baby tumbuh dengan baik.'' Sahut Alvin dan langsung mencium kening istrinya.
Kayla hanya tersenyum mendengar ucapan dari sang suami ia pun mengangguk dan mengusap lembut pipi Alvin yg terlihat begitu selalu mempesona saat ia berada di hadapan nya. ''Aku akan baik-baik saja mas tidak perlu cemas.''
Alvin tersenyum simpul ia kembali mendaratkan kecupan singkat pada Kayla. Kayla hanya diam ia bahkan selalu menikmati setiap sentuhan dan ciuman dari Alvin tak ada lagi rasa canggung yg hinggap dalam hatinya ia bahkan seakan selalu merindukan sosok suaminya jika ia tidak ada.
''Ya sudah aku pergi dulu ya, sayang ayah pergi dulu ya kamu baik-baik sama mommy.'' Ucap Alvin di depan perut rata milik Kayla. Namun tingkah Alvin membuat Kayla tertawa kecil namun tak dapat di pungkiri jika saat ini ia begitu bahagia dengan kehamilan nya.
''Assalamu'alaikum.'' Salam Alvin dan kembali mencium puncak kepala sang istri sebelum akhirnya ia pergi.
''Waalaikum salam.'' Balas Kayla dengan menyungingkan senyum nya hingga beberapa saat mobil Alvin yg ia bawa menghilang dari penglihatan nya menghilang barulah Kayla masuk ke dalam rumahnya.
Kayla menatap seisi rumah yg kini tampak sepi tak ada lagi teman bicaranya membuat Kayla merasa sedikit kesepian ia pun beralih ke ruang keluarga dan merebahkan dirinya di kursi.
Teringat kembali akan ibunya yg sudah seminggu lamanya belum ia temui meski terakhir kali ia mendapatkan perlakuan yg tidak nyaman namun tetap saja rasa rindu itu tetap muncul.
''Apa aku ke rumah sakit aja ya, lagian hanya sebentar aku hanya ingin melihat kondisi ibu.'' Gumam Kayla pelan.
''Mbak? apa bibi tanak sekarang saja bunganya atau nanti mbak tanam sendiri?'' tanya bi Ida yg tiba-tiba muncul membuat Kayla yg sedang berpikir sedikit terkejut.
''Astaga bi, bibi mengagetkan saya.'' Sahut Kayla dengan mengusap dadanya.
Ia begitu kaget karena memang dirinya begitu fokus melamun untuk memikirkan untuk menemui ibunya.
''Maaf mbak, lagian mbak Kayla dari tadi bibi panggil gak jawab ya sudah bibi samperin.'' Cetus bi Ida yg merasa bersalah.
Kayla hanya memijit kepalanya ia sedikit pusing namun akhirnya mengangguk karena memang ia sendiri yg salah karena tidak bisa mendengar panggilan bi Ida.
__ADS_1
''Ya sudah biar kita tanam bareng aja bi lagian aku mau tanam sendiri.''
Kayla pun berdiri dan segera beralih ke halaman depan.
Halaman yg memang cukup luas itu kini semakin terlihat terawat semenjak Kayla berada di sana. Kayla memang sangat menyukai bunga meski begitu ia tak jarang juga menanam sendiri.
Ya walau terkadang sedikit merepotkan bi Ida karena sikap Kayla yg tidak ingin tangan nya kasar karena memegang tanah langsung ia selalu menggunakan sarung tangan karet seolah ia akan merawat pasien berbeda dengan bi Ida yg dengan langsung saja memegang media tanam.
''Bi tolong ambilkan pohon aglonema ya.'' Teriak Kayla karena ia mengira jika bi Ida tidak mengikuti langkah kakinya.
''Ini mbak udah saya pegang.'' Kekeh bi Ida yg menyodorkan tanaman aglonema kesukaan Kayla.
''Eh aku kira bibi gak ikut.'' Sahut Kayla dengan tawa kecilnya.
Ia pun mengambil media tanam dengan perlengkapan nya yg sudah lengkap. Kayla mengatur posisi nya dengan sendiri ia membuat taman yg terlihat begitu tersusun dengan rapih dengan di padukan dengan pot bunga warna coklat dan batu-batu alam yg terkesan sangat alami.
