Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Ujian Menjelang Pernikahan part 2


__ADS_3

"Dokter sebagai ucapan terimaksih, kami sekeluarga mengundang anda makan malam bersama disalah satu restoran bintang lima nanti malam, saya harap anda berkenan hadir," ucap Pak Darman ayahnya Sella mengundang Nathan makan malam bersama, setelah melihat kondisi kedua kaki putrinya sudah lebih baik dari hari ke hari, karena bisa berjalan kembali secara normal, meski masih tidak diperbolehkan untuk berjalan cepat.


"Tidak usah repot-repot Pak Darman, ini memang sudah menjadi kewajiban saya," ucap Nathan mencoba menolak secara halus.


"Tidak perlu sungkan Nak Nathan, kami sangat berharap kedatangan kamu," timpal istri Pak Darman yang bahkan tidak memanggilnya Dokter lagi, seperti tengah menjalin hubungan kekeluargaan saja.


"Sella juga memohon buat Dokter Nathan untuk datang ke acara makan malam, Pliissss..." Ucap Sella dengan raut wajah memelas, Nathan yang memang orangnya tidak tegaan langsung mengannguk tanda menyetujuinya.


"Terimakasih Dokter.." Seru Sella yang reflek memegang tangan Nathan saking gembiranya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, karena masih banyak pasien yang menunggu di rumah sakit, nanti malam saya usahkan untuk datang" ucap Nathan dan beranjak pergi dari rumah megah tersebut, yang menurutnya tidak beda jauh dengan rumah megah keluarga Wijaya dulu.


"Terimakasih Bunda," ucap Sella setelah Nathan terlihat meninggalkan rumah mereka menggunakan mobilnya.


"Yakin nih cuman Bunda doang yang dapat ucapan terimakasih?" Timpal Pak Darman melirik Amira.


"Iya dech, makasih buat Ayah juga, pokoknya makasih udah mau nurutin permintaan Sella," ucap Sella yang merasa senang.


"Sama-sama sayang, karena apapun permintaanmu asalkan bahagia Bunda sama Ayah pasti turutin kok," timpal ibunya sambil mengelus lembut rambut sebahu putrinya itu.

__ADS_1


Memang sejak kecil Sella selalu dimanja oleh kedua orang tuanya, apapun yang dia minta pasti akan selalu dipenuhi yang mana membuat memiliki karakter keras kepala dan egois terhadap orang lain, karen setiap keinginannya harus selalu terpenuhi.


"Selamat malam Pak Darman, Bu darman, dan selamat malam juga Sella, kamu terlihat cantik sekali," sapa Nathan yang baru aja datang dan langsung memuji penampilan Sella, yang memang tidak bisa dipungkiri terlihat sangat cantik malam ini.


"Selamat malam juga Dokter, Terimaksih atas pujiannya, Dokter Nathan juga terlihat sangat gagah dengan setelan itu," ucap Sella wajahnya tersipu karena sangat senang mendengar pujian dari orang yang dia suka.


"Karena Dokter Nathan sudah datang, mari kita segera pesan makanannya," ucap Pak Darman dan langsung memanggil pramusaji restoran tersebut.


"Oke, saya pesan yang ini saja," ucap Nathan setelah melihat-lihat menu dalam buku.


"Oke, terimakasih, mohon ditunggu," ucap pelayan ramah dengan senyum komersil mengembang diwajahnya, karena memang dituntut harus begitu oleh bosnya agar pelanggan tidak kecewa.


"Wow... Jadi Dokter Nathan itu lulusan Universitas Melbourne ya? Hebat-hebat sekali, tidak salah-," seru Pak Darman tapi perkataannya terpotong oleh pelayan yang mengantarkan pesanan.


"Sudah-sudah, jangan ngobrol mulu, lebih baik kita makan dulu," timpal Bu Darman, lalu mereka mulai menyantap makanan yang sudah tersedia, hampir tak ada obrolan mereka fokus menikmati makanan tersebut, meski sesekali mengomentari dan memuji rasa setiap makanan mewah tersebut.


"Pak, anterin Bunda ke toilet yuk," ucap Bu Darman sambil memberi kedipan seperti sebuah tanda, setelah mereka menyantap hidangan yang sudah disajikan


"Hmm.. Baiklah, lagian Bapak memang pengen merokok," timpal Pak Darman mengikuti langkah istrinya.

__ADS_1


"Nak Nathan tolong jaga dulu putri ibu ya, Sayang sekaranglah waktunya kamu,"ucapnya pada Nathan dan berbisik pada putrinya sebelum pergi meninggalkan meja makan.


"Dokter apa benar, yang dikatakan Dokter Nathan tadi?" Tanya Sella memulai percakapan, karena selepas kepergian kedua orang tuanya suasana mendadak sedikit hening, karena Nathan masih mencerna maksud perkataan dari ibunya Sella.


"Perkataan yang mana?" Tanya balik Nathan tidak paham dengan maksud ucapan dari gadis yang usianya bertaut 12 tahun darinya.


"Benarkah saya cantik?" Ucap Sella to the poin, karena ternyata dia belum peka dengan ucapannya.


"Ouh... Itu benar sekali, kamu memang sangat cantik, pasti banyak lelaki yang mencoba mendekati kamu atau kamu sudah mempunyai seorang pacar?" Timpal Nathan, memuji kecantikan gadis yang ada dihadapannya, yang sialnya memanglah sangat cantik.


"Terimakasih, tapi Dokter salah, saya tidak mempunyai seorang pacar saat ini, karena kami baru saja putus sebelum kejadian naas itu menimpa saya," tutur Sella.


"Eh, kalau begitu mohon maaf atas perkataan saya tadi," ucap Nathan yang malah tidak enak hati, menanyakan hal tersebut.


"Tak apa, tapi Dokter maukah anda jadi pacar saya? Sejujurnya sejak pertama melihat Dokter, apalagi dengan perhatian lembut yang Dokter berikan pada saya akhir-akhir ini, membuat saya kagum dan jatuh hati pada Dokter," ucap Sella terus terang mengungkapkan isi hatinya.


"Hah, apa? Apa kamu gak salah ngomong?" Tanya Nathan terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis tersebut.


"Tidak Dokter, saya tak merasa salah dengan ucapan saya Dokter, saya mencintai anda dan keinginan saya adalah bisa menikah dengan Dokter Nathan setelah kelulusan saya nanti," jawab Sella membuat Nathan tidak bisa berkata-kata, karena untuk kedua kalinya dia mendapatkan ungkapan cinta oleh seorang perempuan selain ibunya Amira.

__ADS_1


__ADS_2