
Tak terasa hari mulai beranjak siang, udara pagi yang menyegarkan kini berganti dengan rasa gerah, karena terik matahari pun sudah terasa membakar kulit dan sekujur tubuh mulai dibanjiri peluh sebagian ada yang membuat tenda darurat terbuat dari pelapah kelapa ataupun daun tanaman kacang yang sudah dipetik yang dususun diatas bambu yang sudah diatur sedemikian rupa, tapi terlihat semua orang tidak ada yang mengeluh, mereka terus melanjutkan pekerjaan dibarengi gurauan sesama pekerja kadang akan diselingi tawa riuh, bahkan anak-anak sengaja betul malah berlari-larian kesana kemari bermain kejar-kejar.
Semua orang mulai berangsur-angsur pulang ketika sang surya tepat berada di atas kepala, selain memang pekerjaan mereka sudah selesai.
"Ugh... Berat banget," gumam Nathan setelah membawa karung yang berisikan kacang yang sudah dipetik dan meletakannya ditempat pengepul, meski isinya tak terlalu penuh, tapi itu tetap berat bagi dirinya yang belum terbiasa.
"Hehee... Itung-itung olahraga aja," goda Rena, dirinya pun membawa hasil petik tersebut meski kurang dari setengah karung.
"Eh Rena, Wah Ada Dokter Nathan juga ya, tau gitu tadi saya mampir kemari lebih pagi, udah semuakah? kalau belum biar sama si Adang dan Akbar yang bawain," ucap Rehan yang tengah sibuk membagi hasil panen dengan pekerja lain.
"Belum masih ada dua karung lagi kayak gini, tapi biar aja Kang masih sanggup katanya " timpal Rena sambil menunjuk karung yang dibawa oleh Nathan, dan melirik Nathan dengan senyum jahilnya, yang dilirik langsung memasang ekspersi bete, karena dirinya sudah sangat senang Rehan mau membantunya.
"Hahaha.... Jangan gitulah kasian, udah Dok gak usah balik lagi biar pegawai saya yang angkut, Dokter istriahat aja dulu, Daaang, tolong bawain hasil petik Teh Rena sama Bi Ijah yang ada disana, ajak juga satu orang lagi," ucap Rehan kemudian dia berseru pada Adang untuk membawa sisanya.
"Minum dulu Dok, Ren ajak juga Bi Ijah ngadem dulu, ada eskopyor tuh yang sengaja di buatin Umi tadi pagi" lanjut Rehan menawari mereka minum.
"Teh Renaaaa," seru seorang gadis sambil setengah berlari ditangannya terlihat membawa termos, dan setelah sampai ditenda diapun meletakan benda tersebut secara sembarang untungnya tidak sampai berguling dan langsung menghambur peluk pada Rena, tak peduli meski pakaian Rena sedikit kotor bercampur debu dan keringat.
"Kinan, kapan pulang? Bagaimana kuliahnya? Tanya Rena, membalas pelukan gadis yang sudah beranjak dewasa tersebut.
"Kemarin malam, langsung dari tempat kkn," jawab Kinan.
"Kangen sich kangen tapi ponakannya jangan ditinggalin gitu juga kali," seru Rehan sambil menggendong putri yang tengah membawa kopi dan minuman sachet serenceng yang dikalungkannya dileher.
__ADS_1
"Hehee... Lupa kirain gak ada Rina dibelakang Kinan," ucap Kinan sambil nyengir dan Rina membalasnya memonyongkan bibirnya karena sebal pada bibinya tersebut.
"Aaaciiee... Gitu aja ngambek," lanjut Kinan sambil meremas pipinya.
"Eh sicantik Rina juga ikut ya, rajin banget sich, Uminya mana?" seru Rena langsung beralih mengusap lembut rambut putri dari sahabatnya itu.
"Iya dong, Rina kan gadis baik dan suka menolong kayak sailor moon, Umi di rumah sama nenek soalnya tadi ada banyak orang yang sakit datang ke rumah, jadi Umi gak ikut," timpal Kinan.
