Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Pertunangan Part 2


__ADS_3

Assalamualaikum.... Selamat siang tamu-tamu yang terhormat, maaf tadi Bi Ijah sedang menunggu kami," ucap Rehan menyapa semua orang yang ada di rumah Bi Ijah.


"Ayo Bi, tidak apa-apa kuatkan hati Bi Ijah," ucap pelan Rehan pada Bi Ijah, dan dengan langkah ragu Bi Ijah melangkahkan kaki menuju tempat berkumpul semua orang dan entah kenapa dia seperti enggan ke sana padahal rumah tersebut adalah tempat tinggalnya.


"Kalian?" seru Pak Wijaya tergagap sekaligus kaget ketika melihat Rehan dan Bi Ijah datang secara bersamaan, karena dia mengingat kembali kedua orang yang baru saja datang adalah orang yang pernah ia sakiti, apalagi terhadap Bi Ijah mantan pembantunya itu.


"Ouh... Pak Wijaya, apa kabarnya? semoga kabar anda baik-baik saja dan selalu diberi kesehatan oleh Sang Maha Penyembuh," ucap Rehan datar, meski dia sudah memaafkan perlakuan Ayahnya Rena tersebut ketika menghina dirinya habis-habisan beberapa tahun silam, tapi tetap saja dia sulit untuk melupakannya, apalagi Bi Ijah orang yang mengalami perlakuan buruk dari mantan majikannya itu, yang mana membuat dirinya kehilangan anak satu-satunya kala itu efek dari tuduhan keji yang dilontarkan padanya dan putrinya hingga membuat mentalnya drop dan menjadi pesakitan sampai ajal menjemput.


Dan alasan kenapa sebelumnya Bi Ijah yang mengikuti Pak Rt dari belakang langsung menahan langkahnya, ketika dia melihat sosok mantan majikannya itu dan langsung menyembunyikan diri di samping rumah tetangganya, seolah dia enggan untuk menemui Pak Wijaya karena kenangan masalalunya melintas kembali sesaat dia melihat Ayah Rena tersebut.


"Maafkan orang tua ini atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan dimasalalu nak Rehan, dan terimakasih telah menyelamatkan Rena putri saya meski kami sekeluarga pernah menghina dan merendahkanmu, tapi kau tetap bersedia menyelamatkannya," ucap Pak Wijaya terlihat rasa penyesalannya tergambar jelas di raut wajah tuanya.


"Tidak apa, saya sudah memaafkan anda Pak Wijaya, mungkin ini sudah menjadi salah satu garis takdir yang sudah ditentu yang membuat saya bisa mencapai semuanya sekarang, karena dengan perkataan yang diucapkan pak Wijaya dan kedua putra anda, menjadi pemicu buat saya berusaha untuk membuktikan menjadi orang sukses, bukankah begitu Dokter?" timpal Rehan yang melirik Nathan dan langsung meminta pendapatnya, sementara Nathan hanya mengangguk karena dia paham maksud perkataan Rehan tersebut.


"Dan juga tidak usah berterimakasih akan hal tersebut, karena Rena juga adalah orang yang pernah dekat dengan saya, lagipula dia adalah sahabat istri saya, dan bagaimana pun Rena jugalah yang mempertemukan kami hingga menjadi keluarga yang bahagia sampai saat ini," lanjut Rehan.


"Bi Parijah, mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menebus semua kesalahan saya pada Bi Parijah, jadi kalau memang Bi Parijah masih memendam kebencian pada saya pukul lah saya sepuas yang anda inginkan," ucap Pak Wijaya pada Bi Ijah sambil menyerahkan tongkatnya, sepertinya dirinya rela untuk dipukuli oleh mantan pembantunya tersebut untuk menebus semua kesalahannya dimasalalu.

__ADS_1


Keysa sempat menahan ayahnya untuk melakukan hal tersebut bagaimana pun dia tak tega melihat ayahnya terpuruk dengan pasrah mengambil tindakan itu, tapi Pak Wijaya mencegahnya untuk ikut campur, Karena dia sadar ini adalah kesalahannya yang telah menuduh Bi Ijah mencuri dan mengusirnya secara hina dina, yang mana perlakuan tersebut ternyata mengakibatkan anak semata wayang Bi Ijah yang masih kecil mengalami depresi psikis karena dibentak di depan semua orang.


