Asa Di Ujung Lembayung

Asa Di Ujung Lembayung
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Menjelang sore di depan gerbang kosan puskesmas, terparkir sebuah mobil mewah bermerk Porsche dengan warna yang begitu elegan, membuat semua orang yang lewat merasa kagum dan selalu mata mereka tertuju pada mobil tersebut, karena sangat jarang ada mobil sebagus itu terlihat di wilayah mereka.


Dan turunlah dua orang muda-mudi dari mobil tersebut dan ketika mereka sempurna sudah berada di luar mobil, beberapa orang menghampirinya, yang ternyata adalah rekan kerjanya.


"Eh dek Bidan Rena, kirain siapa, baru datang ya?" seru seorang Rekan kerja Rena yang berumur hampir sama dengannya dan hanya beda dua tahun lebih tua darinya, yang hendak keluar dari gerbang untuk mencari makanan dengan mengendarai motor matic milik kepala pimpinan Puskesmas.


"Iya Kak Silvie, Bu Dian, ini baru nyampe, Kakak mau kemana?" tanya Rena pada dua orang tersebut, yang salah satunya selalu dia anggap sebagai kakak selama bekerja di puskesmas ini.


"Hehehe... Biasa cari cemilan, permisi, ditinggal dulu ya Ren!" seru Silvie, ketika dia melirik ke arah orang yang mengantar Rena matanya sungguh terkesima, karena melihat orang seganteng Niko dengan wajah Indo Belanda, dan Silvie sendiri adalah asli orang dari ibukota provinsi, yang mempunyai wajah yang cukup cantik serta baru ditugaskan di Puskesmas kecamatan ini setahun lebih dulu dari Rena.


"Iya Kak Silvie, hati-hati di jalan, awas jangan kebanyakan makan nanti kayak bu kepala pimpinan kita lagi tambah semok," timpal Rena sambil tersenyum, membuat kedua rekannya itu menahan tawa.


"Jadi ini tempat kosan dan Puskesmas tempatmu bekerja?" tanya Niko, selepas kedua temannya Rena pergi, dia semakin heran pada Rena, kenapa anak bungsu dari keluarga wijaya itu betah ditempatkan di kosan seperti ini yang lebih mirip kontrakan umum yang ada di ibukota, sungguh selera yang tidak wajar bagi seorang yang mempunyai garis keturunan keluarga konglomerat, begitulah yang dipikirkan oleh Niko.


"Iya... Kenapa emang?" tanya balik Rena.


"Nggak apa-apa, tapi lumayan Asri juga ya," timpal Niko memuji tempat dinas yang di tinggali oleh Rena, karena dia tidak mau gadis tersebut kembali tersinggung seperti ketika mereka makan malam bersama.

__ADS_1


Memang tadinya Rena berniat berangkat kembali ke tempat dinasnya sendirian dengan menggunakan kendaraan umum, tapi sedari pagi Niko sudah menunggu dia di rumah dan mengajukan diri untuk mengantarnya sampai ke tempat dinas yang berada cukup jauh dari ibukota.


Karena terus di desak oleh ayahnya untuk berangkat diantar oleh Niko dan disetujui mamanya yang telah kembali pulih, selama di rumah kedua orang tuanya itu terus memuji Niko yang bersedia mengantarnya ke tempat dinas, menurut kedua orang tuanya Niko benar-benar calon suami yang baik, tapi menurut sangkaan Rena semua yang dilakukan oleh Niko adalah untuk sekedar mencari perhatian dari dia dan kedua orang tuanya.


Kita tidak pernah tau bagaimana takdir akan mengatur sebuah pertemuan, yang terkadang menjadi sebuah kebetulan yang menyenangkan dan ada juga menjadi kebetulan yang menyakitkan.


Ketika Rena hendak masuk ke gerbang kosan, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti beberapa meter di depan gerbang dan memanggil namanya, yang ternyata Rijal bersama Rehan


"Eh Bu Bidan baru datang ya," seru Rijal basa-basi bertanya pada Bidan muda tersebut, dia yang baru saja datang sambil mengendarai motor Rx-king milik bapaknya itu, dengan Rehan yang duduk dibelakangnya, tadinya Rehan melarang Rijal untuk mampir ketika mereka melihat Rena dan Niko yang baru saja tiba, karena Rehan pikir Rna pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan dari rumahnya, tapi si biang kerok ini tetap saja tidak mendengarkan perkataan dari temannya itu.


