Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Beraktifitas Kembali


__ADS_3

Terlepas dari segala hal yang telah kita lalu, waktu adalah apa yang beranak-pinang dalam pikiran kita, yang akan bermetamorfosa menjadi sebuah kenangan yang tertinggal dibelakang kita, dan akan kita tengok kembali sebagai pengingat bahwa kita pernah ada disana, dan sebagian akan menjadi sebuah angan, sebuah harapan yang akan kita kejar untuk masa depan nanti.


Membutuhkan waktu sebulan lebih setelah ke pergian mamanya kepangkuan Sang Khalik, untuk Rena bisa beraktifitas kembali dalam menjalani kegiatan seperti biasanya, yaitu sebagai seorang bidan yang bertugas di sebuah Puskesmas dan Bidan desa yang bertempat di salah satu desa di daerah bogor bagian timur, dan untungnya kepala Puskesmas juga Pak Jalal selaku Kepala Desa Padasuka memaklumi hal tersebut.


"Selamat pagi Bidan Rena," Sapa Bidan senior Umi Suryani selaku kepala pimpinan Puskesmas tempat dimana Rena mengabdi.


"Selamat pagi juga Bu," balas Rena dengan penuh sopan, ini adalah hari pertama dia mulai bekerja kembali, jadi untuk hari ini dia tidak akan langsung bertugas di desa Padasuka.


***


Sunyiku, sempitnya luang dan ruang.


Tumpahkan rindu dengan menggubah huruf-huruf menjadi bait-bait puisi.


Ku tulis engkau sebagai rembulan selepas senja berganti malam panjang.


Hiasi langit semesta, seolah aksara adalah Purnama merindu.


Untuk malam kesekian kalinya, Rehan tengah berada di sebuah rumah yang tempatnya paling ujung diantara rumah-rumah lain, sambil memandang ke arah pegunungan yang diselimut gelapnya malam, meski pada tanggal-tanggal tertentu bulan akan nampak sempurna, seperti yang terjadi malam ini.


"Rehan, temani orang tua renta ini ngopilah, dari pada setiap malam kau hanya bengong memandang gunung yang tidak akan lari kemana itu," Seru Aki Darja sambil membawa dua gelas kopi beserta singkong rebus yang masih panas, terlihat dari kepulan asap yang keluar dari tanaman yang termasuk dalam keluarga umbi-umbian tersebut.

__ADS_1


Ya sudah beberapa malam Rehan berkunjung ke Rumah Aki Darja, hanya sekedar numpang bengong saja, tapi sang empu rumah memakluminya jadi dia hanya menemaninya saja, bahkan benar-benar menemani tanpa mengobrol satu patah katapun.


Dia pun menghampiri Aki Darja, karena dia tidak merasa enak hati kalau dia tidak menerima tawaran sang tuan rumah.


"Kau tau Rehan, obat yang paling mujarab adalah waktu, karena saat semuanya terasa berat untuk dilalui waktu akan mengikis secara perlahan semua itu, meski begitu kita juga harus ingat, karena dalam kitab suci Al-Qur'an yang terkandung dalam surat Al-Asr sudah tercantum, waktu juga akan membuat kita merugi karena abai akan nasihat-nasihat yang telah di sampaikan oleh Baginda Rasulullah, lalu di wariskan pada Parasahabat, tabi'in dan ulama," Ucap Aki Darja memberi nasihat pada Rehan sambil menyelipkan kutipan makna dari salah satu surat yang terdapat dalam Al-Qur'an, Rehan hanya bisa mengangguk karena dia sedikit paham dengan ucapan bijak dari adik Kakeknya itu.


"Jadi sang waktu juga akan perlahan menyembuhkan luka yang tengah dialami Bidan muda tersebut, sepanjang dia memberi kesempatan hatinya untuk selalu menerima keadaan yang telah ditentukan Sang Maha Pengatur Waktu, karena segala hal telah tertulis rapi sejak jaman azali dan setiap dari kita hanya bisa menjalani semuanya," Lanjut Aki Darja sambil mulai mengangkat gelas kopi yang mulai menghangat.


***


Sang mentari melepaskan sinar keemasannya, dari teduhnya embun pagi buta, udara nyaring hembuskan perasaan kaku yang membungkus kalbu, Jiwa-jiwa makhluk Fana mulai bertebaran memulai peran dalam hidup, untuk mengais asa agar mampu melanjutkan harap yang tertunda karena terbuai mimpi sesaat.


Deru mesin motor terdengar nyaring di depan teras rumah sederhana namun asri dan tak jauh di dekatnya terdapat sepeda dengan keranjang yang terpasang di depannya, sosok dua bersaudara tengah bersiap-siap untuk melakukan aktivitas masing-masing.


"Iya, emang kenapa?" ucap sang kakak dan balik bertanya.


