
Untuk kesekian kaliny Sang Surya Kembali menyinari alam semesta, tak peduli harimu tengah bahagaia tau pun sedih, pagi itu setelah mimpi buruk yang dialami oleh Rena malam tadi, membuat cemas dan untuk kesekian kalinya dia melirik ponsel yang tersimpan didalam tas kecilnya.
Trink trink.... Sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel miliknya, sesaat Rena akan berangkat ke tempat kerja.
√√ Kami sudah sampai di tanah air, maaf tidak langsung menghubungimu, karena takut mengganggu tidurmu.
√√ Tak apa, syukurlah kalian sudah sampai dengan selamat.
√√Kami akan langsung ke rumahku dulu, dan sepertinya aku akan membawa Amira berkunjung ke tempatmu mungkin pada akhir.
√√ Ya itu juga hal bagus, karena bagaimanapun Amira pasti masih kelelahan habis menempuh perjalan jauh.
Pesan masuk yang dia terima dari Nathan pun, sudah cukup mengobati rasa cemasnya dan langkahnya pun menjadi ringan kembali setelah semuanya merasa baik-baik saja, ah mungkin mimpi semalam hanyalah kembang tidur semata, itulah yang terlintas dalam benaknya.
"Sebelum kita pulang ke rumah Oma sama Opa kita sarapan dulu yuk?" Ajak Nathan pada Putrinya.
"Ayoo.... Amira juga udah mulai laper Pah," timpal Amira, mereka pun berjalan ke restoran cepat saja yang ada di dalam bandara.
"Papa kenapa Papa gak buat saja kedai kopi atau restoran kayak gini di tempat ini? Pasti bakalan rame," celetuk Amira ketika mereka sudah memesan makanan.
"Hmmmz.... Betul juga apa yang dibilang Amira, kayaknya peluang bisnisnya cukup menjanjikan, sepertinya layak dicoba toh aku pasti dua atau tiga bulan sekali akan berkunjung ke negeri kangguru lagi, jadi kalau aku punya restoran disini kan lumayan bisa buat singgah untuk istirahat," gumam Nathan dalam hati.
"Papa... Kok malah bengong?" Seru Amira yang mengagetkannya.
"Hehehe.... Enggak, Papa cuman berpikir idemu boleh juga, hmmz... Bener-bener putri dari seorang pebisnis kau nich," ucap Nathan memuji Amira yang membuat putrinya tersipu.
****
"Ouh... Ada angin apa? Tumben sekali kalian mengunjungi orang tua ini, sepagi ini," seru Pak Wijaya setelah tau siapa yang berkunjung pagi-pagi ke tempat tinggalnya, dirinya tengah berada di meja makan.
__ADS_1
"Ya kami hanya ingin melihat keadaan Papa sebentar, sebelum pergi ke kantor, apa itu salah? Bukankah Papa kemarin-kemarin uring-uringan karena kami tidak pernah beekunjung kemari, padahal rumah kita tidak terlalu jauh," ucap Daniel.
"Hmmz.... Baguslah kalau kalian sudah mengingat celotehanku waktu itu," timpal Pak Wijaya.
"Apa Papa sudah sarapan?" Tanya Rudy basa-basi.
"Belum sich, apa kalian mau menemani orang tua kesepian ini makan bersama?" Ucap Pak Wijaya balik bertanya, keduanya pun saling tatap.
"Baiklah, sekali-kali akan kami temani," ucap Rudy lantas dia pun langsung duduk di meja makan dan di ikuti oleh Daniel yang duduk disebelahnya.
Pelayan pun membawakan sarapan untuk mereka berupa salad dan omelet serta sereal susu coklat. "Maaf hanya ini yang tersedia, karena ini memang menu wajibku setiap hari untuk menjaga kondisi tubuh, andai aku tau kalian akan datang berkunjung mungkin aku akan menyuruh koki memasak makanan yang lebih mewah," ucap Pak Wijaya.
"Tak perlu, kami sudah sangat berterimakasih karena Papa sudah mengijinkan makan bersama, ini adalah moment langka, karena sejak aku dan Daniel masuk sekolah, hampir tidak pernah kita makan bersama sebagai Keluarga, karena kesibukan Papa dan Mama yang kadang sudah berangkat kerja sebelum kami terbangun," ucap Rudy dingin.
