Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Pertanyaan Rina


__ADS_3

"Wah sekarang mah Bi Ijah ada yang bantuin ya," seru sang pemilik kebun, ketika Bi Ijah dan Rena telah sampai ditempat pengepulan daun pisang, terlihat ada dua mobil bak terbuka yang sedang terparkir di area tersebut.


Sebagian daun-daun pisang sudah berada dibak mobil, memang daun tersebut nantinya akan dijual kembali ke bandar daun yang ada di ibukota yang sudah memesan jauh hari sebelumnya dan daun pisang tersebut akan digunakan sebagai pengemas makanan, bahan pelengkap dekorasi dan pelengkap lainnya.


"Siapa ini Bi?" tanya sang pemilik kebun yang hampir satu generasi dengan Bi Ijah.


"Ah ini keponakan saya Pak Haji Harun, sekarang tinggal bareng sama saya," ucap Bi Parijah yang mengaku sebagai Bibinya Rena.


"Ouh... Cantik ya," gumamnya


"Bukannya ini mantan Bu Bidan desa kita," ucap seseorang yang mengenali wajah Rena, dan ternyata orang tersebut adalah Akbar yang bekerja sebagai kuli angkut daun yang sudah dijual pada pak haji Harun.


"Ouh... Iya yach, pantesan kayak pernah lihat, tapi apa emang beneran ponakannya Bi Ijah?" seru Haji Harun yang baru menyadarinya.

__ADS_1


"Iya Bi Ijah, sudah saya anggap Bibi bahkan orang tua saya sendiri," ucap Rena menimpali perkataan dari Haji Harun.


"Ouh... Begitu ya, Ini Bi Upahnya, ayo silahkan bawa saja ke sana biar si Akbar yang angkut ke bak mobil," ucap Haji Harun sambil memberikan uang pada Bi Ijah, dia tidak memperpanjang lagi pertanyaannya tentang Rena yang bisa tinggal bersama dengan Bi Ijah.


Setelah mendapat bayaran dan mataharipun mulai meninggi, Rena dan Bi Parijah pergi meninggalkan lokasi pengumpulan daun pisang untuk kembali ke rumah mereka.


***


Sementara di rumah Rehan, terlihat Rina setelah menyimpan tas kecilnya, dia mendekati sofa dan langsung menghempaskan pantatnya di sebelah Zahra yang tengah membaca koran harian yang dibeli di pasar kota kecamatan.


"Ada apa? apa Rina ingin menemani Umi membaca?" tanya Zahra, tapi Rina hanya menggeleng, lalu lengang sebentar, setelah beberapa menit, Rina kembali menoleh menatap Uminya yang tengah asik membaca berita dikoran.


"Kalau merasa ada yang ingin dibicarakan, ucapkan saja, jangan ragu gitu?" ucap Zahra kembali dan menaruh korannya diatas meja setelah melipatnya dengan rapi.

__ADS_1


Rina boleh menanyakan sesuatu Umi?" ucap ragu Rena, seolah dia tengah mengumpulkan keberaniannya terlebih dulu sebelum bertanya.


"Boleh saja, tentang apa emang?" tanya Zahra.


"Hmmz..." Rina menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya.


"Kenapa orang tua tante Rena tidak peduli terhadap apa yang terjadi pada tante bukankah kata Umi orang tua Tante Rena itu orang sangat kaya dan kenapa Umi serta Abi begitu sangat sayang pada tante Rena?" tanya Rina.


Zahra yang mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil putrinya itu sangat terkejut, berpikir anaknya itu seperti mempunyai kepekaan tentang orang-orang sekitar melebihi anak yang lebih dewasa darinya.


"Hmmzz... Terkadang pemikiran orang kaya raya itu sangat sulit untuk dipahami oleh orang-orang seperti kita, kau tau dunia para konglomerat itu bagai sebuah sebutir bawang merah yang berlapis-lapis oleh ego, keras kepala oleh argumen, bertumpuk-tumpuk pembenaran atas diri sendiri bahkan ketika berdebat dengan anak sendiri yang tak sejalan dengannya, meski mereka dalam posisi yang salah dan boleh jadi merasa paling mulia dibandingkan dengan orang lain, padahal mereka sungguh lupa bahwa ada orang kaya karena adanya orang yang tak punya," ucap Zahra menjelaskan seperti penuh emosi, karena mengingat kembali apa yang pernah terjadi dengan sahabat baiknya itu.


"Dan kau bertanya kenapa kami sangat menyayanginya, pertama karena Rena adalah kekasih pertama Abimu, dan kedua dia adalah sahabat terbaiknya Umi, andai tidak ada Rena mungkin kau juga tidak akan pernah ada," Zahrapun mencerita pada Rina tentang masalalu Rehan dengan Rena, bagaimana peristiwa penghinaan terhadap Abinya tersebut, dan perjodohan yang dipaksakan oleh ayahnya hingga membuat Rena mengalami kemalangan.

__ADS_1


Tentang persahabatannya yang sejak dari pertama kali masuk kuliah, sampai Rena membantu keluarganya ketika kesulitan dan tentang alasan dia bisa bertemu dan sampai menikah dengan Rehan, itu semua ada kaitannya denga Rena.


"Ternyata tante Rena orangnya sangat baik sekali ya Umi, berarti keberadaan Rina pun secara tidak langsung, karena tante Rena mempercayai Umi untuk menjadikan Abi sebagai suami Umi, tapi sekarang tante Rena yang malah mengalami kesusahan yang sangat memprihatinkan," ucap Rina yang merasa iba setelah mendengar cerita yang dituturkan oleh ibunya tersebut, apalagi melihat fakta keadaan Rena ketika mereka menemukannya terlantar di negara orang lain.


__ADS_2