Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Kekecewaan Yang Meledak


__ADS_3

"Sial bagaimana bisa orang seperti dia akrab dengan orang penting macam Pak Bambang," gerutu Rudy setelah mereka meninggalkan pabrik.


"Sepertinya anak itu telah mengalami perubahan dalam hidupnya, sorot matanya terlihat begitu tegas dan tidak kalah berwibawa dengan Kak Keysa, dia sudah bisa dianggap sukses dari pada dulu ketika dia berani mendekati Rena," ucap Daniel.


"Apa maksudmu, apa aku tidak terlihat setegas dan berwibawa seperti si adik perempuan menyebalkan itu dan anak kampung macam orang tadi," ucap Rudy yang merasa tersinggung dengan perkataan dari Daniel.


"Tidak kak, bukan itu maksudku, sudahlah jangan bahas itu dulu, lebih baik kita fokus ke tujuan kita sebelumnya," timpal Daniel tidak mau memperpanjang pembahasan tentang Rehan dan Keysa lagi, karena takut membuat kakaknya tersinggung.


"Memang kenyataannya kau itu tidak tegas apalagi berwibawa, kau itu hanya punya arogan yang tinggi saja," ucap Daniel dalam hati.


Sementara Rena yang berjalan kaki, ketika kedua kakaknya sedang berdebat di dalam mobil sambil mengikutinya dari belakang, "Sial kenapa pula dia tak ingin naik ke mobil, padahal dia bisa saja menunjukan arahnya dari dalam, apa sifat dusunnya sudah sangat melekat sehingga membuatnya malu naik mobil mewah, memalukan..." Gerutu Rudy kembali bagai gadis abg yang baru saja datang bulan.


Tidak lama kemudian merekapun melihat Rena berhenti melangkah, Apa ini tempat tinggalmu sekarang?" Tanya Daniel setelah menurunkan kaca mobilnya


"Iya, ayo turun silahkan kita bicaranya di teras saja dan lebih baik mobilnya agak ke pinggirkan saja, takut ngalangin pengguna jalan yang lain," ucap Rena, Daniel pun memarkirkan kendaraan roda empatnya agak lebih pinggir dari bahu jalan yang membelah kampung Tegal Bungur tersebut.


"Silahkan duduk dan tunggu sebentar, Rena ambilkan minum dulu," ucap Rena lalu pergi melangkah menuju pintu suara derit kayu terdengar ketika dia berjalan rumah panggung tersebut.


"Tidak usah, kami bawa sendiri," cegat Rudy.


"Lagian kamu tak mau terkena diare setelah meminum air yang pastinya menggunakan tungku kayu bakar, pasti airnya bercampur asap," lanjutnya, Rena yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala heran.


"Baiklah.." Timpal Rena sambil kembali duduk

__ADS_1


"Sebenarnya ini gubuk siapa Ren? Tidak mungkin kan pemuda yang bernama Rehan itu memberi gubuk untukmu?" Tanya Daniel penasaran sambil menatap keseluruhan bangun tersebut.


"Sudahlah itu tidak penting, jangan banyak basa-basi lebih baik kita langsung berbicara ke intinya saja," seru kesal Rudy karena Daniel malah menanyakan bangunan yang menurutnya tak layak ini.


"Ya baiklah sepertinya Kak Rudy sangat terburu-buru karena punya kesibukan tidak kalah penting juga, jadi kedatangan kami kemari untuk ini," ucap Daniel sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.


"Apa ini?" Tanya Rena yang agak belum tau maksud sebenarnya.


"Baca saja dulu," timpal Daniel.


"Tsk lama, biar aku yang jelaskan," seru Rudy lagi.


"Kami kesini karena masalah hak waris yang Papa inginkan untuk diberikan padamu yaitu menyuruh kami memberikan masing-masing satu milyar padamu," ucap Rudy mulai menjelaskan.


"Ya meski papa memberi solusi untuk memberikannya secara bertahap, tapi kami berdua masih kurang setuju selain dari dulu kau itu tidak pernah membantu bisnis keluarga kita, meski pernah sekali itupun dengan terpaksa yang mana malah berujung pada kehancuran bisnis yang sudah dirintis oleh Papa sejak lama," Lanjut Rudy yang malah seperti menyudutkan Rena.