Perkataan tersebut membuat Pak Wijaya terenyuh, dia baru menyadari dan merasa mungkin sebab mereka tidak pernah mengunjungi dirinya, karena kelakuannya dulu yang jarang sekali meluangkan waktu untui melakukan Family Time bersama ketika anak-anaknya masih kecil, bahkan diwaktu akhir pekanpun jarang sekali keluarga mereka kumpul bersama.
"Tak apa toh itu semua sudah berlalu," timpal Rudy, setelah semua menu makanan tersedia, mereka pun mulai menyantap sarapan pagi bersama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jadi bagaimana apa kalian sudah bertemu dengan adik kalian?" Tanya Pak Wijaya pada kedua putranya.
"Ya kami sudah bertemu dengannya, tampaknya dia cukup bahagi berada disana," Jawab Daniel setelah menghabisakan suapan terakhirnya.
"Kau benar, itupun yang aku lihat ketika pergi kesana, tapi dia berjanji katanya akan mengunjungiku setelah menikah nanti," timpal Pak Wijaya.
"Jadi, bagaimana apa kalian sudah mulai memberikan sebagian harta yang menjadi haknya itu?" Tanya Pak Wijaya pada kedua putranya, Rudy dan Daniel tidak langsung menjawabnya, tapi mereka langsung menyodorkan sebuah amplop besar pada Ayah mereka.
"Apa ini?" Tanya Pak Wijaya tak paham maksud mereka.
"Baiklah, akan Rudy jelaskan secara gamblang," jawab anak tertuanya itu, sambil mengambil kembali amplop yang sebelumnya dia sodorkan pada ayahnya, karena dia khawatir setelah dirinya menjelaskan sebenarnya, Dokumen tersebut akan langsung dirobek oleh ayahnya.
__ADS_1
"Kami telah bertemu dan sepakat untuk memberikan Rena bagiannya, tapi dia menolak secara mentah-mentah tawaran kami, dia bilang tidak ingin menerimanya sepeserpun, ini adalah buktinya," lanjut Rudy menjelaskan, lalu dia mendengarkan suara Rena yang sudah mereka rekam.
"Apa yang sebenarnya kalian katakan padanya, jawab dengan jujur..." Bentak Pak Wijaya penuh amarah setelah mendengar rekaman tersebut.
"Tidak ada, kami hanya memintanya untuk menerima 30% dari apa yang hendak Papa berikan padanya, kami pun menjelaskan alasannya, tapi dia menolak bahkan tidak menginginkan semua itu," Ucap Daniel.
BRAAAKKK
"Ka..Kakaliiaann.... Kenapa kalian malah melakukan hal tersebut, ughh kalian sungguh anak-anak yang rakus dan tidak tau terimakasih, sekarang lebih baik kalian, KELUAAR DARI SINI..." Teriak marah Pak Wijaya, sambil menggebrak meja meluapkan emosinya, membuat kedua adik-kakak itu terperanjat kaget.
"Tapi Pah, kami melakukan semua-," ucap Daniel mencoba menjelaskan.
"KELUAAR.... AKU KECEWA PADA KALIAN, andai aku tau akan jadi begini, dulu aku tidak akan menyerahkan semuanya pada kalian," seru Pak Wijaya, sambil memegang dadanya yang mulai sesak karena nafasnya terengah-engah.
"Tapi Pap-,"
"Sudahlah, Daniel lebih baik kita pergi terlebih dahulu, biarkan Papa tenang," ucap Rudy.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ada urusan yang harus kami kerjakan, asal Papa tau sejak Papa menyerahkan semua bisnis yang papa berikan pada kami, secara garis besar semuanya sudah menjadi milik kami, jadi Papa sebenarnya tidak terlalu berhak mencampuri urusan kami, jaga diri Papa,"
Setelah mengatakan hal tersebut Rudy dan Daniel meninggalkan Ayah mereka sendirian.
BERSAMBUNG...
#Jangan lupa Like or komen, kalau bisa beri bunga atau kasih vote biar Author semangat Up nya lagi.
#Agar tidak bosen nungguin part selanjutnya mimin ada rekomendasi novel yang tidak kalah kerennya, yuks segera cekidot.
__ADS_1