Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Usulan Zahra


__ADS_3

Setelah turun dari mobil, dalam langkah kakinya menuju apartemen, Rena selalu menunduk tak berbicara sepatah katapun, jemarinya tenggelam dalam lipatan tangan Rehan yang sengaja disatukan, seolah khawatir kalau terlepas ia bisa kehilangan dan tertinggal pada detik itu juga, helaan nafasnya terdengar begitu berat kesedihannya begitu pekat melekat.


Zahra dan yang lainnya mengikuti langkah dari belakang, air matanya mulai mengering, pikirannya menerawang kemana-mana, dia bertanya-tanya apakah keluarga Rena tidak mengetahui apa yang menimpa anak dan saudari meraka.


"Keiko-chan terimakasih untuk hari ini dan terimakasih telah memberi kesempatan kami sekeluarga datang ke negeri ini dan berlibur secara percuma, andai kami tidak bertemu Keiko-chan, mungkin kami tidak akan pernah bisa mengetahui keadaan sahabat terbaik saya, sekali lagi terimakasih," ucap Zahra sambil menundukkan kepala setelah mereka tiba di apartemen.


"Tidak, tidak, ini tidak seberapa Zahra-san, karena Rehan-san dan anda sekeluarga juga pernah menolong saya waktu saya dalam bahaya, meski kalian tidak pernah mengenal saya sebelumnya, tapi kalian begitu tulus menolong saya sampai bersedi merawat selama satu bulan ini, jadi sayalah sebenarnya yang harus berterimakasih," timpal Keiko membalas dengan melakukan hal yang sama, setelah itu diapun pamit pulang.


"Sayang, bisakah kau membantu Rena untuk mandi terlebih dahulu? biar aku dan Kinan yang mempersiapkan makan malamnya" seru Rehan sambil membantu Rena duduk disofa.


"Baik, biar aku siapkan dulu air hangatnya, Rina sayang tolong jagain tante Rena dulu ya," ucap Zahra yang beranjak ke kamar mandi, sementara Rina yang duduk didekat Rena hanya menatapnya tanpa sekalipun bertegur sapa.


Setelah memandikan dan makan bersama, mereka pun beranjak tidur, Rena ditemani Kinan, sementara Zahra bersama Suami dan anaknya.


"Abi..." ucap Zahra memanggil ayahnya tapi berhenti sejenak seolah ragu untuk meneruskan perkataannya.


"Ada apa Rina?" tanya Rehan penasaran, karena sejak pulang dari tempat itu Rina terlihat banyak diamnya, tidak seperti biasanya.


"Apa Abi nantinya akan meninggalkan Umi sama Rina, dan memilih Tante Rena?" tanya Rina, pertanyaan tersebut sontak membuat Rehan dan Zahra terkejut, mereka tidak menyangka putrinya itu bertanya hal seperti itu.


"Hmmz..." Rehan menarik nafas berat, mencoba mencari kata-kata yang pas untuk menerangkannya pada putrinya tersebut.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi Abi tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua, apalagi Rina adalah putri Abi dan Umi belahan jiwa kami, permata berharga bagi kami berdua, mana mungkin Abi meninggalkan kalian," ucap Rehan sambil mengelus lembut rambut putri kesayangan mereka.


"Tapi Abi, dilain sisi, Rina juga tak tega melihat keadaan tante Rena yang begitu menyedihkan," ucapnya lagi, Zahra yang mendengarnya semakin tercengang, dia tidak menyangka kepekaan dan kepeduliannya tidak seperti mencerminkan bahwa putrinya itu adalah seorang anak yang masih berusia dibawah lima tahun.


"Hmmz.. Lebih baik kita tidur dulu sayang, ini sudah larut malam karena besok kita akan bersiap-siap pulang," timpal Rehan mencoba mengalihkan pertanyaan si putri kecilnya tersebut.


~


Jam menunjukan dua dini hari waktu setempat, tapi terlihat dua orang sudah terbangun dan sedang melakukan shalat Lail.


"Kang... Bagaimana tindakan kamu selanjutnya, aku akan menerima dan rela apapun keputusan," ucap Zahra mencoba menekan suaranya sepelan mungkin, agar tidak terdengar oleh yang lainnya.


"Tapi bagaimana dengan Rena, kita tidak mungkin meninggalkannya disini, meski disini ada Keiko, tapi seperti yang Kang Rehan lihat, dia seperti ketakutan melihat pengawalnya, dan untuk menyerahkannya pada keluarga Wijaya dalam keadaan seperti itu, tidak aku tidak akan rela bila dia kembali kesana, karena aku takut itu malah membuatnya semakin menderita," timpal Zahra khawatir.


