
"Mommy....." Teriak Amira pada Rena yang tengah duduk-duduk di balai bambu depan teras, ia hendak lari tunggang-langgang untuk menghampiri ibu sambungnya di ujung rumah sana, namun tatkala gadis kecil tersebut berlari, kakinya tersandung dan jatuh.
"Aduhh.." serunya tertahan, mencoba menahan sakit, Amira ingin sekali menangis tapi dia berpikir tak ingin membuat Rena khawatir, karena dia tau bahwa calon ibu sambungnya itu baru saja mengalami hari berduka beberapa minggu yang lalu.
"Sayang, kamu gak apa-apa," seru Rena sambil berlari menghampiri Amira.
"Gak apa-apa Mom, cuma luka kecil saja," ucap Amira yang memperlihatkan lututnya yang terantuk dengan tanah bercampur sedikit kerikil kecil.
"Sini, biar Mommy obatin dulu," timpal Rena yang merasa khawatir padanya dan langsung memapahnya untuk segera mengobati luka tersebut.
"Eh... Putri Papi kenapa?" Tanya Nathan yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya, ketika Amira tengah diberi perawatan pertama oleh Rena.
"Aw... Tadi kaki Amira tersandung dan jatuh," jawab Amira sambil meringis kesakitan ketika air repanol menyentuh kulit lembutnya.
"Uchh... Kasiannya anak Papa," ucap Nathan tapi entah disengaja apa tidak dia malah mengusap rambut orang yang tengah mengobati putrinya itu.
"Oi Salah oi.... Yang sakit kan Amira, kenapa Mommy yang di elus sich," ucap Amira cemberut memanyunkan bibir mungilnya yang malah terlihat menggemaskan.
"Iya salah ya, maaf dech maaf," timpal Nathan nyengir.
"Tau nich Papamu, maen elus-elus aja tak kira kucing kali ya? Belum halal tau," seru Rena sambil menepis lengan Nathah dari kepalanya, wajahnya terlihat memerah karena malu.
"Hehee... Kan udah bayar DP bulan sembilan lalu, tapi jadi pengen buru-buru halal dech, besok kita ke Mui aja dulu yuk?" ucap Nathan bercanda.
"Ish.... Kau kira aku ini produk kali ya, mau dihalalil lewat Mui," timpal sebal Rena.
"Eh.... Kau kan emang produk terindah yang diciptakan tuhan untukku, Aww...," ucapnya lagi, tapi sebelum menuntaskan rayuannya, Nathan langsung dapat serangan cubitan pada paha kaki, membuat dokter muda tersebut berjingkrak menghindar.
"Gombal ya, pagi-pagi, Ok sudah beres," seru Rena tersenyum menampakan wajah tak berdosa atas apa yang dilakukannya barusan, dia pun berdiri setelah membersihkan dan menutup luka Amira.
__ADS_1
"Hahaha.... Papa and Mommy lucu banget kelakuannya," seru Amira tertawa terbahak-bahak yang melihat tingkah kedua orang dewasa yang ada dihadapannya itu.
"Eh ada tamu ya, baru datang ya? seru Bi Ijah yang baru saja tiba dari belakang rumah, lalu menghampiri ketiganya.
"Iya Bi, baru beberapa menit yang lalu, bagaimana kabarnya Bi Ijah?" timpal Nathan dan langsung balik bertanya, menanyakan kabar perempuan paruh baya tersebut.
"ALhamdulillah Baik Nak, eh ini siapa cantik dan bule banget ya?" Tanya kembali Bi Ijah setelah melihat Amira yang tengah duduk di dekat Rena.
"Ouh perkenalkan ini putri saya Bi, Namanya Amira, sayang kenalin nich Nenek Ijah," jawab Nathan yang memperkenalkan putrinya itu.
"Nama saya Amira Nek," ucap Amira memperkenalkan diri, meski masih dalam aksen yang bahasa yang agak kaku, tapi pengucapannya sekarang dia lebih baik dari pertama kali dia datang ke tanah air
"Hmmz.... Nama yang sangat bagus, salam kenal juga ya Nak," timpal Bi Ijah.
"Sayang, kamu ditinggal sebentar gak apa-apa kan? Soalnya Papa mau ketemu sama Pak Rt dulu, ada urusan penting, dan Ren aku titip putriku cantikku ya," ucap Nathan.
