
Berkali-kali ia menarik napasnya panjang. Bahkan Nasya terduduk di kursi yang berada tidak jauh dari sana ia jelas mendengar semua percakapan Alvin di balik telepon yang ia rasa itu adalah istrinya.
''Kamu benar mencintai dirinya al, bahkan kamu dengan sangat mudahnya melupakan aku.'' Lirih Nasya dengan derai air mata yang terus saja jatuh seolah ia merasa sangat sakit kenyataan pahit yang lagi dan lagi harus ia terima.
Nasya memang harus sadar jika memang Alvin kini bukan lagi kekasihnya dan itu memang wajar jika Alvin lakukan pada istrinya tapi tetap saja hatinya tak sekuat itu mendengar segala perhatian dari lelaki yang sangat ia cintai tak semudah membalikan telapak tangan nya.
Nasya berusaha menutupi kesedihan nya ia segera keluar kembali dari rumah sakit menuju taman kecil di samping rumah sakit untuk menenangkan dirinya karena tidak mungkin ia akan menemui ayahnya dalam keadaan seperti sekarang.
...
Alvin segera pergi ke ruangannya menyimpan barang bawaannya dan langsung keluar kembali karena ia memiliki tugas untuk melihat kondisi sang kakak ipar.
Namun mengingat pertemuannya dengan Nasya barusan ia merasa heran karena sudah dua kali ia bertemu dengan Nasya di rumah sakit.
''Apa ada seseorang yang ia temui atau memang dirinya sakit?'' gumam Alvin memikirkan wanita itu.
Hingga beberapa saat ia melamun akhirnya ia tersadar saat ketukan di balik pintu menyadarkan dirinya.
''Masuk!'' perintah Alvin dari dalam membuat seseorang di balik pintu itu segera masuk kedalam.
''Maaf dok, jadwal pemeriksaan atas nama Susi---''
Belum juga suster itu berkata Alvin segera bangun dan mengangguk. Dengan cepat Alvin segera berjalan ke luar untuk memeriksa kakak iparnya.
Terlihat ibu mertuanya dan juga mas Bima yang sedang menanti kedatangannya.
''Dimana Kayla?'' tanya sang mamah mertua karena ia mengetahui seharusnya Kayla lah yang memeriksa keadaan mbak nya.
Alvin mengulas senyum dan menyalami tangan sang mamah mertua sebelum akhirnya ia berjalan ke arah mbak Susi.
''Kayla sedang sakit mah, sudah lebih baik tapi sepertinya Kayla butuh istirahat.'' Ucap Alvin sambil membenarkan alat medisnya.
Alvin kembali fokus pada pemeriksaan hingga akhirnya ia sudah selesai.
__ADS_1
''Mbak Susi bisa pulang siang ini keadaan mbak sudah baik dan juga bayi mbak akan kami periksa dulu sebelum di bawa pulang.'' Alvin berkata pada mbak Susi dan juga yang lain nya.
Mas Bima tersenyum dan mengangguk bahkan terlihat jelas dari wajahnya jika Mas Bima bahagia mendengar berita yang Alvin berikan.
''Ya sudah mas, mah Alvin keluar dulu.''
Alvin berjalan keluar setelah semua selesai.
Namun baru saja beberapa langkah ia keluar dari kamar mbak nya. Buka sudah memanggil dirinya.
''Al!'' Teriak Bima yang segera menyusul adik iparnya.
Seketika Alvin menoleh dan diam di tempat untuk menunggu kakak iparnya.
Kini Mas Bima berada di hadapan Alvin ia memperhatikan adik iparnya dan sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu.
''Ada apa mas?'' Alvin bertanya dengan memposisikan dirinya.
''Engga aku cuma mau bilang makasih karena kamu telah menolong istri aku Al, dan satu lagi,'' ucap Bima menatap Alvin dengan seksama.
''Aku titip Kayla sama kamu, aku percaya jika Kayla akan bahagia bersama kamu.'' Bima mengulas senyum dan menepuk bahu sang adik ipar.
Alvin sendiri ia tersenyum mendengar ucapan sang kakak ipar. ''Tentu mas, aku akan menjaga Kayla semampu ku dan berusaha membahagiakan dirinya.'' Ucap Alvin yakin.