Karena saat dia memandikan Rena, Zahra mencoba berbicara dengan Rena meski masih tidak ada tanggapan, tapi ketika dia menyebut nama Niko, Rena menjerit histeris dan memaki lelaki tersebut, meski dia tidak tau apa yang terjadi diantara mereka, tapi dia sedikit dapat menyimpulkan bahwa Niko juga salah satu yang membuat sahabatnya itu menjadi seperti ini.


"Tidak keduanya, kita tetap akan membawa Rena pulang bersama kita, tapi untuk sementara biar dia tinggal bersama Bi Parijah dan merawatnya sampai dia kembali seperti sediakala," ucap Rehan, memberi solusi terbaik menurut pendapatnya.


"Bi Parijah? siapa Bi Parijah itu Kang?" tanya Zahra penasaran.


"Dia adalah mantan ARTnya keluarga Wijaya dan pengasuhnya Rena sejak kecil, tapi karena sebuah insiden dia dipecat oleh ayahnya Rena," ucap Rehan menjelaskan, dia pun menceritakan secara lengkap tentang Bi Parijah dan bagaimana betapa terharu pertemuan mereka, ketika Rehan mengantar Rena menemuinya.(cerita tersebut ada di Bab 7).

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang terbaik menurut Kang Rehan, tapi aku ingin sekali kau menikahi Rena suatu hari nanti, asal Akang tau, aku rela berbagi cinta dengan sahabatku dan sepertinya Rina pun memahami hal tersebut," ucap Zahra dan dia pun pamit untuk tidur kembali, sementara Rehan melanjutkan dzikirnya agar diberi kemudahan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan di Madyapada ini.


***


Keesokan harinya, Keiko mengajak Rehan beserta yang lainnya untuk berbelanja disebuah mall terbesar di kota tersebut untuk membeli buah tangan, Kali ini Keiko hanya dikawal oleh empat orang saja dan jarak penjagaannya juga cukup jauh tidak seperti hari-hari sebelumnya, karena dia khawatir membuat Rena ketakutan ketika melihat pengawalnya seperti kemarin.


Tapi meski hanya dikawal oleh empat orang, tiga diantaranya adalah Bodyguard top ten dikeluarga Benjiro dan salah satunya adalah Yoshiro-san, seperti biasa mereka menggunakan setelan tuxedo dengan earpiece terpasang ditelinga.


Ketika Rena dan Kinan tengah beristirahat sambil memakan makanan cepat saji direstoran yang berada di dalam mall, sementara Rehan dan Zahra masih menemani Rina bermain game di dekat restoran tersebut dan Keiko tengah pergi ke kamar kecil.


Beberapa rombongan pria bertato mendekati meja Rena dan Kinan, yang membuat Rena begitu ketakutan.


"Tōji, koreha joseide wa nakatta nodesu ka? (Bukankah ini seorang wanita pada waktu itu?)" seru pemuda yang penuh dengan tato dan ternyata adalah putra dari Bos Yakuza yang dulu pernah menyerbu apartementnya.


Pria tersebut langsung menjambak rambut Rena, Kinan yang berada disamping Rena langsung berusaha menyingirkan tangan kurang ajar tersebut dengan cara menyiram kopi yang ke wajah orang yang menjambak rambut Rena itu, alhasil pria bertato melepaskan cengkramnya dan Kinan langsung membawa Rena menjauh.


"who are you? kenapa kalian tiba-tiba menyakiti kakak saya?" seru Kinan menggunakan bahasa inggris, karena dia belum fasih dalam menggunakan bahasa jepang.


"Arrgh... damn girl, kau mau cari mati ya denganku," teriaknya penuh amarah dan dengan kesal dia mencoba memukul Kinan, tapi dengan sigap Kinan menangkis pukulan tersebut dan langsung membalas telak pada ulu hati si pria bertato tersebut, yang mana dia langsung tersungkur dan kembali mengerang kesakitan.


Memang Kinan sejak memasuki Sekolah SMA oleh kakaknya dia disuruh belajar silat ke Aki Darja untuk melindungi dirinya sendiri ketika kakaknya jauh darinya dan kini dia sudah cukup jago untuk ukuran seorang perempuan.

__ADS_1


__ADS_2