Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Memantapkan Hati


__ADS_3

Setelah sebelumnya Keysa menemui Nathan, pada minggu berikutnya Dokter lulusan Universitas Sydney itu kembali ke kampung Tegal Bungur menemui Rena untuk memantapkan niatnya meski begitu kali ini dia menyadari sesuatu, bahwa dia tak harus memaksakan kehendaknya bila Rena masih ragu untuk hidup bersama dengannya.


"Maafkan aku yang payah ini, yang tidak peka terhadap perasaanmu yang masih mencintainya, dan dengan tidak tau malunya aku mengajakmu tuk bersanding denganku, maafkan aku, bila kau memang tak ingin menikah denganku, aku akan rela melepasmu kembali seperti dulu ketika aku merelakanmu karena desakan keluargamu," ucap Nathan yang terus meminta maaf.


Nathan sadar dan tidak ingin terlalu berharap tinggi, karena dia tau rasa sakit datang dari pengharapan yang terlalu berlebihan.


"Tidak Nathan akulah yang bodoh dan tidak tau malu, karena terlalu berekspektasi terhadap Rehan, padahal dia tengah menulis kisahnya dengan perempuan lain yang bahkan telah aku restui hubungan mereka itu, tapi tetap saja terkadang itu menyakitkan ketika melihat mereka terlihat sangat bahagia," ucap Rena dalam hati.


"Tidak Rena, kau harus mengikhlaskannya, hentikan kebodohanmu itu, cintailah orang yang sekarang ada di depan matamu, jelas-jelas Nathan sangat mencintaimu jadi berilah kesempatan baginya, jangan lagi kau menyakiti perasaan orang lain sehingga kau akan menyesalinya untuk kedua kali," bisik nurani Rena, sepertinya di dalam diri Rena tengah terjadi pergolakan batin yang cukup rumit yang mana membuatnya cukup lama untuk menanggapi perkataan dari Nathan dan dengan memikirkan sebab-akibat yang takut dia sesali nantinya Rena buru menjawab perkataan dari pria yang ada di hadapannya itu.


"Tidak Nathan jangan pergi lagi seperti dulu, tolong perjuangkan cintamu dengan sungguh-sungguh kepadaku, karena aku bersedia menikah denganmu, tapi..." ucap Rena menanggapi perkataan Nathan tersebut, yang mana membuat hati Nathan sangat senang, tapi dia cukup penasaran karena di akhir perkataan dia seperti menggantungkan kalimat ragu.


"Tapi apa? Apa kau ragu keluargamu akan menolakku seperti dulu, tenang saja aku sudah menyampaikan niatku pada Kak Keysa dan dia menyetujuinya," timpal Nathan mencoba meyakinkan perempuan tersebut.

__ADS_1


"Tidak, bukan itu tapi aku mempunyai satu permintaan yaitu setelah menikah aku ingin kita tinggal di kampung ini, karena aku ingin selalu dekat dengan Bi Ijah dan bagaimana pun beliau lah yang telah bersedia menampungku disini dengan waktu yang cukup lama, jadi kumohon untukmu dan lagi pula aku sudah nyaman tinggal di perkampungan yang sangat tenang ini," ucap Rena mengajukan permintaannya.


"Itu tidak masalah bagiku, lagi pula jarak dari kampung ini ke rumah sakit tempatku bekerja sekarang cukup dekat juga hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam perjalanan, tapi juga punya satu permintaan," timpal Nathan menyetujui permintaan tersebut dan sejurus kemudian dirinya mengajukan hal sama.


"Apa itu?" Seru Rena yang cukup terkejut karena ternyata bukan hanya dirinya juga yang mengajukan permintaan.


"Karena aku punya seorang putri dari pernikahanku sebelumnya, maukah kau menerimanya dengan tinggal bersama kita nantinya? Karena sejak dia masih bayi dia sudah tidak merasakan kehangatan seorang ibu, sebab ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya," ucap Nathan terus terang.


"Baiklah aku tidak keberatan sama sekali, bahkan aku akan merasa sangat senang, karena jujur saja aku pernah kehilangan seorang anak dengan sangat tragis, jadi semoga dengan adanya putrimu berada diantara kita, itu akan menjadi pelipur laraku nantinya," ucapan Rena tersebut membuat hati Nathan begitu senang, dalam hati dia berucap syukur karena ternyata dia tidak salah memilih untuk kembali melabuhkan asa pada cinta pertamanya itu.