''Ya sudah aku pergi dulu ya mas, ada beberapa pasien yang menunggu ku.'' Alvin tersenyum dan berjalan kembali meninggalkan Bima yg masih diak di tempat.
Ada rasa bahagia yang kini tumbuh dalam dirinya. Alvin sangat senang ketika kakak iparnya percaya pada dirinya jika ia akan bisa membahagiakan sang adik nya.
Alvin sendiri ia akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Kayla dan semoga saja pernikahan mereka akan berjalan seperti sebagimana mestinya.
Alvin tak hentinya tersenyum bahkan wajahnya sangat berseri seolah ada cahaya yang berbinar terpancar di wajahnya.
Ada dua kebahagian yang jelas ia rasakan. Yaitu mendapat kepercayaan sang kakak dan juga Kayla yang menerima dirinya sebagai suaminya itu adalah anugrah yang sangat besar baginya.
__ADS_1
Alvin kembali bekerja ia melewati beberapa orang yang sedang menunggu dirinya.
Alvin mulai masuk ke dalam ruangan yang terdapat wanita yang kini sedang terbaring lemah.
Dengan tenang Alvin mulai membantu ibu itu dan mulai memeriksa keadaanya.
...
''Nasy,'' Lirih pak Arif saat menyadari kedatangan putrinya ia melihat putri nya sedikit berbeda bahkan terlihat jelas jika putri nya habis menangis.
Nasya menyungingkan senyum nya pada sang ayah yang masih terbaring lemas membuat rasa sakit itu muncul bahkan ia seakan takut jika sewaktu-waktu ayahnya akan di panggil oleh sang pemiliknya.
Air mata yang belum lama hilang kini malah jatuh kembali. Nasya tak sekuat itu ia sangat sakit melihat kondisi ayahnya yang belum juga membaik.
''Kenapa sayang?'' Arif mengelus pipi putrinya yang kini malah menangis.
''Tak perlu sedih seperti itu ayah akan sembuh lagi.'' Pak Arif dapat merasakan sakit yang kini putrinya rasakan.
Nasya tak bisa berhenti menangis ia seakan kehilangan arah tak ada lagi yang bisa membuat dirinya tersenyum bahkan laki-laki yang begitu ia sayangi seolah akan segera pergi bagaimana bisa tersenyum.
''Aku takut yah, aku takut jika ayah akan meninggalkan aku, aku hanya akan sendirian.'' Ucap Nasya dengan derai air mata yang terus mengalir dengan deras membuat pak Arif seakan sakit sekali.
Pak Arif dapat merasakan kesedihan yang putrinya rasakan. Ia sendiri bahkan selalu berdoa untuk kesembuhan nya ia tidak ingin meninggalkan putri nya seorang diri.
''Nasy, kamu mau kan menikah dengan Rayhan? hanya Rayhan yang ayah percaya akan menjagamu ayah ingin melihat kamu bahagia dengan lelaki yang tepat sebelum---'' pak Arif tak melanjutkan perkataan nya saat tangan Nasya memegang tangan nya berharap jika ayahnya tidak melanjutkan perkataan nya.
''Nasya mah ayah, Nasya akan menikah dengan Rayhan asalkan ayah sembuh Nasya akan menuruti semua keinginan ayah.'' Nasya kembali menghapus jejak air matanya.
''Makasih nak, makasih telah membuat ayah sedikit tenang.'' Pak Arif mengusap puncak kepala Nasya dengan lembut.
Beberapa menit telah berlalu Nasya kini sedang tertidur di samping ayahnya. Pak Arif mengulas senyum nya ia sangat bersyukur jika putri nya bersedia menikah dengan lelaki pilihan nya sendiri.
Pak Arif menghubungi orang kepercayaan nya untuk segera memberitahu Rayhan agar ia segera kembali ke kota jakarta.
__ADS_1
Pak Arif ingin jika putri nya menikah dalam waktu dekat mengingat kondisi nya yang langsung drop ia sangat takut jika Nasya tidak berada di tangan orang yang tepat.
......................