
Jamilah.... Nanti kalau sudah menutup rukonya, bilamana teteh nggak ada di rumah, tolong serahkan saja kunci rukonya ke Umi Kinan ya," seru Zahra pada Jamilah sebelum dia meninggalkan ruko.
Setelah mendapatkan izin dari suaminya, Zahra langsung bergegas pulang ke rumah dan tidak lupa mengirim pesan pada teman-temannya dengan mengsharelock tempat tingggalnya saat ini.
Sementara ketika mendapatkan pesan masuk di ponselnya, Lena dan kedua temannya baru saja sampai diperbatasan antar kecamatan, yang berarti mereka hampir sampai di kecamatan tempat tinggal Zahra.
"Ouh... Sepertinya kita sebentar lagi akan sampai," ucap Lena sambil melihat pesan masuk meski tangan satunya masih mengendalikan stir mobil.
"Berapa menit lagi?" tanya Audy yang sudah tidak sabar ingin melihat temannya itu, yang memang sudah jarang sekali kumpul bersama sejak pernikahan Lena yang hampir satu tahun lebih itu.
"Sekitar 30 menit lagi sepertinya," timpal Lena.
"Jauh juga ya tempat tinggalnya Zahra, hampir sama ke daerah puncak saja, mungkin juga ini lebih jauh dari pada ke puncak," ucap Mia sambil mengusap pundak anaknya yang tengah tertidur di dekapannya.
Mobil pun terus melaju menyusuri jalanan yang tidak semulus ibukota, tapi meski begitu jalanan ini akan ramai ketika hari raya ataupun hari libur pergantian tahun, karena jalur ini selalu digunakan sebagai jalan alternatif apabila jalur puncak mengalami kemacetan parah.
Dan setelah memasuki pertigaan dan berbelok ke arah jalan yang ditujukan oleh google maps, mereka melewati pasar tradisional terlihat yang banyak kendaraan dibahu jalan membuat suasana sedikit mengalami macet.
"Adaww, Lena ada apa? kenapa kau nginjak rem secara mendadak, itu terlalu bahaya kau tau," seru Audy juga Mia yang kaget karena Lena tiba-tiba menginjak rem sekaligus.
"Woy... Yang bener kalau bawa mobil," seru maki seorang pengendara sepeda motor sambil melewatinya, yang mana hampir saja menabrak bamper belakang mobilnya.
__ADS_1
"Sorri Bang," seru Lena tidak kalah galaknya.
"Ada apa sich, loe nabrak kucing ya?" tanya Mia yang juga kaget atas tindakan dari temannya itu, dan lebih heran lagi Lena terus turun dari mobilnya sambil menatap ke arah jalan setapak yang mengarah ke pemetangan sawah dan yang terlihat banyak sekali rombongan ibu-ibu sambil membawa berbagai macam belanjaan.
Lena yang mengabaikannya terus berlari kecil ke arah jalan setapak dimana gerombolan ibu-ibu itu sedang bercengkrama, namun beberapa menit kemudian dia balik lagi dengan napas berat.
"Ada apa sich loe kayak lihat hantu saja?" tanya Audy lagi, setelah dia juga turun dari mobil.
"Tidak, bukan apa-apa, tapi gue kayak melihat Rena di rombongan ibu-ibu itu," ucap Lena setelah mengatur napasnya.
"Ah loe itu ada-ada saja, loe tau sendiri Rena kan bersama suaminya sudah menetap di negeri sakura, sejak satu hari pernikahan mereka lima tahun yang lalu," timpal Audy yang semakin heran pada temannya itu.
"Hmmz... Mungkin kau ada benarnya, jadi ayo kita lanjutkan saja, sebentar lagi kita sampai kayaknya," ucap Lena dan langsung kembali masuk ke dalam mobil, dan mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Zahra.
Neng kata pak Rt nak Rehan akan mendirikan pabrik kerupuk ya, di kampung kita?" tanya Bi Ijah yang sedang berjalan di depan Rena.
"Kurang tau juga Bi, tapi menurut ibu-ibu tetangga memang benar katanya akan ada pabrik kerupuk dan akan memperkerjakan orang sekitar kampung Tegal Bungur," jawab Rena sambil membawa keranjang belanjaan.
Mereka baru pulang dari pasar sehabis menjual sayuran yang dipetik di belakang rumah, dan kini tengah berjalan menuju arah pulang melewati jalan setapak, bersama rombongan ibu-ibu dan sebagian bapak-bapak yang juga menjual hasil ladang mereka, meski tak semuanya karena ada yang memang sengaja hanya belanja kebutuhan saja.
Rena tidak menyadari bahwa temannya yaitu Lena sempat melihat dirinya, meski Lena meragukan sendiri dengan apa yang di lihatnya tersebut, apalagi setelah mendengar teori dari Mia dan juga Audy, bahwa dirinya dikira masih berada di negeri sakura.
__ADS_1
"Hey itu Zahra," seru Lena setelah mereka sampai di kampung Padasuka, lalu dia membunyikan klakson dan membuka kaca mobilnya.
"Zahraaa..." seru Mia sambil melambaikan tangan, dan Zahra balas melambaikan tangan.
"Len, parkir sebelah sini aja," serunya dan mengarahkan mobil layaknya seorang tukang parkir profesional.
"Apa kabarnya plend," ucap Audy yang langsung memeluk sahabatnya yang sudah hampir satu tahun lebih tidak pernah bertemu dan satu persatupun melakukan hal sama.
"Alhamdulillah baik, kabar kalian bagaimana?" timpal Zahra dan balik bertanya.
"Alhmadulillah baik juga, yang lagi gak baik hanya kantongnya saja, hehehe..." ucap Audy Lena sambil tersenyum.
"Ah masa istirnya jendral sampai terkena Kanker," seru Zahra.
"Hah kanker? orang sehat gini masa dibilang kanker, bicaranya jelek banget," ucap Lena sambil cemberut, membuat anak-anak Audy dan Mia tertawa, karena melihat tingkah laku teman ibu mereka itu.
"Kantong kering maksudnya, hahaha.... Langsung cemberut gitu, Sensitif banget sich kayak pantat bayi, apa lagi dapet ya?" seru Zahra yang juga tidak kuat menahan tawa.
"Ayo kita ke rumahku dulu, biar kalian istirahat sebentar sebelum lanjut ke tempat wisata," lanjut Zahra yang mengabaikan muka cemberut temannya itu.
Ketiga temannya itu cukup terkejut dengan pemandangan rumah Zahra yang begitu menarik, meski sederhana tapi terkesan elegan dengan taman bunga dan pohon hias lainnya, juga kebun mini di samping rumah yang sangat tertata rapi, membuat suasana yang begitu menyejukkan.
__ADS_1