"Itu siapa kak?" bisik Kinan pada Rehan, ketika melihat seorang pria dibelakang Rena sambil berbincang dengan Bi Ijah sambil terus memperhatikan mantan pacar kakaknya itu.
"Ouh.... Itu tunangannya Rena," jawab Rehan.
"Haaaa...." seru Kinan cukup keras membuat semua mata tertuju pada dirinya, apalagi Rehan langsung menutup telinganya.
"Dokter, kenalin adik saya Kinan, katanya pengen kenal sama calon kakak iparnya," lanjut Rehan yang berseru pada Nathan.
"Ouh.... Ini adikmu, kalian sangat akur sekali ya, bikin iri aku saja yang hanya anak tunggal ini, perkenalkan nama saya Jonatahan, panggil saja Nathan," ucap Nathan sambil menyodorkan tangannya pada Kinan.
"Kinan, selamat ya Kak Nathan semoga lancar sampai hari H, kok kak Rena gak ngasih tau Kinan sich? Kak Rehan juga, malah rahasia-rahasian segala," ucap Kinan memperkenalkan diri, lalu dia melayangkan protes pada Rena dan kakaknya.
"Lah kamu kan kemaren tengah melakukan kegiatan KKN jadi gak sempet ngasih tau, tapi sekarang kan sudah tau," timpal Rena yang masih menempel dengan Rina.
"Cieee.... Bibi merajuk kayak anak kecil aja," seru Rina sambil tersenyum meledek.
__ADS_1
"Eh, nich bocil malah ngeledek ya," ucap Kinan sambil mencoba menggelitiki keponakannya itu, Rina dengan sigap menghindar dan berlindung dibelakang punggung Rena, semua orang tertawa melihat tingkah keduanya.
"Mereka begitu dekat dan sangat akrab ya Bi," ucap Nathan pelan yang mengomentari kedekatan calon istrinya itu dengan keluarga mantan pacarnya.
"Ya begitulah, karena Kinan dari dulu sudah menganggap Neng Rena sebagai Kakaknya, bahkan bila libur kuliah pun dia suka datang berkunjung ke rumah bibi untuk bertemu dengan Neng Rena," ucap Bi Ijah menjelaskan, dan Nathan hanya mengangguk menanggapi.
Setelah membagikan hasil panen, semua orang mulai pergi meninggalkan ladang yang ternyata itu adalah milik Rehan, ya meski dirinya hanyalah sebagai pengelola lahan tersebut, karena pemilik aslinya adalah Pak Bambang yaitu salah satu pemilik perusahaan berikat dibawah kepemimpinan Tuan Ichirou, dan setelah pembagian dengan para buruh tani sudah beres, Rehan akan melaporkan perinciannya, baru setelah itu dirinya dan Pak Bambang berbagi hasil panen tersebut sesuai porsi yang sudah ditentukan.
"Hmmz... Aku juga kayaknya ingin membeli lahan pertanian disini juga," ucap Nathan yang berjalan paling belakang sambil membawa hasil pembagian panen kacang tanah.
"Serius?" Seru Rena yang berhenti melangkah sambil menoleh kebelakang.
"Seriuslah, lagi pula bukankah kita akan tinggal disini setelah menikah nanti, juga itung-itung buat investasi untuk kedepannya," jawab Nathan serius.
"Tapi aku, kau bisa mengelola lahan pertanian?" Tanya Rena lagi yang seperti meragukan kemampuan dari calon suaminya tersebut.
"Itu gampang saja, kita tinggal mempekerjakan seseorang untuk menggarap tanah kita dan sistemnya akan bagi hasil seperti yang Kang Rehan lakukan,tapi aku ingin cari tanah di dalam kampung dulu, untuk kita membangun rumah nantinya," ucap Nathan, dirinya memang sempat berbicara banyak hal dengan Rehan, mengenai pekerjaan masing-masing.
#Biar outhor semangat yuks tinggalkan jejak dengan like atau coment, bisa juga kasih bunga atau vote
#Dan biar gak jenuh nungguin part selanjutnya, ada rekomendasi novel menarik lainnya karya dari Author senior, yuks di cekidot.
__ADS_1