Sementara di rumah keluarga Pak Wijaya, Keysa seperti biasa hanya dirinya dan Pak Wijaya yang tengah makan bersama, terlihat kesehatan mantan dokter senior yang pernah memiliki kejayaan dalam karirnya itu, sudah berangsur-angsur membaik dan tidak lagi memakai kursi roda hanya memakai tongkat saja untuk membantunya berjalan.


Dan untuk kedua saudara laki-lakinya itu, jarang sekali berkunjung dan bahkan hampir tidak setiap bulan mengunjungi orang tua mereka sendiri dengan dalih sibuk oleh pekerjaan yang mereka jalani, meski jarak rumah mereka dengan rumah Pak Wijaya hanya sepelemparan batu saja.

__ADS_1


Tidak seperti Keysa yang harus menempuh perjalanan udara untuk menemui orang tua satu-satunya itu, tapi meski begitu Keysa selalu rajin menyempatkan diri untuk menengok keadaan Pak Wijaya dalam kurun waktu dua minggu sekali, bahkan untuk minggu ini dia sudah tiga hari belum kembali ke negeri Singapura tempat dimana dia membuka prakter perawatan kecantikan.


"Pah, apa Papa masih punya keyakinan bahwa Rena selamat?" Ucap Keysa setelah menghabiskan suapan sarapan paginya, pertanyaan tersebut sontak membuat Pak Wijaya kaget dan untungnya dia telah selesai meneguk air beberapa detik yang lalu.


"Hmmmz.... Meski keyakinan itu begitu hampir memudar karena fakta bahwa si badjingan Niko itu telah tiada dan tak ada kabar dari Rena setelah inseden yang sangat memalukan yang Niko perbuat itu, tapi Papa memang selalu berharap Rena selamat, dan seandainya dia selamat Papa akan meminta maaf dan bila perlu akan bersimpuh atas apa yang telah Papa perbuat padanya," ucap Pak Wijaya tangannya bergetar hebat karena menahan tangis atas penyesalan yang sangat membuatnya terpukul bila mengingat perlakuannya pada Rena ketika memaksanya untuk menikah dengan orang yang dia anggap baik dari segi bebet bibit bobot itu.


"Seandainya Rena sekarang masih ada dan dia akan dipersunting oleh orang yang pernah Papa pandang sebelah mata, bagaimana tanggapan Papa? apakah Papa akan seperti dulu yaitu tetap tidak akan menyetujui?" ucap Keysa lagi, perkataan tersebut kembali membuat Pak Wijaya terkejut sekaligus penasaran dengan apa yang diutarakan oleh anak yang paling tegas diantara keempat saudaranya itu.


"Tunggu, maksudmu apakah Rena benar-benar selamat? Dan dimana dia sekarang," tanya Pak Wijaya begitu antusias dan ingin mengetahui hal sebenarnya.


"Dia ada di sebuah desa yang cukup jauh dari sini, jadi bagaimana pendapat Papa tentang hal yang Key katakan tadi?" Timpal Keysa tapi masih menahan untuk memberitahunya secara spesifik dan malah menekan kembali ke pertanyaan sebelumnya, karena Keysa berpikir bila Papanya masih tidak menyetujuinya lebih baik tidak mempertemukannya dengan Rena.


"Tenang saja, Papa tidak akan lagi mencampuri urusannya, mau dirinya menikah dengan siapa pun yang menurutnya baik, Papa akan merestuinya asal dia bahagia, karena Papa tak ingin merusak kebahagiannya lagi," ucap Pak Wijaya, mendengar perkataan dari ayahnya itu sesunging senyum merekah di bibir manis wanita karir tersebut.

__ADS_1


"Baiklah besok kita akan ke sana menemui si bungsu, dan sekarang Key mau pergi dulu untuk berkunjung ke tempat kerja dua sigung yang tidak pernah mampir kesini," ucap Keysa kemudian dia meninggalkan ayahnya.


"Hallo... Aku ingin besok kita bertemu di rumah Bi Ijah, apa tadi kau baru saja dari rumah tersebut? Hmmmz... Baguslah, berarti sudah fix diantara kalian, tinggal kau meminta restu pada Papa kami, kalau begitu besok kita akan bertemu kembali di sana karena besok Papaku ingin diantar untuk melihat keadaan Rena jadi sekalian saja kau meminta restunya disana," ucap Keysa yang ternyata tengah menelpon Jonathan, dia pun menutup telponnya dan langsung memainkan kemudinya dan melaju meninggalkan perumahan elit tersebut.


__ADS_2