
"Pagi ini kita kemana Bi?" Tanya Rena setelah selesai membantu Bi Ijah menanak nasi.
"Kalau Bibi sich mau jual hasil kebun yang dipetik kemarin sore," Jawab Bi Ijah sambil membereskan beberapa kresek besar berisi hasil kebun yang ada dibelakang rumahnya, seperti cabe, terong, daun singkong dan lain sebagainya.
"Wah.... Banyak juga ya Bi, Rena temenin ya Bi?" Ucap Rena mengajukan diri, karena dirinya sudah cukup lama tidak pergi ke pasar bareng Bi Ijah.
"Eh... Bukankah Neng Rena hari ini masuk kerja?" Timpal Bi Ijah mengingatkan.
"Iya masuk kerja, tapi hari ini Rena masuknya sehabis dzuhur bagian shif dua," jawabnya yang langsung membantu memasukan sayuran yang akan dijual ke pasar.
"Masuk siang? Tumben ada masuk siangnya?"
"Iya soalnya permintaan dari konsumen sudah mulai sangat banyak, mungkin karena sekarang banyak jajanan yang menggunakan bahan dasar krupuk kali ya? Dan juga kata Kang Rehan penjualan kerupuknya sudah mencakup lebih dari lima kecamatan, jadi dia menambahkan jumlah karyawan lagi dengan sistem dua shift," ucap Rena menjelaskan.
"Ouh... Perkembangan bisnis Nak Rehan cepat sekali ya, padahal belum genap satu tahun, sungguh pemuda yang penuh potensi, beruntung sekali yang menjadi istrinya-," ucap Bi Ijah tapi dia langsung menghentikan perkataannya ketika melihat Rena termenung, membuat dirinya tidak enak hati.
"Maaf Neng," ucap pelan Bi Ijah.
"Eh, kenapa harus minta maaf segala hubungan saya dan Kang Rehan mah udah lama usai, itu hanya bagian dari masalalu, Rena hanya berpikir ternyata gak salah pilih ketika waktu itu saya meminta Zahra untuk menjadi pendamping Kang Rehan, karena bukankah suksesnya seorang suami itu karena ada dukungan dan doa dari seorang istri dibelakangnya, jadi saya turut senang dengan pencapaian keluarga mereka saat ini dan mudah-mudahan saya sama Nathan juga menjadi pasangan yang seperti mereka yakni saling melengkapi dan saling mendukung," ucap Rena.
"Aamiin," seru Bi Ijah mengamini, lalu setelah segala sesuatunya sudah selesai, keduanya pun langsung bergegas menuju pasar dengan membawa hasil kebun untuk dijual.
__ADS_1
Sementara dikediaman Pak Wijaya semua Asisten rumah tangganya terlihat sangat panik, bahkan salah satu diantara mereka berlarian menuju rumah Daniel yang memang berjarak paling dekat dengan rumah tersebut.
"Halo halo Non Keysa, Ce... Ceepat kemari Non, Ba... Baa... Pak Non, Bapak," ucap ART tersebut dengan terbata-bata.
"Ada apa? Ngomong yang jelas dong, ada apa dengan Papa?" Tanya Keysa sedikit membentak pada ARTnya itu.
***
PRAANGG
"Kenapa Neng, gak apa-apakan?" Seru Bi Ijah sedikit tergopoh-gopoh mendekati Rena yang terlihat juga kaget karena gelas yang dia pegang tiba-tiba jatuh.
"Gak tau Bi, tapi Rena gak apa-apa kok Bi," timpal Rena sambil menghela nafas untuk menetralkan rasa kagetnya, tapi meski begitu entah kenapa hatinya sangat merasa gelisah.
"Ada apa Mia, tumben sekali kau menghubungi ku sepagi ini?" Tanya Rena pada Mia.
"Ren kau harus pulang ke ibukota dulu Sekarang," ucap Audy yang menjawab telponnya karena Mia tidak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Pulang? Apa maksudmu-," timpal Rena meminta penjelasan, tapi perkataannya terpotong oleh Rehan yang baru saja datang.
"Assalamualikum...." Seru Rehan yang terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." Jawab mereka berdua bersamaan.
"Eh Nak Rehan ada apa kok pagi-pagi begini datang kemari, ada hal penting apa?" Tanya Bi ijah.
"Iya Bi ada hal yang sangat penting," jawab Rehan, sementara Rena hanya terdiam perasaannya semakin tidak karuan, apalagi Audy yang menelponnya ketika mendengar suara Rehan juga malah ikut terdiam tapi ponselnya tidak dia matikan.
"Ada apa Kang?" Tanya Rena agak ragu, karena takut akan hal yang dia tidak ingin dengar.
"Ren, kamu harus sabar ya-,"
"Ada apa, cepat katakan yang sebenarnya dan jangat buat aku semakin gelisah," ucap Rena yang tidak sabaran.
"Ayahmu Pak Wijaya telah meninggal dunia tadi pagi," jawab Rehan, seketika itupun air matanya tak dapat lagi dia bendung dan sekujur tubuh Rena terasa sangat lemas bagai semua tulang-tulang disekujur tubuhnya telah dilolosi, sementara Audy yang mendengar Rehan telah mengatakan hal sebenarnya, beberapa detik kemudian dia mematikan sambungan telponnya.
"Hiks... Hiks..."
"Yang Sabar Neng," ucap Bi Ijah sambil memeluk tubuhnya, meski Bi Ijah masih tidak bisa melupakan perbuatan Pak Wijaya pada dirinya dulu, tapi tetap saja diapun merasa sangat sedih mendengar berita tersebut apalagi dia melihat Rena sudah tergugu menangis karena kepergian ayahnya itu,
Meski dari dulu dia dan ayahnya itu suka sekali berdebat karena berbeda pendapat dengannya, bahkan Pak Wijaya itu dulu selalu seperti tidak peduli padanya, bagai menganggap dirinya anak tiri saja, meski dalam pertemuan terakhirnya kala acara tunangannya dengan Nathan sebulan yang lalu, sekarang ketika Ayahnya itu telah pergi untuk selamanya, seperti ada sepotong hati yang hilang dalam dirinya.
#Mari tinggalkan jejak dengan cara like or coment, atau biar mimin semangat upnya bisa kasih bunga atau vote.
__ADS_1
#Dan Biar gak jenuh nungguin part selanjutnya mimin ada rekomendasi karya yang tidak kalah keren dari Author senior. Yuks segera cekidot.