Padahal merekalah yang memaksakan pernikahannya dengan Niko dan menyuruh pindah ke negeri orang dan dirinya diminta untuk mengurus bisnis yang ada di negara tersebut, padahal sebelum peristiwa itu perusahaan yang Rena pimpin mengalami kemajuan yang signifikan, tapi itu semua malah dihancurkan oleh kelakuan pria yang mereka anggap baik dalam segalahal tersebut.


"Juga alasan paling penting adalah kami takut, ketika kami menyerahkan semua hakmu sebesar yang ditentukan oleh Papa, kami takut kau akan dimanfaatkan hartanya saja oleh suamimu kelak," Ucapnya lagi.


"Dan karena itu untuk mencegah hal tersebut, jadi kami berencana memberimu 30% dari yang Papa ajukan pada kami, bagaimana apa kau setuju?" Timpal Daniel pada Rena yang masih menggengam kertas yang diberikan oleh kakaknya.


"Tidak itu bukan sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan karena ini juga menyangkut keberhasilan keluarga kita nantinya," sela Rudy.

__ADS_1


Rena kembali memandangi kertas yang digenggamnya, kemudian menatap kedua saudara laki-lakinya itu, sedetik kemudian dia menggelengkan kepala. "Tidak Rena tidak akan-," ucap Rena tapi perkataannya langsung dipotong oleh Rudy yang tidak terlihat suka dengan keputusan yang hendak Rena ucapkan.


"Apa maksudmu tidak hah? Sudah bagus kami bersedia memberimu 30%, apa kau tak tau sesulit apa perjuangan kami untuk memulihkan bisnis keluarga kita," seru Rudy yang nampak mulai emosi.


"Tssk.... Keluarga kita? Keluarga kalian berdua mungkin?" Kak Rudy bilang sesulit perjuangan kalian, apa kak Rudy tau sesulit apa perjuangan Rena ketika terlantar di negeri orang? Yang mana menyaksikan anak sendiri yang masih balita terbunuh dan diri ini juga hampir digagahi secara bejad sebelum terbunuh, sampai akal sehatku tercabut dalam kepalaku"


"Membuatku terlunta-lunta dan menjadi gila, itu semua karena kalian dengan egoisnya menjodohkan aku dengan lelaki bejad macam Niko, yang kalian semua anggap dari keluarga yang bermartabat dan terpandang, tapi nyatanya Badjingan," seru Rena tersengal yang memuntahkan amarahnya yang sempat dia pendam selama ini.


"Lalu apa kalian datang menolongku waktu itu? Apa kalian datang mencari dan menjemputku setelah kejadian tersebut, tidak kan? Kemana kalian saat itu? Apakah kalian sedang berebut kue, berusaha mendapatkan bagian paling besar?"


"Asal kalian tau, nyatanya orang yang menolongku adalah orang yang kalian hina dan pandang sebelah mata hingga sekarang, dan tampa peduli rasa sakit hatinya dari hinaan yang kalian ucapkan didepan khalayak ramai, dia tetap menolong dan membawaku pulang ke tanah air tercinta ini,"


"Kalian bilang kalian sekarang dalam kesulitan, kalau begitu, ingat dan bila perlu rekam pernyataan ini, mulai aku tidak akan mengambil sepeserpun harta warisan dari kekayaan papa dan ambil saja semuanya," seru Rena lantang dan diapun langsung menambahkan kata-kata didalam kertas tersebut, lalu langsung menandatanganinya.


"Sekarang sudah selesai kan? Jadi lebih baik kalian pergi sekarang juga, bukankah kalain itu orang yang sangat sibuk?" ucap Rena sambil menyerahkan kertas itu kembali pada Daniel.


"Kalau begitu terimakasih, maafkan kami dan jaga dirimu baik-baik," ucap Daniel terbata-bata.


"Tidak usah sok baik dan peduli, cepat pergilah," timpal Rena penuh amarah dan kecewa, Rudy hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi, bagai seorang pemain catur yang terkena skakmat berkali-kali, tapi meski begitu sepertinya tidak ada raut sesal diwajahnya.


#Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like atau komen, biar Author tambah semangat updetnya bisa beri hadiah berupa bunga ataupun Vote.


#Biar gak bosen nungguin part selanjutnya, mimin ada Rekomendasi novel karya dari Kak Rahayu, yuks segera cekidot

__ADS_1



__ADS_2