"Eh Kang Rehan, Kang Rijal, iya baru aja nyampe, kalian pada mau kemana?" tanya balik Rena.


"Perkenalkan... Kami putra daerah sini, nama saya Rijal Sanusi, dan teman saya yang ganteng kalem ini bernama Rehan," ucap Rijal mengenalkan dirinya sambil menyodorkan tangan, untuk berjabat tangan dengan orang yang ada di hadapannya, namun Niko tak menghiraukan uluran tangan dari Rijal dan malah menatap kedua orang tersebut dari kaki hingga ke atas kepala.


"Heh... Hanya Orang kampungan," gumam pelan Niko menghina penampilan kedua teman sejawat itu, tapi itu cukup terdengar oleh Rijal, yang membuatnya tersinggung.


"Hey Bung, jangan mentang-mentang bergaya parlente dan anda tinggal di kota besar, lantas menghina kami yang tinggal di perkampungan, Kami memang orang kampung dan tidak sekaya juga segaya diri anda, memang di mata sebagian orang kota, menjadi orang kampung itu sebuah kesalahan, tapi asal anda ingat satu hal, nasi yang kalian makan, bahkan sayuran dan buah-buahan yang kalian makan, itu hasil dari kerja keras kami, yang kalian anggap kampungan ini," seru Rijal dengan nada emosi yang menurut teman karib dari Rehan tersebut, orang yang ada di depannya itu, perkataan dan gesturnya terlalu merendahkan mereka.

__ADS_1


"Sudah, sudah, jangan di terlalu di masukan dalam hati," ucap Rehan mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Niko apa-apaan sih kamu, sudah mending kamu cepet kembali pulang sana, bukannya kamu juga punya pekerjaan yang harus diurus," seru Rena sedikit marah melihat tingkah laku dari anak kolega papanya itu.


"Hey kenapa kamu malah marah pada calon tunanganmu," timpal Niko sedikit tidak terima dengan sikap calon istri pilihan dari ayahnya itu, karena lebih membela dua pemuda kampungan tersebut.


"Deg"


Perkataan yang dilontarkan oleh Niko membuat Rehan tertegun dan langsung menoleh ke arah Rena, raut wajahnya terlihat seperti sedang meminta penjelasan pada kekasihnya itu.


"Hey... Emangnya saya sudah menyetujui perjodohan kita itu, jangan seenaknya kamu menyebut saya demikian, maaf Kang Rehan, Kang Rijal, saya capek jadi mau istirhat dulu, permisi semuanya," seru Rena dan langsung pergi menuju kosannya, karena kejadian tak terduga tersebut, membuat beban pikirannya bertambah dan lebih baik dia buru-buru beristirahat di dalam kamar kosannya.


***


Setelah melalui hari yang cukup mengejutkan, karena dia cukup terpengaruh dengan perkataan yang dilontarkan oleh orang yang dipanggil Niko itu, dan saat ini Rehan hanya ingin menenangkan diri dengan menatap Cahaya lembayung senja, yang katanya bagi sebagian orang membuat hati terasa tenang, saat menatap rona jingga yang terpancar disetiap ujung sore.


"Redup cahaya senja yang terlahap gelapnya langit malam mulai menyapa, tak ubahnya seperti perasaanku yang dilanda gundah, yang merajuk dalam keresehan hati tanpa tau harus berbuat apa, sangkaan ini sungguh membuatku pilu seperti teriris sembilu, tapi aku akan berusaha menepis segala keraguan tentang dirimu, karena aku percaya kau mempunyai penjelasan terbaik untuk situasi ini,"

__ADS_1


Rehan pun mulai beranjak dari tempatnya berdiri, dia mulai tersadar ternyata hari mulai gelap, sementara dirinya belum menunaikan kewajiban terhadap Sang Penguasa Semesta Yang Maha Penyayang, meski hambanya sering kali lalai dalam menjalankan perintah-Nya.


__ADS_2