
Suasana rumah Pak Wijaya sudah mulai ramai bendara kuningpun terpasang di gerbang pintu masuk, semua orang baik itu tetangga komplek, kerabat dekat maupun mantan kolega kerja datang silih berganti untuk melayat dan mengucap bela sungkawan.
"Hiks... Hiks..." Tangisan Keysa masih terdengar meski tidak sekeras waktu pertama kali dia tiba, karena dari keempat saudaranya dialah yang paling dekat secara emosional meski dirinya kadang suka berbeda pendapat dengan ayahnya itu.
"Sabar Kak, ini semua sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa, yang kita bisa lakukan sekarang adalah mendoakan beliau agar diterima iman dan isalamnya, semoga ditempatkan ditempat terbaik disisi-Nya," ucap Rena yang berada disamping dan memeluk dirinya, meski begitu Rena pun tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Iya Kak Key, yang Rena katakan itu benar," timpal Daniel, sementara Rudy tengah berbincang dengan beberapa tamu yang melayat.
Sementara para Asisten rumah tangga mulai sibuk dengan menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk para pelayat, di wajah mereka tampak murung dan seperti tertekan.
"Kalian jangan pernah Membicarakan kepada Keysa bahwa kami berdua kemarin berdebat dengan Papa kami, ingat itu," ucap Rudy dengan nada mengancam pada para ART dan perawat yang mengurus Pak Wijaya sebelum Keysa dan Rena, juga kerabat lainnya datang, karena bagaimana pun sedikit banyaknya mereka mendengar perdebatan antara anak dan ayah tersebut tentang warisan.
Satu hari yang lalu, selepas Rudy dan Daniel meninggalkan meja makan ketika sarapan pagi bersama dengan Pak Wijaya yang berujung perdebatan antara Pak Wijaya dengan para putranya.
"Ugghh... Dasar bocah-bocah tidak tau diuntung," gerutunya pelan sambil meremas dadanya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
Dan akibat dari perdebatan tersebut, sepanjang hari itu Pak Wijaya marah-marah tidak jelas pada para Asisten rumah tangga dan perawatnya, puncaknya pada malam hari ketika dirinya hendak ke kamar kecil, dadanya mendadak terasa sangat sesak sekali seluruh penglihatannya pun mulai menggelap.
GEDEBUG
BRAAK
Tubuhnya pun terjatuh berdebam dan kepalanya menghantam pinggiran kloset.
"Arrghhh.... To..Toloong," ucap Kesakitan Pak Wijaya mencoba meminta tolong berharap para pembantunya mendengar namun suaranya seolah-olah tersendat dalam kerongkongan.
Dan entah mengapa dalam ketidak berdayaannya, Pak Wijaya seperti melihat kembali kesalahan masalalu, diantaranya ketika dia dengan teganya memarahi dan memaki Bi Ijah, menuduh mencuri yang berakhir dengan mengusirnya, memaki rendah Rehan di depan orang banyak dan masih banyak lagi kelakuan-kelakuan yang membuat orang-orang sakit hati.
"Rena putri Papa maafkan Papa karena tidak pernah berlaku adil padamu, bahkan Papa terlalu egois selalu memaksakan kehendak Papa padamu," gumam Pak Wijaya, beberapa detik kemudian hembusan napas terakhirnya dan membuat sekujur tubuhnya tergeletak kaku di dalam kamar mandi.
Sungguh miris seorang dokter terkenal yang dulunya mempunyai ketenaran dan harta melimpah yang mana membuat dirinya dulu selalu dikelilingi orang-orang yang memuja dan memuji atas keberhasilan dalam hidupnya bahkan beberapa ada yang menjilat agar bisa meningkatkan harkat dan martabat mereka.
__ADS_1
Namun kini dalam akhir hayatnya, ketika menghembuskan napas terakhir, dirinya dalam kesendirian tak ada Putra-putri ataupun kerabat disampingnya untuk menuntunnya mengucap Asma Rabb nya, apalagi orang-orang yang dulu pernah berusaha cari muka dan selalu menjilat di depannya sudah sejak lama meninggalkan dirinya.
Proses pemakaman Pak Wijaya selesai sampai sore hari, Pak Wijaya dimakamkan disebelah makam mendiang istrinya, tangisan pilu terdengar kembali dari kedua putri dan kerabat paling dekat dengannya, bahkan Keysa sempat jatuh pingsan ketika proses tersebut.
Malam selepas acara tahlilan untuk mendoakan Ayah mereka, terlihat Keysa dan Rena berada diteras lantai dua sementara kedua saudaranya sudah pulang kembali ke rumah mereka setelah selesai acara tersebut, kedua putri Pak Wijaya itu tengah menatap langit malam yang terlihat cerah meski sedikit berawan.
"Ren...!" Ucap lirih Keysa tatapan sendunya terus menengadah ke langit.
"Iya Kak?" Timpal Rena melirik sang Kakak yang biasanya paling tegar diantara saudara-saudaranya yang lain, meski ketika kematian mendiang ibu mereka dirinya pun menagis tapi tidak seterpukul sekarang.
"Entah kenapa kesedihan dalam hati kakak tak kunjung reda, padahal langit malam menyapa dengan indah, bulan menatap memukau, dan bintang mengedip genit, tapi Kakak tak mampu menyapa, Rasa sedih hanya mampu membuatku terdiam sendu menatap gelap, Ku berharap malam memelukku dalam kelamku, biarkan aku terlelap walau sejenak meski ada air mata yang menetes," ucap Keysa.
"Tetap semangat kak, jangan biarkan kesedihan meradang terus menerus hingga membuatmu terpuruk, jadi nikmati saja dan bawa dalam sukacita, karena bagaimana pun Rena masih membutuhkan peluk dari seorang kakak yang peduli terhadap adiknya macam Rena ini," timpal Rena memberi semangat pada Kakak perempuannya itu.
#Yuks tinggalkan jejak dengan cara like or coment dan biar Author semangat updetnya bisa kasih bunga atau vote.
__ADS_1
#Dan biar gak jenuh nungguin part selanjut mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah keren karya dari teman mimim, yuks ah segera cekidot