"Iy gak apa-apa kok Pa, lagian Mommy kan udah janji sama Amira akan mengajak jalan-jalan keliling kampung," timpal Amira.
"Ih.. Mommy mah, masa lupa sich, ayo sekarang waktunya Mommy menepati janjinya," timpal Amira merajuk.
"Baiklah, ayo kita siap-siap dulu," seru Rena.
"Kalau begitu nanti Aku menyusul kalian," ucap Nathan.
"Bi Ijah bisa saya minta tolong untuk ditemani ke rumah Pak Rt, Bibi gak sibuk kan?" Lanjutnya yang bertanya pada Bi Ijah.
"Nggak juga, semua pekerjaan rumah udah selesai kok," timpal Bi Ijah yang sepertinya tidak keberatan untuk menemani Nathan ke rumah ketua rt.
Setelah beristirahat dan berganti pakaian, Rena dan Amira pun pergi meninggalkan rumah Bi Ijah untuk segera menelusuri sekitaran kampung Tegal Bungur, Sementara Nathan dan Bi Ijah sudah pergi dari tadi ke tempat Pak Rt.
__ADS_1
"Mommy tempat mana yang akan kita kunjungi terlebih dulu?'' Tanya Amira pada Rena.
"Kita ke ladang dekat bukit itu aja yuks? Disana ada sungai yang mempunyai air terjunnya, jernih loch," ajak Rena sambil menunjuk ke arah timur, Memang desa Padasuka.
"Ayoo, lets go..." Seru Amira riang gembira, dan jadilah sepanjang hari itu, Amira dan Rena menjelajahi setiap tempat yang menurutnya indah, baik itu air terjun dan bermain air disana, menyusuri sungai sambil melihat para bapak-bapak yang tengah menangkap ikan-ikan dan singgah di saung yang ada ladang sekedar memakan bekal yang mereka bawa.
"Wah ada bule kecil, anaknya siapa Neng Rena?" Tanya salah satu ibu-ibu ketika mereka berpapasan dengan beberapa rombongan ibu-ibu yang habis pulang dari sungai untuk mencuci dan mandi, karena kemarau yang cukup panjang membuat hampir sebagian besar penduduk memilih mencuci atau pun mandi di sungai guna menghemat air di rumah.
"Namanya Amira putri saya," Jawab Rena.
"Eh... Kok saya baru tau?" Timpal ibu-ibu yang lainnya.
"Iya, maklum baru datang tadi pagi," jawab Rena lagi, dan semua ibu-ibu tersebut hanya ber Ooh ria secara bersamaan.
"Kamu senang sayang?" tanya Rena ketika hari mulai sore, dan kini mereka tengah menikmati sore hari dengan duduk di pematang sawah sambil menikmati sinar mentari yang mulai terlihat berwarna kuning keemasan pertanda satu atau dua jam lagi akan berganti menjadi jingga.
"Senang banget Mom, mungkin karena Amira sangat senang bisa ngerasain jalan-jalan bareng bersama seorang Mama, yang mana itu adalah hal baru bagi Amira, apalagi waktu ditanya sama ibu-ibu tadi, Mommy dengan tegas tanpa ragu mengatakan bahwa Amira adalah anaknya Mommy, itu semua membuat Amira sangat senang," Jawab Amira dan langsung memeluk Rena dengan penuh kasih sayang.
"Mommy juga seneng banget, karena kau bagaikan mentari kecil yang menghangatkan Mommy dari malam dingin serta gelap nan sepi yang pernah menerpa diri Mommy beberapa waktu lalu," ucap Rena membalas peluk dan tanpa diperintah satu tetes air mata jatuh mengaliri bongkahan pipi, dia teringat masa-masa dirinya pernah kehilangan anaknya yang masih balita, lalu sekelebat ingatan ibunya tersenyum padanya lantas pergi disusul oleh ayahnya juga.
"Semoga kau menjadi pelipur laraku," gumamnya dalam hati.
"Mommy jangan bersedih lagi," bisik Amira meski hanya sekedar ucapan tapi itu akan terkenang dalam rungu, dalam kurun waktu yang lama, karena diucapkan dengan penuh cinta.
Bersambung....
#Yuks tinggalkan jejak dengan cara like or coment dan biar Author semangat updetnya bisa kasih bunga atau vote.
#Dan biar gak jenuh nungguin part selanjut mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah keren karya dari teman mimim, yuks ah segera cekidot
__ADS_1