
Rayhan segera pergi dari hadapan Nasya ia berjalan tak tentu arah ia seolah tak bisa mengendalikan dirinya untuk saat ini.
Hatinya begitu hancur di saat dirinya melihat kenyataan di depan matanya jika dirinya akan segera menjadi seorang ayah di saat itu pula ia mendapatkan luka yg berkali-kali menyakiti hatinya.
Ia seolah tak bisa lagi membendung perasaan nyeri dalam dadanya. Seolah ada belati yg kini tengah menancap dalam dadanya. Bukan karena penolakan atau bahkan karena cinta yg belum terbalaskan tapi karena kenyataan pahit jika saat ini ia harus berjuang tanpa adanya pijakan lagi.
Dulu ia berjuang meski ia tahu Nasya tidak mencintai dirinya tapi ia masih bisa berusaha tapi di saat ini sungguh bukan hal yg mudah baginya. Ia merasa menjadi seorang lelaki pengecut bagaimana tidak jika saja amarahnya memenuhi ini kepalanya sungguh ia sendiri tidak akan sanggup lagi tapi ada malaikat kecil yg kini harus ia jaga ia tidak bisa membiarkan malaikat kecil itu terlahir tanpa seorang ayah terlebih di saat ini saja Nasya sangat membutuhkan dirinya.
Rayhan menghempaskan tubuhnya pada kursi yg berada di taman tempat ini memang selalu menjadi tempat yg sering ia singgahi di saat penatnya aktivitas dirinya.
Ia menatap langit siang yg begitu terik tak bisa lagi ia merasakan indahnya pemandangan di saat dirinya seperti ini. Sinar itu bahkan terlihat seperti api yg sedang membakar perasaan nya.
Ngilu sekali bahkan ia merasa dirinya adalah lelaki yg paling sengsara dirinya saja saat sedang memperjuangkan Kayla harus berakhir dengan luka dan sekarang ia kembali merasa sakit tapi sakit hati karena Kayla tidaklah seberapa sakit hati karena Nasya sungguh membuat dirinya begitu hancur.
''Ya Allah kuatkan hamba aku tahu apa yg engkau tuliskan untuk ku memang itu adalah yg terbaik aku mohon semoga apa yg sedang terjadi hamba bisa melewati semua ini.''
"Dokter Rayhan!" panggil seorang perawat yg kini berlari ke arah dirinya.
Rayhan terkesiap ia sungguh kaget di saat ia sedang berdoa terdengar seseorang yg memanggil dirinya dengan keras.
Rayhan segera bangun ia sedikit terkejut karena perawat itu berlari menghampiri dirinya bahan terlihat kecemasan dari wajah perawat itu.
"Istri dokter Rayhan.'' Jelas perawat itu dengan napas sedikit tersenggal senggal karena lari menghampiri Rayhan.
Mendengar sebutan istri tentu membuat Rayhan seketika lari dan segera masuk ke dalam bangunan besar itu bahkan suhu ruang itu terasa begitu dingin pikiran nya saja terasa begitu menerawang jauh banyak prasangka buruk yg kini berada di dalam benaknya.
Tak dapat di pungkiri jika saat ini dirinya begitu cemas hingga ia merasa dirinya kini terasa begitu lemah tak berdaya saat mendapati istrinya kini sedang ditangani oleh beberapa perawat dan dokter yg saat ini sudah merawat dirinya.
__ADS_1
Dokter wanita itu pun berbalik dan kini menatap tajam pada atasnya. Terlihat tatapan kecewa yg sungguh terlihat jelas dari sorot matanya.
"Aku tak habis pikir sama kamu Ray, tapi untung saja istri kamu dan janinnya tidak apa-apa. Hanya saja kamu perlu menjaga kehamilan istri kamu jangan biarkan dia stres dan satu lagi yg harus kamu tahu kalau kandungan istri kamu itu sangat lemah ia juga mempunyai fobia pada darah. Sebenarnya aku tidak tahu apa yg terjadi tapi untung saja aku melihat istri kamu yg hendak keluar dari ruangan kamu tapi dia malah kesakitan dan terjatuh tapi karena ketakutan nya pada darah membuat jabang bayi itu hampir tidak selamat." Imbuh dokter kandungan itu yg tidak lain adalah bawahan nya.
