
Seiring berjalannya waktu yang merabat menggugat detik, menggurat kenang melalui hari yang begitu cepat berganti, Rehan kini tengah menikmati kehidupan baru dengan keluarga kecilnya yang penuh suka cita, canda dan tawa.
Meski kadang kala kesalah pahaman kecil yang terjadi, tapi itu dapat diselesaikan dengan pasti, tanpa menimbulkan amarah berhari-hari, dan itupun masih bisa dihitung dengan dua jari saja, karena saking tidak ada perselisihan yang berarti diantara mereka dalam menjalani rumah tangga, mungkin ini bisa disebut sebagai katagori keluarga harmonis sekampung Padasuka.
Kini tanpa terasa pernikahan mereka menginjak hampir empat tahun lebih dan Sang buah hati tercinta sudah berusia tiga tahun, putri yang selalu ceria dengan tingkah menggemaskannya, dengan sedikit kejahilannya yang dia tiru dari Ateunya yang kini sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
"Jangan ambil yang itu sayang, kita tidak akan membelinya, cepet taruh lagi," ucap Zahra pada Putrinya yang mengambil sendiri makanan ringan yang bergambar kentang yang sudah diiris, sepasang ibu dan anak itu memang tengah berada di sebuah supermarket yang berada disekitaran Pemda kabupaten tempat tinggal ibunya Zahra.
"Gak mau, Rina gak mau ngembaliinnya lagi sebelum Umi beliin," seru seorang anak yang sudah berusia tiga tahun lebih, yang bernama Karina Putri dan selalu dipanggil Rina.
"Jadi, bila kita tidak membelinya Rina gak mau menaruhnya lagi?" tanya Zahra sambil melirik anak perempuannya itu.
"Hmmz.." Zahra pun melihat-lihat rak berisi sayur-mayur disampingnya.
"Belikan, belikan, belikan ini untuk Rina," seru Rina seperti terdengar sebuah orasi yang selalu dilakukan oleh Mahasiswa ketika berdemo.
"Baiklah, Umi akan membelinya, tapi kita juga akan membeli ini, dan kamu juga harus memakannya karena baik untuk kesehatan tubuh," ucap Zahra sambil tersenyum licik, sambil memegang sebuah sayuran pare ditangannya.
"Baiklah, baiklah, Umi mundur secara perlahan dan taruh itu sekarang juga," ucap panik Rina, dan dia pun berlari kecil untuk menaruh cemilan yang dia ambil tadi.
"Hmmz... Apakah kau masih tidak suka dengan ini?" ucap Sang ibu, memasang raut wajah pura-pura sedih. Tapi putrinya tidak buru-buru menjawab perkataan dari Uminya tersebut.
"Nggak, itu mah paitnya kebangetan," serunya setelah terlihat seperti menaruh kembali cemilan pada tempatnya.
"Apakah sudah ditaruh kembali?" tanya Zahra memastikan.
__ADS_1
"Ya sudah," jawab singkat Rina, tapi raut wajahnya seperti terlihat berusaha menahan panik dan tawa diwaktu yang sama.
"Benarkah?" selidik Zahra, dan Rina pun mengangguk dengan cepat beberapa kali, seperti boneka mainan kecil yang ditempel di dekat kemudi.
Setelah Uminya berbalik, si kecil Rina tersenyum penuh kemenangan, dan secara sembunyi-sembunyi mencoba untuk memasukan cemilan yang dia bawa ke keranjangan yang dibawa oleh Uminya itu, tapi beberapa kali dia gagal memasukannya karena terlalu tinggi.
"Kenapa?" tanya Zahra yang aneh melihat tingkah putrinya itu.
"Eh, tidak apa-apa," ucap Rina pelan sambil menggelengkan kepalanya, sambil menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya, dan beberapa menit kemudian dia melihat peluang yang cukup besar dan dengan cepat Rina siap memasukan cemilan tersebut, karena pada waktu itu Uminya tengah jongkok dan menaruh keranjangan disampingnya.
"Ah lebih baik Umi belikan ini saja untukmu ya sayang," ucap Zahra sambil memegang cemilan yang sama persis seperti yang ada ditangan Rina.
"Eh, Seseriuskah?" tanya Rina terkejut, karena sedikit tidak percaya ucapan Uminya tersebut.
"Benar, karena Rina sudah mau menemani Umi berbelanja, lagi pula bila Umi tidak membelinya, mungkin kamu gak bakalan ngembaliin itu pada tempatnya, bukankah begitu?" ucap Zahra sambil melirik si putri kecilnya yang ternyata sangat aktif itu.
Memang Rehan beserta istri dan anaknya kini tengah berada di rumah mertuanya, karena kemarin baru saja mengantarkan adik kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa yaitu Kinan yang telah kuliah di salah satu universitas terkenal di daerah bogor.
Setelah membayar barang belanjaan, Zahra dan putrinya Rina bergegas kembali ke rumah, untuk menyiapkan masakan makan malam nanti malam.
"Sayang pegangan yang erat," seru Zahra pada putrinya yang berada dijok belakang.
"Iya Umi, gaskeun," timpal Rina sambil memeluk erat Uminya dari belakang, sesudah menstarter Zahra pun mulai menarik gas motor maticnya dan meninggalkan supermarket.
~
__ADS_1
"Assamualaikum," seru Zahra dan putrinya setelah mereka sampai di rumah neneknya Rina.
"Waalaikumsalam, eh udah pada pulang, belanja apaan nih?" seru Umi Zahra menyambut anak dan cucunya.
"Banyak dong Nek, lihat nih!" ucap Rina penuh riang sambil memperlihatkan cemilan yang dia bawa.
"Widiih... Boleh bagi Nenek juga gak?" tanya Umi Zahra pada cucunya.
"Boleh, tapi dikit aja ya, soalnya nanti gigi nenek sakit, hehee.." timpal Rina sambil tersenyum bergurau.
"Ah.. Masa sich gigi nenek kan masih kuat kok," ucap Umi Zahra.
"Umi, Kang Rehan belum kembali ya?" tanya Zahra setelah membawa belanjaannya ke dalam rumah.
"Belum kayaknya, emang belanja peralatannya dimana?" timpal Umi balik bertanya.
"Mungkin di gerai kartu perdana yang di kecamatan sebelah, kalau bapak belum pulang bu dari kantor kelurahaan?, Rina tolong ya kalau sudah makan cemilannya jangan lupa buang bekas plastiknya ke tong sampah ya " ucap Zahra, lalu dia berseru pada putrinya yang tengah duduk di sofa sambil menonton acara televisi.
"Iya Umi, makasih udah diingetin," timpal Rina setengah berteriak dan matanya masih saja asik fokus ke arah layar tv.
"Belum, tapi mungkin sebentar lagi pulang,"
"Dari pada menunggu lebih baik kita masak untuk makan malam nanti yuk Bu," ucap Zahra, dan Uminya pun mengangguk setuju.
Tepat menjelang adzan Magrib berkumandang, Rehan telah tiba di rumah mertuanya dengan membawa kartu perdana yang baru dan juga suku cadang handphone serta beberapa dus kabel beserta bohlam, yang dia taruh dijok belakang mobil.
__ADS_1
Memang dalam tiga tahun ini, toko elektronik sekaligus bengkel elektronik dan penjualan barang-barang elektroniknya tergolong sukses, hingga dia mampu membeli sebuah mobil meski dengan harga second dari hasil usahanya tersebut, bahkan sekarang dia mampu menyekolahkan adiknya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya.