Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Pernikahan Rena


__ADS_3

"Ingat ini baik-baik Rehan, Banyak sekali orang-orang yang patah hati, lantas sibuk dengan ratapan kesedihannya, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri, lupa dengan orang-orang dekat yang selama ini kita sayangi dan menyayangi kita. Padahal, siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Rena misalnya, baru kau kenal kurang lebih setahun yang lalu. Sedangkan Kinan? Kau kenal dia sejak bayi, bahkan dia adalah adikmu yang selalu ingin melihat kakaknya bahagia, dan kau juga ingin melihat adik satu-satunya yang kau miliki selalu bahagia bukan? maka bangkitlah jangan terus terpuruk dalam kesedihan" ucap Aki Darja memberi petuah pada cucu kakaknya itu, ketika dia menengoknya yang sedang terbaring karena sakit.


Memang sejak pertemuan terakhirnya dengan Rena, Rehan mulai banyak melamun bahkan orderan pun banyak dia cancel, lantaran pikirannya sedang tidak karuan dan puncaknya dia jatuh sakit yang mana harus membuatnya terbaring lemah dikasurnya dengan ditemani jarum infusan.


Setelah mendengar perkataan dari Aki Darja, Rehan pun melirik ke arah Kinan yang ada di ruang tengah bersama ibunya yang menemaninya belajar, sudah beberapa hari adiknya selalu sigap membawakan air minum dan sekedar menemaninya meminum obat, ada raut wajah cemas ketika dia menatap kakaknya tersebut.


"Hmmz... Benar kata Aki Darja, aku harus segera sembuh dan melupakan Rena, karena ada orang yang paling dekat denganku yang masih sayang padaku, dan aku tidak ingin membuat mereka terus khawatir," gumam Rehan dalam hati menepuk kedua pipiknga dengan telapak tangan mencoba memupuk semangatnya kembali.


***


Sementara di kediaman Pengusaha yang bergerak dibidang alat-alat kesehatan dan memiliki beberapa rumah sakit ternama sekaligus dokter kawakan di ibukota yaitu Pak Wijaya tengah dilangsunkan acara walimahan, sekaligus akad Nikah putri bungsunya yang bernama Rena Wijaya Putri dengan Putra Pengusaha property terkenal didalam maupun luar negeri yaitu Nicholas Bramono.


"Hey, hey tak pantaslah kau murung terus, ntar cantiknya menurun satu kilo loh," ucap Audy mencoba bercanda, karena melihat teman satu angkatannya itu terdiam dari tadi.


"Iya Ren, harus tersenyum, inikan moment berharga dalam hidupmu," timpal Mia sambil memegang pundak Rena, keduanya memang berada di kamar rias pengantin untuk melihat persiapan temannya itu.

__ADS_1


"Hmmmz... Moment bahagia ya? semoga saja," gumam Rena sambil menghembuskan nafas berat.


"Eh ngomong-ngomong kemana dua curut lagi? kok belum pada datang?, awas aja kalau gak datang," ucap Rena kemudian menanyakan dua temannya lagi, dia pun berusaha terlihat tegar menghadapi pernikahan tanpa ada rasa cinta sama sekali.


"Assalamualaikum," seru dua orang yang baru datang, lantas mereka pun bersalaman dan cipika cipiki.


"Waalaikumsalam, nah baru aja diomongin dua curut RSUD udah pada muncul, panjang tangan berarti kalian," Seru Audy yang melihat pertama kali kedatangan Zahra dan Lena.


"Sialan loe, masa panjang tangan, dikira gue maling mangga tetangga kosan kali ya," seru Lena galak yang langsung mencari tempat duduk.


"Hahaha.... Kan kalian berdua mah terlihat pada alim, jadi si ibu pemilik mangga pasti luluh dengan tampang polos kalian, kalau gue nyuruh Lena bisa-bisa baku hantam ditempat mereka, kan Lena yang dulu mah galaknya kayak preman pasar, hahaha..." timpal Audy yang tertawa terbahak sambil memegang perut.


"Hetdah sue bangetlah, segitu menyeramkan nya kah gue waktu itu," seru Lena sambil melempar kertas tissue ke arah Audy, Memang dari keempat sahabat Rena, Lena lah yang paling tomboy dan bahkan dia juga jago berkelahi, mungkin karena latar belakang keluarganya yang seorang militer, dan katanya dia juga sekarang tengah dekat dengan salah satu prajurit muda yang berada dibawah pimpinan ayahnya.


"Rena sudah waktunya," ucap Kak Keysa yang langsung menghentikan candaan yang terjadi di ruangan tersebut, Rena pun bangkit dan mengikuti langkah Sang Kakak keluar.

__ADS_1


Terlihat rombongan dari keluarga Pak Bramono sudah berada dihalaman depan, mereka pun mulai berjalan perlahan dengan diiringi tembang-tembang khas daerah, Niko yang berada ditengah diapit oleh kedua orang tua senyuman bahagia menghiasi raut wajahnya karena melihat betapa cantik calon istrinya berbalut gaun putih tersebut yang sebentar lagi akan dia miliki, berbanding terbalik dengan Rena.


"Saya terima Nikah dan kawinnya Rena Wijaya Putri binti Wijaya pranata dengan mas kawin emas seberat 100 gram dan uang tunai 100 USD dibayar tunai," seru Niko dengan lantang.


"SAH"


Air matapun mulai merembas ketika Sang Amil membacakan doa setelah ijab qobul, ntah itu air mata bahagia atau air mata penyesalan hanya Rena yang tau.


Setelah acara ijab qabul dan dilanjutkan dengan tukar cincin, semua tamu undangan mulai berkumpul di halaman untuk melihat dan berpartisipasi dalam acara Bouquet toss alias lempar bunga.


"Ayo semuanya yang masih jomblo or pemain solo, mari merapat kita ramaikan acara Lempar bunga ini, karena konon katanya orang yang mendapatkan bunga dari kedua mempelai, dia akan menjadi pengantin selanjutnya, maka yang udah punya istri or suami jangan ikutan ya bisa-bisa perang dalam rumah tangga, hahaha"


"Satu,dua,tigaa.." seru pembawa dengan hebohnya, setelah hitungan ketiga pasangan suami-istri yang baru saja sah beberapa menit yang lalu melempar bunga yang ada digenggaman mereka, dan semua orang loncat mencoba menangkap bunga tersebut.


"huft.."

__ADS_1


Semua mata menoleh kearah jatuhnya bunga, dan Zahra yang tanpa sengaja mendapatkannya, langsung mendapatkan tepuk tangan dari semua orang. Rena pun menghampiri Zahra dan seperti membisikan sesuatu yang membuatnya sedikit terperanjat.


__ADS_2