
"Selamat pagi semuanya," seru Rehan pada anak dan istrinya sambil mencium kening mereka satu persatu yang tengah duduk dimeja makan.
"Iiiiyuuuuhhh.... Mulut Abi bau jigong, ilernya masih nempel dipipi juga maen cium-cium Rina," seru protes Rina sambil menghindar.
"Masa sich, hah hah, enggak ah,buktinya Umi gak protes tuch waktu Abi cium keningnya kamu aja yang lebay, iyakan Umi?" ucap Rehan dan bertanya pada Zahra sambil menghembuskan napasnya pada telapak tangan.
"Kalau mau jujur sich, betul apa yang dikatakan Rina," jawab Zahra tersenyum.
"Wahahahhaha..... Tuch benerkan, Umi kan sangat sayang sama Abi, jadi gak tega bilangnya," tawa lepas Rina begitu puas.
"Ouh gitu ya... Tapi emang putriku yang cantik ini gak sayang sama Abi?" Tanya Rehan pada Rina.
"Hmmz.... Kasih tau gak ya?" Timpal Rina belaga pilon.
"Hiks..Hiks... Ohhh Tuhan sungguh tega anakku ini udah gak sayang sama Abinya sendiri, aduh nian sakit rasanya hati nich," seru Rehan berdrama queen ala-ala korea.
"Sudah, sudah, mandi dulu sana jangan main drama-dramaan segala, pagi hampir usai jangan Mentang-mentang udah jadi bos ya, seenaknya, bangun hampir kesiangan" timpal Zahra sambil mendorong tubuh suaminya itu.
"Siap bu Bos, tapi ini kan hari minggu bolehlah sedikit bermalas-malasan," ucap Rehan dan langsung melangkah ke kamar mandi, memang dalam beberapa minggu ini hampir setiap hari dirinya sehabis menjalankan sholat shubuh akan tertidur kembali dan bangun sekitar jam tujuh pagi.
Karena minggu-minggu ini dia sangat sibuk sekali selain ruko yang selalu tidak sepi setiap harinya, juga produksi kerupuknya semakin berkembang, selain itu dirinya dengan Pak Bambang telah mulai perluasan dan memperindah tempat pariwisata yang berada di wilayah mereka, yang kini sudah di beli dan pindah hak milik atas nama pak Bambang juga dirinya, dengan menambah beberapa spot-spot permainan dan tempat berfoto yang baru.
----
"Jadi hari ini kamu ketempatnya Rena?" Tanya Bu Alfarizi pada anaknya yang tengah menyiapkan sepatu olahraga.
__ADS_1
"Iya bu, sekalian mau melihat perkembangan pembangunan rumah disana, tapi agak siang paling juga, soalnya pagi ini mau ngajak Amira lari pagi, sudah terlanjur janji, hehehe..." Jawab Nathan, memang dirinya telah membeli lahan yang cukup luas untuk dijadikannya tempat tinggal ketika sudah berumah tangga bersama Rena, bahkan dia sudah membeli lahan pesawahan dan ladang meski dia belum paham tentang ilmu pertanian.
"Amira sudah bangun belum bu?" Tanya balik Nathan, tapi sebelum ibunya menjawab seruan gaduh terdengar dari arah kamar.
"Selamat pagi Omah juga Papi tercinta," seru Amira sambil berlari.
"Selamat pagi juga, aduh kelihatannya seneng banget nich cucu Omah hari ini," ucap Bu Alfarizi yang senang melihat kecerian cucunya itu.
"Iya dong Omah, kan mau lari pagi keliling komplek bareng Papi terus mau ketemu sama Mommy Rena," timpal senang Amira, lalu dia pun mulai menggunakan sepatu yang sudah disiapkan oleh ayahnya.