.
.
Alvin pun segera turun dari dalam mobilnya ia berjalan dengan langkah santai menuju area rumah sakit.
Alvin segera masuk ke dalam ruangan nya setelah jam kerjanya memang lima menit lagi akan tiba.
Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Kayla karena kini ia sudah sampai.
Sejak Kayla resmi keluar bekerja Alvin akan selalu menghubungi Kayla jika ia sudah sampai dan akan menelpon Kayla saat dirinya sudah selesai bekerja.
Baru juga ia mengambil ponselnya dan kini sedang mengetik sebuah pesan pada Kayla kalau dirinya saat ini sudah sampai sebuah ketukan pintu mengalihkan dirinya.
''Ya masuk.'' Jawab Alvin dan segera mengirimkan pesan singkat itu pada Kayla. Namun tatapan nya masih belum beralih pada ponsel miliknya karena memang jam kerja nya belum mulai.
Seseorang di balik pintu itu segera masuk tanpa di beritahu suster ia pun tersenyum lebar saat mendapati sosok lelaki yg sudah sangat lama ia rindukan.
Sosok lelaki yg sangat ia cintai meski dirinya sudah tidak bisa ia gapai lagi.
__ADS_1
''Ada apa sus?'' tanya Alvin yg masih belum menyadari kehadiran wanita yg kini sudah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Wanita itu berjalan dan mendekati meja kerja Alvin namun di sekian langkahnya Alvin sadar dan ia sedikit kaget karena kehadiran Nasya yg sudah berada di hadapan Alvin.
''Nasya.'' Ucap Alvin dengan pelan.
Ia sungguh terkejut atas kehadiran wanita yg sudah lama tak ia temui sejak pertemuan mereka di rumah sakit waktu itu dan kini mereka kembali bertemu.
Nasya tersenyum kecil namun bulir bening seketika jatuh dengan sendirinya membuat Alvin sedikit kaget.
''Duduklah.'' Kata Alvin yg masih sedikit kaget namun akhirnya ia berusaha mengatasi keterkejutan nya ia pun mengalihkan dirinya agar Nasya duduk.
Nasya hanya mengikuti perintah Alvin ia pun terus saja menangis membuat Alvin kebingungan dengan sikap wanita yg kini berada di hadapan nya.
Alvin hanya bisa mengusap lembut punggung wanita itu berharap jika Nasya bisa berhenti menangis karena sungguh ia bingung melihat wanita yg tidak lain mantan kekasih nya itu menangis secara tiba-tiba di depan dirinya.
''Nasy, kamu bisa cerita sama aku kamu kenapa tapi tidak sekarang nasy, maaf karena sebentar lagi jam kerja aku.'' Ucap Alvin dengan lembut.
Alvin tidak ingin jika tugasnya terbengkalai karena apa yg terjadi ia mempunyai tugas yg begitu penting. Namun Nasya malah menggeleng membuat Alvin menghembuskan napas beratnya.
Alvin segera berlalu ia pun menyuruh seseorang agar menggantikan jam kerjanya untuk hari ini.
.
.
Beberapa menit telah berlalu Alvin masih saja setia menunggu wanita itu membuka suara hingga kini tiba saatnya Nasya terdengar lebih tenang ia bahkan sudah tidak menangis lagi.
''Ada apa Nasy, kamu bisa berbagi sama aku jika memang masalah kamu sangat berat.'' Ucap Alvin dengan tulus.
Nasya masih diam namun kini jemari lentiknya meraih sebuah kertas yg memperlihatkan hasil USG jika dirinya sedang hamil.
Alvin meraih kertas itu ia menatap heran karena dirinya tidak mengetahui pernikahan Nasya dengan Rayhan bahkan ia tidak pernah tahu kabar dari wanita yg sudah sangat lama ia putuskan saat itu.
''Hamil?'' tanya Alvin dengan raut wajahnya yg sedikit kaget.
__ADS_1
Ia pun memijat pelipisnya karena ia merasa tidak mengerti kenapa Nasya hamil dan siapa ayahnya lalu kenapa ia mendatangi dirinya pasalnya ia tidak pernah sekalipun menyentuh dirinya bahkan wanita manapun tak pernah.
...****************...