"Nanti kalau pulang tolong beliin Kinan es campur yang terdapat disebelah kiri gerbang masuk kampung tersebut ya," seru Kinan sambil tersenyum.


"Iya, iya, ntar kakak beliin, sekarang mah buruan pergi ke sekolah nanti kesiangan lagi," timpal sang kakak yang tidak lain adalah Rehan.


"Siap Komandan," seru Kinan sambil memberi hormat ala serdadu tempur pada kakaknya, hampir sebulan lebih Kinan kini sudah masuk sekolah menegah pertama yang jaraknya lumayan jauh, maka dari itu Rehan berinisiatif membelikan Kinan sepeda agar dia tidak terlalu cape karena berjalan kaki, meski begitu terkadang Rehan sendiri yang mengantarnya menggunakan motor tapi untuk kali ini dia tidak bisa mengantarnya, karena ada orderan service di kampung tetangga yang lumayan jauh dan berlawanan dengan arah sekolah tempat Kinan belajar.

__ADS_1


"Umi kami pergi dulu, Assalammualaikum," seru mereka berdua yang sudah bersiap berangkat ke tempat masing-masing.


"Iya, hati-hati di jalan, Waalaikumsalam," seru ibu mereka sambil berjalan ke arah teras, dan kemudian kedua adik-kakak itu mencium telapak tangan sang orang tua tunggal mereka dengan penuh hormat dan kasih sayang.


***


Di ujung jalan persimpangan, seorang perempuan berseragam perawat, berjalan dengan langkah yang begitu anggun menelusuri bahu jalan tanpa mengenal lelah, entah mengejar apa atau mencari seseorang yang pergi darinya tanpa dia menyadari bahwa orang itu sempat memberi kesan dan pesan untuknya, karena dia terlalu larut dalam kesedihannya. Dan saat ini dia seperti sedang mencari yang belum sempat berujung temu dalam beberapa hari.


"Rena," Seru seseorang dari arah belakang yang cukup membuatnya menghentikan langkah dan melirik kearah sumber suara yang begitu dia kenali.


"Kang Rehan," balasnya dengan penuh riang tak tertahan, lalu menghambur peluk, bak peluru rindu menghujam kalbu, kini Rena semakin yakin dengan cinta yang dia pilih, karena perhatian yang selalu dicurahkan padanya selama ini, bahkan ketika ibunya tiada dia jua yang menyadarkan dan memberi semangat untuk bangkit, dan dengan alasan tersebut Rena berbicara pada ayahnya, bahwa dia tidak ingin dijodohkan dengan Niko karena dia sudah mempunyai tambatan hati bahkan jauh sebelum perjodohan itu dilakukan.


"Kapan, kembali? kok gak bilang-bilang? kalau tau mah aku jemput biar kamu tidak perlu jalan kaki begini," ucap Rehan setelah melepas peluk dari sang kekasih.


"Eh, baru dua hari lalu, gak apa-apa itung-itung menelusuri desa dengan santai," jawab Rena.


"Hmmmz... Kayak lagu ninja hatori saja dong, melewati lembah sungai mengalir indah bertualang," seru Rehan menyanyikan lagu dari salah satu anime masa kecilnya, ketika dia menumpang nonton televisi di rumah tetangga.


"Ya, memang hidup ini petualangan yang panjang nan sukar ditebak bukan Kang?, bahkan kita gak tau jalan mana lagi yang akan kita tempuh setelah melewati persimpangan dan hal apa yang menunggu di depan sana nantinya, tapi terimakasih karena Kang Rehan selalu ada dikala saya terpuruk, jadi mendapatkan cinta dan sayangmu adalah sebuah perjalanan yang paling mengejutkan dan salah satu anugerah terindah, dan ketika saya menoleh ke belakang alangkah jauh jarak yang telah aku tempuh dengan berbagai macam rintangan, namun bagai obat pelipur lara Kang Rehan selalu menyemangati dan mengisi kekosongan hati yang sempat terluka ini," gumam lirih Rena, namun masih dapat terdengar oleh Rehan.


"Aku juga bersyukur, karena bertemu dengan mu dalam perjalanan hidup ku, ini adalah jalan terindah yang tengah saya tempuh, apalagi melihatmu kembali tersenyum,-"

__ADS_1


"wikwiw, Oi jangan bermesraan di jalanan, bikin ngiri aja orang yang mau nganan, hahaha..." teriak seseorang yang lewat menggunakan mobil bak terbuka, mengagetkan mereka dan ternyata orang itu tidak lain adalah Rijal, dia tertawa lepas melihat keduanya terperanjat kaget akibat teriakan bahkan sengaja betul membunyikan klakson, dalam hati Rehan hanya bisa mengumpat dasar teman gak ada akhlak.


__ADS_2