"Widiihhh.... Yang udah gak sabar pengen ketemu Mommy nya, segitu kangennya kah? padahalkan baru minggu kemaren dech kamu kesana, jadi iri nich sama Mommy Rena yang selalu dikangenin sama cucuku ini, kamu gak kangen sama Omah?" ucap Bu Alfarizi pura-pura memasang wajag sedih
"Hehee... Jangan sedih gitu dong Omah, Omahkan tiap hari ketemu, Kalau ke Omah bukan kangen lagi tapi tersayang super duper sayang," jawab Amira membuat Bu Alfarizi sangat senang mendengarnya.
"Emang ya Pih?" Tanya Amira polos.
"Iya," jawab Nathan dengan wajah serius sambil memasangkan sepatu pada putrinya tersebut.
"Kalau begitu kita bergegas, Dah Omah," seru Amira melambaikan tangan dibarengi dengan Nathan.
"Iya, hati-hati dijalan," timpal Bu Alfarizi.
"Kenapa perasaanku malah gak enak ya, semoga saja tidak akan terjadi apa-apa," gumamnya dalam hati yang telah terhinggapi rasa cemas secara tiba-tiba.
Nathan dan Amira pun telah meninggalkan teras rumah, sesekali bertegur sapa dengan tetangga yang juga melakukan kegiatan yang sama diminggu pagi ini.
__ADS_1
"Kita lewat sebelah sana dulu ntar baru ke taman alun-alun komplek untuk peregangannya," ucap Nathan.
"Oke, let's go," timpal Amira, mereka sengaja mengambil jalan arah berlawanan dengan orang lain yaitu jalan yang melewati kavling-kavling yang belum dibangun dan masih ditanami bunga-bunga saja.
Tapi ternyata itu adalah keputusan yang salah, karena ketika mereka sudah meninggal rumah sebuah mobil yang baru saja tiba dan hendak berhenti didepan rumahnya, "cepat ikuti mereka, tapi secara perlahan ya," seru orang tersebut yang tidak lain adalah Sella memerintahkan supirnya untuk membuntuti Nathan dan putrinya.
"Anda serius Non?" Tanya gugup si supir ketika mendengar perintah tak terduga dari majikannya itu.
"Cepat, kalau kamu tidak mau akan saya bilangin pada Ayah," ucap kesal Sella pada supirnya yang masih ragu.
"Ta, tapi ini kan menjadi tindak kriminal, dan kita pasti akan masuk penjara," timpal si supir yang masih takut akan konsekuensi dari perbuatannya nanti.
"Bodoh lakukan saja apa yang saya katakan, Tenang saja, saya yang akan tanggung jawab lagian disini terlihat masih sepi," seru Sella yang mulai geram dan tanpa bisa membantah lagi si supir pun langsung menambah kecepatan mobilnya.
"Waahhh... Lihat Papi ada pohon mangga yang buahnya sudah matang ditangkainya," seru Amira senang dan hendak mengambilnya.
"Jangan, sembarangan ngambil sayang, itu milik orang ntar sakit perut lagi," ucap Nathan menahan tubuh mungil Amira yang hendak melangkah ke pohon mangga tersebut.
"Ouh... Begitu ya, Papi kita jalan santai aja yuks? Soalnya kaki Amira udah kerasa pegal," ucap Amira, keduanya pun melanjutkannya dengan jalan biasa tidak seperti sebelumnya, tapi mereka tidak menyadari ada bahaya yang mendekat, hingga Nathan menoleh tapi sayang itu sudah terlambat.
BRAAKKK
"Arrrghh.." Teriak Nathan yang terpental cukup jauh dan kepalanya menghantam pinggiran trotoar yang langsung tidak sadarkan diri, tapi dia sempat mendorong tubuh Amira untuk menyelamatkannya agar terhindar dari kendaraan tersebut.
"Papiiiii...." Teriak Amira yang melihat ayahnya tidak sadarkan diri, sementara dirinya sendiri tidak luput dari luka, karena tersungkur akibat dorongan dari ayahnya, sedangkan mobil yang mencelakakan mereka sudah tancap gas untuk kabur.
__ADS_1