Rayhan menatap tak percaya sungguh ia menyesal karena telah meninggalkan Nasya begitu saja padahal ia sudah sangat tahu jika saat itu istrinya terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Rayhan pun mendekati Nasya yg kini masih terlelap ia bahkan masih belum sadar diri.
"Maafkan ayah sayang, kamu baik-baik di sana sama bunda kamu ya sayang maaf karena ayah bunda kamu jadi banyak beban ayah janji ayah tidak akan lagi menyakiti hatinya." Janji Rayhan di depan perut rata milik Nasya.
Sungguh Rayhan tak bisa membendung air matanya.
Ia tidak bisa lagi menahan beban berat yg sulit ia tanggung sendirian. Meski begitu ia harus kuat ia harus sabar menghadapi Nasya karena jika tidak mungkin bukan hanya itu kenyataan pahit kehilangan sang buah hati itu adalah yg paling ia takutkan.
Rayhan menghembuskan napas berat nya ia menatap wajah pucat sang istri mungkin keputusan yg terbaik ia harus kembali ke kota kelahiran sang istri ia juga tidak ingin jika hubungan dirinya dengan Nasya akan berakhir sampai disini mungkin juga setelah mereka kembali Nasya sedikit akan terkendali jika dirinya berada di dekat sang ayah mertua.
Harapan nya kini hanya satu ia dapat bahagia bersama Nasya hanya itu yg ia harapkan untuk saat ini meski ia sendiri tidak tahu apa Nasya akan berubah pikiran atau tidak.
Mata Nasya kini terbuka ia melihat sosok lelaki yg kini sedang tersenyum senang mendapati dirinya tersadar namun tak sedikitpun menggoyahkan hatinya lelaki itu sangat ia benci saat ini sungguh ia begitu benci pada lelaki yg kini telah menjadi suaminya.
Andai waktu dapat berputar kembali ia ingin sekali menentang perjodohan yg telah terjadi cintanya masih tetap sama ia masih tetap mencintai sosok lelaki yg masih menempati hatinya ia masih sangat mencintai Alvin lelaki yg paling sangat ia cintai sejak dulu bahkan saat ini.
"Kamu sudah sadar sayang, maaf....''Lirih Rayhan dengan perasaan bersalah ia menggenggam tangan Nasya dengan erat.
Nasya hanya diam ia menarik kembali tangan nya tanpa suara bahkan tak sedikitpun ia mantap wajah sendu suaminya.
.
__ADS_1
.
" Mas....'' Teriak Kayla dengan keras memanggil Alvin.
Alvin yg baru saja hendak ke dapur untuk membawa cemilan kesukaan istrinya ia pun melangkah cepat.
"Mas!'' Teriak Kayla lagi.
''Ya ampun by, kamu itu buat aku repot aja lagian kenapa sih kamu pakai males segala apa-apa gak mau ambil sendiri.'' Kesal Alvin ia pun segera membawa cemilan kesukaan sang istri dan beranjak naik ke kamar nya.
Alvin mendorong pintu kamarnya dan melihat Kayla yg sedang tersenyum ke arah dirinya dengan senyum yg sangat manja membuat Alvin pun seketika tersenyum.
Entah mengapa melihat senyum istrinya seketika rasa kesalnya hilang seketika.
''Kamu teriak-teriak aja sih by, lagian aku baru juga turun ada apa?'' tanya Alvin.
Kayla terkekeh mendengar gerutuan sang suami entah mengapa melihat kekesalan sang suaminya membuat Kayla merasa senang.
"Gak apa-apa kok mas lagian mau aja panggil-panggil emang gak boleh?'' jawab Kayla yg langsung merebut snack kesukaan nya.
Alvin hanya menggeleng ia pun ikut menghempaskan tubuhnya pada kasur berukuran king size itu dan menatap heran sang istri.
Kayla menautkan alisnya ia merasa aneh karena kini malah Alvin menatap dirinya dengan tatapan tidak biasa. '' Ada apa?'' tanya Kayla dengan terus saja mengunyah makanan yg sedang ia pegang.
''Enggak aku merasa heran aja apa jangan-jangan kamu hamil ya by?'' sahut Alvin tanpa sadar.
...****************...
__ADS_1