"Berdirilah tuan, saya tidak akan melakukan tindakan tak terpuji seperti itu, karena bagaimana pun itu tidak akan pernah mengembalikan Siti anakku ke dunia ini, dan yang terpenting tuan sudah bisa mengintropeksi diri dengan kesalahan-kesalahan yang tuan perbuat dimasalalu, meski perubahan sikap tuan mungkin akibat nasib yang menimpa tuan beberapa tahun terakhir, dan saya ingatkan kembali pada tuan jangan pernah memandang rendah orang lain lagi, lihatlah orang yang pernah tuan rendahkan dengan baik hatinya dia telah menolong putri tuan tanpa pamrih, " ucap Bi Ijah panjang lebar sambil menunjuk ke arah Rehan dan menyerahkan kembali tongkat itu pada ayahnya Rena tersebut, dirinya telah memaafkan Pak Wijaya dengan memberi wejangan yang sangat menohok.


Semua orang yang hadir di rumah tersebut hanya bisa bertanya-tanya dalam hati mereka dan ingin tau, sebenarnya kesalahan apa yang diperbuat oleh Pak Wijaya mantan Dokter terkenal yang juga pernah masuk jajaran 100 orang terkaya di negeri ini, sehingga membuatnya rela bersimpuh dihadapan Bi Ijah yang notabenya hanyalah orang biasa.


Pak Rt yang hadirpun tak bisa berkata apa-apa, yang mungkin inilah acara pertunangan terunik yang pernah dihadiri oleh Pak Rt dan istrinya, karena acara belum dimulai saja sudah ada air mata yang terjatuh dengan adanya drama-drama saling maaf-memaafkan.


"Sudah-sudah, jangan bahas masalalu yang berlalu biarlah berlalu dan hanya dijadikan pelajaran saja untuk tidak mengulanginya kembali, karena ini adalah hari bahagia untuk Dokter Nathan dan juga Rena, jangan ada kesedihan yang terlalu berlarut, jadi mari kita mulai saja," seru Rehan mencoba mencairkan suasana dan meminta segera melaksanakan acara pertunangan tersebut.


Setelah disuruh untuk memandu acara tersebut Pak Rt pun mulai membuka dengan sambutan, lalu sambutan kedua diserahkan pada kedua orang tua mempelai, setelah itu keluarga Nathan menyerahkan seserahan yang dilanjutkan dengan acara tukar cingcin, kemudian merekapun menentukan hari pernikahan Nathan dan Rena.


Proses acara tersebut diabadikan oleh Audy dengan kamera ponselnya, dan setelah acara makan bersama Satu Persatu para tamu tersebut kembali pulang.


"Apa kamu tidak ingin kembali sebentar ke rumah kita? Dari apa yang kalian bicarakan kau hendak menetap disini? Terus bagaimana nasib Papamu yang sudah tua renta ini?" Tanya Pak Wijaya pada Rena ketika mereka hendak pamit.


"Mungkin untuk saat ini, Rena masih belum bisa ke sana, tapi insyaallah kapan-kapan Rena bakal mampir ke rumah, lagian bukankah rumah Kak Rudy dan Kak Daniel kata Kak Keysa masih dilingkup yang sama dengan Papa? Rena memutuskan tinggal disini setelah menikah, karena Rena hanya ingin membalas kebaikan Bi Ijah yang telah bersedia menampung Rena ketika dalam keadaan terpuruk, apalagi dirinya tidak punya siapa-siapa lagi di sini," jawab Rena.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu sudah keputusanmu, jaga dirimu baik-baik," timpal Pak Wijaya meski dalam hatinya dia agak kecewa, tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak memaksakan kehendaknya tersebut.


"Kami pamit dulu adikku sayang, Bi Parijah kami pulang dulu ya," ucap Keysa sambil memeluk adik perempuannya itu.


"Iya Non, hati-hati di jalan," timpal Bi Parijah, Rena pun menatap ke pergian Ayah dan Kakak perempuannya hingga tak terlihat lagi ketika sudah melewati gerbang kampung tersebut.


"Yaa Rabb, mudah-mudah pernikahanku kali ini membuatku bahagia hingga akhir hayat," gumam Rena dalam hati.


#Jangan lupa like and coment ya, biar outhornya tambah semangat kasih vote juga bunga bisa kok


.


.


Baca juga cerita menarik lainnya karya Author Senior kami, Kisahnya tak kalah seru loch, yang berjudul Fake Love, happy reading guys...


__ADS_1


__ADS_2